RESENSI BUKU

Melindungi Indonesia Raya

14 Agustus 2016 - 00.22 WIB > Dibaca 1509 kali | Komentar
 
Melindungi Indonesia Raya
Indonesia adalah satu-satunya negara kepulauan di dunia yang diberikan kelebihan luar biasa baik dari segi keindahan alam apalagi kekayaan alamnya. Hal ini dapat menjadi pedang bermata dua yaitu bisa menguntungkan dan bisa merugikan. Menguntungkan apabila dapat dikelola dengan baik demi kepentingan seluruh masyarakat Indonesia dan merugikan apabila disalahgunakan oleh beberapa orang dan kelompok tertentu dari dalam negeri termasuk pihak asing yang ingin terus menjajah Indonesia dengan berbagai cara.

Luasnya Ibu Pertiwi Indonesia merupakan tantangan tersendiri bagi anak bangsa dari Sabang sampai dengan Merauke untuk merawat dan melindungi pemberian dahsyat anugerah dari Tuhan Maha Pemurah ini. Hal ini tentu berkaitan dengan sistem pertahanan dan keamanan negara dalam memproteksi nusantara Indonesia dari segala macam bentuk ancaman dan gangguan.

Sudah banyak buku yang membahas mengenai hal tersebut di atas termasuk buku yang ditulis oleh Chappy Hakim ini. Purnawirawan Marsekal bintang empat ini sudah malang melintang sebagai penulis yang sangat produktif terutama berkenaan dengan dunia penerbangan, kedirgantaraan, transportasi, hankam, dan intelijen. Chappy Hakim dari tahun 2002 hingga 2005 yang menjabat sebagai orang nomor satu dalam Angkatan Udara Republik Indonesia, dalam buku ini sangat kental terasa kehebatannya dalam hal literasi sehingga beliau pantas dimasukkan jajaran tentara dalam golongan intelektual.

Dalam kata pengantar buku ini, Chappy Hakim memberikan refleksi bagi kita semua khususnya generasi muda Indonesia. Chappy menulis (hlm. vii), “Mudah-mudahan buku ini dapat membantu memenuhi rasa ingin tahu anak-anak muda tentang pertahanan dan keamanan negara. Setidaknya, buku ini dapat membantu menjelaskan pertanyaan anak-anak muda terkait kesadaran berbangsa, bela negara sekaligus menumbuhkan kebanggaan sebagai Warga Negara Indonesia (WNI). Bagi saya, tumbuhnya kesadaran berbangsa dan bernegara sangat dibutuhkan Indonesia saat ini.”

Bagi penulis, buku jenius ini memiliki beberapa kelebihan penting sehingga pantas untuk dimiliki siapa saja di negara besar ini agar sadar tanggung jawabnya sebagai anak bangsa Indonesia Raya yang jaya. Pertama, fakta dan data disajikan dengan akurat membuat buku ini wajib didalami dengan pemikiran jernih demi bangsa Indonesia. Kedua, gaya bahasa yang nasionalis. Chappy Hakim dalam buku ini sangat terasa mencintai Indonesia sepenuh hati dan jiwa yang tergambar dari gabungan kata dan kombinasi kalimat begitu bernas. Ketiga, gambar dan foto berwarna yang semakin memperkaya kedahsyatan buku lezat ini.

Anak-anak muda negeri bahari dan maritim ini tak diragukan lagi sangat perlu untuk terus dididik serta diberikan kesadaran berbangsa dan bernegara. Mengapa? Jawabannya sudah jelas karena merekalah pada saatnya tiba akan memegang tampuk kepemimpinan Indonesia baik tingkat lokal maupun nasional. Maka, dari sekarang sejak usia muda mesti ditanamkan terus dalam pikiran, keindonesiaan mereka dalam konteks Bhinneka Tunggal Ika. Persis yang disampaikan Chappy Hakim mengutip Walt Disney, “Our greatest natural resources is the minds of our children” yang berarti sumber daya terbesar kita adalah pemikiran dari anak-anak kita.

Penulis sendiri yang berprofesi sebagai guru sejarah tentu saja harus mempunyai andil dalam terus menggelorakan rasa nasionalisme dan mempertebal rasa cinta tanah air ke dalam hati sanubari siswa-siswi yang penulis asuh dan bimbing dengan segala keunikan dan karakteristik mereka yang begitu kompleks sehingga membuat perjalanan serta romantika hidup ini begitu berpelangi dengan indahnya.

Memang, tak dapat disangkal lagi bahwa beberapa anak muda Indonesia mengalami krisis identitas sehingga acuh tak acuh terhadap masa depan bangsa dan negara Indonesia ini. Hal ini salah satunya adalah karena budaya barat yang diterima mentah-mentah. Mereka lebih suka dengan artis-artis instan dalam dan luar negeri daripada meneladani para pahlawan negeri besar ini yang rela berkorban demi Merah Putih tercinta.

Sekarang tinggal berpaling kepada kita masing-masing seperti yang ditulis Chappy (hlm. 170), “Hanya ada dua pilihan, apakah kita ingin mengalir saja hanyut dengan perkembangan yang terjadi di lingkungan kita, yang kemudian membuat kita menjadi bangsa kuli atau kita membangun dan aktif menyusun dengan matang perencanaan masa depan agar kita mampu tampil “exist” dalam menentukan posisi, diperhitungkan, dan dapat menjadi tuan di rumah sendiri.” Bangkitlah anak-anak muda Indonesia. Hidup yang sebentar dan sekali ini, manfaatkanlah sebesar-besarnya demi Indonesia Raya dan Garuda Pancasila!***

Jimmy Frismandana Kudo, guru sejarah SMA Darma Yudha, Pekanbaru.
KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:01 wib

Hotel Prime Park Promo Wedding Expo

Jumat, 21 September 2018 - 16:00 wib

Kondisi Firman Makin Membaik

Jumat, 21 September 2018 - 15:58 wib

Najib Razak Kena 25 Dakwaan Baru

Jumat, 21 September 2018 - 15:45 wib

1.601 Warga Ikuti Aksi Donor Darah Eka Hospital

Jumat, 21 September 2018 - 15:30 wib

Banjir, Pemkab Kurang Tanggap

Follow Us