ESAI SASTRA

Romantifikasi (Fakta) Kemiskinan

2 Juli 2016 - 23.19 WIB > Dibaca 962 kali | Komentar
 
Oleh Beni Setia

DAN Ahmad Tohari mengakui (lihat “Budaya Tradisi Sumber Inspirasi Paling  Dahsyat”, Liberty 2359, 21-30/11.2008, hlm 38-39), kalau Dukuh Paruk dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk itu memang ada—nyata. “Potret dukuh itu dalam kenyataan yang sesungguhnya memang benar-benar ada. Namun, pada waktu itu saya tidak tega menyebutkan nama dalam novel ...” katanya.

Ahmad Tohari merujuk fiksi Dukuh Paruk ke perkampungan di sekitar Makam Eyang Bana Keling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah. Wilayah pertanian tadah hujan, yang kini tak gersang lagi karena telah ditunjang oleh keberadaan saluran irigasi pengairan. Ahmad Tohari juga menandaskan, tradisi bukak klambu itu riil, dan mendapat data rinci tentang ihwal itu dari sumber primair—si yang memenangkan “tender”bukak klambu.

Sekaligus, meski cerita novel Ronggeng Dukuh Paruk itu fiksi tapi segala aspek rekaan itu bertumpu pada pilar-pilar fakta. Sehingga aspek lokasi, budaya dan tradisi masyarakat agraris pedalaman Jawa, Ronggeng Dukuh Paruk tak terbantahkan. Siapapun akan leluasa menelusuri fakta itu, meski kini telah berubah—seperti yang dilakukan si wartawan Liberty.

Sedangkan beberapa potret yang menyertai tulisan itu menunjukkan kalau ritual pemujaan ala Eyang Bana Keling itu masih dipertahankan. Ironisnya, menurut Ahmad Tohari, si yang dikuburkan—dan kemudian dikeramatkan itu—ternyata bukanlah sosok manusia, tapi hanya alat musik rebana—orang Jawa melafalkan dengan pemenggelan sehingga jadi bana, yang dibaca bono. Sementara itu keling, berarti kelam, bersimula dari fakta makam itu ada di tengah segerumbulan pohon liar, yang menciptakan siang hari bersuasana meremang. Ke tempat mana Ahmad Tohari muda, dulu, sering datang untuk berburu burung.

 ***

BERKEBALIKAN dari itu adalah buku Andrea Hirata, Laskar Pelangi. Minimal si tokoh cerita serta sang guru (Muslimah Hafsari) merupakan manusia real—kongkrit. Lokasi dan kejadian-kejadian dalam buku inipun bisa ditelusuri serta dirujuk validitas faktualnya ke si penulis dan tokoh-tokoh yang diceritakan. Bahkan Andy Noya, host acara Kick Andy Metro TV kuasa menghadirkan Andrea Hirata sebagai penulis buku, tokoh utama, serta sosok sang guru idealistik Muslimah Hafsari ke kesadaran publik, sebagai realitas kongkrit yang nyata, bisa disentuh, dan tak terbantahkan.   

Tak heran kalau guru Muslimah Hafsari jadi "heroine" pendidikan, pejuang, yang
mempertahankan pendidikan dasar di daerah terpencil meski dengan fasilitas minimal.
Tapi kenyataan penghormatan dan anugrah kongkrit kepada guru Muslimah Hafsari di satu sisi, serta perjuangan pantang menyerah dari si penulis (Andrea Hirata) sehingga ia bisa mencapai jenjang pendidikan sempurna di LN dan karier gemilang itu malahan mebingungkan. Membuat Laskar Pelangi goyah, tak bisa dianggap mutlak karya fiksi. Hanya sesuatu yang meski diandaikan bertolak dari pilar fakta tapi kukuh berselancar pada fakta, memoar masa pendidikan dasar Andrea Hirata di pedalaman Belitung.

Dokudrama. Teks biografi masa SD di pedalaman Belitung yang direkonstruksi dengan romantifikasi dan dramatisasi, campuran emosional di antara memoar dengan kultus idealisasi—bila ikon kultis individu terlalu berlebihan. Ketika difilmkan, Laskar Pelangi melahirkan kesadaran: pendidikan dasar di pedalaman itu amat tak memenuhi syarat, amat tergantung dari aspek pengabdian guru yang sesekali mampu melahirkan jenius perkecualian. Meski Dindibud mengapresiasi keajaiban anomali ketakadilan itu dengan menyediakan beasiswa bagi murid berbakat di wilayah terbelakang tadi, tapi— secara statistika—: berapa superstar yang mengangkasa di antara yang tenggelam?

