Jalin Silaturrahmi Sesama Seniman Saat Ultah

Tonil Kerenah Sambut Raya Ala Matan

2 Juli 2016 - 22.53 WIB > Dibaca 802 kali | Komentar
 
Tonil Kerenah Sambut Raya Ala Matan
“Kerenah Menyabut Raya’’. Itulah judul tonil yang dipentaskan Teater Matan. Tonil adalah sebuah sandiwara. Menyaksikan salah satu warisan seni panggung tradisi di Gedung Olah Seni Taman Budaya Provinsi Riau Rabu, (29/6) yang penuh pesan ini, sudah pasti terhibur. Keletah, senda gurau yang menghibur membuat penonton terbahak-bahak.

Seni pertunjukan tonil itu sendiri dalam tradisi Melayu memang ada sejak dahulu. Tonil merupakan satu produk budaya Melayu dalam bentuk sandiwara yang hidup dan tumbuh subur di beberapa daerah Riau pada era 80-an.

Di dalam kisah yang dimainkan, komedi atau kelucuan menjadi bagian penting sembari menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat pada masa dahulu. Budaya humor ini dalam kebudayaan Melayu dapat pula ditandai saat mulai berkembangnya dunia seni pertunjukan tradisional seperti Mak Yong, Bangsawan, Mendu, Mamanda, Randai Kuantan dan tradisi lisan lainnya. Bumbu humor selalu menjadi bagian terpenting dari setiap pertunjukan baik dari sisi improvisasi para pemain maupun karakter tokoh dan kemasan cerita yang dipentaskan.

Demikian juga hal yang dapat diapresiasi dari pentas tonil ala Teater Matan malam itu.
Pertunjukan dimulai dengan nyanyian pembuka yang sekaligus dijadikan babak perkenalan masing-masing tokoh kepada penonton yang hadir. Dari arah penonton, lagu itu di senandungkan belasan aktor menuju ke panggung yang sudah didekor berbentuk gerai kopi ala Melayu.

Sedangkan kisah yang diangkat dari cerita tonil yang berjudul “Kerenah Menyambut Raya” tersebut adalah hal ihwal keseharian yang diwakili sebuah kampung bernama “Pandan Bertekol”. Konon, di dalam pertunjukan itu terdapat sebuah kampung yang penduduknya dominan orang tua-tua. Mereka ini di masa mudanya adalah para pelaku dan praktisi seni yang sangat tersohor.

Sayangnya, di antara mereka tidak pernah kompak dan selalu berseberangan pendapat. Hal itu terbukti di dalam kisah yang berdurasi sekitar satu jam tersebut. Ketika kampung Pandan Bertekol hendak menggelar pentas seni dalam rangka perayaan ulang tahun kampung, para tetua-tetua itu dikumpulkan semuanya. Agenda rapat yang seharusnya dapat menemukan kata mufakat justru menjadi ajang pertengkaran yang tidak berkesudahan. Jangankan hendak menetapkan acara apa yang mesti dibuat untuk ultah kampung mereka, justru dalam menetapkan tanggal ulang tahun kampung itu saja, tidak sependapat dan berujung dengan caci maki dan saling menghina keturunan masing-masing.

Penuh Sindiran

Tetapi berbagai persoalan itu tentu saja dilakonkan dengan pola tingkah yang komedi. Baik dari dialog-dialog improvisasi maupun karakter dari masing-masing aktor. Setiap apa yang terjadi atau diucapkan selalu berbancuh dengan senda gurau, dan juga gerak-gerik yang menggelikan hati. Sehingga tak heran sepanjang pertunjukan, ledak gelak tawa dari penonton yang hadir turut meramaikan gedung yang terdapat di komplek Taman Budaya Riau tersebut.

Kisah dalam tonil ini juga kental dengan sindiran-sindiran. Digambarkan dengan jelas bagaimana seniman di kampung tersebut berkelompok, terpecah-pecah dan egois. Masing-masing kelompok merasa benar, menang, tidak mau kalah apalagi disalahkan. Apa yang dibuat, apa yang membesarkan kampung seolah masing-masing mereka yang melakukan, bahkan menyalahkan orang atau kelompok lain demi menonjolkan diri atau kelompok masing-masing.

