ESAI SASTRA

Geliat Sastra Anak di Indonesia

16 Juli 2016 - 21.54 WIB > Dibaca 1527 kali | Komentar
 
Geliat Sastra Anak di Indonesia
Oleh Dessy Wahyuni

SEBAGAI makhluk yang berbudaya, manusia menggunakan bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Bahasa dijadikan wahana untuk mengekspresikan perasaan dan pemikiran secara estetis dan logis. Bahasa, selain dituntut dapat mengekspresikan sesuatu dengan efektif dan efisien, juga dituntut objektif dan logis dalam menyampaikan gagasan supaya dapat diterima dengan mudah oleh penerimanya. Bahasa disebut juga sebagai sarana berpikir. Oleh sebab itu, cara manusia memandang dunia atau memandang makna kehidupan terekam dalam struktur bahasanya. Semakin tajam daya berpikir seseorang, semakin cermat penggunaan bahasanya. Bahasa sangat berperan sebagai media untuk melakukan dan melahirkan pikiran kreatif. Dengan demikian, peran bahasa tidak bisa dilepaskan dari kegiatan kreatif seseorang. Dengan kata lain, seperti dua sisi mata uang, bahasa dan kreativitas merupakan dua sisi berbeda yang tidak bisa dipisahkan. Kreativitas berbahasa seseorang akan terlihat dari penggunaan kata, kalimat, maupun wacana dalam pola pengembangan gagasan terhadap teks yang dihasilkannya.

Diyakini, kreativitas berbahasa (pada anak) dapat dibangun melalui sastra anak. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Anak, sebagai pembaca sastra, telah mampu menghubungkan dunia pengalamannya dengan dunia rekaan yang tergambarkan dalam cerita (karya sastra anak). Hubungan interaktif antara pengalaman dengan pengetahuan kebahasaan merupakan kunci awal dalam memahami dan menikmati bacaan cerita anak tersebut. Agar dapat memahami bacaan (karya sastra) yang ditinjau dari cara penulisan, bahasa, dan isinya itu, anak harus memiliki kreativitas berbahasa.  

Karya sastra harus memiliki keseimbangan antara isi dan bentuknya. Karena ditulis untuk anak, dengan demikian, bahasa dan isi sastra anak harus sesuai dengan perkembangan usia, kepribadian, dan corak kehidupan anak. Sastra anak harus memiliki kontribusi yang besar bagi perkembangan kepribadian anak dalam proses menuju kedewasaan. Sastra anak harus mampu digunakan sebagai sebuah sarana untuk menanam, memupuk, mengembangkan, dan bahkan melestarikan nilai-nilai yang baik dan berharga oleh keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Sastra mengandung eksplorasi mengenai kebenaran kemanusiaan. Sastra juga menawarkan berbagai bentuk kisah yang merangsang pembaca untuk berbuat sesuatu. Apalagi pembacanya adalah anak-anak yang fantasinya baru berkembang dan menerima segala macam cerita, terlepas dari cerita itu masuk akal atau tidak.

 Secara global, banyak manfaat yang bisa diperoleh dari sastra anak, antara lain dapat membantu pembentukan pribadi dan moralitas anak, menyalurkan kebutuhan imajinasi dan fantasi, memacu perkembangan verbal atau kemampuan berbicara, merangsang minat menulis dan membaca, serta membuka cakrawala pengetahuan. Dengan menggunakan bahasa yang mengesankan, tema yang berbeda-beda, serta format yang menarik, sastra anak dengan karakteristik yang beragam diharapkan mampu menghadirkan fungsi yang tepat bagi anak-anak.

Secara konseptual, sastra anak tidak jauh berbeda dengan sastra orang dewasa (adult literacy). Keduanya sama-sama berada pada wilayah sastra yang meliputi kehidupan dengan segala perasaan, pikiran, dan wawasan kehidupan. Yang membedakannya hanyalah fokus pemberian gambaran kehidupan yang bermakna bagi anak yang diurai dalam karya tersebut. Sastra anak adalah bentuk kreasi imajinatif dengan paparan bahasa tertentu yang menggambarkan dunia rekaan, menghadirkan pemahaman dan pengalaman tertentu, dan mengandung nilai estetika tertentu yang bisa dibuat oleh orang dewasa ataupun anak-anak. Siapapun yang menulis sastra anak tidak perlu dipermasalahkan asalkan dalam penggambarannya ditekankan pada kehidupan anak yang memiliki nilai kebermaknaan bagi mereka. Karya sastra harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan dan kesiapan anak.

Sayangnya, perkembangan sastra anak terbitan lokal di Indonesia relatif ketinggalan bila dibandingkan dengan terbitan asing (saduran maupun terjemahan). Lihat saja beberapa toko buku terkemuka yang ada, koleksi buku yang tersedia sebagian besar adalah karya-karya terjemahan, seperti komik-komik Jepang dan seri terjemahan dari Walt Disney. Dalam kenyataannya, buku-buku seperti ini pula yang laris di pasaran. Sementara, karya-karya sastra anak lokal hanya mampu menghiasi perpustakaan sekolah karena memang sebagian besar merupakan hasil subsidi dari pemerintah.

