SILATURAHMI IDUL FITRI

Matan Gelar Halal Bihalal Antar Seniman

16 Juli 2016 - 21.28 WIB > Dibaca 540 kali | Komentar
 
IDUL Fitri dan halal bi halal bagi masyarakat Riau hari  ini, seumpama dua sisi  mata uang yang tak bisa terpisahkan, saling berkait-kelindan dalam mempermanis dan melengkapi nuansa masing-masing. Hari Raya Idul Fitri sebagai perayaan tahunan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Sedangkan halal bi halal yang status masih samar tetapi merupakan produk tradisi masyarakat hari ini yang selalu ada menyertai usai perayaan Idul Fitri. Biasanya dilakukan oleh kelompok, organisasi, komunitas di dalam bulan Syawal.

Kegiatan ini sejatinya merupakan kegiatan saling memafkan, mengharmoniskan hubungan kekerabatan dan tentu saja menjalin tali silaturahmi antara  sesama.  Hal itu dijelaskan oleh salah seorang budayawan  asal Riau, GP Ade Darmawi. Katanya, halal bi balal awalnya memanglah sebuah tradisi umat Islam terutama di Indonesia.

Kata Halal bi Halal itu sendiri merujuk kepada pengertian menghalalkan sesuatu yang belum sempat dimaafkan sebelum ini. Misalnya, sesuatu kesalahankah, sesuatu yang terpakai, terpinjam dan lain sebagainya. Sehingga kemudian seiring berjalannya waktu, tradisi ini terbentuk berupa keramaian dan berkumpulnya orang-orang yang punya kesamaan dalamhal apa saja, status kerjakah, profesikah dan lain-lain

“Saya kira, tradisi ini sangat positif meski tidak termasuk dalam syariat Islam. Karena dalam acara serupa inilah kemudian, kita akan berkesempatan berkumpul bersama-sama dan saling memaafkan dalam sebuah rangkaian acara yang telah disusun bersama pula,’’  ujar Gp Ade Darmawi panjang lebar.

Terkait dengan wacana yang dilemparkan kawan-kawan tentang halal bi halal seniman Riau, GP Ade Darmawi sangat merespon baik karena para seniman yang diikat dalam kesamaan yang katakanlah pekerjaan, atau juga status akan dapat bertatap muka dan berkumpul semua dalam menjalin keakraban silaturahmi. Dengan adanya acara halal bi halal itulah munculnya kesempatan untuk berkumpul bersama, di mana selama ini dalam kesibukan masing-masing akan sulit untuk dapat bersama-sama berkumpul seperti yang diharapkan dalam acara itu nantinya.

“Mengumpulkan kawan-kawan seniman, pelaku seni itu kan tidak mudah, dikarenakan kesibukan masing-masing. Kalau seandainya dapat diwujudkan, tentu saja ini sangat baik. Kalaupun katakanlah ada 100 seniman yang ada, kemudian yang datang hanya 50 orang, setidaknya yang tidak datang itu termaafkan dari perwakilan yang datang. Begitulah kira-kira,” jelas Gp Ade.

Beliau juga berharap, kalau memang dapat dilaksanakan, acara itu juga tidak hanya mengundang seniman dan pelaku seni tetapi juga instansi yang terkait dengan seni budaya dapat kiranya juga dilayangkan undangan supaya dapat duduk berkumpul bersama dengan seniman-seniman Riau. Paling tidak, dari pertemuan itu ada kesamaan emosi, spirit dalam mengembangkan kesenian ke depannya.

Awalnya ide itu tercetus di media sosial yang kemudian mendapat respon positif dari kalangan seniman-seniman lainnya, pelaku dan praktisi seni yang ada di Pekanbaru bahkan di beberapa daerah yang ada di Provinsi Riau ini.

Langkah selanjutnya, dilakukan pertemuan pada Senin lalu, (11/7) di kawasan Purna MTQ Bandar Seni Raja Ali Haji-Pekanbaru. Dalam pertemuan itu memang tidak banyak yang hadir, tidak seperti respon yang ada di dunia maya. Tetapi setidaknya beberapa di antara yang hadir membuat kesepakatan acara halal bi halal itu akan digelar pada 25 Juli mendatang bertempat di Aula Dewan Kesenian Riau (DKR). Tetaer Matan adalah penggagas rencana kegiatan tersebut.

