KERJA BUDAYA

Baca Puisi di Bus Kota Hingga Peluncuran Buku Pertama

7 Agustus 2016 - 00.06 WIB > Dibaca 772 kali | Komentar
 
Baca Puisi di Bus Kota Hingga Peluncuran Buku Pertama
Suharyoto Sastro Suwignyo lebih dikenal dengan seniman metateater. Di kalangan seniman dan budayawan, pria berambut panjang ini tidaklah asing lagi. Seorang pria kelahiran 6 Oktober 1967 ini, biasa dipanggil Aryo. Kiprahnya di dunia seni, tentu tidak diragukan lagi, mulai dari dunia teater, sastra dan lainnya. Pementasan teater dan pembacaan puisi, telah pula dilakukannya di berbagai tempat.

Jalan yang dilaluinya dalam proses berkesenian sejak lama itu, tidak pula mulus tanpa hambatan dan rintangan. Dulu pernah membacakan puisi di bus-bus kota, dan juga  ceruk kampung, bahkan juga pernah berurusan dengan pihak keamanan.

Rabu malam, (3/8), bertempat di sebuah kafe DK Jazz & Coffee di Jalan Pembangunan, Mas Aryo menggelar peluncuran buku novel pertamanya yang diberi judul Metanusantara. Sebuah novel yang merupakan hasil dari pemikirannya, yang dituangkan ke dalam sebuah karya fiksi dengan ketebalan 448 halaman. Dihadiri para seniman, pelaku seni, aktivitis lingkungan dan juga mahasiswa. Helat malam itu digelar dengan berbagai rangkaian acara.

Ditengkahi rintik hujan malam itu, helat semula yang digelar di halaman depan kafe, terpaksa dipindahkan ke dalam ruangan yang telah disediakan. Namun demikian, rangkaian acara yang telah disusun tetap dapat dijalankan sampai selesai. Bahkan tampaknya, para hadirin yang datang, tidak menghiraukan tetes demi tetes hujan malam itu.  Seolah-olah, hujan juga menjadi tamu yang turut mewarnai acara peluncuran novel karya Mas Aryo.

Ketua Umum Dewan Kesenian Riau (DKR), Kazzaini Ks yang turut hadir malam itu mengatakan, hadirnya buku novel karya Mas Aryo di tangan pembaca tentu menambah lengkapnya karya-karya penulis Riau. Melalui pembacaan singkatnya terhadap karya novel Metanusantara dan juga dari hasil pembacaan penggal cerita oleh tamu undangan di acara peluncuran itu, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa novel ini berbicara pada tataran dan cakupan yang sangat luas.

Semula diakuinya, Mas Aryo tentulah akan menulis cerita yang tidak jauh dari latar belakang budayanya, namun kemudian berdasarkan pembacaan singkat, justru karya Mas Aryo melebihi semua yang ditafsir sejak awal. Karya novel yang disebutnya bergenre absurd itu bicara lintas dimensi.

 “Cerita di dalamnya tentu menjadi kuat karena Mas Aryo adalah juga seorang yang bergerak di bidang kebudayaan. Di dalamnya juga terkandung cerita-cerita pewayangan, peristiwa ditenggelamkannya puluhan desa di Kampar. Makanya, cerita di dalamnya menjadi kuat karena pemahaman penulis terhadap latar belakang budaya yang diketahui dan dikuasainya. Kehadiran novel ini, membuka dan menambah pengayaan baru sastra di Riau. Meskipun beberapa penulis kita, sudah melakukan itu dengan latar yang berbeda, “ ujar Kazzaini yang merupakan orang pertama yang membeli novel Metanusantara tersebut. 

Novel itu sendiri, diakui Mas Aryo terinspirasi oleh banyaknya konflik di dunia dengan masa penulisan hanya selama 40 hari. Dia tidak keluar rumah, bertungkus lumus menyelesaikan karyanya, menuangkan gagasan, memotret persitiwa demi peristiwa yang pernah terekam di kepalanya. Dan karya ini lahir didampingi sang istri, anak serta dua orang muridnya.(Jefrizal)

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 13:03 wib

Honorer K2 Desak Penangkatan menjadi PNS

Selasa, 25 September 2018 - 13:00 wib

Mahasiswa Tuntut Perjuangkan Hak Petani

Selasa, 25 September 2018 - 12:54 wib

Genjot Ekspor, LPEI Fokus Winning Commodities

Selasa, 25 September 2018 - 12:40 wib

Pemerintah Pangkas Pajak Bunga Obligasi

Selasa, 25 September 2018 - 12:34 wib

Desak Kadis PUPR Diganti

Selasa, 25 September 2018 - 12:31 wib

Rasionalisasi Rp54,95 M

Selasa, 25 September 2018 - 12:30 wib

Damailah Suporter Indonesia!

Selasa, 25 September 2018 - 12:24 wib

Kuras Sumur Berbangkai, Warga Andaleh Tewas

Follow Us