CERPEN LATIF FIANTO

Mukena

3 Juli 2016 - 00.12 WIB > Dibaca 3152 kali | Komentar
 
Mukena
PEREMPUAN bergigi gingsul itu masih terpaku memandang beragam lukisan di dinding kamar. Pasti dia tiada menyangka bahwa aku masih terus menyimpan seluruh kenangan itu.
Dengan langkah yang tidak ragu-ragu, dia menghampiri sebuah lukisan yang melekat di dinding kamar. Sebuah lukisan seorang perempuan renta dengan seorang bayi di pangkuannya. Dia memperhatikan lukisan itu dengan mata pukau. Kemudian dengan sangat pelan tubuhnya diseret mendekati sebuah lukisan lain di dinding dekat jendela. Sebuah lukisan seorang perempuan yang mirip sekali dengan dirinya. Tidak salah. Perempuan dalam lukisan itu memang dirinya. Aku melukisnya di awal-awal kami bertemu.

Dia, seorang kekasih yang gagal kunikahi. Genap sudah lima tahun kami berpisah sejak dia memutuskan menerima pinangan lelaki lain. Lima tahun memang bukan waktu yang lama untuk saling melupakan, tapi cukup menyakitkan untuk saling mengingat, betapa hubungan kami harus terhenti lantaran saat itu aku masih lelaki tanpa masa depan. Sementara lelaki yang meminangnya adalah seorang buruh pabrik, yang telah memiliki penghasilan tetap setiap bulan.

Aku memperhatikannya yang tidak berkedip sedikit pun saat menatap lukisan itu. Raut wajahnya bahagia sekaligus terkejut. Dia belum percaya melihat semua kenangan tentang dirinya masih menggantung khidmat hampir di seluruh dinding kamar, di atas rak, dan mukena yang terlipat rapi di dalam lemari.

“Kamu masih menyimpannya?”

“Kalau masih bisa disimpan kenapa harus dibuang?”

Dia menatap wajahku sekilas, lalu kembali mengalihkan pandang ke arah lukisan, dengan seulas senyum yang lepas.

“Jadi, apa yang membawamu ke sini?”

“Rasa nyaman.”

“Aku tak yakin. Kurasa, seseorang yang lain telah memberimu rasa nyaman lebih besar daripada yang telah kuberikan padamu.”

“Kamu keliru!”

Aku menggelengkan kepala tanda tidak percaya. Mula-mula sikap kami sangat kaku, seperti remaja yang baru saja dilanda asmara. Namun, angin di beranda rumah merengsek masuk melalui jendela, mencairkan kekakuan yang membeku. Pelan-pelan kebekuan berganti dengan kata-kata yang meluncur deras dari bibir kami tiada henti.

Ini pertemuan pertama sejak kami berpisah. Pertemuan ini, mau tidak mau telah membuka kembali lembaran kisah silam yang haru biru. Potongan kisah masa lalu itu seperti puzzle yang saling berebut bermunculan di dalam kepala. Setiap pengalaman yang kami lalui telah membuatku tidak bisa dengan begitu mudah membuang semua kenangan bersamanya.

Sepotong kejadian berkelebat sangat jelas di dalam kepala. Hari itu, aku mengajak dia pergi ke luar kota. Tempat pertama yang kami singgahi adalah masjid An-Nur, yang berdiri di sebelah taman Kilisuci Pare. Sebetulnya tidak ada yang cukup menarik dari masjid ini, selain menaranya yang tinggi menjunjung langit. Di halaman depan masjid, sebelum undakan menuju pintu utama, ada sebuah kolam berbentuk persegi panjang tidak terawat. Di atas permukaan airnya yang kehijauan bercampur lumut, nyamuk-nyamuk kecil terbang berpindah tempat.

Tidak ada yang menarik untuk dimasukkan ke dalam album foto. Tapi atas dasar sebuah kenangan, dia memintaku mengabadikan senyumnya dengan latar bangunan masjid berwarna kusam dan menara yang tinggi menjulang.

“Setelah ini kita ke mana?” tanyanya selepas istirahat sejenak di sebuah warung kecil di pinggir jalan. Beberapa remaja yang kemungkinan besar sedang mengikuti kursus bahasa Inggris saling menukar tawa di tengah taman.

“Akan kuperlihatkan kepadamu miniatur eropa,” jawabku.

Kami meneruskan perjalanan menuju Simpang Lima Gumul Kediri, sebuah tugu yang menyerupai Arch de Triomph du Carousel, tugu kemenangan yang dibangun atas perintah Napoleon Bonaparte di Perancis. Seusai memarkir sepeda motor, kami berjalan menyusuri terowongan yang menghubungkan tempat parkir dan bangunan utama Gumul.

