CERPEN GDE AGUNG LONTAR

Bebalonia

7 Agustus 2016 - 00.56 WIB > Dibaca 2250 kali | Komentar
 
Bebalonia
Kami berdua akhirnya mendarat juga di Bebalya Raya International Airport. Sebelumnya pesawat berbadan tambun itu sempat terbang berputar-putar selama hampir dua jam. Ending yang mendebarkan bagi banyak orang. Kabut asap jadi penghalang. Saat bahan bakar hampir tandas, barulah otoritas bandara mengizinkan pesawat menembus lapisan abu jerebu itu. Kami semua akhirnya lega.

Bandar udara ibukota Republik Bebalonia ini cukup luas, tapi kami berdua tak tahu kenapa terasa begitu sunyi. Mungkin karena alam yang berkabut, menciptakan suasana yang nglangut. Padahal orang ramai berlalu-lalang. Padahal seorang petugas berteriak-teriak. Tetapi semua gerak dan suara jauh menjauh. Kopor-kopor tas kardus dan bungkusan beredar mengalur conveyor belt. Meliuk-liuk. Lalu satu-satu dijumput pemiliknya.

Kami berdua masing-masing hanya membawa satu travel bag ukuran sedang. Sebenarnya juga tak perlu. Ini hanya tipu-tipu. Di pintu keluar berkaca tebal bersudut berlumur lumut, dalam berdesakan kami ditarik seseorang berbadan besar.

“Mas, ikut saya, Mas. Ke sini.”

Tapi kami berdua hanya saling berpandangan.

“Ayo. Silahkan, Mas.”

“Tapi, kami ....”

“Jangan kuatir, Mas.” Lelaki itu tersenyum. “Saya bukan taksi gelap. Saya yang ditugaskan untuk menjemput Mas berdua.” katanya lagi sambil menunjuk lambang di dada seragamnya.

“Di depan sana sudah menunggu Pak Dino, wakil sekretaris korporasi. Mari.”

Mungkin inilah kelebihan orang negeri ini. Ramah-tamah, sopan-santun, murah-hati; terlebih-lebih terhadap orang asing. Begitulah petuah pemimpin kami tentang bangsa Bebalonia saat kami bersiap-siap berangkat berjam-jam yang lalu.

Di sebuah limusin hitam kami berdua kemudian diperkenalkan pada seorang lelaki berwajah ceria. Lelaki berbadan besar itu sendiri kemudian duduk di depan di samping supir. Pak Dino itu nampaknya bukan hanya wajahnya saja yang terlihat ceria, tapi juga lagak gayanya. Ia kemudian berceritera tentang berbagai hal. Tentang Bebalya Raya yang berpenduduk tiga belas juta jiwa. Tentang nilai mata uang yang menari-nari. Tentang gerak pembangunan yang masih terus melaju. Serta tentang rencana itu, pembangunan Menara Bebalonia.

“Menara Bebalonia?” kami berdua nyaris berseru serempak.

“Ya. Mas berdua sudah menyelesaikan pre-design-nya, kan? Seluruh direksi berencana akan menghadiri meeting itu. Mereka sudah tak sabar lagi. Mereka sangat antusias sekali. Bagaimana tidak, ya kan Mas? Ini proyek yang sangat prestisius.”

“Tapi, kami ....”

“Jangan khawatir.” Lelaki itu tersenyum, seperti berusaha menyejukkan hati. “Itu masih besok jadwalnya. Sekarang sudah malam. Kita langsung saja ke hotel, mengambil penthouse yang sudah dipesan, meletakkan barang-barang, dan kemudian ke restoran. Sudah lapar, ya kan? Ha ha ha ....”

Ya, ternyata hari memang sudah lewat maghrib. Sisa cahaya jingga buram di langit barat sana terasa sendujemu dirubung kabut asap. Mobil-mobil hilir-mudik, gedung-gedung tegak beku, pendaran lelampu dan siluet-siluet sosok semua bagai melamun muram meringkuk malam. Kami berdua ingin mengatakan sesuatu bahwa mereka telah salah orang, tapi dia terus saja berceritera entah apa lagi.

