FESTIVAL LANGCANG KUNING

Menggali Nilai, Mengekalkan Makna

13 Agustus 2016 - 23.53 WIB > Dibaca 1646 kali | Komentar
 
Menggali Nilai, Mengekalkan Makna
Festival Lancang Kuning 2016, selain untuk memeriahkan hari jadi Provinsi Riau  ke-59 tahun, juga merupakan upaya menggali nilai-nilai dan mengekalkan makna kemelayuan
-----------------------

FESTIVAL Lancang Kuning, begitu helat itu diberi nama. Kegiatan  yang ditaja UPT Museum dan Taman Budaya-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau itu berlangsung sejak 6-9 Agustus lalu. Semarak  dan riuh acara yang berlangsung menjadi bunyi yang seolah-olah menyibak kesenyapan dalam merayakan hari jadi Provinsi ke-59.

Sebagai penanda dari rangkaian acara, dilaksanakan lomba tari yang diikuti oleh 12 kabupaten/kota di Riau. Masing-masing sanggar yang mewakili daerahnya, mempersembahkan karya tari yang berangkat dari wujud, simbol serta makna dari perahu Lancang Kuning.

Perahu Lancang Kuning itu sendiri telah sejak lama dirumuskan para pendahulu sebagai salah satu ornamen pada lambang Provinsi Riau. Ianya mengandung makna sebagai lambang kebesaran masyarakat Riau. Lancang Kuning juga kemudian menjadi laluan imajinasi bagi para insan-insan kreatif untuk menghasilkan berbagai karya, baik dalam bentuk cerita, lagu dan lain sebagainya.
Beragam tafsir, nilai dan filosofi dari karya yang telah dihasilkan terdahulu menjadi pondasi alas atas tajuk helat yang diselenggarakan tahun ini. Sebagai lambang kebesaran masyarakat Riau, Lancang Kuning menjadi sumbu utama dalam kemasan bersama untuk dilakukan upaya penggalian terhadap nilai-nilai dan juga makna yang terkandung dari spirit Lancang Kuning.

Tafsir imajinatif yang diharapkan dapat terlihat dari beragam karya tari yang dihasilkan oleh peserta. Dengan mengusung khazanah lokal serta pemahaman terhadap keberadaan lambang provinsi Riau itu, masing-masing koregrafer menghasilkan gerak, bentuk dan rasa, serta tawaran pemikiran yang kaya.

Upaya penggalian itu diwujudkan selain dalam bentuk karya tari, juga diselenggarakan seminar kebudayaan yang diselenggarakan di Balai Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau. Diramaikan pula dengan Pawai Budaya. Masing-masing SKPD, sekolah dan universitas serta daerah mengarak rombongan, memamerkan mobil hias Lancang Kuning dan mempersembahkan bentuk-bentuk kekayaan dan khazanah budaya Melayu yang ada.

Kepala UPT Museum dan Taman Budaya, Sri Mekka, mengatakan, perhelatan yang ditaja untuk menggali nilai-nilai khazanah seni budaya yang terdapat pada masyarakat Riau. Dengan perhelatan ini, mudah-mudahan akan menghasilkan pemahaman bersama dan kesadaran untuk lebih mencintai negeri ini. Disebutkannya juga, helat ini akan diusahakan untuk dilakukan setiap tahun, menjadi ivent yang lebih bagus ke depannya.

“Tentu niat ini tidak dapat terwujud apabila tidak ada sinergi antara pemerintah dan juga budayawan serta seniman. Oleh karena itu, kerja sama dan saling koordinasi itu sangat diperlukan,” ujarnya.

Masa Depan Melayu

Lancang Kuning sebuah simbol di mana bangsa Melayu, dulunya sangat dekat dengan kebudayaan air. Kedekatan itulah yang menyebakan diterimanya budaya dunia dan Islam sehingga memberi nilai tambah pada kedua-duanya. Hal itu disampaikan Prof Muchtar Amhad dalam seminar kebudayaan dalam rangkaian Festival Lancang Kuning 2016.

Selaku salah seorang narasumber, disebutkn Muchtar, kedekatan itu tak dapat disangkal dengan berbagai bukti nyata yang dapat ditemukan hingga hari ini. Di antaranya seperti rumah, masakan, bahasa dan kegiatan harian untuk hidup mencerminkan keberadaan ciri khas budaya Melayu yang paling jolong.

“Orang Melayu membuat bangunan rumah di lingkungan air atau di kawasan perairan bercirikan tiang, bahasa berirama bak riak air dan lembut. Kedekatan itu  juga tercermin dalam rancangan dan bentuk pakaian, dalam perangkat hiasan dan perlengkapan maupun pernak-pernik ikutannya dalam upacara dan acara adat-istiadat perkawinan, lahir, meninggal dan semacamnya,” jelas Muchtar.

