ESAI SASTRA

Apa yang Kau Cari, Sastrawan?

2 Juli 2016 - 23.11 WIB > Dibaca 1212 kali | Komentar
 
Oleh Fakhrunnas MA Jabbar
    
SUDAH tak terhitung berapa banyak acara  pertemuan sastra di negeri ini. Hampir setiap bulan, ada saja kegiatan semacam itu digelar dan diprakarsai  oleh institusi atau komunitas baik dari kalangan  pemerintah maupun swasta –terutama kelompok sastra-  di berbagai belahan kota dan kampung di Indonesia. Nama acara dan ruang lingkup peserta boleh saja  berbeda-beda. Tapi banyak pula  di antara acara tersebut bermiripan terkait  tema, motif dan batasan sastrawan yang boleh ikut.

Setidaknya terdapat puluhan perhelatan sastra yang digelar pada tahun-tahun terakhir.  Di antara pertemuan sastra itu ada yang terus berkelanjutan dan ada pula yang berlangsung hanya sekali. Sekadar mencatat, di antaranya:  Jakarta International Literary Festival (Jilfest), Dialog Borneo, Puisi Negeri Poci (kini sudah yang ke-4 dimotori oleh Adri Darmaji dkk), Pertemuan Pengarang Indonesia (PPI- dimotori oeh Radhar Panca Dhana), Puisi Melawan Korupsi (PMK- Sosiawan Leak),  Hari Puisi Indonesia –Rida K. Liamsi dan Sutardji Calzoum Bachri), Hari Sastra Indonesia – (Taufiq Ismail) , Temu Sastra Indonesia (TSI), The Ubud Writer Festival, Bobobudur Writer Festival, MPU 10 kota, dan masih banyak lagi.

Belum lagi, acara pertemuan sastra yang dilaksanakan komunitas-komunitas seperti Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Utan Kayu, Syalihara, Forum Lingkar Pena, Taman Budaya, Badan Koordinasi Kesenian Indonesia (BKKI),  Dewan Kesenian se Indonesia (dominan digelar oleh DKJ Jakarta).

Di masa lalu, bukannya tidak ada kegiatan-kegiatan sastra  semacam itu. Bahkan banyak pula di antaranya yang hingga kini dikenang sebagai sejarah atau mitos seperti Baca Puisi 7 Kota (DKJ), Pertemuan Puisi Indonesia 1987, Sidang Sastra Indonesia’81,  Cakrawala Sastra Indonesia, Penyair  Mimbar Abad 21, Siswa Bertanya dan Sastrawa Bicara (SBSB. Namun, keberlanjutan kegiatan tersebut nyaris tak terdengar lagi sampai kini.

Ada kecenderungan, kajian-kajian mengenai tema aktual dalam kreativitas dan fenomena kesusastraan pada masa itu  terasa lebih menonjol. Inilah yang kemudian mencuat ke permukaan  dalam sastra Indonesia berupa isu sufisme, nilai-nilai lokalitas atau subkultur, eksperimentasi, mantra, post-modernisme dan masih banyak lagi. Sementara perhelatan sastra era masa kini lebih bergerak pada dampak perkembangan teknologi digital terhadap wujud dan tema karya sastra.

Sementara,  aktivitas sastra masa kini terkait langsung dengan  perkembangan teknologi komunikasi di era digital yang menyuburkan banyak media berkomunikas dan berkreasi sastra berupa e-sastra (cyber sastra), e-magazine, website dan blog dan tak kalah pentingnya peran media sosial seperti Blakcberry, Facebook, Twiter, Youtube, Skype dan sejenisnya. Realitas ini sangat mempermudah akses dan komunikasi di kalangan para sastrawan yang bermastautin dari pusat kota hingga pelosok kampung baik di tanah air maupun di tanah perantauan. Lihat saja kemunculan sastra eksil –para sastrawan Indonesia yang menetap bahkan sudah jadi warga negara lain karena alasan ideologi dan politik.