Lebih satu jam kemudian kami bertiga sudah duduk-duduk di restoran yang ada di hotel berbintang lima berlian itu. Kami berdua sebenarnya tidak sedang lapar; bahkan tidak pernah lapar. Tapi demi kesantunan, tetap menerima seluruh perjamuan. Lelaki berwajah ceria itu pasti telah mempersiapkannya dengan sungguh-sungguh. Ketika selesai makan, dia kemudian mengajak kami duduk-duduk santai melepas lelah katanya, di sebuah sudut bersofa empuk di sebuah lounge. Musik jazz terdengar lamat dari panggung. Pencahayaan temaram. Kembali dia berceritera. Nampaknya ada bakat untuk menjadi seorang trubadur. Lalu kemudian katanya,
“Proyek ini pasti akan menjadi proyek konstruksi yang paling hebat dan paling prestisius yang pernah ada di seluruh dunia. Mas berdua sebagai arsitek ternama pasti lebih tahu lagi soal itu, ya kan? Hebat! Menara Bebalonia akan segera mengalahkan Burj Khalifa. Bahkan Kingdom Tower sekalipun! Dengan tinggi 1.234 meter dan duit 27 triliun, siapa pun pasti takjub! Ya, kan? Ha ha ha ....”

Kami berdua mengangguk-angguk. Takjub juga.

“Tapi, dengan kondisi seperti sekarang ini, apa masih memungkinkan?” tiba-tiba kami berdua bertanya nyaris bersamaan. Lelaki berwajah ceria itu memandang lekat wajah kami satu per satu, seperti takjub juga, lalu kembali tertawa.

“Ha ha ha. Saya kira, Mas berdua pasti kembaran. Tapi, memangnya kenapa? Maksud saya, kondisi yang bagaimana?”

“Mata uang gonjang-ganjing, barang dan jasa terbanting-banting, bank-bank membeku, peneraju negeri banyak yang gagu, orang-orang bingung termangu, dan – alam yang penuh dengan asap kelabu?”

Lelaki itu sempat terpana sejenak.

“Maksud Mas berdua?”

“Dan engkau melihat orang-orang yang tidak beralas kaki telanjang miskin dan penggembala berlomba-lomba saling tinggi dalam bangunan.”

Mata lelaki itu berputar-putar, lalu menoleh ke kiri sekilas, lalu kemudian kembali menampakkan wajah cerah cerianya.

“Aah, Mas berdua memang penuh kelakar. Black-comedy kata orang. Terdengar pesimis, ironis, atau bahkan skeptis. Tapi, itu bukan jelek. Itu semua adalah modal untuk kearifan dan kebijaksanaan. Dan itulah pasti yang mendorong kenapa korporasi tempat Mas berdua berkiprah juga bersedia menggelontorkan talangan dana 33 %, ya kan? Kearifan dan kebijaksanaan; dua kata itu hanya dapat muncul di saat-saat yang sulit. Kondisi seperti ini, hanyalah sebuah blessing ini disguise. Lagi pula, kapitalisme sedari dulu memang sudah begitu; sudah adatnya. Saban daur waktu meminta semah domba-domba untuk membuat dirinya tetap berjaya. Ya, kan?”

Tiba-tiba sudut kami dihampiri dua wanita cantik jelita yang berpakaian seperti sekadar lingerie. Lelaki berwajah ceria itu pun segera berdiri, tersenyum-senyum memperkenalkan kami berempat. Lalu seperti menguap, dan minta maaf sambil berkata bahwa ternyata hari sudah berjingkat ke puncak gelap dan dia sudah mengabaikan kenyataan bahwa kami berdua sudah waktunya untuk mandi menyegarkan diri dan beristirahat. Lalu kami berempat seperti didorong-dorong sampai ke lantai griyatawang. Menjelang pergi dia berpesan sembari mengedipkan mata bahwa dia akan menjemput kami berdua besok pagi untuk meeting pukul 10. Tetapi sekarang adalah waktunya miting.

