SAJAK

Sajak-sajak Reky Arfal

14 Agustus 2016 - 01.05 WIB > Dibaca 947 kali | Komentar
 
Kecuali oleh Mereka yang Tahu

malam tergusur dan terenyah, selalu, di
rumah Mak Puni, rumah pertama yang ditegakkan
Mak Puni yang diwarisi sebuah rumah dan berhektar kebun
tak pernah mampu menahan gejala yang berjelaga
setiapkali bandul jam berdentang dan malam berganti dini hari

atap yang berdengkang
burung-burung bersiul
kucing melolong serupa anjing

sebuah malam yang dingin, di ruang tamu, kopi telah dihidangkan
begitu menggelegak, begitu berasap. hujan menggebu-gebu
mengetuk-ngetuk seutuh jendela kayu

Mak Puni yang tak lagi heran hanya menunggu
dan coba menebak, bentuk dari kepulan uap dari
cangkir kopi itu

seseorang barangkali ingin berbicara kepadanya

Pekanbaru, 2016


Kuantan Kecil

kuantan berarus buntu
riak kecil di sepatu
orang-orang menunggu
waktu terbuhul ragu

bagai pipi tirus
sehabis menangis
siang adalah alir tenang
bagi teluk-teluk sunyi
yang ditinggalkan

suara kompang dan dompeng
berdompak bersahutan
menyulut tikai lain
orang-orang menjinjing cermin
dengan tangan terluka

Pekanbaru, 2016


Mencari Hari Elok
Buat Zulhadi, Tata dan Delviadry

seseorang barangkali akan mengetahui
kematian adalah takdir, akan tetapi
kita selalu bisa menghindarinya

di trotorar, di antara ruas hitam dan putih itu entah
siapa bersalah. aku melihat sejarah berkali-kali kembali
menunggangi kuda-kuda lelah
melabrak semua yang terjadi

apa yang lebih menakutkan dari terus hidup dan sendirian

segala perasaan akan berakhir mengenaskan seperti ampas kopi
di dasar cangkir terendap pada hitam
lindap oleh getir yang mampir
dan penuh harap

waktu adalah kusir jahat yang menumpuk kenangan demi kenangan
ke atas pedati. kenangan yang tak mati mesti ditanggung kuda berbeda
dan meski begitu akan selalu ada orang-orang yang tak sungkan
berkumpul dan berunding mencari hari elok

Pekanbaru, 2016


Malam Angin

deras hujan berangin mematahkan dahan pohon
sebermula genangan mendiami liang jalan
lalu semua bermunculan, bercengkerama dan
ikut memburumu

tubuhku oleng dihantam deram guntur
padahal malam baru saja karam
lampu-lampu bermatian menyalakan kenangan
lalu lantas mematikanku
gelap berselubung kecemasan khidmat melukaiku

di mana tubuhmu, duhai
dalam keriangan renyai, ada yang berbisik
membersitkan tanda tanya
ke dalam sejumput kalimat
yang pernah hampir mengikat kita

lidahku beku, mengeras, pecah berkeping-keping
tak ada lagi rasa yang mampu menyicipiku
tak ada lagi kelu yang mejerit di langit-langit mulutku

barangkali nanti semua yang bermunculan
akan menepi. kembali terbiar
menyasar ke langit. berbiak jadi hujan
sekali lagi, mematahkan dedahan pohon
yang terus menimpaku

Pekanbaru, 2016


Sebuah Akhir

akhirnya kauketahui bagaimana rupa wajahku sesungguhnya
kamar sangat berantakan sehingga tak ada lagi lantai bisa dipijak

akhirnya kauketahui bagaiamana tabiatku sesungguhnya
keran air terus menyembul namun tak memahami arti penuh

akhirnya aku pun mengerti bagaimana aku sesungguhnya
cermin retak nan kerap berupaya menyusun ulang letak wajah sendiri

Pekanbaru, 2016


Di Situsari Wetan

di situsari wetan, di sekitaran jalan paling sepi aku menginap,
tinggal dalam keramahan sunyi. angin berdenging di kuping,
lalu kerik jangkrik. segala yang asing menyerbuku,
segala yang kukenali berkeliaran mencarimu

ketika itu, langit tengah berkabung. dengan jubah kelam,
ia sarungkan tubuhku dengan nyeri semata,
dengan selimut setebal gumpalan mendung,
tapi dingin tetap terasa, angin masih menyibakkan aromamu kental

adakah ia tahu, selama ini aku berkelana,
beringsut dari benang kusut sampai wajah rumput,
bertaut lengang melenggang linang,
tapi tak jua kudapat kelapangan

segala pengembaraan ini dapatkah sampai padamu,
atau tidak sama sekali. agar semua yang raib,
tak pernah mati. dan sisa capai kerap bergetar di nadi

Bandung, 2016

Reky Arfal, menetap di Pekanbaru. Mahasiswa UIN Suska, jurusan Ilmu Hukum. Bergiat di Komunitas Paragraf, juga koordinator Malam Puisi Pekanbaru. Beberapa puisinya diterbitkan di Riau Pos dan Indopos, dan termaktub ke dalam beberapa antologi, yaitu Gemuruh Ingatan, Bendera Putih untuk Tuhan, Selesat Cahaya Bermekaran, Pelabuhan Merah dan Wajah Kita.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 12:00 wib

Harapan Menuju Empat Besar

Senin, 24 September 2018 - 11:54 wib

Transaksi Harian BEI Naik 12,95 Persen

Senin, 24 September 2018 - 11:43 wib

Segera Selesaikan Kisruh Impor Beras

Senin, 24 September 2018 - 11:32 wib

Lepas Caleg dengan Seremoni Berdiri

Senin, 24 September 2018 - 11:30 wib

Pemprov Sediakan 80 Komputer

Senin, 24 September 2018 - 11:27 wib

Tergoda Suami Orang

Senin, 24 September 2018 - 11:11 wib

5 Hari Perbaiki LDAK

Senin, 24 September 2018 - 10:50 wib

Pencairan TB Dilakukan Bertahap

Follow Us