SAJAK

Sajak-sajak Riki Utomi

7 Agustus 2016 - 00.54 WIB > Dibaca 1002 kali | Komentar
 
Cinta di Sepiring Nasi

cinta itu suci seperti beras terkelupas dari padi.
nasi itu harum, seperti parfum kau tuang ke
tubuhmu

selepas mandi. cintaku terkurung pada piringmu,
kau menyantapnya dan aku terburai di
kelezatannya.

sepiring nasi buatanku sangat lezat
bila lengkap
oleh bumbu airmata, kemuliaan, dan ketulusan.
ditambah taburan bawang kebahagiaan. makanlah

lahap tanpa basa-basi, aku akan membantu menambah
kecap agar sengat lezat makin tergilas di hatimu.

atau saus merah merona itu, agar cintaku lekat
melezatkan di lidahmu.

2016



Memasak Mimpi

mimpi belum tuntas. begitu lekas ia menabrak batas.
sekerat saja tinggal sepertiga akan tandas. diam-diam
kau angkat wajan sambil berkelit, “mimpi belum
juga masak…”

barangkali lebih pas merebus mimpi. sebab keindahannya
lebih bernarasi. akan kutuangkan segalanya ke dalam
wajan. mengaduknya sambil menabur bumbu kehangatan,
tapi jelas tanpa keasinan.

tapi lebih semarak bila kau ada di sini. sama-sama
memperhatikan aksiku ini. memasak adalah menyempurnakan
mimpi. mimpi adalah janji yang harus di lezatkan. dan
kelezatan tercicipi di alur tajam takdir.

2016



Kemaruk Nasi Basi

tiada apa-apa diriku ini tersebab nasi basi.
nasi mencengkeram perut kehidupan. menyakitkan
dari runcing duri paling tajam. kemaruknya pecah

di awal pagi oleh nasi yang tak jadi. luka hatiku
menganga tanpa sarapan kemenangan. dan luka
hidup makin menjadi-jadi.

kemaruk nasi basi, terpuruk sudah emosi.
yang mengantarkan remuk dalam panci.

percuma mengukus mimpi, sebab basi telah melendir
pikirmu. percuma menanak harap sebab tak lengkap
ungkap yang lezat.

akan kutendang panci dan periuk jahanam itu.
meremuknya di atas tungku api. pagi ini perut merintih.
hari ini aku kemaruk sambil mengumpat sepi.

2016



Kecermatan Menggoreng

nasi kukus—menurutmu—lebih indah. putih mulus kulitnya
seranum gadis belia. angkatlah tanpa cela. tuangkan ke wajan
hitam.

minyak mahal—menurutmu—lebih halus. tuangkan sambil
mencurahkan getar batin. dirimu tentu ingin bahagia pada
penggorengan yang terakhir.

bawang merah—menurutmu—lebih wah. potong dengan
khidmat seperti kau saat berdoa. khusuklah dengan ongseng
paling bertenaga dikala kerakpun tak tersisa.

telur ayam kampung—menurutmu—lebih yahut. retakkan
hati-hati cangkangnya. ludeskan di penggorengan seperti
kau mencita-citakan hasil terbaik dalam hidup.

lada padang giling—menurutmu—lebih nyess. sebab merah
menyala warnanya, mirip bara api dadamu ketika cinta itu
kembali pulih terobati.

kecap eceran—menurutmu—lebih hmmm…. semprotkan
merata mirip ketika kau tak bedakan siapa-siapa diantara
mereka yang menanti.

2016



Riki Utomi, penikmat sastra dan linguistik. Buku kumpulan cerpennya Mata Empat (2013) dan Sebuah Wajah di Roti Panggang (2015). Sejumlah karya pernah dimuat dalam Koran Tempo, Pikiran Rakyat, Indopos, Suara Merdeka, Lampung Post, Banjarmasin Post, Babel Pos, Sumut Pos, Serambi Indonesia, Inilah Koran, Rakyat Sumbar, Padang Ekspres, Kendari Pos, Buletin Jejak, Majalah Sabili, Majalah Sagang, Riau Pos, Koran Riau, Haluan Riau, Metro Riau, Haluan Kepri. Mendapatkan Penghargaan Acarya Sastra dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Jakarta. Tinggal di Selatpanjang.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us