ESAI SASTRA

Melihat Beban Batin Mustafa di "Tempat Paling Sunyi"

26 Juni 2016 - 01.02 WIB > Dibaca 1040 kali | Komentar
 
Oleh Riki Utomi

ADAKAH  manusia paling  tragis di dunia ini? Bisa kita jawab sendiri dengan pikiran masing-masing. Dunia menyimpan misteri, seperti juga perasaan manusia itu sendiri. Dalam kehidupan, manusia tidak pernah lepas dari masalah dan berusaha teguh pendirian dalam bertahan menghadapinya. Menghadapi hal tersebut kadang membuat manusia jatuh dan terpuruk hingga mengarah kepada kematian yang tragis, ibarat kata pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga” (mungkin juga akan tertimpa yang lain-lainnya). Begitulah tragis dan mirisnya sosok manusia rapuh namun berusaha untuk tetap tegar bernama Mustafa, tokoh utama dalam novel teranyar Arafat Nur berjudul Tempat Paling Sunyi.

Novel bercover sederhana namun menohok kepada deskripsi cerita ini mengisyaratkan kesan yang misteri tentang apakah gerangan problematika sosok lelaki yang berjalan tanpa gairah itu? Novel yang mengusung tema-tema sederhana ini berkutat pada masalah keluarga, tetangga, dan teman-teman dekat. Tapi tetap memikat oleh “ramuan” latar belakang konflik di Aceh antara aparat pemerintah dengan kaum pemberontak. Mustafa memiliki dua kutub ketakutan (kecemasan dan depresi) berada di lingkungannya sendiri. Satu sisi Mustafa terhimpit oleh masalah keluarganya, yaitu istri dan ibu mertuanya. Satu sisi lagi ia berada dalam ketakutan baku-tembak antara dua kubu itu di tempat tinggalnya tersebut, meski hal yang kedua ini tidaklah terlalu besar digambarkan oleh Arafat Nur seperti novel teranyar lainnya, Lampuki.

Tulisan sederhana ini ingin mengupas tokoh utama Mustafa. Tokoh yang memiliki kerumitan hidup ini begitu rapuh seperti tampak nyata dalam kehidupan kita. Ia seperti benar-benar hidup. Hal ini—menurut hemat saya—Arafat mampu menciptakan tokoh yang kokoh dan berkarkter kuat hingga hidup dengan segala kemaruk hatinya. Hal tersebut hampir senada dengan tokoh Siti Nurbaya karangan Marah Rusli atau Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk karangan Ahmad Tohari.

Dalam hal ini —secara sosiologis— pengarang memang tidak dapat dilepaskan dari lingkungannya. Pengaruh sosiologis hal yang paling besar dalam setiap karangan. Di mana Aceh —seperti juga novel-novel Arafat yang lain— sering dijadikan latar cerita dalam banyak karyanya. Selain faktor sosiologis, Tempat Paling Sunyi memiliki pengaruh kuat yang akan membawa pembaca memahami konteks psikologis tokoh-tokohnya. Boleh jadi, faktor konflik Aceh yang sampai saat ini masih nyata terlihat dan terus mengigilkan masyarakat itu adalah pemicu daya kreatif pengarang untuk menyiasati karya kreatifnya.

Adereth (dalam Sapardi Djoko Damono, 1984) mengatakan, “bagaimanapun krisis politik kini merupakan pernyataan yang terpenting di antara krisis yang ada di zaman ini. Semua konflik moral dan ideologi di zaman ini mempunyai latar belakang politik.” Maka Mustafa dapat dikatakan korban nyata dari realaitas masyarakat yang chaos. Dimana kehidupan yang tak memihak semakin membuatnya terpuruk, yang dapat berakibat depresi tinggi sekaligus kehilangan pegangan hidup.

Bacalah kutipan berikut, dimana masalah keluarga begitu membuat batin Mustafa menderita. “Namun ijab-kabul yang berlangsung di sebuah masjid pinggiran kota itu menegaskan penjara jiwa Mustafa. Berikut siksaan-siksaan batin dari keluarga kolot yang masih mempertahankan tata cara hidup bangsawan. Mertuanya adalah orang yang hanya mementingkan uang dan harga diri, tanpa sedikitpun mengerti situasi politik yang seketika dapat berubah menjadi tragedi pembunuhan berantai dan pembantaian penduduk di tanah yang telah bersimbah banyak darah ini.” (hal. 21).

Berada dalam keluarga istri yang kolot telah menjadikan Mustafa menderita. Bahkan perkawinan sebelumnya yang ia harap akan menyenangkan dan dapat mengantar kehidupannya lebih baik malah bertukar rasa pesimis. Mertuanya, Syarifah, selalu menganggap Mustafa sebagai menantu yang tak tahu diri, sebab tidak memiliki pekerjaan mapan dan hanya membuang-buang waktu dengan menulis novel. Padahal Mustafa telah bekerja di sebuah toko rental komputer sederhana sebagai penerima jasa pengetikan dan fotocopi.

“Sesungguhnya Syarifah tidak pernah tahu kebiasaan menantunya yang duduk mengasingkan diri selama berjam-jam dalam kamar.// Manakala Mustafa menjelaskan bahwa dia sedang menulis novel, mertuanya bingung-bingung sendiri// novel? Tanyanya seraya berpikir. Binatang apa itu? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya?” (hal. 32). Lebih ditegaskan deskripsi temperamen Syarifah dalam kalimat berikut, “apakah pekerjaanmu itu bisa mendatangkan uang? Tanya Syarifah polos.” (hal. 33).

