OLEH YULITA FITRIANA

Mudik

2 Juli 2016 - 23.58 WIB > Dibaca 2147 kali | Komentar
 
Mudik
RAMADAN tahun ini sudah di pengujung dan Idulfitri pun akan segera tiba. Masyarakat semakin disibukkan oleh berbagai persiapan merayakan kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa dan mengekang hawa nafsu. Pasar, mal, dan berbagai pusat perbelanjaan pun mulai disesaki pengunjung.

Salah satu aktivitas menyambut Idulfitri (Lebaran) adalah mudik ke kampung halaman. Menjelang hari tersebut, masyarakat berburu tiket pesawat, kapal laut, dan bus, bahkan sebulan sebelum keberangkatan. Para perantau ini berupaya menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke kampung halaman. Cuti bersama yang ditetapkan pemerintah, memberi kesempatan kepada Aparat Sipil Negara dan karyawan swasta mengujungi kampung halaman yang belum tentu setahun sekali dapat mereka datangi.

Dalam sebuah tulisan “Mudik, Inilah Asal Usul Tradisi Unik Khas Indonesia (2)” dinyatakan bahwa para ahli mengaitkan tradisi mudik dengan orang Melanesia yang dikenal sebagai pengembara yang menyebar ke berbagai tempat untuk mencari penghidupan. Pada waktu-waktu tertentu, mereka kembali berkunjung ke daerah asal, misalnya pada saat perayaan keagamaan. Konon, pada zaman Majapahit, kegiatan mudik sudah dilakukan keluarga kerajaan. Nah, ketika Islam masuk, mudik pun dilakukan menjelang salah satu hari raya penting, Idulfitri.

Apa itu mudik? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dinyatakan bahwa mudik memiliki dua pengertian yaitu ‘(berlayar, pergi) ke udik (hulu sungai, pedalaman)’ dan dalam bahasa percakapan berarti ‘pulang ke kampung halaman’.

Dari pengertian inilah tampaknya, secara etimologis, orang menganggap mudik  berasal dari kata udik yang di dalam KBBI berarti ‘sungai yang sebelah atas (arah dekat sumber); (daerah) di hulu sungai’ dan ‘desa; dusun; kampung (lawan kota).’ Biasanya, daerah hulu sungai terletak di daerah terpencil, pedalaman, atau perkampungan, sedangkan daerah hilir merupakan muara sungai yang menjadi tempat pertemuan orang dari berbagai kampung sehingga cenderung lebih ramai. Lama-kelamaan daerah hilir ini menjadi kota dan menjadi salah satu tempat pilihan bagi orang-orang desa untuk mencari kehidupan baru yang lebih baik. Dalam kurun waktu tertentu, mereka kembali ke daerah mereka di udik sehingga mudik diartikan sebagai ‘menuju ke udik’.

Selain kata udik, sumber lain mengatakan bahwa mudik  berasal dari bahasa Jawa Ngoko, yaitu mulih dilik ‘pulang sebentar’. Biasanya, kepulangan para perantau ke daerah mereka memang hanya untuk waktu yang tidak lama, mungkin seminggu atau paling lama sebulan. Sebelum Kerajaan Majapahit berdiri, masyarakat Jawa yang agraris memiliki tradisi pulang kampung pada waktu-waktu tertentu untuk membersihkan areal pemakaman dan berdoa bersama untuk memohon keselamatan kampung halamannya. Tradisi tersebut masih hidup di dalam masyarakat Jawa di masa kini yang dikenal dengan istilah nyekar. Selain mulih dilik tersebut, ada pula yang menyebutnya, mulih dhisik ‘pulang dulu’. Hal ini berarti mereka pulang kampung untuk kembali lagi ke perantauan.

