CERPEN HOMEIDI

Hikayat Sebilah Keris

14 Agustus 2016 - 01.13 WIB > Dibaca 2298 kali | Komentar
 
Hikayat Sebilah Keris
“Jika kelak kau berkunjung ke Desa Teluh itu, maka, yang kau lihat di malam-malam lengang, bukanlah bebintang berkelapan. Melainkan pana yang tercipta dari mantra-mantra keris, melesat begitu saja dengan tubuh api, dengan kendali doa yang diam-diam dirapalkan!”

Ini malam memasuki minggu ke dua setelah pelean Kalebun yang dicanangkan akan segera di selenggarakan pekan depan. Kau tahu?, pelean Kalebun sama halnya dengan pemilihan kepala desa, hanya di Desa Teluhlah pemilihan kepala desa itu disematkan sebuah nama pelean Kalebun.

Lora dan Bajing, begitu julukannya adalah dua calon Kalebun terkuat di Desa Teluh. Lora sebagai simbol religi yang memang sudah dipercaya hingga berabad-abad. Sedang Bajing adalah simbol dari kekuatan sekaligus kehormatan untuk menjaga keamanan desa sekeliling.    
Pantang bagi keduanya mengumbar kebijakan menggairahkan atau janji surga seperti yang biasa dikemukakan penguasa negeri ini hingga mulutnya berbusa yang aromanya menyamai kotoran rusa. Setelah terpilih, buaian itu dienyahkan begitu saja dengan alasan yang bahkan muskil ditangkap nalar.

Warga Teluh tak pernah peduli Kalebun itu berasal dari kalangan Lora atau bahkan Bajing sekalipun. Sama halnya ketidakpedulian mereka muncul di pergantian kalender melihat keganjilan Kalebun terpilih terhadap segala bentuk penyimpangan; korupsi, bantuan yang tak tersalurkan, raskin yang tertahan, sudah menjadi kebiasaan yang dianggap wajar dan tak satupun warga Teluh mempermasalahkan. Sebab bagi mereka, tak lain dan tak bukan keamanan desanya jauh lebih penting dari sekedar harta atau bantuan penguasa sekalipun.
Entah kubu mana yang paling berpengaruh untuk memenangkan pelean Kalebun di Desa Teluh, yang jelas para pemikut Lora dan Bajing tak sekalipun melelapkan tubuhnya demi menjaga kekuatan suara di kawasan masing-masing.

Mereka selalu sigap, penuh waspada. Menjaga serangan yang katanya fajar. Pandang matanya menjelma tajam celurit yang siap menebas siapa saja. Menelisik setiap gerak  mencurigakan, kemesirik daun pun tak luput dari pemeriksaan.

“Mosoh, mosoh..!!” pengikut Lora terperanjat mendengar teriakan Munakib dari balik rimbun Akasia.

“Mosoh, mosoh..!!” suara Munakib kembali menggegerkan. Pengikut Lora yang tadinya berdiam saja di perbatasan Teluh, segera bergegas menelusuri kebenaran suara itu. Mereka menerabas semak-semak belukar, melesat ke dalam hutan, membagi arah pengejaran.
Suasana makin menegang setelah salah satu pengikut Lora mengeluarkan celurit—seperti mengharap pertumpahan di malam-malam kelam. Mereka terus menyusuri pepohonan yang jumlahnya tak karuan. Menebas segala yang di yakininya menjadi penghalang.

“Garis kematianku adalah janji Tuhan”. Begitu ucap Bhusana sambil menggenggam gagang celuritnya erat-erat. Ia seperti siap menerima hal terburuk dalam hidupnya. Sepuluh tahun menjadi salah satu kepercayaan Lora merupakan kebanggaan baginya. Tak pelak, ia selalu berada di garda terdepan. Pengabdiannya pada Lora yang sekaligus guru ngajinya itu tak pernah diragukan. Acapkali ia berujar bahwa pengabdian ini adalah salah satu kunci meng-intimkan diri pada Tuhan semesta alam. Maka tak heran, setiap perintah yang di titahkan selalu ia jalankan, meski sekalipun nyawa sebagai taruhan.

Di saat bersamaan, Matripin, orang suruhan Bajing yang berhasil menyusup kawasan Lora bagitu sigap melewati lorong-lorong tikus membuat Munakib beserta pengikutnya tak bisa menangkap derap langkahnya. Matripin memang dikenal memiliki segudang ilmu kanuragan tahapan puncak. Bahkan Munakib sekalipun, orang kepercayaan Lora yang juga terkenal dengan ilmu batinnya itu tak mampu menjangkau keberadaan Matripin. Ia hanya bisa melihat bayang-bayang dari kejauhan yang kemudian lenyap secepat kilat.

“Ke mana dia?” tanya salah salah satu pengikut Lora dengan suara tertahan

“Masuk kawasan Bajing,” jawab Munakib menunjuk arah yang dimaksud

“Berapa bayangan?’’ potong Bhusana

“Hanya Matripin.”

“Kau yakin?” sambung Bhusana lagi seraya mendelik

“Sejak kapan kau meragukan instingku Bhusana?” sanggah Munakib geram. Suasana seketika lengang. Bhusana beradu pandang satu sama lain. Para pengikutnyapun menampakkan hasrat kekecewaan mendalam.

“Patek!’’ tukas Bhusana mendengar penjelasan Munakib yang tak memihak padanya.
Kumisnya yang lebat bergerak-gerak. Ujung celurit di tangannya berkilatan.