Selain itu, ada pula  iven sastra yang melibatkan sejumlah negara serumpun  cukup marak digelar dengan berpindah-pindah kota di negara masing-masing seperti MABIM, Mastera, Dialog Teluk Borneo, dan NUMERA (Nusantara Melayu Raya), Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN- kini sudah kali yang ke-17), Pertemuan Penyair Nusantara (PPN-kini yang ke-6), Dialog Borneo (Kalimantan, Brunei, Malaysia), Dialog Utara (Indonesia,  Thailand, Malaysia), dan Dialog Selatan (Riau, Malaysia, Singapura), Selain itu, di negeri jiran sendiri sejak dulu bermunculan pula tradisi hampir sama seperti Hari Puisi, Hari Sastra dan lain-lain yang ditaja oleh Dewan Sastra, Gapena, Pena dan organisasi sastra di hampir semua negara bagian.

Ada fenomena menarik dalam perhelatan-perhelatan sastra masa kini bila dibanding masa lalu. Para sastrawan yang terlibat terlihat sangat beragam baik dari sisi media ekspresi yang bersifat konvergen (media cetak, elektronik dan cyber), tak membedakan usia (generasi lama, generasi baru), kemapanan dan pretasi berkarya (senior-yunior) atau sengkarut kriteria lain yang menjadi tembok pengkotakan kalangan sastrawan sendiri. Helat sastra semacam itu memang selalu dilandasi asas kreativitas dan karya. Namun selebihnya direkat oleh kerinduan bernostalgia dan silaturahim yang sudah lama terputus. Semua event sastra itu benar-benar jadi ‘rumah rindu’ para sastrawan.

Bila dicermati, para sastrawan yang hadir dalam pertemuan sastra itu memperlihatkan keragaman yang terjadi secara alamiah. Ada sastrawan-sastrawan generasi lama yang pernah punya nama besar melalui karya-karya yang dihasilkan selama karir sastranya. Namun tak sedikit pula sastrawan generasi muda yang tampil dengan keunikan dan egoisme atas karya-karya yang dihasilkan dalam memperkaya khasanah sastra Indonesia. Situasi ini benar-benar menghadapkan gara konvensional dengan gaya kontemporer yang kadangkala terkesan saling bertolak belakang. Bak lirik lagu Ari Wibowo dulu: ...kau suka keju, kusuka singkong...

Namun, ada hal yang sangat dipujikan atas kehadiran para sastrawan itu –baik generasi lama atau baru. Mereka hadir dengan mengerahkan segala daya dan upaya secara mandiri terutama biaya transportasi. Bahkan di acara pertemuan sastra itu, sering pula mereka hanya menjadi "penggembira" karena tak mendapat peran apa-apa seoama kegiatan berlangsung. Artinya, tak ada pula honorarium yang bakal diterima sebagai penambah uang saku. Luar biasa, militansi para sastrawan dalam mengibarkan bendera kesusastraan agar tetap eksis dan dicintai di tanah airnya sendiri.

Pertanyaan yang muncul kemudian, sesungguhnya apa yang dicari para sastrawan saat menghadiri kegiatan pertemuan sastra itu? Tampaknya luahan hati untuk bernostalgia sambil mengenang masa-masa jaya berkarya di masa lalu kala bertemu temman-teman seangkatan, cukuplah jadi buaian kegairahan. Boleh jadi, pertemuam-pertemuan sastra di mana-mana menjadi ‘rumah rindu’ para sastrawan. Selalu ada dorongan untuk bisa hadir dan bersiaturahim agar sejarah sastra yang pernah diukir tak mudah terhapus oleh perubahan masa.***  

Fakhrunnas MA Jabbar, adalah sastrawan, tinggal di Pekanbaru.


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 14 November 2018 - 13:15 wib

DPRD Siapkan Rp200 M untuk Sekolah Gratis

Rabu, 14 November 2018 - 13:00 wib

Dua Gedung Penegak Hukum Belum Kantongi Izin Lingkungan

Rabu, 14 November 2018 - 12:53 wib

Kulit Cerah dengan Sapuan Warna Cokelat

Rabu, 14 November 2018 - 12:50 wib

Dewan Ditantang Puasa SPPD

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Disdik : Pagar Dibangunan Komite

Rabu, 14 November 2018 - 12:48 wib

Khawatir Kuota Premium Tidak Cukup di Riau

Rabu, 14 November 2018 - 12:32 wib

Pasien RSJ Bisa Gunakan Hak Pilih

Rabu, 14 November 2018 - 12:30 wib

Kontraktor Diminta Menggesa Pengerjaan

Follow Us