HARI PUISI INDONESIA

Ke Puncak Pengakuan

6 Agustus 2016 - 23.45 WIB > Dibaca 385 kali | Komentar
 
Ke Puncak Pengakuan
22 November 2012 adalah pendeklarasian hari puisi. Sekitar 40 penyair seluruh Indonesia berkumpul di Riau. Mereka menyepakati: 26 Juli atau hari lahirnya Chairil Anwar sebagai Hari Puisi Indonesia. Hari itu pun dirayakan. Setiap tahun di berbagai daerah. Tak ketinggalan Riau sebagai saksi sejarah.

Genap 4 tahun sudah. Hari yang diagungkan para pujangga Indonesia itu masih belum diakui negara. Mereka tak berhenti. Ingat mengingat, bahu membahu. Terus bergeliat dengan melakukan perayaan. Terus berbuat atas nama kesusasteraan. Terus bertarung demi lahirnya maha karya. Menjaga kebersamaan melalui kata. Menjunjung peradaban dengan kata. Puisi pengikat yang renggang, pemersatu yang berbeda.

Riak-riak perayaan hari puisi tidak hanya di kota, tidak hanya di tanah Sumatera, tapi juga ke ceruk-ceruk kampung, di tanah Jawa, di tanah Sunda, dari Sabang hingga Papua. Layaknya hari-hari lain, puisi juga ingin diakui dengan harinya: Hari Puisi Indonesia.

Menjaga “Gong” Puisi Tetap Berdentang

 Berbagai rangkaian yang telah diselenggarakan oleh Komunitas Seni Rumah Sunting (KSRS) dan komunitas serta lembaga seni lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa HPI yang telah dideklarasikan di Bumi Lancang Kuning ini patut untuk dirayakan . Ia menjadi penanda, menjadi pengingat kepada bangsa ini, bahwa puisi sesunguhnnya bukanlah semata kata-kata indah yang dibalut metafora. Tetapi dalam bentangan waktu perjalanannya, puisi juga memberikan sumbangsih kepada bangsa.

Sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Kritikus Sastra Indonesia, Maman S Mahayana bahwa siapa yang berkhianat pada puisi maka ia juga berkhianat kepada para leluhur. “Jadi, jangan pernah berkhianat pada puisi karena Indonesia ini ada, bermula dari puisi yaitu Sumpah Pemuda. Begitu pentingnya posisi puisi bagi bangsa ini, puisi sesungguhnya sudah menyelusup dalam kehidupan sehari-hari. Para leluhur bangsa ini sudah menempatkan puisi sejak awal menjadi bagian dari awal terbentuknya Indonesia. Makanya, di beberapa negara besar, Hari Puisi dirayakan sudah sejak lama karena mereka sadar, roh kebudayaan itu berada pada puisi,” ujar Maman S Mahayana.

Bahkan menurutnya, perkara patriotisme dalam puisi Indonesia sesungguhnya punya sejarah panjang. Syair-syair ygn ditulis para ulama Nusantara, puisi-puisi para penyair perintis dan para penyair Pujangga Baru, puisi-puisi zaman Jepang dan Angkatan 45, hingga para penyair hari ini dengan nama yang berderet panjang adalah ekspresi kepedulian mereka atas bangsa dan negara ini. “Jadi puisi, berfungsi dalam hal atau perkara menanamkan nilai-nilai, enyentuh kepekaan hati nurani dan coba membangun spritualitas dan kesadaran dalam memandang problem manusia dan kemanusian,” ujarnya.

Demikian juga yang disampaikan oleh penyair asal Singapura, Anie Din. Katanya bagaimana mungkin bisa disangkal bahwa puisi itu sebagai penghalus akal budi karena baginya, puisi itu ibarat makanan, pakaian, kebutuhan. Setiap peristiwa dalam kehidupan ini adalah puisi yang selalu dibutuhkan oleh manusia, terutama yang mampu untuk “membaca”. Ianya merangkum semua isi hidup dan kehidupan ini.

Sementara itu, selaku penggagas HPI, Rida K Liamsi menyebutkan pelaksanaan HPI tahun ke empat sudah menunjukkan bahwa semangat puisi itu hidup dan berkembang terutama di Riau. Semuanya berkat panitia pelaksana yang setia menjaga semangat puisi itu dari tahun ke tahun sejak dideklarasikan 2012 lalu.

“Deklarasi itu dilaksanakan di Pekanbaru-Riau. Untuk itulah kita  yang harus menjaga semangat hari puisi itu, terutama saya harapkan kepada anak-anak muda,” ujar budayawan Riau itu.

Di tingkat Nasional, bersama dengan penyair Indonesia lainnya, juga sudah menyiapkan struktur untuk tetap menjaga perayaan HPI, yakni dengan mendirikan Yayasan Hari Puisi. Dan kata Rida, yayasan inilah yang akan tetap menjaga dan menaja kegiatan-kegiatan sebagai simbol “gong” dari HPI tersebut.(Jefrizal)

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 23 September 2018 - 19:53 wib

Ratusan Mahasiswa Belajar Persatuan dan Kesatuan di Riau Kompleks

Minggu, 23 September 2018 - 19:52 wib

Pembakar Lahan TNTN Ditangkap

Minggu, 23 September 2018 - 19:48 wib

Kembalinya sang Primadona

Minggu, 23 September 2018 - 19:47 wib

Disdik Tempati Gedung Eks SMK Teknologi

Minggu, 23 September 2018 - 19:46 wib

Ditabrak Emak-Emak

Minggu, 23 September 2018 - 19:44 wib

Refresh di Waduk Hijau

Minggu, 23 September 2018 - 19:40 wib

Anggur Murah Laris Manis Terjual

Minggu, 23 September 2018 - 17:50 wib

Minta Jembatani GP Ansor-UAS

Follow Us