CERPEN JOKO RUBSIDI

Tamu Malam

24 Juli 2016 - 01.34 WIB > Dibaca 2390 kali | Komentar
 
Tamu Malam
Raihan spontan terjaga dari lelapnya. Suara ketuk pintu itu telah mengacaukan mimpi indah tidurnya. Dengan rasa malas yang menyundul ubun, Raihan melebarkan sayap mata, menatap jam bulat sebesar piring kaca warna hitam yang terpasang mencong di tembok putih kusam kamar kosnya.Pukul 00.27 WIB. Woi, tengah malam begini siapa bertamu? Rutuk Raihan dalam hati seraya bangkit dari ranjang yang sprainya sangat berantakan.

Suara ketuk pintu itu terus mengudara. Memecah hening malam. Bersaing dengan suara detak jam dinding di tembok kamar. Tak sopan banget sih, malam-malam begini bertamu! Lagi. Raihan merutuk dalam hati. Kosong. Kepala Raihan celingukan ke segala arah mencari sosok yang barusan mengetuk pintu tanpa henti. Ia kesal sekali, merasa dipermainkan. Betapa tidak? Begitu pintu kayu kamar kosnya ia kuak lebar, tak ada siapa-siapa di sana.

Dan ketika Raihan dengan tangan lekas hendak menutup pintu, tiba-tiba manik matanya menangkap sebuah amplop putih tergeletak di lantai keramik berwarna senada, tepat di depan pintu kamar. Raihan membungkuk badan, kepalanya celingukan sambil tergesa menyambar amplop tersebut. Lekas Raihan menegakkan badan, menutup pintu, dan menguncinya.

***

Kamu sudah siap, Raihan? Aku segera datang menjemput!

Raihan mendengus kesal. Dilipatnya selembar kertas warna putih seukuran kertas kuarto berisi selarik pesan yang membuatnya dikuasai murka tingkat dewa.

“Kurang ajar! Siapa pula yang ngerjain aku seperti ini?” gumamnya. Dengan gemas, Raihan meremas-remas kertas tersebut dan melemparkannya ke dalam tong sampah plastik warna biru tua kusam, yang teronggok di pojok kamar.

“Pasti dia orang yang telah lama nggak suka denganku. Buktinya, dia tahu namaku.”

Batin Raihan berkecamuk. Nyaris satu jam ia mengorek ingatan tentang teman-teman sekantornya yang suka jahil atau memusuhinya. Ia juga berusaha keras mengingat seseorang yang pernah bermasalah dengannya. Namun, hingga kepala Raihan berasa berat, ia belum juga menemukan siapa kira-kira pelakunya. Hei, bukankah selama ini ia berusaha tak mempunyai musuh. Meski tak dimungkiri ada saja mata-mata yang terkadang menatap sinis, ia berusaha abai alias tak meladeni.

***

“Kamu sudah siap, Raihan? Aku segera datang menjemput!”

Telah dua kali Raihan menerima amplop putih itu. Amplop dengan selembar kertas berwarna senada, dengan isi pesan senada pula. Tulisan tangan warna hitam yang ditulis dengan huruf latin miring dan agak tak beraturan. Amplop tersebut dikirim pada pagi buta oleh entah siapa saat Raihan tengah lelap-lelapnya. Tepatnya ketika suara azan Subuh sedang berkumandang merobek pagi yang luar biasa dingin hingga menusuk tulang, suara ketuk pintu yang lebih keras dari kemarin malam langsung mengoyak kedua telinganya.

“Hei! Siapa sih yang iseng ngerjain aku kayak begini? Nggak lucu, tahu!” Raihan kembali merutuk.

“Kamu sudah siap, Raihan?”

Telinga Raihan serta-merta berdiri saat mendengar suara yang entah berasal dari mana. Kepalanya tegak. Kuduknya langsung meremang saat menyadari bahwa hanya ia seorang yang berada dalam kamar tersebut. Tiba-tiba Raihan teringat sesuatu. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia laksanakan.

“Hei, jangan-jangan dia itu malai…?” Raihan tak melanjutkan ucapan batinnya.

“Ya, Tuhan!”

Raihan terkejut sendiri saat hati kecilnya secara spontan meneriakkan nama Tuhan. Ah, entah mengapa Raihan tiba-tiba teringat pada-Nya. Nyaris dua tahun ia tak membasuh muka dengan segarnya air wudhu untuk kemudian menunaikan shalat. Belakangan, saat tiba Ramadhan, ia juga enggan menjalankan puasa. Zakat fitrah pun sudah melayang dari ingatan. Bahkan, sekadar menyebut asma-Nya saja ia alpa. Saat marah, saat gulana, saat kesal, yang mengalir dari mulutnya hanya serapah kotor yang diadaptasi dari nama- nama binatang liar yang menjadi penghuni abadi kebun binatang.