Beban batin Mustafa terasa bergitu bertubi-tubi. Di samping pertengkarannya di dalam keluarga yaitu pada istrinya yang tak memiliki pengertian dan juga memiliki sikap seperti anak kecil, di wilayah itu juga tak jarang terjadi baku-tembak antara aparat keamanan pemerintah dengan kaum pemberontak yang membuat Mustafa semakin berada dalam kemelut batin. Sebab ketika ia bekerja di luar, hal itulah yang kadang dihadapinya. Tentara pemerintah selalu merazia dan tak jarang mencurigai masyarakat tempatan sebagai mata-mata pemberontak.

“Semalam sempat terjadi letusan tembakan di tengah kota dan paginya dia mendengarkan dengan setengah hati dari orang-orang bahwa tragedi itu terjadi di pajak sayur. Dia tak ingin tahu lebih jauh…// senantiasa dia disibukkan dengan masalahnya sendiri yang tidak kalah besar dan peliknya dengan semua masalah lain. Bahkan penderitannya lebih parah dari para korban perang yang kena tembak, hanya anggota badan mereka saja yang menderita sampai kemudian meregang nyawa; sedangkan dia menderita batin yang tak tahu entah kapan akan berakhir.” (hal. 170).

Beban batin Mustafa semakin larut dan hampir tak mampu ditahannya. Kecerewetan istrinya, Salma, yang tak memahami akibat terlalu manja sebagai perempuan keturunan bangsawan membuat Mustafa terpuruk. Dalam novel ini, sepertinya pengarang memiliki trik jitu untuk menjadikan tokoh Mustafa sangat terluka. Gambaran kalimat “beban penderitaannya lebih parah daripada korban perang yang kena tembak.” Mengisyaratkan begitu terpuruknya sosok Mustafa bahkan baginya, hanya dialah sosok manusia paling menderita di dunia ini.

Novel ini sangat kuat dari segi penggarapan tokoh-tokohnya. Tokoh yang begitu terasa nyata dan memberitahukan akan beban batinnya kepada pembaca yang begitu memikat. Kita turut trenyuh (iba, sedih) dan berusaha simpati kepada Mustafa. Dengan latar belakang Aceh yang kental, Mustafa berusaha tegar dalam menghadapi cobaan hidup itu, di sini pengarang sangat jeli menampilkan kenyataan sebenarnya tentang kondisi Aceh. Konflik kaum pemberontak dengan tentara pemerintah yang tak sudah-sudah dapat memperkuat tekanan batin pada diri Mustafa. Secara tak langsung, pengarang menyentil lewat kata-kata Mustafa, bahwa “Aceh sendiri—mungkin—sebuah wilayah asing yang jauh dari sentuhan halus dan lembut tangan pemerintah.” Hal ini terbukti dari pendeskripsian cerita novel ini.

Namun dari konflik-konflik beban batin itu ternyata Mustafa memiliki jalan takdir lain, meski ia terus ingin bertahan tapi akhirnya ia gagal dan tewas bunuh diri. Dalam hal ini pengarang tentu memiliki “kuasa” dalam menaruh takdir tokoh utama rekaannya. Tapi—menurut hemat saya—agak sayang Mustafa di “matikan” karena sebagai seorang muslim seharusnya Mustafa memiliki sikap teguh untuk menyerahkan segalanya kepada Allah swt dan tetap yakin ada jalan keluar.

Tapi hal ini tentu berpulang kepada pengarangnya yang lebih berkuasa dalam membawa alur cerita. Meski pada bab-bab terakhir ada tokoh Aku yang lain (seseorang yang mencoba mencari jejak novel Mustafa yang dalam cerita memiliki perangai dan wajah mirip Mustafa) tapi rasanya agak tidak cukup relevan dengan keakraban pembaca pada tokoh Mustafa yang telah tewas itu. Sekali lagi mungkin ini trik yang menarik dari pengarangnya.

Dari semua itu, novel Tempat Paling Sunyi sangat asik untuk dibaca. Dengan tema sederhana namun kaya akan ruang pikiran pengarangnya membuat pembaca dapat larut menikmati sekaligus mengajak berpikir kritis pada realitas yang ada. Arafat Nur memberi gambaran Aceh dari sudut pandang yang lain, yang sebelumnya tak terjangkau oleh pikiran kita selama ini, yaitu melewati tokoh-tokoh rekaannya. Bahwa “inilah Aceh sesungguhnya” ibarat begitulah katanya dan kita melihatnya dari karya-karya sastranya yang memikat.***

Riki Utomi penikmat sastra dan linguistik. Sejumlah karya pernah dimuat dalam Koran Tempo, Indopos, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Lampung Post, Banjarmasin Post, Bebel Pos, Sumut Pos, Riau Pos, Kendari Pos, Batam Pos, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Serambi Indonesia, Inilah Koran, Koran Riau, Haluan Kepri, Metro Riau, Haluan Riau, Majalah Sagang, Buletin Jejak, Riau Realita, Majalah Sabili. Buku fiksinya Mata Empat (2013) dan Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015). Tinggal di Selatpanjang.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 15:00 wib

Ajak Masyarakat Sinergi Mengisi Pembangunan

Kamis, 20 September 2018 - 14:56 wib

Alam Mayang Tempat Wisata Favorit

Kamis, 20 September 2018 - 14:50 wib

Angsuran Toyota hingga 8 Tahun

Kamis, 20 September 2018 - 14:34 wib

145 Perusahaan Ikuti Pameran Listrik Cerdas

Kamis, 20 September 2018 - 14:30 wib

Kemenangan Dramatis

Kamis, 20 September 2018 - 14:24 wib

Transmart Carrefour Gelar Fashion Carnaval

Kamis, 20 September 2018 - 14:21 wib

20 Model dan Ikon Tampil di Pekanbaru Runway 2018 CS Mal

Kamis, 20 September 2018 - 14:11 wib

Pamflet Undangan Diskusi Divestasi Newmont itu Hoax

Follow Us