“Matripin telah menginjak-nginjak kehormatan kita,” ucap Munakib dengan tubuh gemetar. Matanya menatap kosong. Ia seperti dipotong kemaluannya di depan anak buahnya sendiri. Harga dirinya sebagai salah satu tetua Lora yang selalu disegani telah ternodai. Sebab menjaga keamanan desa dari susupan anak buah para Bajing yang juga mencalonkan Kalebun adalah harga mati baginya. Namun jika terus-menerus seperti ini, tak ada pilihan, lebih baik ia tebas sendiri kepala Matripin beserta pengikut para Bajing. 

“Ratakan saja kediaman Matripin sekarang!”

“Benar! Bakar markas Bajing sekalian!’’ Seru yang lain dengan semangat menyala.

“Kita harus menemukan primbon waktu yang tepat untuk menginjakkan kaki ke sarang para Bajing,’’ jawab Munakib tenang.

“Sejak kapan kau meragukan kemampuan kami?” potong Bhusana sinis. Matanya mendelik, merah saga. Munakib tak menanggapi, tangannya mengepal-ngepal sehelai rambut pemberian ibunya.

“Esok, bintang Nanggala tepat di Segara, sedang Naga berada di selatan. Kita bersiap saat jam dini berdetak, saat pintu langit terbuka, kita menyusup dari jarum utara. Sebab pada malam itu, orang luar pasti akan meruntuhkan orang dalam menurut simbol alam yang dulu pernah Abah ajarkan.”

Bhusana dan para pengikutnya yang sekaligus anak buah Munakib hanya bisa memelengoskan pandang satu sama lain, tak mengerti apa yang sebenarnya di lontarkan tetuanya itu. Namun mereka sangat yakin, setiap prinbon yang di uraikan Munakib tak satupun meleset dari kebenaran. Kecuali pihak musuh memiliki primbon penangkal.


***
    
Udara yang sesekali menggerakkan pepohonan tak sanggup lagi meneduhkan hati Munakib di perempatan jalan. Ia tampak gusar memikirkan desanya jika kelak benar-benar jatuh ke tangan para Bajing. Tangan yang identik dengan penyimpangan, tangan yang segera menjelma kekuatan untuk melakukan cara apapun demi tercapainya hasrat berkuasa di Desa Teluh.

Mata Munakib masih jeli. Rasa kantuk itu tak kunjung menghampiri meski sebagian anak buahnya telah menuai mimpi-mimpi. Ingatannya masih tertuju pada keberadaan Matripin yang tak sepaham dengannya. Dua pereode Munakib dan Bhusana memimpin kepercayaan Lora sebagai pengaman desa, baru detik ini ia merasa dipermainkan para Bajing. Geriknya penuh selidik mengawasi sekitar, ia masih belum beranjak dari tempat silahnya semula.

Tangannya masih mengepal-ngepal sehelai rambut pemberian ibunya. Sebilah keris ia tancapkan tepat di bekas telapak kaki Matripin yang berhasil menghilang dari pengejaran. Ia menerawang kejauhan, memfokuskan pandang pada satu titik tujuan. Lalu melilitkan sehelai rambut itu pada tubuh keris yang kemudian diikatnya erat-erat, seraya khusuk merapal mantra.
Sedang di kawasan para Bajing, Matripin muncul begitu saja dengan langkah gontai tergesa-gesa, napasnya tersengal, keringatnya bercucuran. Anak buahnya yang memang sengaja menunggu kedatangannya bak pucuk dicinta ulangpun tiba.

Begitupun ketua Bajing seketika tercengar mendengar sorak sorai suara riuh para pengikutnya itu menyambut kedatangan Matripin dari kejauhan menjunjung keberhasilan? Entahlah, ia segera bergegas keluar setelah salah satu anak buahnya melaporkan kejadian yang dialami panglima terkuatnya itu.

Senyum simpul jelas tampak di wajah ketua Bajing mendengar kerumun suara pengikutnya mengelu-elukan nama kebesaran Matripin —sang pahlawan para Bajing—simbol dari kekuatan yang identik kekerasan.

“Matripin.”

“Matripin!!” Silih berganti mereka sebut nama itu.

“Matripin?”

“Matripin?!!”

Mereka berjubelan mendekat, semakin bertindihan suara itu terkesiap, yang kelamaan menjelma parau. Entah, tanda sanjung pada Matripin karena berhasil lolos dari kawasan Lora dengan misi memenangkan pelean Kalebun pekan depan?, atau bahkan ketidakpercayaan mereka saat melihat dengan jelas dari jarak dekat, orang yang terkenal dengan ilmu kanuragannya itu seketika tersungkur di mulut gapura dengan sebilah keris yang dililit rambut menancap tepat di dadanya.***

Slopeng-Madura, 2016
    
Pelean Kalebun: Pemilihan Kepala Desa
Mosoh: Musuh
Patek: Anjing

Homaedi, lahir di Ambunten-Sumenep 1991. Pencinta sastra sekaligus penikmat  musik tradisional Madura. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, resensi dimuat di koran lokal dan nasional. Juga terkumpul dalam antologi bersama: Temu Komunitas Sastra 2 Kota/Lentera Sastra Jawa Timur (2011). Kidung Sunyi (2012). Anting Bulan Merah (2012).“Melabuh Kesumat”, cerpen pilihan Riau Pos (2013). Poetry Prairie (2014). Puisi Pengantin (2015).

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 13:30 wib

Bupati Launching Aplikasi Sipedih

Selasa, 20 November 2018 - 13:00 wib

Tunggu Kepastian Pelantikan Plt Gubri

Selasa, 20 November 2018 - 12:30 wib

Rp772,5 Juta Beasiswa Belum Disalurkan

Selasa, 20 November 2018 - 12:00 wib

4 Kabupaten Masih Terendam Banjir

Selasa, 20 November 2018 - 11:48 wib

Pedagang Pasar Rumbai Minta Pembayaran Kios per Hari

Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Follow Us