Dalam kisah tersebut, Matan juga seolah ingin mengingatkan agar tidak berkelompok dalam berkesenian, tidak ada saling menyalahkan dan bersatulah hendaknya. Sebuah keinginan, petuah unik dari Matan yang ingin diberikan sebagai hadiah kepada semua seniman Riau dalam usianya yang masih belia, khususnya dalam ulang tahunnya yang ke-4 malam itu.
Sempena Ulang Tahun

Pertunjukan tonil tersebut dipersembahkan sempena ulang tahun ke-4 teater Matan. Tak heran jika seluruh personil Matan, turun berlakon malam itu. Di antaranya, Hang Kafrawi (Ngah Seman), Mat Rock (Andak Amat) Andy (Ucu Rasip), Ridwan (Cik Moneh), M Nazri (Tok Din),  Deni Afriadi (Alang Brahim), Rikcy Pranata (Wak Burhan),  Jamal (Atah Kahlid), Jefri al Malay (Long Arep) dan Monda Gianez (Uteh Ali). Mereka semua berperan sebagai orang-orang tua yang senantiasa bereforia dengan kegemilangan masa muda mereka dan juga kejayaan datuk nenek mereka.

Selain itu, lakon tonil ini diperkuat pula dengan keberadaan para anak-anak muda seperti Asma Aini (Eton), Party Ningsih (Tijah), Eric (Bedol) dan Musyawir (Jang). Keempat anak muda ini adalah anak dari Uteh Ali yang menjadi sisa generasi yang masih bertahan di kampung. Anak muda yang lain sudah tidak berada di kampung, semuanya hijrah ke kota dikarenakan susah mencari pekerjaan dan juga tidak tahan melihat perilaku orang-orang tua di kampung itu yang setiap saat hanya bertengkar dan merasa paling betul.

Kisah di dalam pertunjukan Tonil ini seolah-olah terjadi dua hari menjelang Hari Raya, oleh karenanya, suasana musik pengiring yang dimainkan oleh Ridho Fatwandi (Accordion), Jang (gendang Gebano) dan Agus Salim (Gitar dan Biola) sesekali terdengar instrumen lagu hari raya. Bahkan yang lebih menarik, dalam pementasan itu, para pemusik juga turut terlibat, sesekali mereka turut mengogam apa yang sedang diperbincangkan oleh para aktor di atas panggung.  Jadilah malam itu, sebuah pertunjukan yang tak ubahnya seperti pertunjukan teater tradisi Melayu yang memang tidak ada batasan antara penonton dan para aktor.

Hang Kafrawi selaku pimpinan sanggar Teater Matan mengatakan konsep yang ditawarkan bukanlah hal yang baru. Spirit dari kekayaan teater tradisi yang tetap coba digali kemudian diaplikasikan dengan teknik-teknik peran modern. Tambah lagi, konsep tonil yang diangkat bukanlah kali pertama. Sebelumnya Teater Matan sudah pernah mementaskan beberapa buah pertunjukan tonil seperti tonil “Hang Tuah Agaknya” dan “Romeo dan Juliah”.

Tema yang diangkat di dalam seni pertunjukan tonil ala Teater Matan sebenarnya berpijak dari hal yang sederhana yaitu persoalan sehari-hari. Kemudian dikemas ke dalam bentuk garapan panggung teater. Kemudian unsur komedi yang menjadi bumbu di dalam cerita juga berangkat dari fenonema di alam Melayu. Dapat ditemukan misalnya, unsur komedi sejak dahulu telah mendapat tempat di hati masyarakat.

Sebut saja, karya-karya penulis seperti Soeman Hs. Beberapa karya cerpen penulis handal Riau ini hampir semua komedi dalam bentuk satir. Keberadaan tokoh yang kepiawaiannya dalam menyampaikan cerita-cerita satir seperti Yong Dolah juga membuktikan bahwa humor atau komedi mendapat tempat di dalam keseharian orang-orang Melayu khususnya Bengkalis.

“Maka dalam proses kami mencoba menelusuri bentuk-bentuk seni tradisi panggung yang dimiliki Riau, pesan-pesan yang dihantarkan dalam bentuk humor bernada satir akan lebih cepat masuk kepada penonton tanpa melukai banyak orang,” ujar Kafrawi.

Bisa dilihat lagi misalnya bagaimana bentuk cerita-cerita rakyat yang berkembang seperti Lebai Malang, Musang Berjanggut, Ayah Andeh dan lain-lain. Bahkan untuk menasehati seseorang dalam keseharian saja, orang Melayu sering menyampaikannya dengan cara berseloroh. Ditambah pula banyak kita temui pantun-pantun jenaka dan berkelakar. Semua itu bagian dari khazanah yang dimiliki oleh negeri ini.

