OLEH ELVINA SYAHRIR

Saya bukan Kita (Kami)

24 Juli 2016 - 01.14 WIB > Dibaca 1832 kali | Komentar
 
Saya bukan Kita (Kami)
Kita? Elu kali, gua kagak. Itulah protes yang diucapkan seorang pendengar yang merasa tidak terlibat dalam suatu urusan, tetapi disangkutpautkan di dalamnya karena mitra bicaranya memakai kata ganti kita: Kita sedang pailit. Si pendengar menafsirkan bahwa ia dan mitra bicaranya itu berada dalam situasi yang sama: pailit, sementara ia merasa tidak demikian. Si pembicara seharusnya memakai kata ganti saya, aku, atau daku (gue barangkali) sebagai kata ganti kita karena yang sedang pailit hanyalah si pembicara.

Tidak jauh berbeda dengan kita, kami pun seringkali diperlakukan serupa: menggantikan saya. Pada contoh: Kami senang mandi air hangat, si pembicara dengan orang lain (tidak termasuk mitra bicara) ‘suka mandi menggunakan air hangat.’ Padahal, tidak ada orang lain, selain mitra bicara itu, dalam konteks percakapan mereka? Apakah si pembicara itu berteman dengan makhluk gaib? Entah.

Kekurangcermatan pemakaian kata ganti tersebut juga ditemukan dalam kegiatan berikut.  Suatu ketika dalam suatu seminar di forum akademis, seorang pemakalah menyatakan, “Dalam makalah ini, kami mengemukakan ....” Salah seorang peserta  segera memprotes, “Makalah Saudara itu dibuat oleh berapa orang? Di sini hanya tercantum satu nama, Anda.” “Ini makalah saya sendiri; saya yang membuatnya sendiri," jawab si pemakalah. Si peserta itu dengan keras berseru, “Kalau begitu, jangan pakai kata kami, sebab kata kami berarti lebih dari satu orang. Pakailah kata saya ....” Lalu, seperti apa sebenarnya pemakaian pronomina persona itu?

Dalam bahasa Indonesia, kata saya, kita dan kami segolongan: kata ganti orang (pronomina persona) pertama. Saya termasuk kata ganti orang pertama tunggal, sementara kita dan kami tergolong ke dalam kata ganti orang pertama jamak. Jelaslah, bahwa antara saya, kita dan kami berbeda maknanya.

Walaupun sama termasuk kelompok kata ganti orang pertama jamak, antara kita  dan kami masih memiliki perbedaan. Kata kita bersifat  inklusif. Artinya, kata ganti ini tidak saja mencakup pembicara/penulis, tetapi juga pendengar/pembaca (termasuk mitra bicara), dan mungkin pula pihak lain. Namun, kata kami bersifat eksklusif. Artinya, kata ganti ini mencakup pembicara/penulis dan orang lain di pihaknya (tanpa termasuk mitra bicara), tetapi tidak mencakup orang lain di pihak pendengar/pembaca.

Selain kata ganti orang pertama (mengacu pada diri sendiri) itu, dalam bahasa Indonesia juga terdapat kata ganti orang kedua (pronomina persona kedua). Kata tersebut mengacu kepada orang yang diajak berbicara, misalnya, anda, engkau, dikau, dan kamu. Selain itu, ada kata ganti orang ketiga (pronomina persona ketiga). Kata tersebut mengacu kepada orang yang dibicarakan, misalnya, dia, beliau, dan ia.

Persoalan kata ganti ternyata bukan persoalan semantis semata. Pemakaian pronomina persona pertama saya bersifat sosiolinguistis. Saya mempunyai variasi: aku dan daku. Ketiga varian itu merupakan bentuk baku, tetapi pemakaiannya agak berbeda. Bentuk saya lebih bersifat formal dan umumnya dipakai dalam situasi (baik tulisan maupun ujaran) yang resmi. Aku lebih banyak dipakai dalam situasi tidak formal (khususnya dalam pembicaraan batin). Dilihat dari tingkat hubungan antara penutur dan mitra bicaranya, aku dipakai lebih untuk menujukkan keakraban. Oleh karena itu, bentuk ini sering ditemukan dalam cerita, puisi, dan percakapan sehari-hari. Persona pertama daku umumnya dipakai dalam karya sastra.

Selain parameter bidang dan keakraban, pemakaian saya, aku, atau daku pun bersangkut dengan parameter umur dan status sosial (Alwi dkk., 2000). Saya lebih umum dipakai oleh kaum muda saat bertutur dengan orang yang lebih tua daripada aku dan daku. Aku dipakai saat bermitra tutur dengan yang seusia atau yang lebih muda (Badudu, 1996).

Kalau diselusuri dan diselisiki, penggantian saya dengan kami sudah merupakan kebiasaan dalam masyarakat Jawa. Kami dianggap tidak menonjolkan diri dan lebih halus. Dalam masyarakat lain hal itu malah dianggap kepongahan karena menyamakan dirinya dengan raja  (Ajip Rosidi dalam Sweeney, 2005). Dalam masyarakat Minangkabau, juga terdapat pemakaian kami sebagai pengganti  saya (bermakna tunggal), yaitu saat anak berkomunikasi dengan orang tuanya.  Kata ganti kami dianggap lebih sopan atau lebih hormat. 

Lalu, bagaimana dalam bahasa Inggris? Untuk menyatakan kata ganti orang pertama tunggal dipakai kata I. Sementara itu, untuk kami dan kita dikenal kata we. Tidak ada perbedaan kata yang signifikan. Pemakaiannya bergantung pada posisinya dalam kalimat. We dipakai sebagai pengganti subjek; our untuk menyatakan kepunyaan our; dan us untuk menyatakan objek.  Jadi, dalam bahasa Inggris persoalan kata ganti ini cenderung bersifat gramatikal. Sebagai contoh dapat dilihat dalam kalimat berikut.

We got the prize. (subjek)
Our family got the prize. (kepunyaan/possesive)
He tells us the truth. (objek)

Nah, itulah sifat bahasa: arbitrer dan konvensional: ‘manasuka dan berdasarkan kesepakatan penuturnya.’ Dalam bahasa Indonesia, saya tetap merupakan kata ganti orang pertama tunggal; kita dan kami tetap merupakan kata ganti orang pertama jamak. Selamat berbahasa Indonesia. Katakan kepada bangsa Indonesia, “Kita cinta bahasa Indonesia;” sampaikan kepada bangsa lain, “Kami bangga berbahasa Indonesia.”***

Elvina Syahrir adalah Pegawai Balai Bahasa Riau.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Wafat, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us