Di atas rerumputan yang mengelilingi bangunan bercorak eropa itu, orang-orang saling melepas tawa. Anak-anak kecil berlarian sehabis difoto oleh ibu-ibu mereka. Kulihat dia memintaku mengarahkan moncong kamera yang kupegang kepadanya. Dia berdiri dengan latar tugu Gumul yang tinggi besar menjulang. Hanya dalam beberapa menit, hampir seratus foto telah berhasil diabadikan ke dalam kamera yang kupegang. 
 
Cuaca sangat panas, mungkin karena musim kemarau. Sejauh yang kuperhatikan, di sini, matahari seolah lebih besar. Seakan lebih dekat di atas permukaan bumi. Panasnya sangat terik membakar kulit. Kuperhatikan wajah dia yang memerah. Sesekali tangan kirinya diangkat, berusaha menghalangi sinar matahari yang terus menerus menjilati wajahnya. 
 
Dari Simpang Lima Gumul, kami melanjutkan perjalanan ke gunung Kelud. Hari sudah sangat siang. Matahari sangat panas membakar ubun-ubun. Setelah dua jam perjalanan, kami mulai menyusuri lereng gunung Kelud melalui jalan beraspal yang menanjak berliku. Belum sampai menyentuh puncak Kelud yang porak poranda setelah meletus setahun yang lalu, tiba-tiba cuaca berubah perangai. Langit kelabu. Gerimis turun. Angin bertiup kencang. Orang-orang tidak berani naik lebih tinggi.

“Aku takut,” ucapnya dengan bibir pucat. Kedua tangannya mencengkeram pinggangku. Tubuhnya menggigil tidak mampu menahan dingin.

“Sebentar lagi kita akan sampai di puncak,” aku menepi di sebuah warung kecil.

Dia menggeleng. “Aku takut,” hanya kata itu yang keluar dari bibirnya. Gerimis yang mula-mula tipis serupa kapas, mendadak deras seperti air terjun yang ditumpahkan dari langit.
Melihat tubuhnya yang berguncang tak sanggup menahan dingin, aku melepas jaket dan memakaikannya di tubuh dia. Saat itu, tidak kurasakan betapa gigil sangat tajam menusuk ke dalam tubuh. Pikiranku hanya fokus padanya agar tidak semakin sengsara diserang dingin. Dingin mungkin hanya soal biasa, tapi melihat seorang perempuan yang dicintai berada dalam dekapan gigil yang sempurna, keadaannya lebih mencekam dari seratus peluru yang menghujam tubuh.

Ketika akhirnya hujan berhenti, aku segera mengajaknya pulang. Yang ada di dalam benakku bukan lagi puncak Kelud yang indah, melainkan secepatnya mengusir dingin yang menguasai tubuhnya.

Selepas kejadian itu, dia sakit parah. Tubuhnya demam. Dia dibawa pulang orang tuanya ke desa tempat dia dilahirkan. Selama seminggu dia tidak masuk kuliah. Dari cerita yang kudengar, setelah dia kembali lagi ke kota seminggu kemudian, dia dilarang berhubungan lagi denganku. Aku tidak tahu persis atas dasar apa keluarganya menolakku. Sampai kemudian dia menceritakan kejadian yang sebenarnya. Orang tuanya telah menjodohkan dia dengan seorang lelaki. Lelaki yang memiliki masa depan gemilang. Memiliki pekerjaan dan nominal gaji yang mapan.

“Tapi bukan itu alasanku menerima lelaki itu,” ucapnya selesai kami saling mengingat kejadian itu.

Aku hanya tersenyum kecil. Disangkal atau tidak, hidup selalu penuh dengan pembagian kelas. Kelas-kelas itulah yang menjadikan hubungan kami harus berakhir dengan cara tragis.

“Berapa kali aku harus menjelaskan, bukan kehendakku menerima pinangan lelaki itu, tapi ayah.”

Dia memang sudah sering menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Malam ini, ketika dia menjelaskan lagi bahwa sebetulnya bukan dia yang menghendaki pertunangan itu, aku hanya tersenyum kecil. Aku tidak mau lagi mengungkit kejadian itu.

Saat aku hendak mengajaknya ke ruang tamu, ia masih memandang lekat pada mukena yang ada di dalam lemari. Dia menitipkan mukena itu setelah hubungan kami berumur satu tahun. Katanya, supaya dia tidak kerepotan ketika hendak bersembahyang di rumahku. Selepas itu, dia tidak pernah mengambil mukena itu lagi. Setiap kali aku berniat mengembalikan tersebab tidak ada yang memakainya, dia selalu menolak. Katanya, biarkan mukena itu berada di lemariku saja.

Aku lalu mengajaknya ke halaman depan, duduk di sebuah pondok kecil di sebelah kolam ikan lele. Di tempat ini kami sering menikmati senja di hari minggu. Sambil menikmati petikan gitar, kami bersenda gurau dalam cerita-cerita lucu yang kubuat sendiri. Rumah ini, semenjak paman pindah ke Jawa Tengah dua tahun yang lalu, telah dipindahtangankan kepadaku.
 
