ESAI SASTRA

Semesta Tanda

26 Juni 2016 - 01.08 WIB > Dibaca 997 kali | Komentar
 
Oleh Shohebul Umam JR

EROPA  merupakan kasana pergulatan realisme, khususnya Prancis sebagai salahsatu arena pertarungan ideologi-setelah runtuhnya ideologi Jerman pada abab ke-19-dan menampung berlapis-lapis arwah para filsuf yang coba menakar dan mengusir hantu realisme. Husserl meringkusnya dalam nama naturalisme. Heidegger merelakan derajatnya melalui operasi pembedaan ontologis antara realitas objektif sebagai adaan dan Ada sebagai misteri paling sejati dan mendalam. Sedangkan kaum strukturalis dan pasca-strukturalis bergulat di dalam esensi tanda untuk meringkus hantu realisme itu.

Pertarungan ideologi sebagai jangkar untuk menerjemahkan realitas, setidaknya sampai sekarang masih begitu kental implikasinya. Kedigdayaan metafor setidaknya menjadi ihkwal di garda paling depan, untuk menyuarakan sekaligus sebagai usaha plastis untuk menampilkan realitas di luar teks, yang sengaja dihadirkan sebagai "ketidak hadiran" di dalam teks. Walau filosof besar macam Derrida dengan asumsi ‘tidak ada realitas di luar teks’ sebagai titik klimaks kritiknya atas idealisme yang berkembang pada khazanah pemikiran kaum strukturalisme dan pasca-strukturalisme. Atau bahkan Lacan, yang tidak lebih sama posisinya dengan Derrida, dengan asumsinya bahwa ‘tidak ada metabahasa’, pada akhirnya gugur di hadapan Doktrin Relasi Internal.

Doktrin Relasi Internal merupakan satu cagar yang berbicara atas dasar esensi realitas yang paling subtil. Walau bagaimanapun, esensi atau identitas suatu hal dikonstitusikan oleh relasinya dengan hal yang lain, dan ini berlaku universal. Di sinilah kemudian, doktrin Relasi Internal hadir sebagai cangkang yang mewadahi antara transendensi realitas di luar teks dan tak tersadari, menjadi realitas teks yang samasekali tersadari. Doktrin ini tidak jauh berbeda dengan doktrin yang digadang-gadang oleh Ludwig Wittgenstein dalam Tractatusnya bahwa, bahasa akan memiliki makna, manakala bahasa itu menggambarkan fakta. Maka menjadi muhal kemudian ketika kita menyebutkan tidak ada realitas di luar teks. Oleh sebab itu, persoalan bahasa menjadi fenomena yang demikian kompleks, dengan bahasa yang sama seseorang memaparkan sesuatu yang berlainan, bahasa menjadi tidak mengenal satu penggunaan yang pasti, tetapi bisa dimainkan ke segala arah atau kepentingan.

Berangkat dari kegelisahan atas perdebatan ini kemudian, realitas metafor sebagai entitas yang tidak terberaikan dengan persoalan bahasa menjadi penting untuk dibongkar kembali nilai dan fungsinya, apakah metafor dapat menampilkan realitas atau tidak? Atau bahkan ia hanya menjadi esensi modifikasi di dalam realitas teks dan nihil makna?

Sejauh menyangkut pemaknaan atas metafor, agaknya elaborasi yang kompleks tidak bisa disangkal terdapat di dalam pemikirannya Aristoteles, terutama dalam karya Poetika. Di dalam karya itu dikatakan bahwa, metafor terdapat dalam pemberian nama yang sebetulnya milik sesuatu yang lain. Hal ini menunjukkan segala bentuk pemindahan atau transferensi nama, atau pula transposisi istilah bisa saja disebut bersifat metaforis.

Difinisi metafor macam ini akan berimplikasi radikal pada hal-hal yang lebih fundamental. Jika istilah metaforis adalah istilah pengganti saja maka mestinya ia tidak membawa informasi baru apapun, sebab ia selalu bisa diganti lagi dengan istilah lain yang seharusnya ada. Maka jika demikian sifat metafor ia shahih untuk dikatakan hanya sekadar memiliki fungsi ornamental dan bernilai dekoratif an sich.

