ESAI SASTRA

Mempertajam Karya Lewat Sosiologi Sastra

14 Agustus 2016 - 00.40 WIB > Dibaca 995 kali | Komentar
 
Oleh Bambang Kariyawan Ys

Sastra dan Masyarakat

Apa yang kita rasakan ketika membaca sebuah karya sastra? Hanya ada dua pilihan, karya tersebut hambar atau sebagai karya yang mengagumkan. Hambar ketika karya yang kita baca tidak memberikan greget untuk hanyut dalam cerita yang dipaparkan. Mengagumkan bila pembaca menjadi larut dan melebur dalam alur cerita yang disajikan.

Penulis yakin karya-karya sastra yang mampu menggetarkan hati pembaca karena sadar atau tidak sadar menggunakan pendekatan beragam kajian keilmuan dalam merangkaikan ceritanya. Ketika kita membaca novel-novel Pramoedya, Andrea Hirata, Kang Abik dan novelis ternama lainnya terasa begitu kuat rangkaian jalinan tokoh dengan setting waktu, masyarakat, dan tempat terjalinnya cerita. Sastra dan tata nilai kehidupan merupakan dua fenomena sosial yang saling melengkapi, dalam artian sastra tidak akan pernah ada tanpa kehidupan

Karya sastra itu selalu menampilkan wajah kultur zamannya. Persoalan-persoalan, situasi, dan keadaan suatu zaman dapat dibaca dalam karya sastra, sebuah karya sastra itu bersumber dari kehidupan.

Lantas dimana sebenarnya letak hubungan antara sastra dan masyarakat?

Menurut Ratna (2003: 332) ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan mengapa sastra memiliki kaitan erat dengan masyarakat dan dengan demikian harus diteliti dalam kaitannya dengan masyarakat, sebagai berikut:

1. Karya sastra ditulis oleh pengarang, diceritakan oleh tukang cerita, disalin oleh penyalin, dan ketiganya adalah anggota masyarakat.

2. Karya sastra hidup dalam masyarakat, menyerap aspek-aspek kehidupan yang terjadi dalam masyarakat yang pada gilirannya juga di fungsikan oleh masyarakat.

3. Medium karya sastra baik lisan maupun tulisan dipinjam melalui kompetensi masyarakat yang dengan sendirinya telah mengandung masalah kemasyarakatan.

4. Berbeda dengan ilmu pengetahuan, agama, adat-istiadat dan tradisi yang lain, dalam karya sastra terkandung estetik, etika, bahkan juga logika. Masyarakat jelas sangat berkepentigan terhadap ketiga aspek tersebut.

5. Sama dengan masyarakat, karya sastra adalah hakikat intersubjektivitas, masyarakat menemukan citra dirinya dalam suatu karya.

Sehingga dalam kehidupan bermasyarakat, sastra dapat berperan sebagai sarana edukasi sekaligus hiburan dalam menuangkan berbagai realitas kehidupan melalui tulisan sastra. Melalui sastra, realitas sosial menjadi lebih berbunga dan hidup.

Sastra dan Kontribusi Sosiologi

Sastra hadir di tengah kita bukan sekedar tulisan indah yang merangkai sebuah kisah tapi sastra merupakan pencerminan masyarakat. Karya sastra merupakan unsur budaya yang dapat mempengaruhi dan dapat dipengaruhi oleh masyarakat. Karya sastra diciptakan oleh sastrawan untuk dinikmat dan dipahami serta dimanfaatkan oleh masyarakat pembaca. Melalui karya sastra, seorang pengarang mengungkapkan problema kehidupan yang pengarang sendiri ikut berada di dalamnya. Karya sastra menerima pengaruh dari masyarakat dan sekaligus mampu memberi pengaruh terhadap masyarakat. Senada dengan pernyataan diatas, Sapardi Joko Damono mengungkapkan bahwa sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial.

Kenyataan sosial dalam masyarakat secara keilmuan dikaji dalam ilmu Sosiologi. Sosiologi merupakan sebuah kajian keilmuan yang membahas tentang lembaga dan proses sosial manusia yang objektif dan ilmiah dalam masyarakat. Pembahasan material dari kajian dalam sosiologi mampu berperan mempertajam muatan-muatan cerita bila didekatkan dengan sastra. Maka lahirlah apa yang dikenal dengan sosiologi sastra. Konsep-konsep sosiologi seperti interaksi, perilaku menyimpang, konflik dapat menjadi pisau analisis yang tajam untuk menampilkan konflik dan penokohan dalam cerita.