Aspek kultus idealisasi Laskar Pelangi sangat dominan sehingga Andrea Hirata panik saat ada infotaimen tv  menayangkan sosok bekas istrinya yang disia-siakannya. Andrea Hirata jadi berkepentingan mempertahankan citra idola nan ideal. Berbanding lurus dengan kebingungan Jakob Sumardjo, Laskar Pelangi itu novel apa dokudrama. Kesulitan untuk mengapresiasinya sebagai teks fakta yang mengandung unsur rekaan, buat menelusuri kesengajaan melakukan upaya fiksionalisasi fakta oleh si pengarang. Bersikebalikan dengan Ladang Perminus, novel Ramadhan KH yang memotret kasus korupsi di Pertamina, misalnya.

***

FILM Laskar Pelangi itu dengan amat sadar bersengaja lebih menekankan dan mendramatisasi aspek dokumenter masa kecil Andrea Hirata serta keterkebelakangan pendidikan dasar di daerah terpencil. Yang tetap ada karena kehendak guru yang ingin tetap mengeksiskan pendidikan dan bukan realisasi tanggung jawab negara mendidik rakyat seperti yang diamanatkan UUD. Pekatnya aspek romantifikasi yang bersiujung pada sukses Andrea Hirata itu membuat tak banyak yang tersadar akan kondisi masih terkebelakang pendidikan di wilayah tertinggal, lantas emansipatorik ikut peduli serta berpartisipasi dalam praksis, karena merasa terpuaskan dramatik happy ending film.

Romantifikasi dan dramatisasi penulisan memoar, dan filmisasi Laskar Pelangi pelan-pelan mereduksi yang faktual keterbelakangan pendidikan di daerah terpencil. Laskar Pelangipun jadi hiburan, jadi tak layak dibandingkan dengan film dokumenter Pertaruhan—keduanya mejeng bareng di Berlin International Film Festival 2008 lalu. Pertaruhan itu merupakan antologi empat buah film dokumenter pendek, yang salah satunya merekam kisah seorang ibu di Tulungagung, yang setiap malam hari sengaja melacur di kuburan Cina Gunung Bolo—setelah seharian jadi pemecah batu tapi upah yang didapat tak bisa mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

Sebuah rekaman kemiskinan manusia marjinal di pinggiran, kerja keras dengan upah minim yang tak memadai buat sekedar mencukupi kebutuhan hidup subsistensi, dan cara nekad untuk mencukupi kebutuhan di tengah dead lock tidak punya jalan ke luar normal. Celakanya untuk perjuangan gigih itu tak ada komentar dari para pejabat negara, wakil rakyat, dan tokoh wanita, baik mengecam atau simpati akan nasib yang dimarjinalkan serta riil itu. Fakta riil dari film dokumenter yang sangat dramatik, yang teramat melukai kesusilaan itu tak ditunjukkan sebagai bukti kesewenangan patriarkik. Bukti lemahnya penegakan UU Perkawinan dalam hal memaksa suami yang sengaja menceraikan istri itu untuk menyantuni anak-anaknya.

Kenapa si ibu itu tak mendapat simpati sebagai yang dimarjinalkan? Apa karena film dokumenter itu terlalu faktual, terlalu kongkrit, dan sepertinya sangat bersengaja mempermalukan citra bangsa, dan atau pemimpin yang amat suka jaga imaji itu? Apa karena cerita dokumenter itu tak memiliki tokoh yang sukses semacam Andrea Hirata, serta melulu memotret kaum pinggiran yang kalah termarjinalisasi? Dengan kata lain, tak punya aspek romantifikasi yang kuasa memuaskan angan happy ending pengindap wishful thinking. Ini terbukti dengan gebrakan legal Pemda Kabupaten Tulungagung, yang lebih memilih menutup lokalisasi, bukan gerakan mengurai akar kemiskinan dari permasalahan sosial itu.***

Beni Setia adalah pengarang.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us