SAJAK

Sajak-sajak Romi Zarman

16 Juli 2016 - 22.26 WIB > Dibaca 828 kali | Komentar
 
Trimester Pertama

Pembuluh syaraf
kedua bola mata
hidung
telinga
mulut
dan lidah
mulai terbentuk.

Jantung mulai berdetak
tapi kami tak mendengar.
Kata orang, jari-jari mulai tampak
tapi kami tak melihat.
Tulang muda digantikan tulang baru
tapi kami tak mengerti dengan itu perkataan.

Kapankah ruh ditiupkan?
Kami teringat Isa
Kami teringat Maria
Kami teringat segalanya:

Adam dan Hawa


Hermafrodit
    
Di malam buta,
di pekarangan rumah kita,
kusaksikan seekor cacing tanah
keluar dari sarangnya
entah hendak menuju
ke mana.
Aku teringat Maria
yang menjauh
dari rumah Zakaria
menuju luar kota
seraya membawa Isa
yang masih
merah.
Jauh di belakang,
Sang Raja sedang
mengerahkan
para kesatria untuk
mengejar bayi laki-laki
yang bakal jadi Nabi
yang bakal jadi
ancaman bagi
kekuasaan
Romawi,
juga
bagi kitab-kitab suci
dan para Rabi.

Di malam buta,
di depan rumah kita,
seekor cacing tanah
menjauh dari sarangnya
entah sebab apa.



Plasenta

Dari lambung ke rahim
dari rahim ke tali daging
dari tali daging
saripati makanan dikirim

Otak mulai terbentuk
Paru dan ginjal belum tercipta
Lambung meminta-minta,
tiap dua jam harus ada setoran
lewat mulut,
hanya di malam buta
ketika kantuk sudah tiba
yang dapat menghentikannya

Dari lambung ke rahim
dari rahim ke tali daging
tak henti mengalir

Aku teringat Pekanbaru
yang bahan-bahan makanan
penduduknya
terus disuplai
lewat jalan raya
yang penuh tikungan
dan penurunan tajam
sejak dari Kelok Sembilan


Isa Putra Maryam

Aku tak tahu
ketika ia dilahirkan
manakah yang lebih dulu,
kaki ataukah kepala?

Aku tak tahu
sebelum ia dilahirkan
berapa waktu yang harus dilaluinya,
sembilan bulan sepuluh hari
ataukah lebih atau malah kurang
dari itu?

Aku tak tahu
bagaimana proses pembuahannya
bagaimana ia mengada
apakah sama denganmu, wahai anakku:

segumpal darah
yang bermula dari air yang hina



Inginmu Banyak

inginmu banyak
kau pinta semangka
kau minta es johor
nasi goreng pandau
mie ayam rumbai

kuengkol motor
kupacu waktu

di sepanjang perjalanan
aku mulai berpikir tentangmu:
tinggi tubuhmu baru dua setengah
sentimeter,
adakah itu caramu menyapaku?

inginmu banyak
tapi tak serumit para penulis sajak

di jalan pulang
aku mulai berpikir ulang:
mulutmu belum tumbuh total
matamu belum terbuka
telingamu belum sempurna
tapi berbagai keinginan
telah kau utarakan
pada ibumu,

ibumu meneruskannya padaku

di depan pintu rumah kita
aku mulai membayangkan tentang kelahiran:
suara ‘oak’
tangisan
tawa
dan aku harus menunggu
satu kata itu darimu:

ayah.

Romi Zarman, menetap di Pekanbaru. Alumni Ubud Writers and Readers Festival 2009. Pada tahun 2011, ia menerima Anugerah Bentara Budaya Bali atas puisinya berjudul “Sajak Daun”.

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Follow Us