Begitu juga dalam perekonomian terjadi pertukaran melalui alur dan aliran sungai. Orang Melayu melakukan pertukaran barang dan perdagangan di seantero kawasan nusantara, menapaki waktu yang panjang. Kawasan itu menjadikan bangsa lain tertarik dan berdatangan. Demikian disebutkan Prof Muchtar, terjadilah persentuhan budaya Melayu dengan India, Persia, Arab, dan Cina di lingkungan air dengan damai.

“Demikian juga dengan teknologi Melayu bermula dan berkembang dari air dan perairan dengan sumbernya.  Kosa-kata tentang kapal seperti perahu, sampan, kapal, lancang, funa, tongkang, kayak, dan lainnya. Bahkan dalam kekuasaan dan kekuatan kedudukan Laksamana seperti Hang  Tuah melegenda dalam kesusasteraan maupun sejarah Melayu dan perairan.    Laksamana Hang Tuah dari Malaka adalah seorang pendekar yang amat termasyhur seorang pendekar yang amat ter­masyhur bersama empat sahabatnya pendekar yang berjuang di perairan nusantara dari Melaka, Singapura, sampai ke Majapahit,” ujarnya.

Namun demikian, diingatkan Man­tan Rektor UNRI itu, masyarakat Melayu hari ini sebaiknya tidak hanya asyik merindu dan memandang sempurna keadaan masa lalunya dan menganggap hanya cara itulah yang bisa dilakukan untuk membangun masa depan tetapi  masyarakat  Melayu akan berjaya apabila masyarakatnya memiliki jaringan yang kuat untuk mencapai tujuan bersama memajukan teknologi dan membangun ekonomi masa depan, berpegang teguh pada amanah, sehingga masyarakat merupakan modal dalam memasuki masa depan, sekaligus memperkaya kebudayaan dunia.

“Kita menginginkan ke depan membangun kembali peradaban, secara intelektual dan budaya, satu demi satu persis seperti cara yang telah dilakukan Melayu masa awal,” tutupnya.

Sementara itu, narasumber lainnya, Al Azhar lebih menekankan pada pentingnya upaya melestarikan nilai-nilai yang terdapat dalam kebudayaan Melayu. Adapun yang terdapat di dalam kebudayaan itu, nilai, keyakinan, pengetahuan yang diekspresikan dalam perilaku dan benda-benda,tradisi dan ekspresi lisan, seni pertunjukan, kemahiran kerajinan tradisional, pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta, adat istiadat, ritus, dan perayaan-perayaan sosial, dan artefak.

Keperluan pelestarian dari hal itu semua, tidak lain adalah untuk melindungi keanekaragaman bu­daya yang ada. Juga sebagai sarana transmisi pengetahuan budaya, me­mantapkan identitas komunitas atau suku bangsa, bahkan dapat dijadikan sebagai dokumen pembuktian untuk mendapatkan hak kepemilikan bagi komunitas asli.

“Kekayaan khasanah itu semua juga dapat dijadikan sebagai sumber informasi  kekayaan budaya untuk berbagai kepentingan  seperti pendidikan, pariwisata. Misalnya, dari kisah-kisah yang ada baik tertulis maupun lisan, salah satu resa atau motivasi utama para-para pendahulu berjuang membentuk provinsi sendiri adalah demi kedaulatan budaya dalam ruang keindonesiaan. Pondasinya adalah sejarah dan kesaksian-kesaksian yang diberikan oleh warisan budaya yang tersisa di negeri ini,” ujar Al azhar.

Persoalannya hari ini, kata Al Azhar, pewarisan budaya Melayu Riau mengalami pendangkalan makna, pelemahan fungsi, penyempitan ruang gerak, yang pada gilirannya menjadi terlupakan. Hal itu disebabkan masalah masa lampu yang terkait dengan sistem penjajahan dan juga persoalan hari ini, seperti perubahan masif ekologi dan biologis Riau akibat eksploitasi ekonomi berbasis hutan tanah, tekanna populasi akibat migrasi dan pengendaliannya yanglemah serta penyalahgunaan kemajuan dan kemudahan teknologi informasi dan komunikasi.

“Untuk itu diperlukan jembatan pengetahuan dan pemahaman yang mendasari kehendak khalayak masakini menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Aksi nyata untuk mengaktualisasi kembali adat-budaya Melayu bersama warisannya yang terserak dan dinamikanya di tengah realitas masa kini melalui maklumat, upaya pemaknaan ulang, yang kemudian dapat dijadikan sebagai penghubung antara mata budaya dan nilai-nilai Adat Melayu Riau dengan pendukungnya,” ujar Ketua Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau itu.

