SAJAK

Sajak-sajak Anju Zasdar

2 Juli 2016 - 23.28 WIB > Dibaca 1363 kali | Komentar
 
sebuah alegori

selamat pagi, kekasih. tak ada yang
bisa kukerjakan hari ini selain
menulis puisi-puisi setengah fiksi
sebuah usaha berlindung dari
godaan mulut tetangga dan melawan
amarah-amarah akan rumah

tak ada yang sederhana

bahkan lagu-lagu balada yang kini
terdengar lebih terluka telah
mengepungku. lirik-liriknya
memenjarakan waktu, dan aku baru
tahu ada kesepian terbuat dari batu

tak ada yang sederhana

langit merah semakin tua
ketabahan menyerang pinggang
kalender letih memeluk tubuhnya
sendiri, orang-orang berputih mata
selebihnya, pikiranku yang terluka

sekarang, lesaplah ke jantung tidurku
saksikan berapa banyak mimpi kecilku
diringkus waktu, jangan dirisak tulus
dengkurku

pelankan sedikit suaramu
berbisik lebih baik
kita akan sampai pada kejutan



tembang lawas


kau bertanya, bagaimana kujalani hidup
aku menenggak kopi hitam segelas
memasang telinga pada tembang lawas
di sebuah kafe yang tak mengenal tutup

“aku tak tidur walau terpejam mata ini..”

kopi kedua datang dengan lirik menghantam
kesepian terasa keluar masuk badan
pada lagu yang kau nyanyikan
berulang-ulang



tamu

malam itu tamu datang sehabis gagal
menjenguk impian, kuajak ia masuk
ke relung tidurku

pagi sekali tamu semalam pergi
ia titipkan air mata sebagai
bahasa pengganti



pertemuan lain

aku bertemu Miya, sudah malam
ketika itu bulanseperti kue tart

katanya, keasingan begitu
terasa pada jam-jam tertentu

seperti mata yang kerap
curiga pada pejamnya sendiri

aku bertemu Miya, sekali lagi
ketika itu pagi sewarna lilin

katanya, di dalam luka
aku tak mengenali diri

di hadapan bahasa
aku hanya air mata

beginikah rasa kengen itu?


dalam

bahkan hatimu tak pernah benar
benar menepi
selalu lekas berkemas dan ingin
pergi

di hatimu kata sendiri tak pernah
berhenti
mendengar riuh percakapan antara
sunyi dan bunyi



setelah kehilangan

tak ada yang hendak kami ingkari
segalanya telah resap mengendap
di dalam badan sampai lain-lain
yang tak terjangkau

dari sini, kami hanya menerima
kata-kata yang dulu kau bahasakan
kata yang baka bagi sajak
kata yang tak mengenal
mana jalan mana ingatan

maka biarkan waktu menari
dengan gelang-gelang di kakinya
sampai kita sama-sama paham
satu kematian akan melahirkan
dua kehidupan



Anju Zasdar, lahir di Pekanbaru, 13 Mei 1983. Menikmati dunia puisi.
Giat di Komunitas Paragraf dan menetap di Pekanbaru.


KOMENTAR
Terbaru
Senin, 21 Januari 2019 - 13:50 wib

324 CPNS Diingatkan Jangan Lalai

Senin, 21 Januari 2019 - 13:15 wib

Lubang Jalan Purwodadi Membahayakan

Senin, 21 Januari 2019 - 13:10 wib

Menunggu Nama Jembatan Siak IV

Senin, 21 Januari 2019 - 13:05 wib

Kerja Sama IKM dengan Swalayan Bisa Maksimal

Senin, 21 Januari 2019 - 12:25 wib

Bawaslu Kampar Teruskan Laporan Pidana Pemilu

Senin, 21 Januari 2019 - 12:14 wib

Edy Resmi Mundur

Senin, 21 Januari 2019 - 12:06 wib

Pengukuhan Lembaga Adat Kenagarian Tapung

Senin, 21 Januari 2019 - 11:35 wib

Enam Putra dan Putri Meranti Dikirim ke Ponpes Pulau Jawa

Follow Us