Hal ini   terjadi disebabkan beberapa hal. Pertama, secara kualitas penampilan karya-karya terjemahan ini jauh di atas karya sastra anak lokal. Secara fisik, karya-karya terjemahan memiliki tampilan gambar yang menawan, warna-warni yang memesonakan, serta menggunakan kertas yang menarik. Selain itu, karya sastra anak lokal sering terjebak pada aspek pragmatis yang harus ditonjolkan, sehingga terciptalah karya yang kaku dengan tema yang monoton, serta munculnya kesan menggurui yang disebabkan oleh unsur didaktik yang kuat.  Tidak adanya program sastra di sekolah-sekolah yang membicarakan karya sastra anak lokal juga menjadi salah satu penyebab buku bacaan anak karya pengarang dalam negri nyaris tak tersentuh.

Sebenarnya, karya terjemahan tersebut sangat bermanfaat  untuk mengisi kekosongan karya asli Indonesia. Karya-karya terjemahan maupun saduran tersebut tetap bisa menumbuhkan minat baca pada anak. Hanya saja dengan membaca karya-karya terjemahan itu, anak-anak Indonesia lebih mengenal kebudayaan asing dan seolah-olah telah melupakan budaya bangsanya sendiri. Untuk mengisi kekosongan dan sekaligus menjadi sumber inspirasi bagi pengarang-pengarang asli Indonesia, tidak ada salahnya kalau karya terjemahan digalakkan. Namun, tentu saja karya sastra anak lokal harus tetap muncul di permukaan.

Keberadaan bahan bacaan asing, yang konon sangat dipuja sebagian besar bangsa Indonesia (mulai dari kalangan anak-anak hingga dewasa), ternyata sedikit banyaknya membelenggu kreativitas (berbahasa) anak. Hal ini terlihat dari beberapa karya sastra anak yang ada serta sikap berbahasa anak dalam keseharian. Selain itu, terdapat pula beberapa karya sastra anak dengan perspektif dewasa sehingga tidak sesuai dengan tingkat perkembangan dan kesiapan anak. Tentulah hal itu berpengaruh pula terhadap kreativitas berbahasa pada anak.

Di Indonesia, beberapa karya belum memanfaatkan secara maksimal peran dan fungsi keberadaan sastra anak sebagai wadah pengembangan kreativitas anak, terutama dalam berbahasa akibat pemujaan yang berlebihan terhadap (karya) sastra asing, baik terjemahan maupun saduran. Secara isi, (karya) sastra anak di Indonesia juga kerap terpengaruh  oleh budaya asing yang diperoleh anak dari bahan bacaan asing tersebut. Berikutnya, hal ini berdampak pula pada (karya) sastra remaja di Indonesia yang lebih dikenal dengan istilah teenlit (teen literature).

Satu contoh yang dapat dilihat adalah buku serial Lucky Luke berjudul Phil Steel.  Buku ini disajikan dalam bentuk komik yang kerap digandrungi anak-anak. Phil Steel yang diacu di sini merupakan karya terjemahan yang telah dialihbahasakan oleh Sofia (PT Elex Media Komputindo, 2010). Cerita dibuka dengan penggambaran latar sebuah kota liar dan tak berhukum, Bottleneck Gulch. Digambarkan dalam cerita bahwa di kota itu terdapat satu-satunya bar yang menjual wiski produksi sendiri dengan harga yang sangat mahal. Tentu saja deskripsi latar ini tidak sesuai dengan budaya anak Indonesia. Selain itu, dalam cerita juga terlihat berbagai dialog dan latar yang kurang ideal dikonsumsi anak. Misalnya, “Kurang ajar! Berani-beraninya membangun bar di depan mataku! Dia akan tahu dengan siapa dia berhadapan! Bar ini nggak bakal bertahan lama! Begitu aku bicara dengan pemiliknya, akan kuhancurkan secepat dia dibangun!” Dialog tersebut memperlihatkan kebencian yang sedikit banyaknya akan dapat memengaruhi anak dalam bersikap.

Kemudian, hal yang sering ditemukan dalam karya terjemahan adalah perbedaan budaya. Cerita yang disuguhkan dalam Phil Steel, misalnya. Di Indonesia, kita tidak mengenal budaya minum bir/wiski secara bebas. Harus diakui, perbedaan budaya ini akan mampu memperkaya wawasan anak. Akan tetapi, jika anak belum siap, mereka akan menerima sepenuhnya apa yang mereka dengar/baca. Apalagi jika tidak diimbangi dengan karya lokal, yang mengangkat budaya bangsa sendiri, karya-karya terjemahan itu akan membuat mereka lebih mengenal kebudayaan asing dan seolah-olah telah melupakan budaya bangsanya sendiri.

