OLEH MARLINA

Santun dengan Ungkapan

16 Juli 2016 - 22.29 WIB > Dibaca 1871 kali | Komentar
 
Santun dengan Ungkapan
Saat ini, betapa sering ditemukan kata-kata yang terdengar sangat kasar dan vulgar diungkap begitu saja, baik dalam kehidupan sehari-hari, maupun di media sosial. Seolah-olah, semua orang merasa berhak untuk menyampaikan pikiran dan pendapatnya dengan sebebas-bebasnya. Padahal, kata-kata atau status yang diucapkan atau ditulis tersebut bisa mendatangkan permusuhan dan pertikaian.

Lalu bagaimana agar maksud yang ingin disampaikan tetap dapat diungkapkan tanpa menyinggung perasaan dan hati orang lain? Ungkapan dan peribahasa mungkin dapat menjadi salah satu alat untuk menyampaikan ide, pendapat, sindiran, atau kritikan terhadap seseorang atau sekelompok orang. Kesantunan dalam bertutur kata, salah satunya, dapat dilakukan dengan menggunakan kata kiasan. Kata-kata yang terlalu frontal dan vulgar akan  terdengar halus jika disampaikan dengan kata-kata kiasan.

Di dalam pergaulan sehari-hari masyarakat Melayu, kesantunan menjadi salah satu tolok ukur untuk menilai seseorang. Di dalam ungkapan adat  Melayu dinyatakan “Berbuah kayu rindang daunnya, bertuah Melayu terbilang santunnya.” Di dalam ungkapan lainnya disebutkan bahwa “Elok kayu kerana daunnya, elok Melayu kerana santunnya.” 

Di dalam buku Kesantunan dan Semangat Melayu karya Tenas Effendi dikatakan bahwa Tunjuk Ajar Melayu sarat dengan pesan-pesan moral dan penuh dengan petuah amanah yang mengingatkan dan menggalakkan orang untuk bersikap sopan dan santun, serta tahu menjaga aib malu diri, keluarga, dan kaum bangsanya. Menurut Tenas Efendi, kesantunan dapat dilakukan dengan  menggunakan berbagai media untuk menyebarkannya, seperti melalui ungkapan-ungkapan, pantun, syair, gurindam, nazam, seloka, dan sebagainya.

Penggunaan kata-kata ungkapan dan kiasan dapat menimbulkan efek yang berbeda dibandingkan dengan penggunaan kata-kata sehari-hari. Sebagai contoh, ketika mengatakan seorang petinggi negeri ini ditangkap oleh pihak berwajib, akan terasa lebih santun jika diungkapkan dengan kata-kata “diamankan” dibanding disebut dengan kata ‘ditangkap’.
Begitu juga untuk mengatakan seorang anak didik “bodoh” atau tidak pintar, mungkin seorang guru bisa menggunakan kata “lemah” untuk menggantikan kata ‘bodoh’. Penggunaan ungkapan seperti ini tentu tidak akan menyinggung perasaan si anak didik ataupun orang tuanya, meskipun maksud yang ingin disampaikan sama, yaitu ‘si anak bodoh’.

Contoh penggunaan lainnya untuk mengatakan perangai seseorang mencerminkan kepribadiannya, mencerminkan keimanan dan ketaqwaannya kepada Allah, serta mencerminkan ketulusan dan kesucian hatinya, bisa diungkapkan dengan “Yang zahir mencerminkan yang batin,” atau dapat juga diungkapkan dengan “Sebelum tahu apa yang tersirat, tengok dahulu apa yang tersurat.” Hal ini juga memperlihatkan bahwa sikap yang ditunjukkan oleh seseorang akan menunjukkan bagaimana kepribadian orang tersebut.

Untuk mengatakan seseorang yang telah memiliki ilmu yang tinggi, tetapi ia tidak mengamalkannya, dapat diungkapkan dengan ”Apa tanda orang yang rugi/Ilmu banyak tidak dihayati”; ”Apa tanda orang yang bongkak/ Ilmu dipakai untuk melagak”; dan “Apa tanda orang berbudi/Mengamalkan ilmu sepenuh hati.” Beberapa ungkapan tersebut tentu lebih sopan digunakan daripada mengatakan orang tersebut dengan kalimat, “Sekolahnya tinggi, tetapi seperti orang tidak berpendidikan.”

Di dalam pergaulan, budaya Melayu juga mengajarkan bersopan santun. Hakikatnya, pergaulan mewujudkan hubungan baik antara sesama makhluk, menjalin silaturahim yang saling menghormati, menghargai, mengasihi sehingga lahirlah masyarakat dan bangsa yang aman dan damai. Hal ini diungkapkan dengan “Adat bergaul mencari saudara/supaya hidup aman sejahtera”; “Adat bergaul mencari kawan/supaya berjalan seiring jalan/ bila berlayar satu haluan.” Ungkapan ini bisa digunakan untuk menasihati orang yang suka bermusuhan dan mencari gaduh dalam suatu kelompok.

Kesantunan menyebabkan kritikan-kritikan panas menjadi sejuk, saran dan pendapat yang keras menjadi lunak, sanggahan yang berapi-api akan mereda, dan kata-kata yang pedas akan terasa manis. Dengan kesantunan, permusuhan, dan pertikaian akan dapat dihindarkan. Dalam Tunjuk Ajar Melayu diungkapkan:

“Apabila hidup hendak selamat,
Perangai santun mulia tabiat”

“Apabila hidup hendak terpuji,
Elokkan laku baikkan pekerti”

“Apabila hidup hendak terbilang
Sopan dijunjung santun dijulang”

“Apabila hidup hendaklah berkat,
Sopan santun dijadikan sifat”

Kesantunan dalam berbahasa dan bersikap selain merupakan  ciri kehidupan  Melayu  juga sesuai dengan ajaran dan teladan Rasulullah, Nabi Muhammad Saw. Beliau dalam berkata-kata selalu menggunakan kata-kata kinayah (kiasan) untuk menyampaikan sindiran atau pun sesuatu hal yang vulgar. Beliau sangat menjaga perasaan orang yang mendengarnya. Untuk itu jika ingin menjaga sopan dan santun dalam berbahasa dan bersikap, kita bisa menggunakan ungkapan dan peribahasa untuk menggantikan kata-kata yang bernilai kasar dan vulgar tersebut. Dengan demikian, diharapkan tidak akan ada perasaan yang tersakiti sehingga hidup pun menjadi lebih tenteram dan damai.

Melayu kaya akan ungkapan dan peribahasa yang dapat mewakili maksud hati yang ingin disampaikan kepada orang lain. Namun, sayangnya generasi muda sekarang pada umumnya sudah tidak paham lagi dengan ungkapan-ungkapan dan peribahasa lama ini. Jangankan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari, memahami maksud dari ungkapan dan peribahasa saja banyak yang sudah tidak bisa. Hal ini barangkali karena memang dalam kehidupan sehari-hari, mereka jarang mendengar kata kiasan ataupun peribahasa digunakan dalam berkomunikasi. Padahal untuk berbicara dengan sopan dan santun, ungkapan serta peribahasa dapat menjadi alternatif yang jitu.***

Marlina bekerja di Balai Bahasa Provinsi Riau.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur

Jumat, 21 September 2018 - 13:55 wib

Jadi Timses, Ketum Pemuda Muhammadiyah Mundur dari PNS

Jumat, 21 September 2018 - 13:30 wib

Harimau Mangsa Ternak Warga

Jumat, 21 September 2018 - 12:53 wib

Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak

Jumat, 21 September 2018 - 12:30 wib

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat

Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Follow Us