OLEH FAKHRUNNAS MA JABBAR

Rasa Syukur Tak Pantas Dipanjatkan

14 Agustus 2016 - 01.01 WIB > Dibaca 1202 kali | Komentar
 
Rasa Syukur Tak Pantas Dipanjatkan

SAAT berpidato atau berbicara banyak cara yang dilakukan seseorang untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan.  Salah satu kalimat yang cukup dominan diucapkan seperti ini: “Marilah kita sama-sama memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa ….” Kebiasaan menggunakan kata memanjatkan tentu sebuah kesalahan yang sulit disadari. Apalagi, kalimat pembuka pidato tersebut sudah berlangsung dalam jangka waktu lama. Bahkan, sudah turun-temurun dari suatu generasi ke generasi.

Pujangga H. Soeman Hs, pelopor cerpen modern Indonesia yang sejak lahir hingga wafatnya berkiprah di Tanah Melayu ini, sudah mempersoalkan penggunaan kata memanjat itu dalam pernyataan syukur tersebut. Menurut Soeman, ketika mengasuh acara “Seluk-beluk Bahasa Indonesia” di stasiun RRI Pekanbaru, penggunaan kata memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak tepat dan tidak pantas. “Sebab, yang memanjat itu hanya beruk.” (Tradisi orang-orang kampung di Riau sejak dulu hingga kini memang selalu memanjatkan beruk di pohon kelapa untuk memetik buahnya).

Kritik Soeman tersebut hampir tak bergema apa-apa. Buktinya, sampai saat ini masih banyak orang menggunakan kalimat pembuka pidato seperti itu, termasuk di Riau –kampung asal usul Bahasa Indonesia. Padahal, bila diselisik lebih jauh, penggunaan kata memanjatkan itu memang tidak tepat.

Menurut pendapat penulis, kata memanjatkan yang dikaitkan dengan rasa syukur kepada Tuhan lebih dipengaruhi oleh kekeliruan mendengar ucapan. Pada awalnya, kalimat pembuka pidato itu berbunyi begini: “Marilah kita memunajatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008), kata munajat diartikan sebagai ‘doa sepenuh hati kepada Tuhan untuk mengharapkan keridaan, ampunan, bantuan, hidayah dsb.’

Dalam penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari terutama berkaitan dengan pelafalan kata, selalu terjadi bias. Kata memunajatkan saat dilafalkan dapat didengar sebagai kata memanjatkan. Apabila peristiwa ini berlangsung terus-menerus melalui lintasi-generasi, maka terjadilah “pembenaran” kata tersebut. Inilah sebenarnya yang terjadi dalam pernyataan kalimat pembuka pidato tadi.

Sebenarnya penggunaan kata memanjatkan untuk urusan bersyukur kepada Tuhan bisa saja dimaafkan. Sebab, di dalam gaya bahasa metafora dan eufemisme, sebagaimana banyak ditemukan dalam kalimat puisi, rasa syukur itu boleh saja dipanjatkan. Namun, seperti yang dipersoalkan oleh Soeman Hs, kata memanjatkan itu lebih lazim digunakan untuk perbuatan atau tindakat ‘menaiki’ suatu pohon baik yang dilakukan oleh hewan (baca: beruk) maupun manusia.

Oleh sebab itu, marilah kita mengingatkan siapa pun saat berpidato agar lebih tepat menggunakan kalimat pembuka: “Marilah kita memunajatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.” Apalagi, hal ini berkaitan dekat dengan urusan memperhambakan diri kepada Tuhan yang dipandang bernilai sakral dalam kehidupan.

Apabila ingin menghindari kesalahan dalam menggunaan kata memunajatkan tersebut, lebih baik menggunakan kata mengucapkan, menyampaikan, mempersembahkan, atau menyatakan. Hal ini terasa lebih pas bila dikaitkan dengan ukuran kepantasan saat berpidato.