Tinggallah kami berdua bersama dua cantik jelita ber-lingerie. Duduk di ruang tamu di sofa berbantal lapis beludru. Anggur minuman dan kudapan penuh di meja. Tetapi pikiran kami berdua jauh dari itu semua. Sebelum dua jam lagi kami berdua sudah harus pergi.
Kedua jelita itu berusaha banyak bercerita ceria, sembari jari-jemari ramah menari-nari merayu. Ini agaknya jenis sekelumit upeti itu; pikir kami berdua. Lalu Luca dan Lara – demikian pengakuan mereka – mengajak kami berdua turun ke jacuzzi bercorak love besar di ruang tengah. Berendam. Mereka berjanji akan menggosok-gosok tubuh kami, memijit-mijit otot kami, membuat diri kami berdua segar sesegar-segarnya kembali. Terbang melintasi zona waktu memang akan membuat jam biologis jadi gugu.

Penjelasan yang sungguh sempurna untuk waktu yang tak sempurna. Akhirnya kami tinggalkan saja dua jelita dengan lingerie yang mulai terburai sendiri. Malam mulai merangkak ke peraduan. Sebentar lagi jam berdentang panjang. Kami harus segera sampai di alun-alun. Ada tugas menanti.

***

“Tapi, bukankah mereka adalah bangsa yang suka merugi?” demikian bantah kami ramai dalam musyawarah akbar waktu itu. “Mereka suka memanipulasi apa saja yang dapat memuaskan diri mereka sendiri. Mereka suka mencuri seperti monyet, berjudi seperti berang-berang, berzina seperti keledai, mengendus-endus kotoran seperti anjing. Bahkan memakan bangkai saudara sendiri seperti nasar! Dan sekarang mereka pun nampaknya sudah mulai lihai memainkan sihir yang terkutuk! Jadi, apakah masih ada kebaikan dari mereka?”

Itu adalah pertemuan besar korporasi semesta kami. Ada kegundahan di hati kami semua bagaimana bangsa yang semula dikenal begitu lembut itu sekarang telah berubah menjadi pemakan bangkai. Dan kini mereka telah pula pandai menggunakan sihir. Sebagai sebuah korporasi semesta, kami harus mengabarkan bahwa permainan itu sangat berbahaya, dan kami harus menjaga agar itu tetap menjadi rahasia.

Kami mengatakan pada pemimpin kami bahwa andai mereka tidak diberikan keistimewaan semacam itu, mereka mungkin tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Mereka ternyata adalah bangsa yang terlalu lemah, tetapi sekaligus serakah. Lebih menyedihkan lagi, mereka sepertinya adalah bangsa yang tidak pernah mau berubah. Lebih bodoh daripada keledai. Kalau kami berada di posisi mereka, kami pasti akan mampu membawa bangsa itu menuju peradaban semesta raya.

Tetapi pemimpin kami berpendapat lain. Dia mengatakan bahwa memang tidak mudah menjadi mereka. Sudah takdir di dalam diri mereka bermukim sang waskita dan sang durjana secara bersama-sama. Mereka harus pandai memilah-milih di antara keduanya. Tetapi, itulah seninya menjadi mereka. Sedangkan kami, kami hanya tahu tentang kewaskitaan. Tetapi, kata pemimpin kami kemudian, kalau kami tak percaya dan ingin mencoba menantang mara-bahaya seperti mereka, Dia akan mengabulkan. Pilih dua di antara kalian; maka kami berdualah yang ditugaskan.

“Kau berdua, Karut dan Marut,” ujar pemimpin kami menjelang keberangkatan, “bersiaplah. Ketika kau berdua menjadi seperti mereka, itu sangat tidak mudah, dan bukan tanpa hukuman bila kalian salah dan gagal. Dua misi itu harus kalian jalankan dengan sepenuh kekuatan, dan kesabaran.”

***

Alun-alun sudah ramai orang seperti yang diperkirakan. Lampu-lampu berpendaran dalam kabut asap menyesakkan. Tapi seperti tak ada yang peduli. Mereka semua asyik beriang-gembira, dalam hentakan house music dan beragam jenis khamr dan hashish dan dadu. Sembari bergoyang, mereka pun menyihir segala yang ada. Aspal jadi uang. Patung jadi pelacur. Air jadi tuak. Kepala jadi batu. Hati jadi racun. Nyaris segala. Kami berdua menggeleng-geleng, lalu naik ke pelataran yang tinggi, kemudian menyihir tugu menjadi emas! Semua bersorak. Semua menjerit. Semua berseru.

