PEMENTASAN SIJANGKANG

Bersimbah Informasi Purba dari Pementasan

7 Agustus 2016 - 00.10 WIB > Dibaca 713 kali | Komentar
 
Bersimbah Informasi Purba dari Pementasan
Panggung gelap. Pembawa acara baru saja membacakan sinopsis cerita dan mengucap "selamat menyaksikan". Hening dan gelap mengakap. Perlahan namun pasti bunyi calempong berdenting-denting yang sesekali ditingkahi suara gong. Sesaat kemudian, seorang biduan mulai beraksi. Melantunkan gumaman sebagai pembuka kisah.

Kembali hening. Denting bunyi triangle mengiring sorot cahaya biru ke tengah-tengah panggung. Tampak sepasang penari dengan kostum serba putih bergerak lambat. Seperti membentuk stupa pada puncak candi. Gerak yang lambat diiringi bunyi triangle itu semakin menambah keheningan suasana. Hanya sesaat, sepasang penari lenyap dalam kegelapan.

Cahaya terang mencurah di bagian paling depan panggung. Seseorang tampak berjalan tergesa-gesa. Hilir-mudik. Lalu-lalang dan mengamati suasana disekitarnya diiringi bunyi cello dan sampelong. Hening. Seseorang yang memakai kostum ala biksu berwarna orangle mengambil nafas panjang. Ia mulai membuka kisah, diawali atas keresahan dan kegalauan hatinya yang tak kunjung selesai.

Ia memperkenalkan diri. Menyebut namanya dengan Pandak Longan atau Jang Andak. Ia katakan sedang mencari seorang sahabat lamanya dan meminta tolong kepada semua orang (penonton, red) yang hadir malam itu. Jang Andak bertambah kecewa sebab perjalanannya mengelilingi Asia Tenggara dan terakhir singgah di Swarnadwipa (Sumatera) juga tidak membuahi hasil. Sahabat yang dicarinya kemana-mana itu tak dikenali sama sekali. Sahabat Jang Andak itu bernama I-Tsing atau Yi-Jing. Seorang pengelana, Pendeta Budha yang dipercaya sebagai orang yang mengungkap tabir tentang sejarah Sriwijaya yang berpusat di Pulau Sumatera.

Karena tak mendapatkan jawaban, Jang Andak-pun beristirahat di sebuah gundukan dan terlelap. Hanya beberapa detik saja, terdengar suara orang memanggil-manggil nama temannya. "Yahrus, ayolah. Candi Muaratakus sudah dekat. Kita harus segera mencapainya". Dua pemuda, masuk ke tengah-tengah panggung. Mereka terlihat lelah sekali. Dua pemuda itu adalah dua sahabat bernama Yahrus dan Mair. Mereka sedang menelusuri sejarah nenek moyang mereka ke Onah Koto Sijangkang.

Bukannya langsung bergegas mencapai tujuannya, kedua orang itu malah terlibat dalam selisih paham yang tak berujung. Perbedaan pendapat itu dimulai oleh Yahrus, seorang indigo yang mengaku menyaksikan tokoh-tokoh masa lalu hadir dihadapan mereka seperti sedang menonton bioskop. "Percayalah Mair aku melihat Puti Ombun, Puti Bungsu, Puti Hindu Dunia, Datu Matangkui, Datu Rajo Mulyo, Datu Majo Bosau, dan Datu Bandaro Putiah. Mereka berada di atas Pancalang dan kapal purba (Pancalang, red) itu berhenti di pucuk bukit".

Mair yang tidak bisa menyaksikan ucapan sahabatnya tentu saja ketakutan, dan sesekali marah karena baginya Yahrus mulai meracau atau bahkan sedang dimasuki Jembalang.
Karena perdebatan tentang masalalu, Yahrus dengan versi penampakan gaib, dan Mair melalui bacaan-bacaan di buku-buku, membuat keduanya keletihan dan Mair terlelap di tepi jalan kampung yang sedang mereka tuju. Yahrus terus masuk kedua dalam (gaib) dan menyaksikan Puti Ombun dan Puti Bungsu.

Cahaya dibagian depan, tempat Mair dan Yahrus beristirahat redup, berganti dengan cahaya biru menyorot sebuah singgasana di bagian tengah panggung, paling belakang. Di atas singgasana yang didominasi warna hitam dan putih itu, terlihat seseorang duduk. Anggun dan mempesona. Tak lama, seorang perempuan masuk ke tengah-tengah panggung dan memberi penghormatan kepada perempuan yang duduk di singgasana. Sebuah penghormatan yang tidak biasa, hormat kepada seorang ibu, Puti Ombun.

Puti Ombun, dianggap dalam mitologi Kedatuan Mutakui atau lebih dikenal dengan sebutan Muaratakus, sebagai perempuan mulai lagi sakti. Seorang perempuan yang menjadi panutan sekaligus pemilik tanah atau negeri. Puti Ombun memanggil anaknya yang bernama Puti Bungsu untuk diberi petuah serta nasihat. Dalam karya kali ini, Fedli Azis, penulis naskah sekaligus sutradara menggunakan bahasa lama, petatah-petitih Mutakui. Bahasa tambo yang belum ditulis sama sekali.

"Anakku Puti Bungsu, nan mano Mutakui tu? Sipisak sipisau anyuik, sialang balantak bosi, duyan ditakuok rajo, buayo putioh daguok". Kalimat penutup yang terasa magis dan menggetarkan itu menandai akhir dari adegan Puti Ombun yang bermonolog ria kepada anaknya Puti Bungsu. 

