FESTIVAL DAN LOMBA SENIN SISWA NASIONAL

Memahat Seni Sejak Dini

16 Juli 2016 - 21.21 WIB > Dibaca 605 kali | Komentar
 
Memahat Seni Sejak Dini
Para pelajar adalah lapisan masyarakat yang sangat penting untuk diberikan perhatian dalam hal pengembangan seni dan budaya, merekalah penerus estafet itu ke depannya.

SENI itu sendiri dipahamkan pula sebagai bagian dari kebudayaan yang tidak kalah penting dalam hal membangun sistem kemasyarakatan yang beradab dan beretika. Seni pada dasarnya menjadi laman berekspresi bahkan pada berfungsi pada tataran komunikasi dan sosial. Pada capaian terakhirnya dapat pula bertujuan untuk memperhalus rasa sehingga terbangun kebudayaan yang tinggi, ranggi, bermarwah dan bermartabat.

Dari sinilah kemudian dapat dikatakan betapa pentingnya pengenalan dan penguasaan seni budaya bagi peserta didik. Apalagi  ketika semua bentuk budaya dari luar dapat menjengah bebas ke kehidupan setiap manusia melalui teknologi informasi, maka seni dan kebudayaanlah yang merupakan satu dari sedikit hal yang dapat meneguhkan identitas sebuah negara.

Namun demikian, untuk meneguhkan seni budaya itu, memahat minat kepada peserta didik, diperlukan sejumlah tindakan nyata,  salah satu yang dapat dijadikan contoh dalam hal ini adalah kegiatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Kegiatan ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir yang seleksinya dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi hingga sampai ke tingkat nasional bahkan beberapa pemenang untuk cabang tertentu, dikirim untuk festival seni di Tingkat International.

Helat yang difasilitasi oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ini dilaksankan dari tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menegah Perrtama (SMP), sampai Sekolah Menegah Atas (SMA). Dalam pelaksanaannya, sebagaimana yang dilakukan setiap tahun,  menggunakan berbagai medium yang memungkinkan seperti melalui pengembangan sentra-sentra seni dan budaya, melalui pendidikan, penguatan tradisi dan lain sebagainya. Adapun percabangan seni yang diperlombakan tahun 2016 mencakup cipta dan baca puisi, tari, film pendek, vokal solo, desain poster, kriya, musik, teater dan lain-lain.

Al hasil, dapatlah dibayangkan dan disaksikan, betapa haruk-pikuk dan gairah berkesenian bagi peserta didik secara terpogram terlaksana setiap tahunnya. Upaya pengalian potensi, minat dan bakat seni budaya yang dimiliki oleh siswa-siswi secara kontinu terus terasah. Sesungguhnya secara sadar, pemerintah hari ini menegaskan bahwa seni dan budaya adalah suatu hal yang amat penting untuk dipelajari. 

Karena dalam prosesnya, seni budaya megnolah akal dan budi, memperhalus budi pekerti, bergerak pada aspek penumbuhan kesadaran spritual dan mengajak manusia untuk hidup dalam kemuliaan. Oleh karena itu, kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayan Provinsi Riau, Dr H Kamsol, dalam sambutan pembukaan FLS2N tingkat SMA, di Furaya Hotel pada Selasa malam (12/7) lalu, mengatakan menanamkan nilai-nilai seni dan budaya terutama dimulai dari kalangan pelajar harus menjadi agenda penting.

“Apalagi  di Riau ini, kita ketahui memang sudah sejak zaman berzaman keberadaan seni, budaya dan adat istiadat bagaikan kekayaan yang tiada habisnya untuk digali dan dikreasikan. Ianya selama ini sudah terbukti menentukan seperti apa wajah tanah ini sejak masa lampau hinggalah ke masa depan,” ucapnya.

Pada tingkat lanjut, nasional misalnya, helat serupa ini tentu pula membangkitkan spirit menghargai keberagaman dalam kebersamaan demi memperkuat identitas bangsa. Hal itu tertuang dalam tema yang diusung yakni merajut keragaman seni dan kebersamaan demi kejayaan Indonesia.

“Kami rasa, helat perlombaan ini juga memberikan kesempatan dan pengalaman bagi siswa untuk memaknai keberagaman dan perbedaan di antara mereka. Bayangkan saja, seluruh provinsi nantinya akan bertemu di tingkat nasional. Di mana setiap penciptaan masing-masing provinsi berakar pada kearifan lokalnya. Kalau di Riau, ya seni budaya Melayu,” ujarnya lagi.

