CERITA PENDEK

Membunuh Ilusi

16 Juli 2016 - 22.18 WIB > Dibaca 2500 kali | Komentar
 
Membunuh Ilusi
Oleh Fathromi R

Jika aku ditanya apa aku masih waras, mungkin aku akan balik bertanya, mengapa ia bertanya pada orang yang diragukan kewarasannya.  Aku terima jika ada yang telah bulat menyebutku gila. Itu tak soal. Paling tidak, aku punya keyakinan sendiri atas problema yang aku hadapi seputar kehidupan yang mencemaskankan ini. Bagiku, semua akan selesai jika aku berhasil membunuh Ilusi.

Aku memanggilnya Ilusi karena aku merasa begitu. Begitu saja.

Kejadiannya aku tak ingat entah kapan. Tapi aku yakin masih belum lama. Di sebuah ruang-waktu yang asing bagiku, ia muncul dari balik gelap dan aku berdiri terpaku tanpa mengerti mengapa aku di situ. Jika aku lagi ditanya bagaimana sosok Ilusi itu, tentu aku akan menjawab, aku tak bisa menggambarkannya. Ia wujud yang ketika kita ingin menyebutnya, kita akan mengalami inkonsistensi memori. Gambaran itu berubah dalam sekelip mata menuju bentuk-bentuk rumit yang -lagi-lagi- tak mampu digambarkan dengan kata-kata, tepatnya, lidah akan kelu saat menguraikan sosok Ilusi. Namun satu hal yang tak berubah dari sosok Ilusi itu adalah; menyeramkan dan licik!

Kalau saja ia hanya mengusikku tanpa mengganggu lebih jauh ke ranah kehidupan yang lebih dalam, mungkin aku tak kan senekat ini membuat ikrar memegang pedang tiap Ilusi datang. Tiap malam, doaku selalu dikabulkan. Aku selalu berhasil membawa pedang dalam dunia mimpi, berhasrat, dengan pedang itu, aku bisa menebas tuntas Ilusi sebelum ia menggiringku pada kematian.

Ia menginginkanku mati. Ia hendak membunuhku. Dengan caranya sendiri. Ia serupa orang munafik, punya banyak topeng dan kalimat berbunga-bunga untuk menarikku ke sumur kematian. Kata-katanya menyihir, menyeret unsur-unsur kehidupan agar tunduk pada keputusasaan. Tak ubahnya iblis. Tak heran jika suatu ketika di malam beku, aku tak mau tidur karena aku tahu ia akan datang lagi.

Kuminum secangkir kopi. Kuhidupkan televisi. Sebuah gambar bergerak muncul tiba-tiba. Tak pernah aku setakut ini melihat layar film di depanku. Padahal itu hanya film hantu. Aku kenal film ini. Nightmare on Elm Street, produksi Warner Bros. Aku benci film itu, tepatnya, aku benci film horor. Kuubah channel lain. Kupikir ini lebih baik, awalnya, saat aku tahu channel yang baru kuubah itu hanya film dokumenter Behind The Scene. Hingga kemudian, aku bergegas mengubah channel saat kusadar itu program dibalik tabir film yang baru saja kuhindari. Bedebah!

Kuubah channel lain. Ada film yang sama, sekuel kedua. Heran. Kuubah lagi, sekuel kelima. Kuubah lagi channel lain. Channel lain lagi. Aku naik geram sekaligus gemetar. Semua channel menampilkan cerita serupa dalam format berbeda, tak hanya film, tapi hantu berkuku besi itu muncul dalam sekilas berita, realiti show, bahkan dalam iklan minyak wangi.

Kumatikan televisi karena marah. Tak bisa mati. Mungkin aku gegabah, pikirku. Pelan-pelan kutekan tombol merah seksama, sekaligus meyakinkan tidak ada dusta di antara ruang dan waktu yang kutempati. Lalu, mati. Televisi itu mati, dan ruangan pun gelap. Teramat gelap, seolah kotak belasan inci itu telah merampok semua cahaya dalam rumah ini. Aku waswas. Mungkin pulsa listrikku habis di saat bersamaan aku mematikan televisi. Atau mungkin ada yang konslet.

Kuhampiri pintu depan, dan kurasakan ada bayangan bergerak di kaca jendelanya. Bukan bayangan pohon. Bukan bayangan anak kucing milik tetangga sebelah. Bukan. Perlahan kubuka pintu, dan saat itu aku nyaris lupa tujuan awalku ada di situ.