Selain kata memanjatkan itu, pada awal sebuah pidato, pemakaian ungkapan yang terhormat juga sering tidak cermat. Si pemidato (juga pewara) sering menujukan ungkapan itu untuk semua orang yang mereka sapa. Padahal, imbuhan {ter-} pada ungkapan yang terhormat, yang biasa disingkat menjadi Yth. pada  bahasa tulis, menunjukkan makna ‘paling’. Dengan demikian, ungkapan yang terhormat berarti ‘yang paling dihormati’, ‘yang paling mulia’. Siapa yang dituju? Tentulah orang yang paling dihormati atau yang paling mulia dalam majelis itu. Lazimnya,  yang ‘paling’ itu hanya satu (orang atau kelompok orang). Berbeda dengan ungkapan yang saya hornati (‘yang saya beri hormat’), yang dipakai sesuai dengan keperluannya, yaitu untuk ‘orang yang diberi hormat.’

Kesalahan lain yang sering kita dengar adalah menggantikan kata ubah dengan rubah, misalnya dalam kalimat: “Mari kita merubah diri agar menjadi pribadi yang lebih baik.” Kedua kata itu memang terdapat dalam bahasa Indonesia, tetapi berbeda makna (seperti panggang dengan api). Kata ubah (salah satunya) bermakna ‘menjadi lain (berbeda) dari semula’ sementara kata rubah bermakna ‘binatang jenis anjing; bermoncong panjang; makanannya daging, ikan, dsb’ (KBBI, 2008).

Dalam bentuk turunannya saat diberi imbuhan {-meng}, kata ubah menjadi mengubah sementara kata rubah menjadi merubah. Mengubah bermakna ‘menjadikan lain dari semula’ sementara merubah bermakna ‘menjadi seperti rubah.’ Nah, kalau pemakai bahasa Indonesia masih memakai bentuk merubah untuk makna mengubah, seperti dalam kalimat di atas, ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Mengapa? karena kalimat tersebut berisi seruan agar orang mengubah diri mereka menjadi seperti rubah, binatang.

Ada lagi kata lain, yaitu absensi yang sering dipakai untuk makna ‘presensi.’ Pemakaian yang semacam itu juga sangat meluas. Bahkan, institusi pendidikan juga sering (selalu) memakai pengertian yang serupa itu. Ungkapan yang sering kita dengar adalah: “Sudah absen?”; “Mana daftar absen?”;“Mana absensi?” Seorang siswa yang kritis berujar: “Masa saya ditanya sudah mengisi bukti ketidakhadiran. Padahal, saya hadir, heran deh.” Rupanya, si siswa paham makna kata absen dan absensi berbeda dengan kata presensi. Dalam KBBI (2008) absen berarti ‘tidak masuk (sekolah, kerja, dsb.); tidak hadir.’ Sementara itu, kata absensi bermakna ‘ketidakhadiran’; kata presensi bermakna ‘kehadiran.’

Oleh sebab bentuk bahasa selalu berkaitan dengan makna, cermatlah berbahasa. Perbaikilah kekurangcermatan atau kesalahan berbahasa secara bijak. Jangan biarkan kekeliruan berbahasa  terus berlanjut dalam kehidupan.***

 

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 18 September 2018 - 20:30 wib

BPJS Kanwil Sumbarriau Jalin Keakraban dengan Perusahaan dan Media

Selasa, 18 September 2018 - 19:30 wib

Masyarakat Mesti Bijak Gunakan Medsos

Selasa, 18 September 2018 - 19:00 wib

Sosialisasi SPIP Capai Maturitas Level 3

Selasa, 18 September 2018 - 18:41 wib

Lima Keuntungan Menggunakan Aplikasi Kasir Online Kawn

Selasa, 18 September 2018 - 18:30 wib

8 Kecamatan Ikuti Iven Pacu Sampan

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Komunitas Muda Madura Siap Menangkan Jokowi

Selasa, 18 September 2018 - 18:00 wib

Perusahaan Diminta Peduli

Selasa, 18 September 2018 - 17:30 wib

Rider Berbagai Provinsi Bakal Ramaikan Jakjar 5

Follow Us