SAJAK

Sajak-sajak A Warits Rovi

14 Agustus 2016 - 00.57 WIB > Dibaca 955 kali | Komentar
 
Burung-burung Dusun Dikkodik

kuuji sayap di tangan angin
yang menjambak sanggul pohonan
jika selembar buluku jatuh
akan tiba tergeletak dalam sunyimu
bacalah....
sebagai pesan alam senyap pujian
karena pohon-pohon banyak yang tumbang
dan kembang garing dalam seterik panggang.

tengger cakarku mencengkeram batang kayu
upaya menggenggam sukma nenek moyangmu
yang kau lupakan di sehampar batu,

kunyanyikan seluruh duka dalam balutan embun basah
antara runcing paruh dan suaraku
barangkali ada bakal pintu bagi dirimu
untuk masuk dan bercermin ke masa lalu

betapa nuh menyelamatkan alam dalam perahu.

Gapura, 2016


Rumah Sederhana

pintumu menyisakan lubang kunci yang sempit
seukur aku menjeling
di dalamnya sepaut bibir masa lalu membekas getir
dan sebuah palang besi meratap sendiri
ditemani sebatang anak kunci yang lelah bermimpi.

aku duduk di kursi tua
pada mejanya altar debu nan fana
melapisi sepuluh bayangan tentang luka.

di sini aku lebih sunyi dari sendiri
sukma tetas ke dalam dinding; rahim
yang melahirkan bayang-bayang
dan kupu-kupu air mata,

tentu setelah tuhan mencipta
mulai dari yang bermula dari ruh
jasadku punya garis peta ke kamar dan ruangan ini
sebagai puisi tersunyi,

terletak antara cahaya matahari dan takdir mati

Bungduwak, 30.06.16


Ketika Sore Merayap di Desa Tamidung

di celah dedaun langay
langit berbedak kabut tipis
memandang tubuh sungai
yang memeluk beribu batu
dari sebuah keheningan hulu
yang mungkin menyimpan bayangmu
di bawah lebat serumpun bambu
bertahun-tahun digenang rindu.

kutunggu kau di sini
:tepi sungai yang menggemercikkan
tetes-tetes bening antara putih kembang kecubung
dan hatiku yang hendak mengapung.

boleh kau datang berupa ikan
atau sepincuk daun yang mengambang

asal lurus hanyut ke dalam dadaku
dan melupakan segala debur laut biru.

Tamidung, 10.07.16


Di Bawah Payung


hanya patut kau sebut kami mempelai
sepasang genggam di satu gagang
hujan memperkenalkan ritme dan nada
dari debar pincuk dedaun basah
seperti jantung kami yang terus bernyanyi
menamatkan ratusan puisi ke jalan yang kian sunyi.

doa-doa kami selarik pada tapis bambu
dijumput angin mei
pada detik awal ketika kami saling mencintai
di jalan ini semua kami temukan
nyala antara warna jamur dan merang
hati kita jauh saling berciuman.

ke suruk jalan berpohon lebat
kami tempuh tanah becek
sekali dua kelabang berpeluk sayang
di rerambut akar ilalang
hujan semakin mengguyur
seolah menyetujui kami bertandang ke dalam sepi.

Gapura, 30.06.16


A. Warits Rovi, lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988, karya-karyanya dimuat di berbagai media Nasional dan lokal  antara lain: Horison, Seputar Indonesia, Indo Pos, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Riau Pos, Radar Madura, Buletin Jejak dan beberapa media on line. Selain juga termuat dalam beberapa antologi komunal seperti Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (Dewan Kesenian Mojokerto, 2010), Bulan Yang Dicemburui Engkau (Bandung, 2011), Epitaf Arau (Padang, 2012), Dialog Taneyan Lanjang (2012), dan Narasi Batang Rindu (2009). Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit Hilal Berkabut (Adab Press, 2013).
KOMENTAR
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi ’’Amankan” Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Follow Us