Lagi. Ada sesuatu yang tiba-tiba mengalir dan menggelitiki kuduknya. Raihan merinding. Namun, ia segera mengenyah sejauh mungkin pikiran-pikiran yang baru saja melintasi benaknya. Ia berbalik badan, berjalan malas menuju ranjang yang sprainya sangat berantakan. Masih ada waktu kurang lebih dua jam untuk melanjutkan tidur sebelum ia berangkat ke kantor. Namun, kedua kelopaknya tak jua dapat terpejam, terlebih saat tiba-tiba suara itu menggema lagi.

“Kamu sudah siap, Raihan?”

***

“Siapa kau!”

Raihan membentak sesosok pria berpostur tinggi, berwajah rupawan, bermata setajam elang, berambut cepak, mengenakan jubah hitam, yang tengah berdiri tegap di depan pintu kamar kosnya. Barusan, saat Raihan tengah terlelap, ketuk suara pintu yang cukup keras dan berulang membuat ia terjaga dadakan. Dan saat Raihan (sambil tak henti memaki-maki karena tidurnya terpotong) membuka pintu, ia mendapat sosok yang hanya beberapa senti berdiri di depannya itu.

“Tak perlu kau tahu siapa aku. Cepat berkemas, waktumu tidak banyak!”

Ingatan Raihan yang belum mengumpul sempurna sebab bola matanya masih terasa berat dan mengantuk, langsung tersulut dengan ucapan pria itu.

“Heh, memangnya kamu ini siapa, hah? Sok ngatur hidupku?”

Tanpa Raihan duga, tiba-tiba tangan kekar pria itu terjulur, mencengkeram lehernya dengan sangat kuat sampai ia kesulitan bernapas. Bahkan, kedua tangan dan kaki Raihan tak kuasa meronta, seperti kaku serupa kayu.

“Di dunia ini, kau memang masih bisa bebas melakukan apa saja tanpa terikat aturan Tuhan, tapi di akhirat kelak, jangan harap kau akan bisa bebas! Air matamu bahkan tak pernah cukup untuk menangisi penyesalan atas segala apa yang kau lakukan di dunia!”

Kalimat yang terucap dari bibir pria itu begitu tegas dan setelah itu ia mencampakkan tubuh Raihan seperti mencampakkan sehelai kain. Tubuh Raihan berdebam. Mulutnya mengaduh kesakitan. Dan, betapa Raihan kaget tak kepalang saat mendapati pria berwajah rupawan itu telah hilang dari pandangan.

***

Sejak kejadian tamu tak diundang malam itu, Raihan seperti tersadar dari kenyataan. Ia sadar jika hidupnya selama ini telah sangat jauh dari tuntunan syariat. Sejak Raihan berubah, tak lagi ia mendapati surat kaleng yang berisi kata-kata ancaman yang membuat hatinya geram. Pun, tak ada lagi tamu tengah malam yang datang untuk menganiaya dirinya seperti tempo hari.
Dan itu cukup membuat hati Raihan lega. Kian tersadar ia bahwa kejadian- kejadian yang menimpanya belakangan, bersebab ia telah sangat jauh dengan Tuhan.

Telinga Raihan seketika tersentak saat mendengar suara ketuk pintu yang berulang. Kuduk Raihan sontak meremang saat memorinya melayang ke sosok pria yang pernah bertamu tengah malam dan membuatnya sangat ketakutan. Raihan bergeming saking tercekatnya. Sementara, suara-suara ketuk pintu bernada datar dan tak sekeras sebelum-sebelumnya itu tak jua berhenti.

Akhirnya Raihan memberanikan diri beranjak dari ranjang. Toh selama ini ia telah berusaha memperbaiki diri, jadi kemungkinan yang mengetuk pintu bukan pria misterius itu lagi. Siapa tahu, ia tetangga kos yang hendak minta bantuan. Meski dengan tubuh bergetar dan dada tak henti berdebar, Raihan berjuang memberanikan diri melangkah pelan menuju pintu. Sambil menahan napas, Raihan membuka daun pintu.

Kosong. Kepala Raihan celingukan beberapa detik, namun tak ia temukan siapa-siapa di luar kamar kosnya yang sepi dan remang. Saat hendak menutup pintu, korneanya tertumbuk pada sepucuk surat berwarna putih persis di depan pintu. Lekas ia merunduk dan menyambar surat itu sebelum kemudian menutup pintu dengan gesa.

Bergetar kedua tangan Raihan saat membuka amplop yang ternyata hanya berisi selembar kertas putih kosong. Ada kelegaan mengaliri hati sebab tak ia temukan lagi kalimat bernada ancaman seperti tempo hari. Tak hentinya ia bersyukur seraya melangkah menuju ranjang untuk melanjutkan rehatnya yang terpenggal. Sementara itu, tanpa ia sadari, sesosok tubuh tinggi besar sedari tadi terus mengawasi gerak-gerik Raihan, persis di belakangnya. Raut Raihan seketika memias saat pundaknya terasa disentuh seseorang.***


Joko Rubsidi adalah guru SMAN 4 Pamekasan. Alumnus PP. Al-Amien Prenduan. Menulis cerpen, resensi buku, puisi dan artikel pendidikan di beberapa media massa nasional; Horison, Pikiran Rakyat, Bali Post, MPA, Kompas dan lain-lain.
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us