TEATER TRADISIONAL

Teater Tradisi Mendu Semakin Memasyarakat

24 Juli 2016 - 00.37 WIB > Dibaca 859 kali | Komentar
 
USAI sudah pentas teater tradisi Mendu di dua belas kabupaten/kota yang ada di Provinsi Riau. Dua kabupaten terakhir di gelar di Kabupaten Kuansing (15/7) dan terakhir di Kabupaten Kampar, (22/7). Program yang difasilitasi oleh UPT Museum dan Taman Budaya Provinsi Riau itu dikemas dengan tajuk Seni Pertunjukan keliling Riau.

Pentas teater tradisi yang dulunya pernah hidup di masyarakat Riau itu mendapat berbagai tangggapan positif dari para pelaku seni di daerah yang disinggahi. Bagi sebagian pelaku seni menyatakan program seni pertunjukan yang dilakukan merupakan program yang sangat bagus. Karena dengan demikian, dapat pula para pelaku dan penikmat seni di daerah mengapresiasi berbagai kreativitas.

Selain itu, pertukaran pengalaman panggung juga dapat diparesiasi karena di beberapa tempat, penampilan teater tradisi Mendu yang dipentaskan oleh Teater Matan, didampingi dengan pertunjukan seni dari masing-masing daerah. Dengan demikian, masyarakat dapat mengapresiasi berbagai pertunjukan baik tari, musik maupun teater.

Sebagai salah satu bentuk teater tradisi yang ada di Riau, Mendu tentu saja mendapat tempat pula di hati masyarakat. Seperti halnya di Kabupaten Kuansing. Setelah sukses pentas di Taman Kota di Kota Pacu Jalur itu, para pelaku seni di sana sangat mengapresiasi pertunjukan yang berlangsung lebih kurang dua jam setengah itu.

Kata salah seorang pelaku teater, Hendervis, pentas teater Mendu tentu saja sangat menghibur masyarakat. Karena sebagaimana teater tradisi, teater Mendu bisa tampil dengan konsep sederhana di tengah-tengah masyarakat. Setiap kali tampil, ianya bisa mengikat emosi masyarakat lewat bumbu komedi yang disuguhkan. Dia juga berharap, suatu saat teater tradisi Mendu ini bisa ditampilkan sepanggung dengan teater tradisi Randai Kuantan di acara yang besar di Kuansing seperti acara Pacu Jalur yang memang telah menjadi agenda tahunan selama ini.

“Masyarakat Kuansing tidaklah asing dengan pertunjukan teater seperti ini karena di sini juga ada teater tradisi yang cukup dekat dengan masyrakat yaitu Randai Kuantan. Makanya, begitu Mendu dimulai, secara otomatis masyarakat di sini langsung merapat dan menikmati adegan demi adegan sampai selesai,” ujar alumni jurusan teater, Akademi Kesenian Melayu Riau itu.
 
Selain itu, pengakuan Hendervis bahwa dengan pentasnya Mendu di Kabupaten Kuansing, secara tidak langsung juga dapat menggugah para pelaku seni di sana. Karena usai pertunjukan, Hendervis langsung di telepon para penggiat seni lainnya, dia dikomfirmasi untuk berkumpul malam esoknya dalam agenda membentuk sanggar teater.

“Artinya, ada kesadaran yang tergugah dari hasil pertunjukan Mendu di daerah Kuansing. Saya ditelepon kawan-kawan supaya dapat hadir dalam pertemuan malam esoknya (18/7 red), untuk membincangkan pembentukan sanggar teater. Inikan luar biasa positif. Sebelum ini, seni teater di Kuansing tidak begitu dipeduli karena dianggap tidak menarik dan susah dalam prosesnya. Tapi setelah menyaksikan Mendu, barulah muncul kesadaran bahwa betapa menariknya seni teater, apalagi kita di Kuansing ini ada teater tradisi yang dapat menjadi acuan kekuatan yakni teater Randai Kuantan,” ujar Hendervis lagi.

Sementara itu, salah seorang ketua Randai Kuantan, Drs. Hamsirman yang sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Dinas Parpora Kabupaten Kuansing mengatakan demikianlah kekuatan tetaer tradisi. Di mana dalam setiap lakon yang dipergelarkan selalu mendapat tempat di hati masyarakat, selalu menjadi bagian dari masyarakat bukan karena faktor lain selain dari kesederhanaan konsep yang ditawarkan.

Sebagaimana Randai Kuantan, Mendu juga diperhatikan oleh Hamsirman tidak jauh berbeda. Meskipun bercerita tentang keberadaan Dewa Mendu tetapi teater Matan membawakan dengan ragam kisah kehidupan yang tidak jauh dari masyarakat. Katanya, ada banyak dialog-dialog yang kemudian dikaitkan dengan masalah kehidupan sehari-hari yang tentu saja sangat kekinian, masalah dan kondisi yang sedang dialami masyarakat hari ini.

“Itulah salah satu kekuatan teater tradisi. Ia secara langsung bisa mendapat tempat di hati masyarakat. Apalagi teater Matan membawakannya dengan campuran konsep-konsep teater moderen seperti aktingnya dan lain-lain. Jadi menurut hemat saya, tradisi tetap terjaga, sekaligus moderennya tampak dengan nyata,” ujar Hamsirman yang pernah jadi dosen terbang di Akademi Kesenian Melayu Riau mengajar mata kuliah teater tradisi Randai Kuantan itu.

Sementara itu, Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Provinsi Riau, Sri Mekka, mengatakan, tuntas sudah dua belas kabupaten yang disinggahi teater tradisi Mendu yang diperkuat oleh Teater Matan. Rasa bersyukur tak berhingga karena apa yang telah dilakukan mendapat respon yang sangat positif dari para pelaku seni di daerah.

Diakuinya, selain memperkenalkan bentuk teater tradisi yang pernah ada di Riau, seni pertunjukan keliling Riau ini juga bertujuan untuk membangkitkan gairah kesenian di daerah di Riau ini. Berbagi pengalaman kreatifitias dengan kawan-kawan di daerah. (Jefrizal)

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Jumat, 21 September 2018 - 15:27 wib

Novi UKM Mitra Alfamart

Jumat, 21 September 2018 - 15:00 wib

Jalan Perhentian Luas-Situgal Terancam Putus

Jumat, 21 September 2018 - 14:45 wib

Belanja Hemat hingga 50 Persen di Informa WOW Sale

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Berkas Korupsi Kredit Fiktif Dinyatakan Lengkap

Jumat, 21 September 2018 - 14:30 wib

Korut Segera Tutup Fasilitas Nuklir Utama Tongchang-ri

Jumat, 21 September 2018 - 14:00 wib

Lanud Lahirkan Tiga Penerbang Tempur

Follow Us