CERPEN RIFAT KHAN

Tentang Jantung dan Hal-hal Romantis Lainnya

26 Juni 2016 - 01.52 WIB > Dibaca 1943 kali | Komentar
 
Bandara itu masih gelap ketika Har melangkah dengan ransel di punggungnya. Tubuh ringkihnya  perlahan menjauh dan hilang dari pandanganku. Ia akan pergi ke sebuah kota yang jauh. Entah kapan kembali. Selepas bayangannya menghilang, aku dan istriku berjalan pelan. Menaiki sebuah taxi yang membawa kami kembali.

***

Ada yang terasa sepi mungkin. Tapi ini adalah pilihan Har, demi keberlangsungan hidupnya, begitu ucapnya. Aku mengenalnya 6 tahun silam di sebuah kota tua Ampenan. Namanya Suharlan, seperti yang tercantum di KTP-nya. Aku terbiasa memanggilnya Har, singkat saja. Aku ingat pertama kali kami bertemu 6 tahun lalu. Aku hendak masuk perguruan tinggi. Aku memilih untuk ngekost di Ampenan. Har sudah jauh lebih lama ngekost di kamar sebelah kamarku. Ia tiba-tiba membantu mengangkat semua barangku. Selepas itu, aku menyuguhkan satu botol minuman dingin yang kubeli dari kios kecil di depan. Sungguh, caranya yang sederhana dan selera humornya yang tinggi membuatku yakin Har akan mudah dekat dengan siapa saja. Meski aku menduga, umurnya sekitar 5 atau 6 tahun di atasku.

Gerimis waktu itu turun begitu tipis seperti salju. Kami mulai bicara ringan tentang hujan, tentang daun, jalanan yang sepi, tentang langit hingga malaikat-malaikat yang kami percayai jumlahnya hanya 10 saja.

“Apakah kau tau, kenapa malaikat tidak diberikan nafsu seperti kita, Alif?

“Lah, kok pertanyaanya berat gini Har? Itu mah sudah kodratnya.”

“Kalau menurutku, alasan paling mendasar kenapa para malaikat tak diberikan nafsu adalah karena Tuhan masih belum mau kiamat datang begitu cepat.”

“Terus apa hubungannya Har?"

“Begini Lif, kalau malaikat punya nafsu, sudah sejak dulu bumi ini kiamat. Bayangkan, setiap malam tahun baru, jutaan manusia meniup terompet. Bisa saja, sang malaikat peniup terompet itu iri dan ingin meniup terompetnya juga. Habislah bumi terkasih ini.”

Kami tertawa terbahak-bahak. Tubuh ringkih Har seakan bergoyang, malah lebih kencang tertawanya mendengar ceritanya sendiri.

Belakangan, akhirnya aku tahu kalau Har adalah seorang penjaga toko buku. Har biasanya pulang kerja jam 5 sore. Ia biasanya akan masuk ke kamarku. Membongkar apa saja yang menurutnya pantas dibongkar. Menceritakan apa saja yang patut diceritakan. Seperti, ceritanya –tadi pagi di toko, ada seorang pemuda yang keliatan alim, memakai peci, baju koko, dan di setiap jeda berbicara, ia akan mengucapkan zikir. Har menduga, pemuda itu akan membeli buku-buku kisah rasul. Namun pemuda itu ternyata membeli novelnya Fredy S.

***

Hari-hari berlalu dengan ringan di Ampenan, berjalan apa adanya. Kami masih sering bersama-sama; berjalan tengah malam, duduk di warung kopi, menikmati laut yang ombaknya tetap begitu-begitu saja. Aku pun mulai menceritakan kegemaranku membaca puisi. Bagaimana aku menyisihkan uang membeli sebuah koran ternama setiap minggu. Juga tentang penyair idolaku yang bernama “Alan Hamsah”. Alan Hamsah menurutku adalah penyair luar biasa. Karyanya setiap Minggu hampir selalu di muat koran-koran ternama.

“Aku sudah tau Alif, minggu kemarin aku sempat membongkar keliping puisi-puisi penyair favoritmu itu di kamarmu,” ucapnya sembari melempar kerikil kecil ke tengah laut.

“Boleh tau alasanmu menyukai penulis itu?” lanjutnya.

“Hamsah adalah penyair modern. Banyak larik-larik puisinya yang menyentuh perasaanku. Meski kadang selalu dengan ciri khasnya yang berputar dalam kesedihan, cinta yang selalu patah, tentang hidup yang jauh dari harapan. Suatu saat, aku bermimpi bisa menulis sepertinya, mengabadikan setiap kejadian, mengabadikan nama kekasihku kelak dalam puisi.”