Seseorang. Berwajah  lelah, di tangan kiri memegang seikat kertas. Ia berkedip beberapa kali ketika melihatku. Wajahnhya seakan tak percaya padaku yang berdiri, yang nyaris lupa tujuan awalku di sini.

“Kamu, mau mencari tahu sebab listrik tiba-tiba putus, anak muda?” katanya tiba-tiba.
Sudah tentu! Tapi buang waktu menjawab pertanyaan lelaki sok tua ini. Namun lantas ia berkata lagi saat aku hendak melihat meteran yang hanya dua meter jaraknya dari tempatku berdiri.

“Aku sudah melihat meteran itu,” kata lelaki itu lagi.

Kecewaku mereda. Aku menunggu kata-katanya kemudian.
“Ia hanya ilusi,” katanya kemudian.

“Maksudmu?” aku sadar dahiku berkerut.

“Apakah aku diperbolehkan masuk?”

Aku tak mengenal lelaki itu. Dalam gelap, semua bisa terjadi; ia mengeluarkan sebilah pisau dapur dari balik badannya, menikamku tanpa ampun. Setelah aku mati, ia segera memporak-porandakan kamarku, berharap menemukan cincin mahal dan uang belasan juta.

“Apakah aku diperbolehkan masuk?”

Tiba-tiba aku merasa mengenalnya.

“Fikri, apa aku diperbolehkan masuk?’’

“Tunggu! Kamu siapa?” Aku merasa mengenalnya.

“Aku? Kau tak kenal aku?” Ia bagai tak percaya padaku.

“Apa aku diperbolehkan masuk?” tanyanya lagi.

Aku sangat yakin, ia bukan teman sekelasku di kampus.

“Bagaimana? Apakah aku benar-benar diperbolehkan masuk?”

***

Kutatap sinar lilin di meja itu. Bukankah itu nyata? Lalu aku menoleh ke arah lelaki tersebut. Itu lilin miliknya. Aku sama sekali tak punya lilin, dan aku tak paham akan tujuannya kemari. Bahkan aku tak kenal siapa ia sebenarnya.

“Aku Hasan. Masih ingat?”

“Hasan?”

“Terkadang lilin bisa membuat memori seseorang kembali. Tapi kali ini aku tak yakin engkau mengingatnya.”

Kurasakan dahiku berkerut lagi, “Aku memang tak mengingatmu.”

“Masuk akal, sebab engkau tak pernah melihatku, sebelum ini.”

Aku menghela napas panjang. Menunjukkan wajah tidak nyaman akan keberadaannya. Ia tampaknya paham aku tidak suka berlama-lama duduk di depan orang yang sama sekali tak kukenal dekat, kemudian berceracau tentang sesuatu yang tak dapat diambil simpul selesainya. Aneh.

“Baik, Fikri, aku langsung saja pada perkara. Aku kemari atas permintaan Ilusi, teman dekatku. Ia menantangmu membunuhnya.”

Pikiran lelaki itu tentu tengah galau.

“Fikri! Dengarkan aku. Dalam sepuluh detik, aku sudah tidak akan ada di rumahmu lagi, dan listrik akan kembali hidup. Ilusi menantangmu untuk membunuhnya!”

***

Napasku terasa berat. Silau. Listrik menyala terang. Tak kutemukan lilin atau bekas lilin di meja. Lelaki itu lenyap.

***

Tak mungkin!

Ini jelas tak mungkin. Aku baru bermimpi. Itu baru mungkin. Atau mungkin, lelaki itulah Ilusi sebenarnya. Aku mengingat wajahnya. Aku bisa mengingat wajahnya! Artinya, aku mengingat wajah Ilusi, sebab Ilusi adalah dia, dia adalah Ilusi itu. Mungkinkah Ilusi punya wajah? Kalau pun punya, begitu beraninya ia menampakkan wajah di depanku. Tidak, berarti itu bukanlah Ilusi. Jelas itu bukan Ilusi. Bukankah ia telah mengatakan hanya teman Ilusi? Teman ilusi!
Aneh! Itu sungguh ganjil. Ilusi punya teman, dan, tentunya lelaki tadi bisa meihat wajah Ilusi. Jika ia bisa melihat wajah ilusi, mengapa aku tidak? Ah! Itu tak penting. Paling mustahak, aku akan membunuhnya. Membunuh Ilusi!! Aku menjerit dalam hati, sekuatnya. Lalu lampu padam lagi. Kali ini aku merasa sungguh tak tenteram. Kuambil senter, kuhidupkan. Ada sesuatu bersemayam di benakku. Kemanakah pikiranku pergi? Perihal Ilusi? Membunuhnya? Bisakah? Atau, mungkin pertanyaannya jadi lain. Kumatikan senter. Aku tidur setelah berdoa bisa membawa pedang pelengkap diri saat ilusi datang di alam mimpi.