“Ajari kami! Ajari kami! Ini adalah kekayaan yang tiada terkira! Akan hilangkan semua derita nestapa kami yang papa!”

Semua lalu berebut naik, berusaha mendekat. Tapi kami berdua kemudian mengatakan, “Baik, baik. Tenang semua. Tapi, sebelum kita melangkah lebih jauh, kami berdua harus mengatakan bahwa sihir sangatlah berbahaya bagi diri kalian, keluarga kalian, dan bangsa kalian. Dengan sihir sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan keuntungan apapun, bahkan kalian akan rugi besar karena telah menjual diri kalian. Percayalah. Kedatangan kami berdua sesungguhnya hanyalah ujian bagi kalian.”

Biar! Tidak peduli! Bukan tanggungjawab kamu!; mereka memekik. Bagi kami, yang penting itu akan seketika menghilangkan segala sengsara. Kami berjanji bukan untuk foya-foya. Hanya untuk makan kami, untuk sekolah, rumah, serta menghukum para koruptor menjadi kerbau. Tolonglah! Percayalah!”

Kami berdua kian terjepit. Tak ada celah untuk menghindar dengan mudah; karena tubuh sudah jadi seperti mereka. Tulang-belulang mulai terasa nyeri, dan lapar yang menghimpit inilah rupanya rasanya. Mereka pun tak lagi mengerti kata-kata yang diucap. Akhirnya kami berdua terpaksa bernegosiasi, akan mengajarkan sepuluh orang di antara mereka yang paling berbakat, dan setelah itu biarkan kami berdua pergi.

Deal.

***

Asap pekat masih mengabut di punggung kami berdua ketika sampai di lobi hotel. Kami berdua tak punya pilihan tujuan lain. Sunyi larut hotel sempat terganggu puluhan orang yang masih mencoba mengejar. Untunglah petugas berhasil mengusir mereka, dan lalu dengan terbata-bata menyatakan maaf dan mengantarkan kami berdua menuju puncak. Letih memanjat lapar merenggut; beginilah rupanya. Perjamuan sehamparan meja besar rasanya akan sanggup kami berdua lumatkan. Pintu terbuka, dua jelita itu rupanya masih ada. Itu memang sudah tugas; ujar mereka serempak. Wine dan seluruh kudapan di meja tamu segera kami berdua serbu. Seperti sepasang hyena. Oo haus dan dahaga. Kedua jelita ceria tertawa-tawa, lingerie nampak kian tipis melambai-lambai. Botol-botol mereka datangkan lagi. Oo, manisnya. Madu apakah yang telah kami lewatkan selama jutaan tahun ini? Mari-mari, kita sekarang ke jacuzzi, membetulkan tulang-belulang yang terasa nyeri. Air yang hangat dan menggumpal-gumpal, memijat-mijat seluruh tubuh ini. Harum mewangi. Terdampar sudah dua lingerie. Kami amat sangat hungry. Ooh.

Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang lelaki masuk sembari mendorong troli yang penuh dengan makanan. Sejenak terpana, malu. Maafkan aku lupa mengunci pintunya, Sayang; bisik jelita. Tapi tak apa, itu biasa. Dia akan maklum dan pura-pura tiada. Tapi kami berdua segera sadar. Apa yang telah kami lakukan? Minum khamr? Menunggang keledai? Dan sekarang ada lelaki asing yang menyaksikan kami berdua dengan dua jelita tak ber-lingerie? Ini semua adalah dosa besar! Tak boleh terjadi. Kami tidak ingin seorang pun mengetahui hal ini. Tidak juga lelaki itu. Kami berdua terlalu berharga.

Dan kami bukan bangsa Bebalonia!***

Payungsekaki, 2015 | 2016


Gde Agung Lontar  adalah cerpenis dan novelis. Karya-karyanya dimuat dalam berbagai media lokal dan nasional. Tinggal di Kota Pekanbaru

KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 20:28 wib

Berlari 15 Menit untuk Daya Ingat yang Baik

Minggu, 18 November 2018 - 20:23 wib

Jadi Pemilik Akun Penyebar Hoax, Istri Gubernur Diselidiki Polisi

Minggu, 18 November 2018 - 20:20 wib

IDI Riau Gembira PN Pekanbaru Menangkan Gugatan Anggotanya

Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Follow Us