Har terdiam dan memandang jauh selepas mendengar penjelasanku. Seperti ia tak setuju dengan hal yang kuimpikan. Tiga tahun sudah aku mengumpulkan puisi-puisi Alan Hamsah dari koran-koran. Aku sering browsing di internet, namun tak pernah kujumpai fotonya satu pun. Biodatanya di koran-koran pun hanya bertuliskan “Alan Hamsah, lahir 1977. Puisinya tersebar di berbagai media. Hidupnya nomaden”. Sebatas itu saja.

Berita terakhir yang kubaca, penyair itu sudah menerbitkan buku kumpulan puisinya yang pertama. Sudah sering aku mencari di toko-toko buku, namun selalu buku itu tak ada. Bahkan namanya seperti sangat asing di telinga para penjual buku.

***

Alangkah terkejut dan bahagianya aku ketika di suatu sore Har ke kamarku dan mengeluarkan sebuah buku dari ranselnya. Ini untukmu, ucapnya sembari menyodorkan buku itu. Buku kumpulan Puisi Alan Hamsah yang susah kucari di mana-mana. Ketika kutanya buku itu ia dapat dari mana, ia bilang, “Tak sengaja ditemukan di rak paling bawah di toko, tertumpuk di bawah buku-buku Fredy S,” ucapnya tersenyum.

Aku terpingkal-pingkal mendengar jawabannya. Meski aku tak peduli buku itu ia dapatkan dari mana, yang penting buku itu sudah ada di tanganku. Dua hari sudah, aku dengan khusyuk membaca buku itu, bahkan mengesampingkan buku-buku pelajaran yang lain. Dalam buku itu, banyak puisi-puisi yang sudah dimuat koran-koran, meski ada beberapa puiai yang sepertinya belum dipublikasikan. Ada sepuluh puisi yang ditujukan untuk perempuan, lengkap dengan nama perempuan-perempuan itu.

Aku menyimpulkan Alan Hamsah adalah penyair yang mudah jatuh cinta. Penyair yang peka dan detil sekali memperhatikan perempuan. Meski akan selalu patah dan ujung-ujungnya ditutup dengan bait-bait yang penuh kesedihan. Aku membenarkan apa yang pernah diucapkan Subagyo Sastrowardoyo; setiap orang jika selalu memperhatikan dirinya, maka yang lahir hanyalah kesedihan belaka. Meski ada beberapa puisi lagi yang temanya tentang manusia dan ketuhanan. Buku itu cukup setia menemaniku selama tiga minggu terakhir. Ketika aku dan Har jalan-jalan; ke pantai Ampenan, ke Taman Budaya, buku itu selalu kubawa dalam tasku.

Hingga tahun demi tahun berlalu. Aku sudah wisuda dan Har masih saja setia menjadi pegawai di toko buku. Har sama sekali tak pernah menyebut, apalagi mengenal perempuan. Tapi akan selalu tampak ceria, meski sesekali ia terbaring sakit di kamar kostnya. Aku ingat, di hari perpisahan itu –selepas wisuda, kami berpisah. Aku harus pulang ke kampung. Lima tahun sudah aku mengenal Har, dan delapan tahun sudah aku masih setia membaca karya-karya Alam Hamsah di koran-koran ternama. Pesan terakhir Har begitu menggelikan saat itu.

“Alif, jika kau ingin bahagia di akhirat dan hidup pas-pasan di dunia, teruslah membaca dan menulis puisi. Tapi, jika kau ingin bahagia di dunia dan akhirat, jadilah politikus.”

Aku yakin Har hanya becanda saja dengan apa yang ia ucapkan. Aku pun melangkah dan kembali ke kampung untuk jangka waktu yang tak pasti. Sesampai di kampung, aku bekerja pada kantor keluruhan. Menjadi staf dengan gaji seadanya. Kemudian menikah dengan Alea, gadis yang kukenal sejak SMP. Seorang gadis yang baik dan sederhana. Kabar pernikahan itu kusampaikan kepada Har lewat telepon. Har bilang, turut berbahagia kawan. Sayang, aku tak bisa menghadirinya, kondisi badanku sedang tak sehat. Aku juga sudah dua bulan terakhir tinggal di Semarang.

Aku memaklumi apa yang disampaikan Har. Umurku sekarang sudah 25 tahun, mungkin Har sudah berumur 30 atau bahkan 31. Aku tak pernah berjumpa dengannya. Hanya berkomunikasi lewat telepon dan sesekali –jika jaringan internet di kantor agak lelet, aku sempatkan membuka Facebook dan saling berkomentar di statusnya.