Hadir dalam pertemuan singkat yang juga ditaja Tetaer Matan pada enam hari bulan Syawal itu, penyair Husnu Abadi. Katanya, acara halal bi halal yang diwacanakan sangat positif. Menjadi sebuah wadah berkumpul bagi pelaku seni di bulan yang fitri ini. Bahkan katanya, bila perlu, undang semua pelaku seni dari berbagai lintas generasi sehingga acara yang akan ditaja menjadi wadah berkumpulnya seniman-seniman Riau.

Dalam pertemuan itu juga disepakati mengenai waktu masih bersifat tawaran kepada para kawan-kawan seniman dan akan menyesuaikan pada pertemuan selanjutnya. Bahwa acara ini harus terwujud memandang sangat perlu mengumpulkan para seniman dari berbagai lintas generasi untuk tidak hanya bertatap muka dan bersilaturahmi tetapi juga berbagi dan bertukar informasi dan pengalaman.

Ditawarkan juga dalam pertemuan itu, rangkaian acara berupa sesi sembang dan bincang-bincang seni. Di mana para seniman yagn hadir akan diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya mengenai kesenian hari ini. Atau dalam sesi itu juga, para tetamu bisa berbagi informasi yang terkait dengan perrkembangan seni budaya.

Setelah sesi itu, barulah dibentangkan karya-karya para seniman Riau, bisa saja berupa pembacaan puisi, pentas tari, musik atau bahkan bila ada komunitas yang sudi, dipentaskan seni teater sekaligus. Sedangkan untuk seni rupa, bila kawan-kawan perupa sudi, kiranya bisa memajangkan karya-karyanya atau katakanlah pameran karya dari sore hingga malam di acara halal bi halal tersebut.

Pembicaraan sore itu sampai juga kepada masalah dana  untuk mengusung terlaksananya acara halal bi halal tersebut. Disepakati bersama ketika itu, oleh karena acara ini dari seniman untuk seniman, maka sementara waktu, tidak usah memikirkan dana yang besar. Segala keperluan kiranya akan ditutupi bersama-sama bahkan tercetus juga ide untuk membawa kueh mueh raya yang masih ada di rumah masing-masing, untuk dijadikan juadah dalam pertemuan itu nantinya.

 “Ini juga sebentuk tawaran yang kita sharingkan kepada kawan-kawan seniman, yang paling penting bagaimana acara ini dapat terwujud,” ujar Kunni Masrohanti, penyair perempuan yang juga hadir dalam pertemuan itu.

Musisi Riau, Benny Riaw, ketika dikomfirmasi menyambut baik gagasan akan diadakannya halal bi halal seniman ini. Katanya, seingat dan sepengetahuannya, selama ini belum pernah digelar helat serupa. Biasanya paling hanya komunitas-komunitas yang buat acara sendiri dan mengundang rekan-rekan seniman lainnya. Tetapi kali ini, memang diset bagaimana acara itu dari seniman untuk seniman.

“Ini baru kali perdana kalau memang dapat digelar tahun ini. Bagaimana seniman yang ngurus semua acara, yang juga ditujukan untuk seniman pula,” ujar Benny Riaw.

Disebutkannya juga, apabila dapat diwudkan acara ini, maka ini menjadi penguat atau mudah-mudahan menjadi tonggak untuk menghimpun kebersamaan dari para seniman dalam memajukan kesenian ke depannya.

Karena semua tentu dimulai dari hal-hal kecil yang kemudian dengan semangat kebersamaan itu dapat pula ke depannya menggagas hal-hal yang lebih besar. “Ini tentu saja harus mendapat sokongan sepenuhnya dari para seniman-seniman Riau baik yang ada di Kota Pekanbaru maupun yang ada di daerah,” tutupnya. (jefrizal)

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 14:18 wib

1250Orang Antusias Ikuti Rangkaian #Hands4Diabetes

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Follow Us