Awal Meraih Kegemilangan

Malam puncak kegiatan peringatan Hari Jadi Provinsi Riau yang menjadi rangkaian akhir dari Festival Lancang Kuning 2016, merupakan malam kebersamaan dengan beragam aneka atraksi budaya, mulai dari tari, musik, pembacaan puisi, persembahan lagu dari artis ibukota asal Riau Iyeth Bustami dan artis Lesti D’academi.

Panggung pertunjukan yang dikemas layaknya sebuah dermaga, tempat para seniman dan pelaku seni menunjukkan beragam aksi seni budaya, serta dijadikan sebagai tribun bagi pengunjung yang datang. Sementara itu, tiga buah perahu layar mendekam di kiri kanan dan sekitarannya. Teras Anjung Seni Idrus Tin­tin disulap sedemikian rupa untuk para musisi Bandar Serai Orchestra (BSO) mengiringi para penyanyi malam itu. Lampu aneka warna-warni menyimbah area di sekitaran Laman Bujang Mat Syam, semakin menambah semaraknya helat yang berlangsung.

Tak kurang dari seribu lebih masyarakat datang berkunjung, memadati kawasan Bandar Seni Raja Ali Haji malam itu. Mereka menjadi saksi atas perayaan malam puncak Festival Lancang Kuning yang digelar perdana di Riau tersebut.

Gubernur Riau, Arsyad Juliandi Rahman, mengatakan, acara yang digelar pemerintah dalam rangka memeriahkan hari jadi Provinsi Riau adalah sebuah bukti bahwa pemerintah ingin menunjukkan berbagai kebudayaan yang ada di Provinsi Riau.

“Tahun ini sengaja kami menyusun kegiatan yang mengangkat kebudayaan Melayu seperti semboyan Provinsi Riau, The Homeland of Melayu. Tentu berbagai kebijakan lainnya juga akan memperkuat semboyan yang telah digaungkan dan disepakati bersama itu. Sehingga suatu ketika, ketika orang bicara Melayu, maka orang-orang akan ingat dengan Riau, begitu juga sebaliknya,” ujar Andi Rachman  sapaan akrabnya itu.

Sementara itu, Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al azhar mengapresiasi helat yang ditaja pemerintah melalui UPT Museum dan Taman Budaya-Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau dengan mengatakan malam puncak tersebut merupakan awal peristiwa dari peraihan provinsi Riau untuk menggapai kecemerlangan kegemilangan di masa datang.

Dari acara yang ditaja menandakan bahwa pemerintah mengapresiasi berbagai kebudayaan yang ada di Provinsi Riau. Ia juga menyampaikan, dari seluruh rangkaian perayaan  HUT Riau ke-59 menandakan bahwa pemerintah mengapresiasi dengan baik perjuangan para pejuang dahulu yang telah menempuh jalan berliku-liku untuk menjadikan Riau sebagai provinsi yang berdiri sendiri dengan identitas yang kuat melekat kepada adat budaya Melayu.

“Hadirnya Provinsi Riau menjadikan banyak arti bagi masyarakat. Tanpa provinsi kita tidak akan ada gedung megah seperti yagn menyergam di hadapan kita saat ini, dan berbagai ekspresi kebudayaan lainnya. Tanpa provinsi, tiada yang namanya maestro kebudayaan dunia di Riau. Tanpa provinsi, tidak akan ada hasil kebudayaan Riau yang diakui sebagai warisan budaya benda maupun tak benda,” tuturnya.

Begitu banyak ekspresi budaya yang dimiliki Riau.  Sebagaimana diketahui, Melayu di Riau berbeda dengan kawasan lainnya. Dicontohkan salah satu seperti bahasa.  Tidak aneh dan heran dalam jarak 100 meter, logat bahasa yang berbeda ditemukan di kawasan bernama Riau ini, itu membuktikan keanekaragaman. “Di era modern, keragaman itulah yang sesungguhnya menjadi kekuatan.(Jefrizal)

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 13 November 2018 - 20:47 wib

Kasus Century, KPK Minta Keterangan Ketua OJK

Selasa, 13 November 2018 - 19:37 wib

Stan Lee Tutup Usia, Para Superhero Berduka

Selasa, 13 November 2018 - 18:25 wib

KPK Dalami Motif Pertemuan James Riady dengan Neneng Hassanah

Selasa, 13 November 2018 - 18:23 wib

Polri Teliti Kemungkinan Hoaks by Design

Selasa, 13 November 2018 - 18:00 wib

Dianiaya, Warga Guntung Meregang Nyawa

Selasa, 13 November 2018 - 17:59 wib

PBL Riau Taja Rakor Renovasi Sarana Pendidikan Dasar dan Menengah serta Madrasah

Selasa, 13 November 2018 - 17:15 wib

Empat Desa di Pelalawan Banjir

Selasa, 13 November 2018 - 17:00 wib

Jalan Rusak Koto Gasib Berbahaya

Follow Us