Tulisan yang dihasilkan dengan menggunakan bahan baku sosiologi dapat dipastikan karya yang dihasilkan akan memiliki bobot. Salah satu ciri menikmati karya sastra karena hadirnya beragam masalah dan konflik. Sosiologi menawarkan beragam permasalahan sosial yang dapat dijadikan bahan tulisan dan beragam konflik menarik yang dapat dijadikan ide sebuah cerita. Seorang penulis juga memerlukan setting masyarakat untuk memperkaya detil sebuah cerita. Sosiologi memberikan karakter masyarakat sebagai suatu setting yang matang dalam sebuah cerita. Penulis cerita perlu memperhatikan dan mempelajari karakter masyarakat untuk menguatkan penokohan dalam cerita. Realita masyarakat yang selalu menampilkan karakter hitam dan karakter putih perlu dipertajam penulis untuk memberikan ciri kuat dalam menampilkan tokoh baik atau buruk.

Dengan kata lain, sosiologi dapat memberi penjelasan yang bermanfaat tentang sastra, dan bahkan dapat dikatakan bahwa tanpa sosiologi, pemahaman kita tentang sastra belum lengkap. Sosiologi sastra tidak terlepas dari manusia dan masyarakat yang bertumpu pada karya sastra sebagai objek yang dibicarakan.

Sosiologi dan Karya Sastra Kepenulisan Riau

Beberapa karya sastra Riau yang menurut penulis dapat sebut karyanya secara tidak sadar mendapat porsi sosiologi sastra dalam tulisannya seperti Bulang Cahaya (Rida K. Liamsi). Novel ini selain berlatar sejarah juga menjadi kuat karena didekatkan dengan mengungkap segala realitas kondisi masyarakat pada zamannya.

Marhalim Zaini selalu hadir begitu kokohnya menampilkan masyarakat sebagai pewarna dalam cerita yang dijalinnya. Salah satunya novel Tun Amoi. Satu lagi penyair perempuan Riau, Kunni Masrohanti dengan puisi-puisi hebatnya yang diluncurkan secara nasional Perempuan Bulan sarat dengan ungkapan-ungkapan realitas sosial dan budaya. Serta penulis-penulis di provinsi literasi ini dapat dikatakan selalu mengungkapkan karyanya dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra. Baik dilakukan secara sadar maupun tidak sadar.

Harapan

Bercermin dari hadirnya karya-karya sastra yang hebat selalu memperhatikan pendekatan sosiologi sastra dalam proses kreatifnya. Terlepas dari sadar atau tidak sadar menggunakannya setidaknya penulis-penulis muda telah belajar banyak mendalamkan tulisan yang dihasilkan dengan menggunakan suatu pendekatan. Potensi dinamika sosial masyarakat, tradisi budaya, “pergolakan” antar strata dalam masyarakat menjadi bahan mentah menarik untuk diangkat dalam tulisan sastra. Marilah cerdas dalam berkarya.***

Bambang Kariyawan Ys, guru sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Aktif bergabung di Forum Lingkar Pena Riau. Telah menerbitkan buku kumpulan cerpen Numbai dan beberapa buku kumpulan puisi, novel, dan pendidikan. Peserta undangan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra) Kemdiknas, Penerima Anugerah Sagang, dan Peserta Ubud Writers and Readers Festival.
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Senin, 24 September 2018 - 17:04 wib

Komitmen Kampanye Damai

Senin, 24 September 2018 - 17:00 wib

Sungai Salak Juara MTQ Kecamatan Tempuling

Senin, 24 September 2018 - 16:43 wib

1 Dekade Eka Hospital Melayani Sepenuh Hati

Senin, 24 September 2018 - 16:30 wib

Warga Sungai Apit Pelatihan Olahan Nanas

Senin, 24 September 2018 - 16:08 wib

Cegah Kanker Rahim, Ketahui Resikonya

Senin, 24 September 2018 - 16:00 wib

Habib Salim Segaf Beri Tausiah di Masjid Islamic Center

Senin, 24 September 2018 - 15:37 wib

Prudential Bayar Klaim Rp98 Juta

Follow Us