Aku hidup lumayan bahagia dengan istriku. Aku sering menceritakan kelucuan Har padanya. Namun sudah 4 bulan terakhir, nomer handphone Har tak pernah aktif. Aku sedikit bingung dan menduga-duga; ada apa dengannya?. Sampai pada suatu hari sebuah pesan masuk datang di Facebook-ku. Pesan dari Har, berbunyi : Kawan, mungkin kau sering meneleponku. Aku memutuskan tak lagi menggunakan handphone. Alat komunikasi yang satu itu terlalu sering mengganggu istirahatku. Juga mengganggu kesehatanku. Apalagi harga pulsa berjalan naik seimbang dengan harga kebutuhan yang lain.

Ada sedikit nada guyon dari pesannya. Aku pun membalasnya : Gak apa-apa Har. Aku hanya ingin tau kabar dan keberadaanmu. Kalau ada waktu, aku pasti berkunjung ke Semarang menemuimu.

Har membalas lagi pesan itu : Saya tunggu kawan, tapi bulan depan, saya akan ke Padang. Ada beberapa hal yang musti saya selesaikan.

Komunikasi itu terhenti. Tiba-tiba akun Facebook Har offline selepas mengirim pesan itu. Aku sedikit lega sudah tau keberadaanya. Aku pun coba browsing hal-hal lain. Mungkin ada puisi Alan Hamsah yang terbaru. Ujung-ujungnya aku dibawa pada sebuah berita, “Penyair Alan Hamsah akan menghadiri Temu Sastrawan Nusantara di Padang”. Aku sedikit tercengang. Acara besar itu direncanakan akan digelar sebulan lagi. Aku bergegas membuka kembali akun Facebook-ku. Kemudian mengirim pesan kepada Suharlan, yang berbunyi : Kawan, jika kau jadi ke Padang dan tak sengaja bertemu dengan Alan Hamsah. Sampaikanlah salamku dan fotokan aku orangnya.

Pesan itu terkirim namun tak ada keterangan Har sudah membukanya. Tak ada balasan, sebab Har memang sudah offline sedari tadi. Aku pun melanjutkan tugas yang lain. Rutinitasku seperti biasa; pagi ke kantor dan sorenya pulang bercengkerama dengan istriku. Hingga satu bulan berlalu, aku penasaran membuka tentang Temu Sastrawan itu. Aku begitu tercengang ketika di website itu terpampang foto Suharlan membaca puisi dengan kaos The Beatles warna hitam yang dulu pernah kuberi untuknya. Di bawah foto itu terdapat keterangan foto; Alan Hamsah sedang membacakan puisinya di Temu Sastrawan Nusantara.

Aku mencoba menghubungi lagi nomer telepon Har, siapa tau sudah aktif dan sudah  ia gunakan lagi. Telepon itu tersambung dan di angkat. Aku menanyakan perihal Alan Hamsah kepada Har, menceritakan foto yang kulihat. Beberapa kali Har mengelak kalau ia sebenarnya adalah Alan Hamsah.

“Alif, saya berani bersumpah jika saya bukan Alan Hamsah. Jika bohong, pesawat saya besok akan mendarat dan tersesat di Amerika. Kemudian dijadikan menantu oleh Obama.” Guyonan seperti biasa muncul lagi. Aku tertawa dan kembali memaksanya mengaku. Sampai Har akhirnya berterus terang tentang semuanya. Sebelum teleponku ditutup, Har (yang ternyata Alan Hamsah) itu berucap, “Tetaplah kau mengagumi penyair idolamu itu, Kawan. Tapi jangan pernah mengagumi Suharlan, temanmu yang sudah ditakdirkan tak punya jodoh ini”.

Aku tak sabar untuk menemuinya di Semarang. Apalagi dua hari setelah acara Temu Sastrawan itu aku membaca berita, kalau Buku Kumpulan Puisi Alan Hamsah dinobatkan sebagai pemenang Khatulistiwa Awards yang merupakan pernghargaan bergengsi dengan hadiah uang ratusan juta rupiah itu.

“Sudah kupesankan tiket bolak-balik, untuk kau dan istrimu,” telepon Har suatu pagi.

Lantas, aku dan isteriku langsung terbang ke Semarang. Aku sangat bahagia bisa bertemu dengan Har, sekaligus Alan Hamsah, penyair idolaku. Har tampak jauh lebih kurus. Rupanya ia sering sakit-sakitan. Setelah banyak ngobrol tentang puisi dan proses kreatifnya, kami bertiga –Aku, Har, dan istriku balik ke Ampenan. Har kembali ngekos di tempatnya dulu. Sementara aku dan istri balik ke Lombok Timur.

Sekian tahun berjalan, lagi-lagi Har menjadi sosok misterius. Teleponnya gak pernah aktif, sering juga aku mencari ke Ampenan, ke tempat kostnya. Orang-orang mengatakan ia sudah pindah beberapa tahun lalu. Bahkan, sejak dinobatkan sebagai pemenang Khatulistiwa Award lima tahun lalu, sekali pun tak kujumpai tulisannya di koran-koran. Ia sepertinya sedang dalam istirahat yang panjang.