Sepanjang kami mengingat setiap kenangan lucu di pondok kecil ini, kami tertawa tiada henti. Berbagai macam rentetan kenangan itu seolah masih utuh dan hidup. Kami memang pernah berpisah dan menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Tapi kami selalu bersepakat untuk tidak saling membenci satu sama lain. Sebab, mau dibuang dengan cara apa pun juga, dia tetaplah perempuan yang pernah mengisi kehidupanku. Setiap kali kami bersama, dia pasti akan selalu bilang begini, kau selalu punya cara membuatku tersenyum, dan itu yang membuatku nyaman berada di sampingmu.

Selama lima tahun berpisah, kami hilang kabar satu sama lain. Kukira, selama tak ada kabar itu, dia telah resmi menjadi seorang istri. Nyatanya, malam ini dia kembali muncul di dalam hidupku seorang diri. Bapak dan mamaknya sudah semakin renta, tapi dia masih belum siap untuk menikah. Aku bisa melihat beban berat di wajahnya. Dan ternyata, tidak sesederhana yang aku bayangkan. 

“Lelaki itu, tidak pernah berubah dari waktu ke waktu, tidak semakin dewasa dan bahkan semakin mengekangku.”

“Bukannya dulu kamu bilang, kamu mulai menyukainya?”

Dia mengangguk lemah. “Itu dulu. Sekarang, dia seperti orang yang paling memiliki atas jiwaku. Dia seperti majikan yang berkendali atas seorang budak. Aku tak lagi merasa menjadi perempuan yang memiliki kemerdekaan.” Terbayang sosok lelaki yang telah meminangnya itu, teman sepermainan di masa kecil yang mulai dia sukai di awal pertunangan. Kini, di usia pertunangannya yang masih seumur jagung, lelaki itu sangat kejam membatasi geraknya.

“Kamu sudah berusaha menjelaskan?”

“Kamu tahu, berbicara dengannya seperti berbicara dengan bebatuan. Aku lebih memilih diam, meski aku tahu, diam tidak akan membuatnya kian mengerti perasaan perempuan.”
Dari semua cerita yang dia tuturkan, aku jadi mengerti, lelaki itu sebetulnya tidak ingin seperti diriku yang telah kehilangan dia. Sayangnya, lelaki itu memilih jalan yang salah. Semua orang tahu, perempuan bukan untuk disakiti, melainkan untuk disayangi. Menaklukkan hati perempuan seperti halnya menjinakkan keganasan harimau.

“Kalau seperti ini adanya, aku yang bisa masuk rumah sakit jiwa,” katanya berurai air mata. Ada kegetiran sekaligus keputusasaan dalam suaranya. “Dia tidak seperti kamu, yang mengerti perasaanku. Sebab itu, aku selalu merasa nyaman berada di sampingmu.”

Aku bergeming, tidak mengangguk atau menggeleng. Kalau mau diakui, sebetulnya aku sedikit merasa tersanjung. Aku tahu sendiri, dia mencintaiku tanpa suatu alasan dan tendensi apa pun. Selama tiga tahun penuh dia telah membuktikan ketulusan itu. Tapi sayang, aku merasa belum pernah membuatnya bangga, bahkan aku telah memasukkannya ke dalam perangkap luka yang lebih perih dari perpisahan.

Sebelum pukul sepuluh malam, dia pulang. Sepeninggal dia, sebuah gubuk penyesalan berdiri kokoh di dalam dada. Aku kembali ke dalam kamar, memperhatikan mukena yang terlipat rapi di dalam lemari. Sebagai lelaki, aku terlampau pengecut. Aku bukan lelaki baik seperti yang dia selalu bilang di depan pucuk hidungku. Aku bukan lelaki pemberani yang lantang menghadapi persoalan.

Memperhatikan mukena itu, aku seperti ingin menangis sejadi-jadinya. Mungkin benar, aku adalah lelaki yang mampu mengerti perasaan perempuan. Lelaki yang telah membuatnya merasa nyaman. Tetapi dia tidak tahu, bahwa akulah orang yang telah menyebabkan dia bersedih sepanjang waktu, dengan menyuruh lelaki itu meminangnya lima tahun yang lalu.***

Latif Fianto, lahir di Sumenep, pecinta buku, menulis cerpen dan esai, sekarang tinggal di Malang, bergiat di Komunitas Sastra Malam Reboan.
 

 

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 09:09 wib

Sekolah Madrasah Belajar Jurnalistik

Selasa, 18 September 2018 - 20:30 wib

BPJS Kanwil Sumbarriau Jalin Keakraban dengan Perusahaan dan Media

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Follow Us