ESAI SASTRA

Menyelami Dunia Anak Lewat Cerita

14 Agustus 2016 - 00.32 WIB > Dibaca 1114 kali | Komentar
 
Oleh Al-Mahfud

MENYELAMI dunia anak menjadi hal menarik. Sebab, dunia anak adalah lorong imajinasi yang penuh kemungkinan-kemungkinan tak terduga. Namun, menyelami dunia anak bukan pekerjaan mudah. Perlu ketekunan melakukan pengamatan, bahkan —lebih jauh— berbaur dan masuk ke dalam “kehidupan” anak-anak untuk bisa mendapatkan gambaran dunia anak yang lebih komprehensif dan tepat sasaran. Namun, untuk apa kita—orang dewasa—menyelami dunia anak? Menyelami dunia anak bisa mengantarkan kita pada pemahaman yang mendalam tentang imajinasi, pikiran, dan perasaannya. Pada gilirannya, diharapkan kita bisa lebih bijak dalam menghadapi dan “memperlakukan” anak. Cukup banyak penulis atau pengarang membidik tokoh anak-anak atau dunia anak-anak sebagai bahan baku cerita-ceritanya.

 Mashdar Zainal, misalnya lewat buku kumpulan cerpennya yang berjudul Alona Ingin Menjadi Serangga (UNSA Press, 2015) mengajak kita menyelam dan berselancar dalam deru ombak imajinasi dan pikiran anak. Beberapa cerita pendek yang terhimpun di buku tersebut sedikit banyak menjadi gambaran berbagai persoalan yang dihadapi anak-anak dalam hidupnya. Dengan menelusuri tiap cerita yang ada, kita akan melihat bagaimana kecenderungan-kecenderungan perasaan dan pikiran anak-anak dalam menyikapi setiap persoalan yang datang menghampirinya.  Cerita berjudul Alona Ingin Menjadi Serangga --yang dipilih menjadi judul buku tersebut misalnya--mengisahkan bagaimana jalan pikiran seorang bocah yang mendapatkan perlakukan kasar dari ibunya sendiri. Sebab telat pulang ke rumah, ia dikunci dari dalam dan dibiarkan di luar dalam cuaca dingin usai hujan.

Secara psikologis, kita tahu, anak memiliki kebutuhan untuk dilindungi dan disayangi oleh orang dewasa--terlebih orang tua. Saat Alona telat pulang, dikunci di luar rumah oleh ibunya sendiri, jelas itu membuatnya bertanya-tanya dan memikirkan bagaimana sebenarnya perasaan ibunya sendiri kepadanya. “Mama memang melahirkannya, tapi Alona tak ingat mama pernah memeluknya atau menciumnya. Mama memang membiayai sekolahnya, tapi Alona lupa kapan terakhir kali Mama menemaninya belajar” (hlm 7).

Serangga
1
Menggambarkan pikiran dan perasaan anak butuh media yang tepat. Media yang bisa dilihat, sederhana, namun mampu menggambarkan pikiran anak yang sering tak terbaca dan tak terduga. Mashdar dalam banyak cerpennya memilih serangga sebagai “media” untuk menggambarkan pikiran anak. Serangga, dengan jenis apa pun, di mata orang dewasa mungkin tak lebih dari jenis hewan berukuran kecil yang bersayap dan kadang beterbangan di sekitar tanaman. Bahkan sebagian serangga dianggap sebagai hama tanaman yang pantas dibasmi. Namun bagi anak-anak, serangga memiliki daya pikat tersendiri.

Beberapa kali dalam cerpen-cerpennya, Mashdar memperlihatkan bagaimana anak- anak cenderung memiliki ketertarikan pada serangga. Sebut saja di cerita berjudul Alona Ingin Menjadi Serangga, “Laron”, dan “Mariposa”. Di cerita Alona Ingin Menjadi Serangga, dalam kemalangan menahan lapar di luar rumah, Alona, bocah kecil yang dikunci oleh ibunya dari dalam, mencari buah ceri di teras dan melihat sekelompok serangga yang mengerubungi lampu teras yang menyala temaram. Melihat kerumunan serangga, Alona membayangkan betapa senangnya menjadi seekor serangga yang bersayap dan bisa terbang ke mana saja. Perasaan ditelantarkan dan dikucilkan ibunya sendiri, membuat seorang bocah berimajinasi menjadi seekor serangga yang bisa terbang entah ke mana meninggalkan ibunya.

Cerita berjudul “Laron” juga memperlihatkan bagaimana kecenderungan seorang anak yang menyukai serangga, dalam hal ini serangga laron. Mashdar menyuguhkan dialog antara seorang anak autis dengan laron, sehingga anak tersebut tahu kehidupan laron yang singkat dan hanya menunggu mati; entah dimakan katak atau terinjak manusia. Di titik ini, di samping menggambarkan keluasan imajinasi anak, kehidupan laron ikut terungkap. Pada gilirannya, dialog itu membuat anak tersebut menaruh simpati pada laron dan melakukan hal yang tak terduga; melempar piring berisi nasi dan lauk ke arah kepala ayahnya, yang di mata si anak, ayahnya yang galak itu mewujud katak raksasa yang sedang melahap (rempeyek) laron—temannya.

Anak dan serangga menjadi saling mengisi. Imajinasi dan pikiran anak yang polos sekaligus “liar”, tersalurkan lewat sifat dan karakter serangga. Sementara kehidupan serangga
menjadi ikut terkuak lewat imajinasi anak. Kehidupan hewan serangga yang dipilih pada gilirannya juga mengarah pada kritik atas ketidakseimbangan kondisi alam karena ulah tangan manusia. Hal ini terlihat dalam cerita berjudul “Mariposa”. Dikisahkan, seorang anak

2
Kecil yang hidup bersama dua orang tuanya di perkotaan begitu terobsesi melihat kupu-kupu sungguhan secara langsung. Sebab selama ini ia hanya melihatnya di buku ensiklopedia pemberian ibunya. Lingkungan perkotaan yang penuh beton dan nyaris tanpa lahan hijau atau tanaman tempat kupu-kupu beterbangan, membuat seorang bocah merengek kepada ibunya karena ingin melihat kupu-kupu sungguhan.

Persoalan yang dihadapi anak banyak terkuak dari buku ini. Mulai penelantaran dan—bahkan—kekerasan yang dilakukan orang tua sendiri, diskriminasi dan keterkucilan karena perbedaan dengan anak-anak lainnya, sampai persoalan-persoalan psikis yang biasa terjadi pada anak-anak karena kekeliruan dalam mengasuh. Latar belakang sebagai guru Sekolah
Dasar (SD), membuat Mashdar mampu menyelami perasaan anak-anak dengan baik. Sekian cerpen hadir dengan sudut pandang orang pertama pelaku utama (“aku”) dan orang ketiga serba tahu. Hal ini cukup menandakan, Mashdar sanggup memposisikan diri sebagai anak- anak; pemikiran, perasaan, dan imajinasi-imajanasi khas anak-anak. Pada akhirnya, lewat buku ini kita seperti diajak menelusuri dunia anak yang berujung pada refleksi berbagai hal tentang kehidupan; baik tentang anak itu sendiri, alam, hewan, bahkan kita—yang mengaku dewasa. ***

Penulis adalah penikmat fiksi, dari Pati. Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media massa,  baik lokal maupun nasional
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us