“Yang sedang kami jajaki adalah upaya untuk mengembalikan teater itu kepada masyarakat. Barangkali pintu masuknya terlebih dahulu adalah dalam bentuk berseloroh atau bergurau senda selayaknya masayarakat Melayu dahulu yang terbiasa menerima pesan dari hal-hal yang ringan dan sederhana. Sembari itu juga tetap menyelipkan pesan-pesan di dalam pentas yang digelar,” ucap Kafrawi menambahkan.

Hal yang tidak bisa dihindari kemudian, tentu saja gelak tawa penonton dalam menyaksikan adegan-adegan komedi yang ditawarkan. Seperti halnya yang diakui Budayawan Riau, G.P Ade Darmawi, pertunjukan yang diusung oleh Teater Matan, membuat kering gigi dilantak ketawa. “Bagus, bagus...kering gigi dilantak ketawa,” ujar seniman serba bisa itu spontan ketika ditemui usai pertunjukan.

Senada dengan hal itu, Budayawan Riau lainnya yang turut hadir, Fakhrunnas MA Jabbar mengatakan pertunjukan Tonil ala Teater Matan sangat pas dan terasa dibawa di alam pesisir Riau terutama Bengkalis. Berbagai fi’il dan tingkah laku serta adegan yang dikemas sangat lekat dengan pola masyarakat di Bengkalis. “Saya dulu lama tinggal di Bengkalis, jadi terasa dekat sekali dengan karakter-karakter tokoh di dalam cerita. Inilah menurut saya cerita-cerita ringan yang sesekali perlu diangkat yang berangkat dari hal ihwal keseharian masyarakat,” ujar penyair asal Riau itu.

Tanggapan dan apresiasi juga disampaikan GM Riaupos.co, Raja Isyam Azwar, katanya kemasan cerita yang dibalut komedi sangat menarik. Kisah keseharian yang diangkat dengan berbagai karakter orang-orang Melayu sangat terkesan sekali. “Menarik untuk diparesiasi terutama kisahnya ringan namun tetap ada pesan yang hendak disampaikan. Hanya saja selaku penonton, saya kurang pas dengan ending cerita yang terkesan dipaksakan habisnya. Padahal, karakter dan alur cerita sudah sangat terbangun sejak awal tetapi itu barangkali bergantung persiapan saja. Dan selaku penonton yang awam dengan pementasan teater, saya kira patut pertunjukan seperti ini dipentaskan sesekali sebagai penyeimbang dan menghibur masyarakat,” ujarnya.

Silaturahmi, Tausyiah dan Orasi Seni

Milad ke-4 Teater Matan dimula dengan berbuka bersama para pelaku seni di Riau. Baik dari komunitas juga insan-insan seni secara personil. Hal itu digelar dalam rangka memperkuat tali silaturahmi antar pelaku seni, apalagi di bulan penuh berkah ini.

Berbagai rangkaian acara yang telah disusun yang diawali dengan tausyiah Ramadan, dalam hal ini disampaikan oleh Budayawan G.P Ade Darmawi. Isu-isu seni dari masa ke masa terutama yang terkait dengan teater, kemudian dibentangkan G.P Ade Darmawi, dibancuh pula dengan ketentuan-ketentuan Islam.

Usai berbuka bersama, dilanjutkan dengan salat berjamaah. Kemudian, setelah Isya, barulah berbagai kegiatan seni dipergelarkan. Dibuka dengan sambutan kebudayaan yang langsung disampaikan Ketua Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al Azhar. Dalam penyampaiannya, budayawan Riau itu mengemukakan banyak hal yang bernas dan tentu bermanfaat bagi pelaku seni di Riau hari ini. Mulai dari membicarakan spirit berkesenian dan berkebudayaan dari masa ke masa, tokoh-tokoh seni yang ada, sampailah kepada peran pemerintah terhadap keberlangsungan kesenian dan kebudayaan di Riau.

Lalu, acara dilanjutkan dengan pertunjukan Monolog yang dipentaskan langsung oleh salah seorang anggota Teater Matan, Eric. Sebuah naskah karya Putu Wijaya berjudul “Tua” dimainkan Eric dalam rentang waktu kira-kira 15 menit. (jefrizal)

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us