ESAI SASTRA

Riau Provinsi Literasi, Era Baru Pendidikan Anak Riau

24 Juli 2016 - 00.40 WIB > Dibaca 1221 kali | Komentar
 
Oleh Sugiari

PERTENGAHAN Maret 2016 yang lalu, Riau mendapatkan angin segar dunia pendidikan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Anies Baswedan dalam kunjungannya ke Riau menyatakan penetapan Riau sebagai salah satu Propinsi Literasi di Indonesia. Penetapan sejarah ini bukan hanya soal bangunan Perpustakaan Wilayah Soeman HS, Riau yang mendapatkan akreditasi A dan sekaligus menjadi perpustakaan dengan desain arsitektur terbaik di Indonesia. Akan tetapi, lebih dari itu, penetapan Propinsi Literasi tersebut seyogyanya menjadi momen yang tepat untuk seluruh kalangan di Riau guna meningkatkan range pendidikan di provinsi ini, sebab literasi lebih konkritnya dimaksudkan untuk tujuan baca tulis yang tentu saja akan sangat mempengaruhi kualitas pendidikan suatu masyarakat.

Berbicara tentang budaya baca tulis dalam hubungannya literasi, memang bukan hanya menjadi masalah Riau secara khusus. Indonesia secara umum mengalami masalah ini. Berdasarkan data United Nations Development Programs (UNDP),  minat baca orang Indonesia sebanyak se per seribu atau satu dari 1.000 orang yang memiliki minat baca yang cukup. Inilah yang menjadi kekhawatiran permanen para pegiat literasi tanah air. Rendahnya budaya literasi bangsa ini akan berdampak serius pada kualitas sumber daya manusia yang ada. Dengan demikian, kemampuan untuk bersaing dengan negara lain dalam hal kualitas sumber daya manusianya jelas akan rendah.

Oleh karena itulah, khususnya masyarakat Riau hari ini yang baru dianugerahi sebagai Propinsi Literasi, perlu melakukan gerakan-gerakan inovatif untuk meningkatkan budaya baca tulis masyarakatnya. Dan salah satu objek yang paling prospek untuk hal tersebut adalah anak-anak Riau. Sebab literasi adalah sebuah budaya yang harus dibiasakan. Biarlah para orang tuanya malas membaca, kalau anak-anaknya melek budaya baca tulis, niscaya kondisi literasi Riau beberapa tahun lagi akan berubah. Dan itu sebuah keniscayaan. Jangan sampai penganugerahan ini hanya sebatas ramai di awal, namun selanjutnya sepi dan menghilang. Ini adalah momen penting untuk start, bagi para pegiat literasi, bukan hanya di Riau tapi juga seluruh Indonesia.

Keluarga dan Pendidikan Literasi Anak

Literasi didefinisikan sebagai keberaksaraan, yaitu kemampuan menulis dan membaca, budaya literasi dimaksudkan untuk melakukan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis yang pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya. Membudayakan atau membiasakan untuk membaca, menulis itu perlu proses jika memang dalam suatu kelompok masyarakat kebiasaan tersebut memang belum ada atau belum terbentuk, (Trini Haryanti, 2014). Jika hal ini diintegrasikan pada anak-anak, maka pihak yang akan paling dekat kaitannya dengan proses evaluasi penerapan budaya literasi pada anak adalah keluarga.

Pendidikan literasi anak yang telah didapatkan di pendidikan formal sangat penting untuk didukung dan dikuatkan dengan peran keluarga di lingkungan rumah. Sebab sekali lagi, literasi adalah soal budaya, dan budaya akan bisa diterapkan dalam lingkungan terdekat seseorang yang terjadi secara natural dan tanpa unsur pemaksaan. Jadi kita tidak bisa memaksakan anak-anak kita untuk bisa memiliki kemampuan baca tulis yang baik secara frontal. Budaya ini harus diterapkan dengan pola-pola pendekatan yang sesuai dengan kondisi anak dan lingkungan keluarga terkait. Oleh karena itu, keluarga memiliki peran yang sangat penting untuk pengimplementasian budaya literasi pada anak. Keluarga menjadi contoh terdekat bagi anak. Ayah menjadi contoh, ibu menjadi contoh seorang anak dalam membudayakan literasi dalam dirinya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh sebuah keluarga untuk membantu proses pendidikan literasi pada anak di lingkungan keluarganya, diantaranya sebagai berikut:

Pendekatan Fasilitas

Mau tidak mau, jika kita ingin mendidik budaya literasi yang baik pada anak, fasilitas harus kita sediakan di rumah. Sebuah keluarga sebaiknya memiliki perpustakaan mini di rumah. Jika kita ingin membudayakan baca dan tulis pada anak, maka kita bisa membuatkan pustaka mini untuk putera-puteri di rumah. Isilah dengan buku-buku mendidik yang ia sukai. Biarkan buku berserakan dimana-mana. Hal terpenting dalam pendekatan ini adalah bagaimana anak-anak merasa bersahabat dengan buku. Jika sebuah keluarga tak memiliki anggaran cukup untuk membuat fasilitas pustaka mini di rumah, maka bisa dengan mengunjungi perpustakaan di daerahnya secara rutin dan terjadwal. Hal ini akan membuat anak merasa bahwa soal buku adalah kebutuhan dan keharusan. Sedini mungkin, sejak kecil anak-anak harus diakrabkan dengan buku-buku. Bisa juga dengan menemani anak mengunjungi acara-acara buku, pameran buku, toko buku dan sebagainya. Sehingga anak akan selalu berpikir tentang buku. Jika hal ini sudah terjadi, tanpa harus menyuruh pun anak-anak akan berpikir bahwa buku sebuah keharusan yang penting ia baca.

Pendekatan Keteladanan

Pendekatan yang paling utama dalam upaya keluarga menanamkan pendidikan literasi pada anak adalah pendekatan keteladanan. Contoh merupakan cara kita mengajarkan sesuatu tanpa harus kita mengatakan sesuatu. Faktanya kebanyakan anak menolak untuk diajak akrab dengan buku karena memang orang tua sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Orang tua lebih sering mengajak anak ke tempat-tempat bermain, mall, dan tempat-tempat hiburan, bukan tempat membaca seperti perpustakaan atau toko buku. Bahkan mungkin budaya baca orang tua sendiri masih rendah. Di rumah tak memiliki koleksi buku, orang tua lebih suka menonton ketimbang membaca.

Jika kita sendiri sebagai orang tua masih dalam kondisi seperti ini, jangan berharap anak-anak kita akan tumbuh dengan kondisi pendidikan literasi yang lebih baik. Jadi orang tua harus mengajarkan anak membaca buku dengan cara orang tua sendiri yang lebih dulu membaca buku, orang tua sendiri yang harus rajin ke perpustakaan dan toko buku, memiliki perpustakaan dan sebagainya. Dengan demikian tanpa diperintah pun anak-anak akan membaca sendiri karena ada pendekatan keteladanan tadi.

Hari Buku Keluarga

Selama ini hari buku hanya diperingati secara nasional, itupun hanya beberapa orang tau. Buku masih menjadi dunia yang asing, terutama bagi masyarakat Riau. Jika kita menginginkan pendidikan literasi anak-anak Riau yang lebih baik, penulis menawarkan perayaan hari buku keluarga dilakukan secara rutin oleh keluarga di Riau, sekali dalam sepekan, sekali dalam sebulan dan sebagainya. Harus ada hari khusus yang dilakukan oleh keluarga untuk mengajak anak-anak dan semua anggota keluarga merayakan hari buku keluarga tersebut. Caranya dengan sehari bersama buku, berkunjung ke toko buku, berkunjung ke pustaka, menuntaskan satu buku dan hal-hal lain yang terkait buku. Mungkin bisa dipelopori para pegiat literasi di Riau yang akan menularkannya bagi masyarakat umum.
 
Pendidikan literasi pada anak tidak bisa diterapkan secara instan. Membutuhkan proses yang bertahap sehingga tak muncul penolakan. Riau sebagai propinsi literasi hendaknya digaungkan terus menerus, bukan hanya menjadi headline pemberitaan musiman di media masa, namun lebih dari itu sebuah stimulasi untuk pendidikan literasi Riau yang lebih baik. ***

Sugiarti, adalah penulis dan Ketua Forum Lingkar Pena Riau/ Pelopor Gerakan Perempuan
Riau Menulis.


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us