Oleh karena kenyataan macam ini kemudian, asumsi tentang seni untuk seni menunjuk pada ketidak berdayaan metafor untuk menampilkan realitas secara universal. Karya sastra khususnya puisi, hampir menjadi realitas paling transenden dan mitis karena berjubelnya metafor yang diyakini sebagai bentuk soliditas bahasa oleh para penyair, yang pada akhirnya karya puisi hanya bisa dimaknai oleh kalangan penyair, bahkan yang paling naif ketika seorang penyair tidak mengerti terhadap puisi yang ditulisnya sendiri.

Metafor karenya justru menjadi semacam perancuan identitas dan bukannya kejelasan atau kepastian identitas. Istilah kupu-kupu malam-yang oleh Bambang Sugiharto juga dijadikan sample-untuk pelacur, misalnya. Adalah kata-kata yang dicopot dari benda dan keadaan aslinya, dari kupu-kupu dan malam hari, lantas dikenakan kepada sesuatu yang lain, yaitu pelacur. Sebab itu kemudian, Aristoteles menyebut metafor menjadi tidak shahih untuk dikatakan sebagai episteme, melainkan doxa alias pendapat pribadi belaka, dan tidak menggambarkan esensi umum kenyataan.

Akan tetapi pada sisi yang lain, metafor yang dikalim sebagai ihkwal meremajakan deviasi, ia sekaligus memiliki daya revisibilitas. Implikasi deviasi atau ‘kesalahan kategori’ yang dilakukan oleh matafor tidak semata-mata berefek menghancurkana kata logika tertentu, justru pada sisi yang bersamaan menemukan tata logika baru pula.

terlepas dari perdebatan tentang ideologi dan metafor, atau apapun itu yang terikat pada problematika klasik yaitu realitas, kita dapat menyadari bahwa, “apa kemudian yang tidak dapat dipahami oleh bahasa”. Dalam hal ini penting kemudian untuk mengetengahkan Heidegger, dengan dekonstruksi metafisika dan kritiknya atas konsep metafor. Heidegger dalam wilayah ini sebenarnya, bermaksud mengubah persepsi kita terhadap bahasa secara generik. Hubungan yang otentik dengan bahasa, baginya bukanlah hubungan dimana bahasa kita persepsi dan didudukkan sebagai objek atau sarana dan kita lekatkan sistem prediktif dan pemaknaan baku yang ketat dan pasti, tidak.

Bagi Heidegger dan "kita" bahasa mestinya disadari bahwa ia adalah ‘anugerah’, suatu kenyataan yang paling asali yang menyingkapkan dunia bagi kita sedemikian, hingga dunia yang kita pahami selalu terikat dengan bahasa. Dari sisi ini kemudian bahkan dapat kita katakan bahwa, tidak ada sesuatu pun yang kita pahami di luar bahasa. Jadi wajar jika kemudian manakala Heidegger mangatakan bahwa “Bahasa adalah rumah sang Ada”. Persepsi konseptual macam ini memungkinkan kita untuk tidak terjebak di dalam ruang-ruang solipsisme.***


Shohebul Umam JR, adalah mahasiswa Ilmu Kesejahteraan Sosial Fakultas Dakwah UIN-SUKA Yogyakarta.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 22 September 2018 - 15:49 wib

Menteri Keuangan Imbau Perusahaan Gunakan Rupiah

Sabtu, 22 September 2018 - 14:47 wib

Stroberi Berjarum Repotkan Australia

Sabtu, 22 September 2018 - 12:46 wib

Waspadai Akun Robot Jelang Pemilu

Sabtu, 22 September 2018 - 12:43 wib

Riau Pos Terima Dua Penghargaan dari Bawaslu

Sabtu, 22 September 2018 - 09:53 wib

Festival Zhong Qiu Berpusat di Jalan Karet

Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Follow Us