Dalam proses pendidikan hari ini, menjadi penting untuk diperhatikan adalah membangun kejujuran, motivasi, keseimbangan emosi, dan daya kreativitas. Seni budaya dalam hal ini adalah satu penunjang untuk capaian diatas. Seperti halnya yang disampaikan akademi budaya, Dr Junaidi.

Katanya, pelaksanaan helat seni bagi siswa-siswi dalam rangka memberikan rangsangan dan pemahaman terhadap kebudayaan juga sebuah upaya kelanjutan bagi pembangunan pola pikir peserta didik yang dalam hal ini diarahkan lewat wadah penyaluran bakat minat di bidang seni budaya. Kecerdasan yang berkarakter akan terbentuk dengan sendirinya melalui penghayatan dan penguasaan masing-masing siswa dalam prosesnya.

Dalam proses pendidikan, ada pula yang disebut prestasi akademik dan nonakademik. Ke duanya diraih melalui bebergai aspek kecerdasan siswa secara komprehensif dan bermakna. Diantara aspek tersebut dapat disebut misalnya olah hati, olah pikir, olah raga dan olah rasa. Seni budaya, kata Junaidi berada di olah rasa yang merupakan kecerdasan emosional dan sosial. Pada olah rasa inilah, kemudian dapat meningkatkan sensitifitas, daya apresiasi, daya kreasi, serta daya ekspresi seni budaya.

“Jika kepada para pelajar diberikan pemahaman tentang seni dan budaya, maka kelak mereka tumbuh sebagai pewaris negeri yang memiliki kesadaran kebudayaan yang kuat. Saya percaya, sebuah negeri di dalamnya, terdapat pemegang estafet pembangunan yang tahu nilai, tahu dengan segala bentuk kebudayaan yang mengasuhnya, maka negeri itu tidak akan pernah hilang kekuatan,” ujar mantan Dekan FIB Unilak yang saat ini menjabat sebagai Wakil Rektor I Unilak tersebut.

Bukan Menang tapi Efeknya

Helat seni bagi siswa-siswi pada hakikatnya merupakan sebuah gerakan dan ikhtiar bersama untuk membentangkan seni dan kebudayaan sebagai laman bermain bagi segenap siswa. Di laman tersebutlah, seluruh anak didik diajak untuk menemukan nilai-nilai seni dan kebudayaan dari semua percabangan seni yang dilombakan atau dimainkan.

Dewasa ini, pemahaman akan kebudayaan begitu penting. Apalagi bila dipandang dari serbuan dan gelombang maha dahsyat budaya asing yang tidak dapat ditapis lagi keberadaannya, disuguhkan melalui berbagai media baik cetak, televisi maupun teknologi internet. Hal itu diakui, budayawan Riau, Hang Kafrawi yang juga selalu menjadi dewan juri dalam acara FLS2N tingkat provinsi.

Katanya, jika tidak diimbangi dengan memberikan pemahaman akan seni budaya milik bangsa sendiri, maka dicemaskan para generasi muda hari ini, lambat laun akan tercerabut dari akarnya. “Karena itulah, saya berpendapat bahwa kegiatan-kegiatan yang bersifat memberikan kontribusi pada pemahaman seni budaya seperti ini patut diberikan perhatian,” jelas Hang Kafrawi.

Tetapi hal ini tentu menjadi pekerjaan bersama. Terutama untuk mencapai pada titik capaiannya, diperlukan aksi dan segenap pemikiran serta pemahaman bersama dibalik dari helat serupa ini. Terutama bagi guru pembimbing, kemenangan peserta didik dalam perombaan seharusnya tidak dijadikan target mutlak dan utama sehingga mental anak akan secara tidak langsung memahami kenyataan, tidak menang dalam sebuah perlombaan seni adalah sebuah kekalahan yang terpuruk. 

Padahal kata Hang Kafrawi, dengan memperkenalkan seni budaya kepada generasi muda, efek ke depannya akan luar biasa. Akan melahirkan generasi-genrasi dari berbagai profesi yang sadar akan seni budaya, melahirkan para ekonom yang memiliki sense seni, para pemimpin yang berhati nurani,  politikus yang jujur, dokter yang berprikemanusian dan lain-lain karena dalam proses berkesenian yang pernah mereka lewati, tertanam pemahaman nilai-nilai kebudayaan, nilai-nilai kemuliaan, keluhuran, kejujuran.

 “Dan  itu dapat menjadi bekal bagi mereka melangkah ke depannya,” ujar Hang Kafrawi lagi.
Selaras dengan itu, disebutkan Hang Kafrawi, beberapa tahun lalu di Kabupaten Bengkalis pernah digelar oleh para pelaku seni di sana sebuah helat yang diberi tajuk Helat Seni. Pada hari ini terbukti, helat  tersebut melahirkan praktisi-praktisi seni Riau yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Helat yang pernah berlangsung kontinu selama delapan tahunitu ternyata telah melahirkan pula alumni-alumni seni yang potensial.

