OLEH IRWANTO

Kayat Kuantan Kini

26 Juni 2016 - 01.40 WIB > Dibaca 2190 kali | Komentar
 
Kayat Kuantan Kini
Simandolak tanjuang baliku
sinan posok deyen ampaikan
adiak rancak carilah jodoh
den buruak siso pangiraian    
La mandaki  ka padang torok
ambi la mangombang la bungo jalalang
lah nak mati deyen dek nan arok
kironyo kau ka tangan urang


Pantun yang berkisah tentang percintaan dan hubungan muda-mudi tersebut merupakan pantun yang terdapat di dalam kayat. Kayat merupakan salah satu bentuk tradisi lisan yang masih hidup di tengah masyarakat Rantau Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Masyarakat Rantau Kuantan mengenal di antaranya Jumat dan Juman, sebagai tukang-tukang kayat yang mumpuni di zamannya. Mereka dan kelompoknya sempat menjadikan kayat sebagai bagian dari tradisi lisan yang menjadi kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi, selain randai.

“Kayat” yang berasal dari kata “hikayat” tersebut disampaikan seorang tukang kayat dalam bentuk pantun yang didendangkan, seperti halnya selawat dulang yang ada di Sumatera Barat. Sebagian besar penutur kayat berjenis kelamin laki-laki. Akan tetapi, pernah ada tukang kayat seorang perempuan bernama Sumiana pada sekitar tahun 1980-an. Namun dari segi jumlah, keberadaan tukang kayat laki-laki lebih menonjol dibanding tukang kayat perempuan.
Barangkali, penyebab kurangnya minat perempuan untuk menjadi tukang kayat karena kayat merupakan pertunjukan yang dilakukan pada malam hari dengan durasi yang cukup lama sehingga ada anggapan kurang pantas apabila perempuan tampil hingga subuh.

Biasanya, kayat dimainkan oleh empat orang tukang kayat. Salah seorang dari mereka menjadi pemimpin kayat tersebut. Masing-masing tim terdiri atas dua orang sebagai teman untuk saling “bersahut-sahutan” (berbalas pantun). Kayat dimainkan di hadapan penontonnya tanpa ada jarak dan batas formal.

Pada awalnya, dalam penampilannya, kayat diiringi alat musik berupa talam atau dulang yang terbuat dari kuningan/tembaga. Dalam perkembangannya, alat musik tersebut berkembang sehingga dipergunakan pula gendang, biola, ketabung dan kerincing.

Tukang kayat hendaknya memiliki suara yang bagus sehingga terdengar merdu di telinga masyarakat penikmatnya. Ternyata, untuk menjaga suara tetap merdu, tukang kayat terbiasa memakan tebu sebagai suguhan wajib, ditambah pisang rebus, serta sirih pinang sebagai pelengkap. Dengan suaranya yang merdu tersebut, tukang kayat akan menampilkan bermacam jenis irama, di antaranya; ungko tabobar (siamang jawab-menjawab), naik maligai (naik istana), dan pado-padi (irama permulaan).

Kayat tidak hanya berfungsi sebagai sebuah hiburan. Kayat juga berisi  pandangan dan tuntunan perilaku hidup sehari-hari. Tak jarang, pertunjukan kayat ini  dibungkus dengan cerita-cerita tentang kepahlawanan Islam atau gambaran kehidupan sesudah mati. Ada cerita yang berkisah tentang cerita dagang piatu (peruntungan), kayat kanak-kanak, dan kayat porang (perang).

Di Rantau Kuantan, keberadaan kayat tersebar di sejumlah daerah kecamatan, seperti  Benai dan Kuantan Hilir. Kayat juga ada di Desa Toar, Kecamatan Gunung Toar, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau. Di daerah ini hidup tukang kayat Nasir (79 tahun)  dan Juharli (57 tahun). Akan tetapi, dua orang ini sudah tidak pernah lagi menampilkan kayat di tengah keramaian. Mereka terakhir tampil sekitar tahun 2000. Menurut Nasir, selain kayat asli sudah tidak banyak peminat, mereka pun mengaku usianya sudah tidak muda lagi untuk berkayat.

Tim kayat mereka pun sudah tidak lengkap lagi karena dua orang sudah meninggal. Oleh karena itu, ketika menampilkan kayat, mereka sudah tidak bisa menyelesaikan kayat tersebut sampai tuntas. Seharusnya, setelah habih satalo (habis satu episode), kayat harus disambung oleh tukang kayat yang lain. Para pekayat ini berharap, kesenian kayat ini bisa diwariskan kepada generasi sekarang dengan cara diajarkan kepada pemuda yang punya kemauan/kepedulian terhadap kayat.

Dulu, tukang kayat sangat dihargai dalam masyarakat. Penghargaan itu mulai dari penyambutan yang sangat meriah, bak seorang bupati datang meninjau kampung sampai posisi duduk yang ditinggikan di atas kasur pada saat penutur kayat tampil di tengah masyarakat penikmatnya. Walaupun secara ekonomi, mereka bukanlah orang yang berkelebihan karena profesinya tersebut. Hal itu disebabkan seringkali masyarakat memberi honor yang ala kadarnya kepada mereka.

Saat ini kayat sudah mengalami perubahan. Dulu cerita-cerita yang mengandung unsur Islam lebih dominan, tetapi sekarang pantun-pantun percintaan lebih mengemuka. Tidak jarang tukang kayat membawakan cerita-cerita kekinian. Perubahan terjadi pula pada waktu penampilan. Kayat yang biasanya ditampilkan pada malam hari, sekarang bisa ditampilkan pada siang hari, sesuai keinginan yang membayar pertunjukan tersebut. Kayat yang dulunya diiringi alat musik sederhana, kini bergeser menjadi kayat yang diiiringi alat musik modern, seperti keyboard. Irama pun mengalami perubahan sehingga sekarang dikenal istilah saluang dangdut yang seolah merupakan gabungan antara kayat dan dangdut. Dewasa ini, ada kecenderungan masyarakat lebih menyukai saluang dangdut ini.

Memang, kemunculan saluang dangdut tidak perlu dicegah. Akan tetapi, fenomena tersebut tentu saja dapat mengancam keberadaan kayat. Sebagai sebuah kearifan lokal, kayat merupakan salah satu warisan masa lalu yang patut dilestarikan dan direvitalisasi. Hendaknya pemerintah turun tangan untuk melakukan pembinaan terhadap kelompok-kelompok kayat yang masih ada sehingga tidak benar-benar hilang. Masyarakat juga diminta untuk peduli akan keberadaan kayat sebagai salah satu kekayaan dan aset daerah mereka.

 Tanpa hal itu, nasib kayat Rantau Kuantan akhirnya akan tinggal cerita yang hanya diketahui melalui mulut ke mulut, tetapi tidak pernah disaksikan lagi oleh generasi yang akan datang. Akankah kita biarkan? Kini, tinggal bagaimana kita bersikap: membiarkan kayat hingga “ajal” datang menjemputnya atau melakukan revitalisasi hingga bisa diwariskan pada anak cucu sebagai sebuah kearifan lokal masyarakat Rantau Kuantan.***

Irwanto adalah pegawai Balai Bahasa Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Sabtu, 17 November 2018 - 08:31 wib

Dari Ambon Daihatsu Jelajahi Pulau Seram

Jumat, 16 November 2018 - 18:00 wib

Menteri Keamanan Siber Jepang Ternyata Tak Mengerti Komputer

Jumat, 16 November 2018 - 17:30 wib

Dua Kecamatan Masih Terendam

Follow Us