ESAI SASTRA

Seniman Melayu dalam Sejarah Melayu

7 Agustus 2016 - 00.30 WIB > Dibaca 1535 kali | Komentar
 
Oleh Junaidi Syam

Kalau mengetahui siapa seniman paling awal yang  tercatat dalam sejarah seni   rupa Melayu, baik tuntuan dan pumpuan tinjau manuskrip Sejarah Melayu atau Sulalatussalatin yang disalin-gubah oleh Tun Muhammad gelar Tun Sri Lanang, 1021 H atau 1600 M. Kitab ini ada menyebut nama Hang Nadim anak jati Melaka, kerabat Bendahara Seri Maharaja dan ianya menantu Laksamana. Apabila dikatakan Hang Nadim adalah keluarga dekat Bendahara maka darah seni itu memiliki benang merah sebab Bendahara Seri Maharaja adalah seorang arsitek. Peran Bendahara sangat besar dalam membangun peradaban arsitektural di masa Melaka jaya.

Hang Nadim diminta oleh Sultan Mahmud pergi ke benua Keling (India) memesan kain serasah. Istilah serasah adalah sebutan untuk sejumlah besar (kepala ukuran), berasal dari bahasa Arab. Serasah bukan nama jenis kain sebab ada yang mengatakan serasah itu batik Melayu. Jumlah satu rasah atau serasah yang dipesan Sultan Mahmud itu terdiri atas empat puluh bagai; empat puluh jenis. Tiap jenis kain terdiri pula atas empat puluh helai dengan empat puluh ragam disain bunganya. Terhitunglah dalam jumlah serasah yang diminta itu 1600 helai kain yang tidak boleh sama bentuk rupanya dan limited editions. Dalam istilah Melayu; tempah sudah tukang dibunuh. 

Berangkatlah Hang Nadim ke Benua India lalu menghadap pada raja Keling. Akibat permintaan yang bahana ini, terpaksa raja Keling menghimpun segala orang yang tahu dan faham menulis. Makna menulis dalam bahasa Melayu adalah melakar, menggambar, membuat raut rupa sesuatu, atau sekarang boleh disebut melukis. Maka dihikayatkan orang dalam Sulalatussalatin; “berkampunglah segala penulis Keling itu, ada kadar 500 banyaknya”. Tujuan teks Sulalatussalatin itu menunjuk pada bilangan 64.000 desain ragam hias yang akan ditempahkan ke atas kain. Berarti 128 ragam corak akan ditulis oleh setiap seorang seniman negeri Keling. Tentu saja pesan Sultan Mahmud ini sangat berat. Imbang-imbangan jua sedikit beratnya seperti kisah raja Melaka meminang Puteri Gunung Ledang. Mulailah para penulis Keling mengerjakan pesanan kehendak raja Melaka.

Setelah selesai kumpulan orang itu membuat gambar maka ditunjukkan pada Hang Nadim. Tetapi, Hang Nadim kurang berkenan pada hasil lakaran penulis keling tersebut. Diulang pula membuat disain yang lain. Tetap juga tiada sesuai menurut kadar rasa periksa Hang Nadim. Menyerahlah para penulis keling tersebut sebab tidak mampu melayani kehendak Hang Nadim dengan ucapan; “hanya inilah pengetahuan kami sekalian, jika lain dari pada ini tidaklah kami tahu, tetapi berilah tauladannya supaya kami tulis”.

Hang Nadim segera meminta dawat dan kertas yang ada pada mereka kemudian membuat disain ragam hias bebungaan seperti yang dikehendakinya. Tercengang-cenganglah para seniman Keling itu melihat keahlian serta kelincahan tangan Hang Nadim saat menggambar. Setelah dibuat oleh Hang Nadim maka dipertunjukkanlah kepada para seniman Keling tersebut. Ditiru oleh segala seniman Keling yang lima ratus orang itu. Tiada terturut oleh mereka cara buatan Hang Nadim. Menggeletar tangan sebab tidak yakin mampu menyalin serupa. Meminta tangguhlah mereka menirukannya dan dibawa pulang ke rumah.

Kitab Sulalatussalatin seolah-olah hendak menceritakan bagaimana orang Melayu di masa Sultan Mahmud Syah mengalahkan seniman Keling dalam perkara mendisain ragam hias. Beberapa pemaparan dalam hikayat Sejarah Melayu adalah mengenai perkara uji menguji antar kerajaan besar semasa itu. Misalnya Pasai adalah tempat menguji ulamanya, Jawa tempat menguji hulubalangnya, Cina tempat menguji daulat, atau Siam tempat menguji agama raja mereka. Hingga sekarang kita mengenal India sebagai penghasil tekstil dunia yang terkenal dengan ragam jenis kain sarinya.

