ESAI SASTRA

Puasa Sastra

24 Juli 2016 - 00.56 WIB > Dibaca 1246 kali | Komentar
 
Oleh Homaedi

Menjalani rutinitas ibadah di bulan suci ramadan atau yang biasa di kenal dengan bulan puasa, kerap menjadi momentum yang ditunggu-tunggu umat muslim di belahan dunia. Bulan yang Agung sekaligus menempati urutan puncak keistimewahan dengan ditandai turunnya rahmat (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk keyakinan umat islam sepanjang zaman.

Maka tak heran; tadarusan, tarawih, zakat dan hakikat kebaikan lainnya menjadi obsi jamak untuk segera dipraktekkan. Bahkan lebih daripada itu, sudah menjadi makna klise, bahwa puasa merupakan pengekangan atau membentengi diri dari segala nafsu badaniah. Menahan haus di rongga mulut, hingga larangan bercampur dengan pasangan sah saat fajar menjelang hingga sebelum senja benar-benar kelam merupakan perintah Allah SWT yang wajib dilakukan demi tercapainya misi penyucian diri—sekaligus memelihara kebersihan batiniah bagi yang menjalaninya.

Dalam berpuasa juga harus menjaga kesucian hati agar kembali pada nilai-nilai fitri. Menghindari perbuatan yang tidak senonoh merupakan jalan utama menuju kemenangan. Sebab puasa merupakan ibadah yang sangat privat, yang tahu hanya diri sendiri dan Tuhan. Lebih intim lagi, puasa bukan hanya menahan haus dan lapar, melainkan menahan  dari segala aktivitas yang merugikan. Bergunjing atau rerasan merupakan hal sepele namun paling utama yang akan mengganggu kesempurnaan berpuasa.

Emha Ainun Nadjib dalam bukunya Tuhan pun Berpuasa mengatakan, puasa adalah menggugat diri. Dengan menggugat diri, manusia akan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya yang bisa membawa kontemplasi hidup pada Tuhannya. Jati diri itulah yang di idamkan semua umat manusia untuk menggapai kebahagiaan hakiki di sisi-Nya.

Namun, untuk merealisasikannya tidaklah mudah jika tidak dikatakan sulit dijalani mengingat nafsu manusia begitu mendominasi kehidupan sehari-hari. Sebulan penuh umat muslim menjalani kewajiban ini. Mengerjakannya dengan iklas, serius, serta melakukannya dengan penghayatan penuh. Melalui proses liku-liku. Memproteksi diri dari segala gejolak godaan duniawi dari bangun tidur hingga tidur lagi tanpa adanya paksaan, juga tekanan dari siapapun.
Karena mereka (yang berpuasa), pada hakikatnya melakukan perjalanan menuju lorong kesunyian. Yang kemudian dihayatinya, lalu direnunginya, hingga pada hari akhir menemukan nikmatnya.

Sastra Tanpa Puasa

Lalu apa hubungannya puasa dengan sastra?, apakah sastra juga berpuasa di bulan suci ramadan?, Jawabannya tentu “tidak”. Jika Sekolah-sekolah di liburkan, club-club malam harus di tutup, warung remang-remang dibasmi, tempat makan atau warteg dipreteli yang kadang terlihat arogan dan sangat tidak manusiawi, namun tidak dengan sastra. Ia (sastra); cerpen, puisi, resensi dan esai sekalipun tetap menempati kolom koran sebagai mana mestinya. Tak pernah libur atau berpuasa setiap minggunya.

Baik dari level koran nasional maupun lokal, dari sabang hingga merauke, media-media tersebut tetap eksis memberi wadah dan mempublikasikan sastra dari berbagai gaya meski telah datang bulan puasa. Seakan sudah menjadi garis takdir yang tak harus disindir, puisi, cerpen, tetap konsisten menghiasi koran akhir pekan. Dari pengarang-pengarang kawakan di jagat kesastraan hingga para penulis pemula makin gencar bermunculan.

Tak dapat disangkal pula, mereka para (pengarang) tidak pernah menahan diri untuk berkarya. Jika berpuasa bermakna “menahan”, namun tidak dengan pengarang. Ia akan semakin jor-joran menstimulus daya kreatifnya. Mengerahkan segala imajinasi inteleknya untuk menciptakan sebuah karya yang tentu saja ada gesekannya dengan tema-tema ibadah.  
Sebab karya sastra yang baik selalu memberi kesadaran pada pembacanya tentang kebenaran-kebenaran hidup. Akan merangsang nalar kita sekaligus mencipta ruang kegembiraan serta kepuasan batin. Jadi hiburan spiritul dan intelektual yang kadarnya tinggi, lebih tinggi dari pada kebahagiaan badania.     Membuat peka, responsif terhadap kekayaan leluhur.

Dan kita pun enak membaca karya sastra di bulan ramadan sambil tiduran, dengan santai salama liburan atau bahkan sambil menunggu waktu berbuka dimanapun berada dan kapan saja. Barangkali hal itu membuktikan karya sastra memang sudah menjadi kodrat tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Jadi, tak dapat dielak, bahwa sastra tak pernah berpuasa di bulan puasa, tak pernah sahur saat jam dini berdebur, tak pernah berbuka di saat senja memerah. Namun keberadaannya tetap menjadi petunjuk, intruksi dalam kehidupan sehari-hari. Ia (sastra) kerap dikaitkan dengan hal-hal positif, banyak memikili fungsi kemanusiaan, sehingga kehadirannya sering dianggap sebagai katharsis (Aristoteles), lango (Zoetmulder), aesthetik fungtion (Mukarovsky), dan aktivitas pencerahan (pujangga-pujangga reinensance), (Baca: Masa Depan Sastra, Tjahjono Widarmanto).

Akhir kata, sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika penerbitan atau pemuatan sastra di semua koran lokal dan nasional akhir pekan di liburkan selama bulan ramadan?, atau setiap karya sastra dibasmi dan dipreteli keberadaanya di bulan suci kali ini?, seperti keberadaan para penjual nasi di warung-warung kecil pinggir trotoar yang akhir-akhir ini kerap di razia petugas yang selintas terlihat tak manusiawi?. Hingga tulisan ini berakhir, saya belum menemukan jawabannya.***

Homaidi  lahir di Sumenep, Madura. Selain pencinta satra ia juga menulis esai di beberapa media lokal dan nasional.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us