Yahrus tak berkedip sama sekali, sedang Mair mendengkur dan tak sadarkan diri. Ia benar-benar terlelap dalam mimpi tak berkesudahan. Saat kedua puti itu menghilang dalam kegelapan terdengar suara tawa beberapa orang lelaki. Bagian tengah panggung arena itu terang benderang. Tiga orang lelaki masuk dengan gembira dan langsung memperagakan gerakan-gerakan silat tuo ala Mutakui. Saat mereka asyik bermain gerak, masuk seseorang lelaki yang menggunakan kostum serba hitam. Di tangan kanannya terselip sebuah ruyung (tongkat komando). Lalu, keempat orang itu dikenal sebagai Datu Matangkui, Datu Bandaro Putioh, Datu Rajo Mulyo, dan Datu Majo Bosau terlibat pembicaraan serius. Masih menggunakan bahasa tambo Mutakui, yang tentu saja sulit dipahami audiens di Kota Solo, kecuali audiens asal Sumatera, terutama Riau.

 Adegan demi adegan berlangsung khidmat. Tak ada konflik sama sekali. Semua tokoh masa lalu menuturkan kehadiran manusia pertama di Pulau Sumatera, tepatnya di Onah Koto Sijangkang. Sedang tokoh-tokoh hari ini seperti Mair dan Yahrus serius menyaksikan adegan-adegan itu berlangsung. Sedang Jang Andak, si tokoh lintas zaman bersukacita sebab ia mendapatkan informasi yang jauh lebih purba ketimbang bertemu sahabatnya I-Tsing yang dipercaya belajar di Pulau Swarnabhumi (Sumatera) ini pada abad ke-7 masehi.

Kisah yang berjudul "Sijangkang" (Negara yang Hilang) persembahan Lembaga Teater Selembayung dan Taman Budaya Riau ini menuturkan mitologi yang terbilang baru di telinga orang-orang beberapa abad terakhir ini. Meski kisah purba itu tetap lengket dalam ingatan kolektif para datuk-datuk adat dan para siompu (puti) hingga hari ini, namun jauh dari kajian para penyuka sejarah, budaya, adat, apalagi pakar berbagai disiplin ilmu, termasuk pakar sejarah.

"Dalam karya ini, kami lebih mengandalkan nuansa, rasa, dan cerita. Kenapa? Karena ingin berbagi informasi tentang mitologi, jika tak kuasa disebut sejarah kehadapan publik yang lebih luas. Kami tak ingin informasi ini hanya jadi milik kalangan adat di Muaratakus sebab ini kekayaan Nusantara I (Asia Tenggara) dan II (Indonesia). Kisah ini untuk mengingatkan manusia-manusia, terutama pemimpin Republik Indonesia yang terlalu mudah melupakan masa lalunya," ujar Fedli Azis usai pementasan, Sabtu (29/7) di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Kota Solo.

Salah seorang seniman Kota Solo, Masturah menjelaskan, pementasan dari hasil riset yang mendalam, terutama tentang sejarah atau mitologi, hari ini jarang sekali ditampilkan grup-grup teater di Indonesia. "Saya kira ini pertunjukan yang menarik. Teater Selembayung menghidupkan realis masa lampau dengan baik dalam keheningan yang menyenangkan," ulasnya.

Sementara itu, Kepala UPT Museum dan Taman Budaya Riau Sri Mekka menyambut gembira dan mengaku banyak dapat pelajaran dari karya itu. "Kalau mau dapat pelajaran berharga, rugi jika tidak menonton karya Sijangkang persembahan Teater Selembayung ini," ujarnya meyakinkan.

Diakhir pertunjukan, Fedli Azis mengilustrasikan bahwa kisah "Sijangkang" bersumber dari Ongku Imi (salah satu ahli waris Kedatuan Mutakui), Syahru Ramadhan dan Amirullah (pengurus Yayasan Matankari) yang konsen menggali tentang Muaratakus. Sebuah yayasan milik penguasa Andiko 44 Ninik Datuk Rajo Dubalai. Di samping melakukan riset, dan bertemu para datuk-datuk adat di Muaratakus, Fedli juga mendiskusikan karyanya dengan para para praktisi tari seperti Cak Yayak, seni rupa Yudi YS, kostum dan make up Sunardi, musik Fabri Hengki, dan naskah drama Rina NE. 

"Saya gembira, aktor-aktor, penari, pemusik, dan lainnya tampil enjoy dan hasilnya maksimal," kata Fedli.(Jefrizal)
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 15 November 2018 - 19:45 wib

Telkomsel Hadirkan Kerja Sama Non-Tunai dengan Adhya Tirta Batam

Kamis, 15 November 2018 - 18:35 wib

Ingin Bahasa Indonesia jadi Bahasa Internasional, APPBIPA Riau Terbentuk

Kamis, 15 November 2018 - 17:59 wib

Lagi Berenang, Bocah Tewas Diterkam Buaya

Kamis, 15 November 2018 - 17:00 wib

3 Pemain Timnas Dapat Tawaran dari Klub Luar Negeri

Kamis, 15 November 2018 - 16:15 wib

BPN Komit Realisasikan Program PTSL 2018

Kamis, 15 November 2018 - 16:00 wib

Sabhara Gagalkan Rencana Tawuran Sekelompok Pemuda

Kamis, 15 November 2018 - 15:45 wib

Pembangunan RSUD Indrasari Terlambat

Kamis, 15 November 2018 - 15:30 wib

BNNK Ringkus Pengedar Antar Provinsi

Follow Us