***

Aku dilanda ragu bertubi-tubi atas tujuan awalku. Di sebuah dataran luas dengan rerumputan di beberapa tempat, juga beberapa batang pohon. Aku di antara dataran itu sendiri. Kedua belah tanganku memegang pedang. Tak bisa kubayangkan, kedua pedang itu jauh lebih berat dari diriku sendiri. Tapi bukan itu yang aku masalahkan. Bukan.

Aku masih belum menemukan Ilusi. Kuingat lagi, ia menantangku dan aku marah. Sekarang pun aku masih marah. Memang patut aku marah sebab ia menantangku. Dan kupikir telah berjam-jam aku membawa pedang ini, berkeliling-keliling, lalu aku bertemu lelaki itu lagi.

“Hasan! Engkau Hasan?”

“Teman Ilusi.”

“Di mana dia?”
“Tidakkah engkau melihatnya?”

Aku tahu ia sedang bercanda. Aku memberinya senyum tak paham.

“Hei Fikri! Tahukah tujuan engkau sebenarnya apa? Hahaa. Begitu mudahnya engkau ditipu Ilusi. Baru sedikit aku tanya, engkau sudah menggelepar tak berdaya. Bagaimana engkau bisa membunuh Ilusi? Tidak! Tidak ‘kan bisa, dan tak ‘kan pernah bisa, Fikri!”

“Tapi..” Kurasa sendi tulang-tulangku terlepas.

“Kutanyakan padamu, engkau pernah lihat Ilusi? Lihat sekelilingmu! Pepohonan, rerumputan bergoyang, pasir, tanah, langit, bahkan wujud aku dan kau! Sekarang kutanyakan padamu mana Ilusi?”

“Lalu?” tanyaku, pedang di tanganku hampir terlepas. Aku kelelahan jiwa raga. Semangatku seakan dicabik-cabik Dementor dari penjara Azkaban.

“Ilusi akan membawamu pada bermacam-macam ketakutan tiada henti. Itu adalah takdir. Seperti biasa, kalau engkau tidak tahan, mungkin ini akhir hidupmu. Tapi, haha, engkau selalu beruntung. Selalu beruntung, Fikri! Tapi entahlah kali ini.”

Mataku berair, mungkin karena tetes hujan mengenai wajah. Ia mungkin tidak menyangka, sebab hanya Tuhan yang tahu masa depan.

“Benarkah ini, Fikri?” senyumnya lindap.

Aku mengangguk pelan. “Benar, Hasan.”

Ia tak percaya sama sekali pada tubuhnya yang tertancap sebilah pedang.

“Berani, sungguh berani engkau..”

“Hasan, setidaknya aku telah membunuh salah satu ilusi.” Kucabut pedang itu. Ia tersungkur di padang rumput.

“Tapi aku heran..”

“Heran?” tanyaku.

“Ya, heran..”

Aku mendekati wajahnya.

“Aku tak hanya berdoa bisa membawa pedang,” bisikku di telinganya, “tapi juga membawa kemenangan atas diriku sendiri.”

Aku terbangun dari tidurku. Dan kuharap aku benar-benar terbangun.***

Pekanbaru, 2013-2015

Fathromi R, lahir di Ketamputih, desa terletak di pesisir selat Bengkalis, Riau. Ia cinta menulis cerita pendek. Beberapa buku antologi bersama yang pernah ikut ia tulis bersama teman-teman penulis, di antaranya Kumpulan Cerpen FLP Se-Sumatera Kerdam Cinta Palestina, Kumpulan Cerpen Pilihan Riau Pos 2012 Dari Seberang Perbatasan, kumpulan cerpen pilihan FAM Indonesia 2013 Kleptomania, Kumpulan Cerpen 100 Tahun Cerpen Riau 2014, Kumpulan Cerpen Riwayat Asap 2015.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us