Kelemahan sebagian besar masyarakat Indonesia, baik anak-anak, remaja, maupun orang dewasa, adalah pemujaan terhadap bahasa asing yang sangat berlebihan. Ternyata, hal ini memiliki dampak buruk dalam berbahasa. Pada dongeng Snow White, misalnya, terlihat dialog berikut, “Once upon a time, there was a beautiful princess named Snow White.” Ini adalah kalimat pembuka (yang terlihat pada banyak dongeng asing berbahasa Inggris). Dongeng tersebut ditutup dengan kalimat, “Snow White and the Prince returned to the kingdom and lived happily ever after.”

Agar terlihat keren karena mengacu pada dongeng asing tersebut,  penulis dongeng lokal kerap menirunya, sehingga tidak menggunakan peluang dalam menyampaikan cerita-cerita rakyat yang ada di Indonesia secara kreatif. Kalimat once upon a time ‘pada suatu hari’ dan live happily ever after ‘hidup berbahagia selamanya’ sering kita jumpai dalam berbagai cerita rakyat. Entah ini merupakan standar baku penyampaian cerita rakyat (fairy tale) atau hanya ikut-ikutan dan merasa kalimat itu saja yang pantas menjadi pembuka dan penutup cerita.
“Pada suatu hari” ini dapat kita lihat pada berbagai dongeng, baik dongeng terjemahan (saduran) maupun lokal. Misalnya, dongeng yang berjudul “Cinderella”, “Putri Salju”, “Jack dan Pohon Kacang”, “Kisah 1001 Malam”, “Putri Salju”, “Tikus Desa dan Tikur Kota”, “Kisah Kucing dalam Sepatu Bot”, “Keong Mas”, “Si Kerudung Merah”, “Timun Mas”, dan sebagainya. Kemudian, dongeng-dongeng itu, pada umumnya, berakhir dengan bahagia selamanya.

Akhirnya, sebagian besar masyarakat berasumsi bahwa betapa sulit dan suramnya kisah yang disampaikan, ketika dibuka dengan “pada suatu hari”, keajaiban pun terjadi. Susahnya melawan seekor naga yang ganas, kejamnya siksaan ibu tiri, dan miskinnya hidup Aladin, ketika cerita dibuka dengan “pada suatu hari”, naga yang ganas dapat dikalahkan sang Pangeran, Putri Salju tetap bisa kabur dari ibu tiri yang jahat, Aladin menjadi kaya dengan bantuan jin dari dalam teko ajaib, bahkan keong mas dapat kembali menjadi manusia dan timun mas selamat dari kejaran Buto Ijo.

Dampak bacaan asing lainnya adalah anak terlihat melupakan kebudayaan Indonesia. Hal ini berdampak pula pada penulisan sastra remaja (teenlit) yang kerap mengangkat budaya asing. Teenlit berjudul She, adalah satu contohnya. Novel yang ditulis oleh Windy Puspitadewi (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007) ini berlatar di Semarang. Akan tetapi, dalam cerita, pengarang memperlihatkan pengaruh budaya asing dalam kehidupan remaja, khususnya pengaruh Jepang (yang dipresentasikan melalui komik, manga, dan anime yang menjadi ciri utama karya Jepang).

Anak-anak memiliki dunia yang berbeda dengan orang dewasa. Dalam penciptaan karya sastra anak, seorang pengarang harus menyelami dahulu dunia anak tersebut. Dunia anak sangat dekat dengan dunia imajinasi. Imajinasi bagi anak adalah sarana untuk berselancar dalam memahami realitas keberadaan dirinya, orang lain, maupun lingkungannya. Mendorong anak untuk berimajinasi merupakan hal yang dibutuhkan untuk mengelola pola pikir anak sejak dini. Dunia imajinasi yang dihasilkan oleh pola pikir anak menghasilkan suatu kreativitas yang  perlu dikembangkan dan digali hingga mencapai potensi yang maksimal. Dalam pengembangan imajinasi anak ini, peran karya sastra anak menjadi sangat perlu, karena terbukti mampu membangun serta mengembangkan kekuatan imajinasi anak.

Melalui pemanfaatan sastra anak, kreativitas berbahasa pada anak pun dapat dikembangkan. Sangat disayangkan, yang ditemukan pada umumnya, penulis sastra (cerita) anak belum memanfaatkan peluang dalam menggarap cerita (dari segi bahasa) yang dapat memicu kreativitas (berbahasa) anak secara positif. Lantas, mengapa hal ini terus dibiarkan?***

Dessy Wahyuni, adalah peneliti sastra di Balai Bahasa Provinsi Riau. Menulis esai, cerpen, dan artikel lainnya di beberapa media dan jurnal. Tinggal di Pekanbaru.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Follow Us