Sampai akhirnya sebuah kabar datang darinya lewat pesan facebook, : Kawan, aku akan pergi ke sebuah kota yang jauh, kota tua Groningen, Belanda. Kuharap kau dan istrimu datang. Aku sekarang mukim di Praya, Lombok Tengah.

Keeseokan harinya, aku mengajak istriku ke Praya. Setelah susah payah mencari, aku menemukan Har di sebuah rumah kontrakan kecil.

“Kenapa kau tak menulis lagi?” Pertanyaan pertama yang kulontarkan.

Har tersenyum kecil, “Kawan, ada kalanya seorang penulis mengalami hal ini, kebekuan. Hampir lima tahun, aku selalu berusaha menulis, tapi tak satu pun jadi. Patah hati dan lain sebagainya sudah tak mampu lagi dijadikan semangat dalam menulis. Makanya aku memutuskan pergi ke tempat yang asing dan jauh.”

Aku bisa menangkap penjelasannya dan berusaha tak menanyakan hal-hal lain. Keesokannya, subuh tepatnya, aku dan istriku mengantar Har sampai ke bandara. Lelaki bertubuh ringkik itu berjalan setelah berpamitan. Bayangannya semakin menjauh dan akhirnya menghilang. Aku dan istriku kemudian berjalan, menaiki taxi dan kembali.

Setelah beberapa bulan semenjak kepergiannya. Har sering mengirimkan surat elektronik kepadaku. Surat elektronik itu kadang-kadang ku balas, kadang pula tak sempat ku balas sebab pekerjaan kantor kian menumpuk saja. Pesan-pesan Har di antaranya:

“Kawanku Alif. Sebulan di Groningen semakin membekukan imajinasiku. Keindahan Martini Toren, keramaian Groningen Centrum tak mampu menjadi bait indah di puisiku. Aku bisa saja mati di sini.”

“Kawan, setelah menyerah dengan Groningen. Sekarang aku di Paris, menikmati keindahan sungai Seine. Jatuh cinta pada seorang gadis, meski akhirnya patah juga. Tapi satu puisi pun tak jadi. Sungguh, perjalanan hanyalah perjalanan. Perjalanan tak akan mampu mengubah nasib seseorang. Tak seperti kentut yang mampu mengubah nasib seseorang. Kau mungkin akan bertanya, kenapa kentut mampu mengubah nasib seseorang. Ada dua fakta yang kutemukan. Pertama, teman SD-ku, namanya Mahdi, sekarang menjadi bintang iklan gara-gara memiliki suara kentut yang aneh. Suara kentutnya persis seperti suara kucing; meoooong… meoooong…, dan nadanya amat panjang. Kedua, teman SMA-ku dulu, namanya Agung, gara-gara kentut di warung, ia digebuk para preman yang kebetulan sedang makan siang di warung itu. Sampai ia tewas di tempat.”

Beberapa hari kemudian, pesan Har datang lagi, dan sungguh pesan itu membuatku tercengang : Kawan, kuharap kau datang, aku sedang berada di Rumah Sakit Harapan Keluarga, Jakarta. Kuharap kau meluangkan waktu menjengukku.

Tanpa berpikir panjang, aku langsung terbang ke Jakarta. Istriku sedang hamil, ia memutuskan tetap di rumah. Perjalanan yang dipenuhi kesedihan dan perasaan tak karuan. Entah mengapa, sesampai di rumah sakit itu. Har benar-benar sudah dipanggil sang pencipta. Tubuhnya terbujur kaku berselimut kafan putih. Air mataku menetes pelan di pipi. Dokter bilang, “Jantungnya sudah parah. Jantungnya bocor sejak umurnya masih satu tahun. Semakin parah dan itu membuatnya tak mampu bertahan” Aku termenung mendengar penjelasan itu.
Sebuah laptop berukuran sepuluh 10 inchi masih terbuka di meja kecil dekat pembaringan tubuh Har. Aku duduk, tanganku bergetar membuka laptop itu. Ada file yang masih terbuka, di halaman microsoft word, sebuah tulisan yang belum jadi, tepatnya sebuah cerpen yang berjudul “Tentang Jantung dan Hal-hal Romantis Lainnya”.***

Rifat Khan lahir 24 April di Lombok Timur. Bergiat di Komunitas Rabu Langit, NTB. Puisi dan cerpennya dimuat Suara NTB, majalah Cempaka, Metro Riau, Radar Surabaya, Jurnal Nasional, Sinar Harapan, dan Republika. Sekarang bermukim di Pancor, Lombok Timur.



KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us