Beberapa dari siswa yang pernah ikut dan terlibat secara kontinu dalam perlombaan yang ditaja, mereka melanjutkan pemahamannya dalam ilmu seni budaya ketika menamatkan palajaran di bangku sekolah. Tak jarang pula, dari perhelatan seni budaya itu kemudian banyak siswa yang tertarik untuk lebih mendalami keterampilannya masing-masing di kemudian hari.

Dan hari ini menurut Kafrawi, banyak diantara mereka itu kemudian berminat untuk melanjutkan studi mereka ke sekolah seni. “Saya yakin, minat dan bakat mereka mulai terbit karena pernah mengikuti atau menjadi peserta di Helat Seni tersebut. Artinya apa, efek acara serupa itu beriak hingga hari ini, begitu juga dengan daerah-darah lainnya yang juga melakukan perhelatan serupa “ kata Kafrawi lagi.

Menjadi jelas kemudian, kegiatan positif ini berdampak positif  pula bagi pengembangan minat dan bakat siswa. Hanya saja yang perlu menjadi catatan penting adalah terkait dengan pembinaan seni budaya itu sendiri di sekolah-sekolah. Boleh dikatakan, kran pembinaan itu tersumbat. Gairah seni budaya terutama di kalangan generasi muda muncul hanya ketika ada sayembara atau perlombaan.

Sedangkan pembinaan secara rutin dan bertahap belum tampak selama ini. Padahal jelas ada helat besar yang mengakomodir seluruh proses dari pembinaan seni budaya seperti FLS2N. Menurut Kafrawi, seni budaya bukanlah suatu hal yang dapat dipelajari secara instan tetapi prosesnya itulah yang menentukan. Seseorang bisa saja dengan mudah dan dalam waktu yang relatif singkat pandai berteater, menari, menulis puisi tetapi untuk memperoleh nilai-nilai yang terkandung dalam seni budaya itu harus ditempuh atau bermain pada kedalaman lubuk kesenian dan kebudayaan itu sendiri.

“Itulah proses. Sehingga kecintaan generasi muda kepada seni budaya mereka memiliki landasan yang kuat, tidak sekedar bersenang-senang saja, tidak hanya memperebutkan juara. Tetapi nilai-nilai, amanah-amanah dalam seni budaya itu yang patut mereka perdalamkan,” tutup hang Kafrawi.

Sementara itu, salah seorang peserta lomba, Raudah, perwakilan dari Kota Pekanbaru menanggapi positif acara lomba seni yang diperuntukkan bagi siswa-siswi sekolah. Siswi yang berasal dari SMU Negeri 9 Pekanbaru itu mengatakan pelajaran seni budaya sesungguhnya tidak lagi menjadi pelajaran sambilan, atau pelajaran yang keberadaanya berada di bawah dari pelajaran-pelajaran lainnya seperti eksakta, sosial dan agama.

Semuanya sama-sama penting karena masing-masing pelajaran memberikan rangsangan yang berbeda bagi perkembangan diri. “Kita tahu bahwa sebaiknya ada keseimbangan antara otak kiri dan otak kanan, maka masing-masing mata pelajaran mengisi ke duanya itu. Dengan belajar teater, sastra, menari dan musik, tentu memberikan pengalaman yang lain pula bagi perkembangan diri. Kenapa tidak, kita menguasai ke semuanya? Maju pada mata pelajaran eksakta, ekonomi, sosial sebuah prestasi, begitu juga mata pelajaran seni budaya, ianya pun sebuah prestasi,” tutup siswi yang juga merupakan sang juara kelas di sekolahnya itu.(jefrizal/kun)
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 09:55 wib

Polisi Wajib Ikuti Tes Dapatkan SIM

Jumat, 21 September 2018 - 09:51 wib

Pemasok Sabu ke Oknum Satpol PP Ditangkap

Jumat, 21 September 2018 - 09:28 wib

Banyak WP Menunggak Pajak

Jumat, 21 September 2018 - 09:26 wib

Unri Teliti Laju Sedimentasi Kolam Patin

Kamis, 20 September 2018 - 20:34 wib

BPJS TK Beri Penghargaan pada Tiga Perusahaan Terbaik

Kamis, 20 September 2018 - 19:00 wib

Olahraga Bangun Peradaban Positif

Kamis, 20 September 2018 - 18:43 wib

TGB Blak-blakan Bicara Tudingan Gratifikasi

Kamis, 20 September 2018 - 18:38 wib

AS Potong Bantuan Dana bagi Palestina

Follow Us