Istilah mudik juga dikenal dalam masyarakat Betawi. Dalam tulisan “Mudik dari Betawi?” kata mudik ini berlawanan dengan kata milir.  Mudik berarti ‘pulang’, sedangkan milir berarti ‘pergi’. Kata milir merupakan turunan dari belilir yang berarti ‘pergi ke utara’, sedangkan mudik  bermakna selatan. Sejak abad pertengahan, disebutkan bahwa dahulu di Sunda Kelapa, tempat usaha banyak terdapat di daerah utara sehingga masyarakat, termasuk yang berasal dari luar Jawa, berbondong-bondong mencari pekerjaan ke daerah itu. Masyarakat Betawi  tetap berumah di daerah selatan sehingga mereka mengatakan mudik ketika mereka kembali pulang ke rumah. Sementara itu, masyarakat luar menetap di daerah utara dan pulang ke daerah mereka pada Idulfitri. Oleh karena itu, kata mudik dalam istilah Betawi juga diartikan sebagai ‘menuju udik’ (pulang kampung), seperti yang sudah disampaikan sebelumnya.

Sesungguhnya, istilah mudik sudah mengalami pergeseran makna dibanding arti semula. Mudik tidak hanya diperuntukkan bagi aktivitas pulang kembali ke daerah-daerah yang berada di udik atau di hulu sungai  atau pedalaman. Mudik lebih diartikan seperti dalam bahasa percakapan, yaitu ‘pulang kampung’, tanpa melihat lokasi tempat kepulangan tersebut. Tidak perlu daerah tempat mudik itu harus berada di hulu. Bahkan, ketika tempat berpulang itu tidak lagi berupa kampung, tetapi sebuah kota, misalnya, istilah mudik masih dapat dipergunakan. Dengan demikian, ketika orang Yogya, Semarang, Surabaya, Makassar, Medan, atau Pekanbaru yang merantau ke Jakarta pulang ke daerah tersebut, mereka dapat disebut mudik. Tidak hanya kondisi yang demikian, warga negara Indonesia yang menyempatkan diri pulang ke Indonesia pada saat Idulfitri juga memakai istilah ini ketika kembali ke Indonesia.

Di dalam sebuah tulisan “Mudik dan Fenomena Bahasa Daerah” dinyatakan bahwa di dalam karya sastra, kata mudik juga mengalami pergeseran. Mudik yang merujuk pada aktivitas pulang kampung yang berkaitan dengan Idulfitri atau Lebaran baru terlihat pada karya sastra yang terbit pada awal 1970-an. Senada dengan hal tersebut, Maman S. Mahayana  menyatakan bahwa beberapa karya sastra yang terbit pada akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an, seperti cerpen “Ke Solo, ke Njati…” (Umar Kayam), “Lailatul Qodar” (Danarto), dan “Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari” (Jujur Prananto) juga memuat kata mudik yang dikaitkan dengan Lebaran. Hal tersebut juga terlihat di dalam cerpen Mustofa W. Hasyim yang berjudul “Mudik” (1997).

Dengan memperhatikan penjelasan sebelumnya, terlihat bahwa kata mudik ada di beberapa budaya di Indonesia. Kata ini juga sudah mengalami perkembangan dari arti awal. Walaupun demikian, seharusnya mudik tetap dimaknai sebagai bentuk upaya kembali ke udik; ke hulu sungai. Bagaimanapun, air di hulu sebuah sungai seyogyanya lebih jernih; bersih dibandingkan hilir. Dengan demikian, aktivitas mudik adalah upaya kembali membersihkan diri dari berbagai “kotoran” yang menghinggapi manusia, bukan aktivitas berhura-hura atau pamer harta. Jika dikaitkan dengan Idulfitri, mudik yang sesungguhnya adalah kembali ke fitrah.   
   
Selamat kembali ke udik; selamat kembali ke fitrah.***

Yulita Fitriana adalah peneliti di Balai Bahasa Provinsi Riau.
 
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Selasa, 18 September 2018 - 17:22 wib

AJI Pekanbaru Kirim Delegasi ke Festival Media 2018 di Pontianak

Follow Us