Meskipun hanya satu cerita dalam hikayat, namun Sulalatussalatin adalah teks unik yang layak dipakai untuk membangkitkan semangat perjuangan menegakkan seni rupa Melayu di Riau hari ini. Apabila dalam Tambo Alam Minangkabau ada disebut Datuk Perpatih Sebatang yang berlayar ke Hulu Muara lalu mendapat peti berisi perkakas tukang menukang, kemudian pulang menjadi tukang, maka keahlian Datuk Perpatih ini juga mengenai perkara seni, arsitektur nama bidang kerjanya. Kita pun boleh menyaksikan fakta bagaimana orang Minangkabau bersemangat membangun rumah gadang sehingga penuh seluruh dinding bagian muka dengan berbagai ragam hias yang indah-indah.

Tahulah kita bahwa Hang Nadim adalah anak Melaka yang seniman. Dalam kronik Sulalatussalatin atau Sejarah Melayu tercantum dua nama terkait dengan seni dan berkesenian, yakni; Bendahara Seri Maharaja sebagai seorang arsitek, Hang Nadim seniman yang ahli dalam menulis (menggambar), dan Melayu juga punya nama Salim bin Solahuddin di zaman modern. Tidaklah payah-payah lagi mencari tokoh peradaban seni dan berkesenian. Apabila nama Hang Nadim sudah dijadikan nama sebuah bandar udara, maka nama itu lebih layak dipakai untuk nama urusan seni dan berkesenian semisal nama galeri.

Sayangnya musibah menimpa Hang Nadim ketika membawa pulang kain-kain buatan Keling itu. Dia kembali menumpang kapal Hang Isap untuk bertolak ke Malaka yang ketika itu sempat bercekak bantah dengan seorang sayid soal hutang piutang. Keluarlah hamun maki dari lisan Hang Isap kepada sayid tersebut. Sang sayid mengatakan bahwa kapal Hang Isap karam! Hang Nadim memohon pada Sayid tersebut agar tidak diikutsertakan dalam persoalan mereka. Sayid tersebut mengatakan Hang Nadim selamat. Maka karamlah kapal Hang Isap di laut Sailan saat berlayar ke Malaka. Hang Nadim dapat melepaskan diri menggunakan sampan beserta empat helai kain saja. Bayangkan, dari 40 jenis x 40 helai itu hanya tersisa 4 helai. Kisah ini nampak seperti anekdot namun demikianlah disebutkan dalam kitab.

Hang Nadim memiliki cita rasa seni yang berbeda dengan orang Keling. Sultan Mahmud memilih Hang Nadim karena dia memang memiliki kualitas. Kesenimanan Hang Nadim diketahui pula oleh Raja Sailan, maka dimintanyalah untuk membuat tanglung telur, yakni; telur ukir berkerawang. Hang Nadim pun membuatkan ukiran tersebut pada kulit telur dan diberinya berdian (berapi lilin) di dalamnya sehingga nampak indah di mata Raja Sailan. Sebab teramat suka cita Raja Sailan melihat keahlian tersebut maka hendak ditahannya Hang Nadim agar mastatutin di Sailan. Hang Nadim menolak dan bertolak juga menuju Melaka.

Terbayang oleh kita bagaimana pengaruh karya seni berkualitas tinggi dapat menyentuh hati seorang Raja Sailan yang dikenal dalam kronik-kronik kuno memiliki perbendaharaan kerajaan yang luar biasa mencengangkan. Demikianlah kisah cerita yang kita peroleh dalam membaca Sulalatussalatin.

Dalam Sulalatussalatin tidak disebutkan indah atau hebatnya karya Hang Nadim melainkan ditekankan pada aspek keahlian, yakni orangnya. Apa makna yang dapat dipetik? Adalah karya seni itu terkait perkara manusianya bukan hanya pada karya yang sudah dimatikan di atas medium. Karya hanyalah hasil buah fikiran yang diaplikasikan melalui keahlian anggota tubuh. Raja Sailan tiada melihat lagi pada tanglong berdian buatan Hang Nadim, namun menghendaki badan dirinya. Apa sebab? Karena Raja Sailan mengetahui bahwasanya ide-ide serta kekuatan fikiran dan olah rasa seni berkesenian melekat pada diri seniman. Itulah pokok pangkal cara memandang karya. Lihat dan nikmati karya yang indah, jangan lupa pada senimannya, dan ini juga yang harus dipakai ketika mengkurasi karya.
Salam seni rupa.***

Junaidi Syam adalah seniman.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 12 Desember 2018 - 16:00 wib

BC Musnahkan Barang Ilegal Miliaran Rupiah

Rabu, 12 Desember 2018 - 15:00 wib

Jalan Koridor Langgam Ditutup Sementara

Rabu, 12 Desember 2018 - 14:30 wib

Bupati Harap Prestasi Terbaik di MTQ Provinsi

Rabu, 12 Desember 2018 - 14:00 wib

Jarang Cetak Gol, Malah Jadi Pemain Terbaik

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:51 wib

BBKSDA Riau Melepasliarkan Seekor Kukang ke Habitatnya

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:45 wib

Empat Tersangka Narkoba Diamankan

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:44 wib

Siswa SMK Muhammadiyah 3 Gelar Studi Banding Ke Industri

Rabu, 12 Desember 2018 - 13:30 wib

Jalan Menuju Masjid Jami Air Tiris, Hari Ini Dihantam Banjir

Follow Us