BENTENG TUJUH LAPIS

Semangat yang Terlupakan

20 Agustus 2016 - 22.57 WIB > Dibaca 477 kali | Komentar
 
Semangat yang Terlupakan
Sebagai situs sejarah yang memiliki nilai juang, Benteng Tuanku Tambusai atau juga dikenal Benteng Tujuh Lapis, memang sudah selayaknya dipelihara. Warisan seperti itulah penyambung ingatan bagi masyarakat Riau terhadap nilai historis yang terhimpun di dalamnya.

SUDAH sekian lama terbiar, tak terjamah, meskipun berada di depan mata. Barulah tahun ini, sebuah peninggalan cagar budaya yang terdapat di kota Daludalu, Kabupaten Rokan Hulu itu direncanakan untuk direvitalisasi. Terlambat memang, tetapi untuk sebuah niat baik tentu saja perlu disambut lega dengan harapan akan menambah kesadaran akan pentingnya menjaga warisan-warisan budaya sebagai penghubung informasi manusia hari ini ke masa lampau.
Sebagaimana diketahui, Benteng Tuanku Tambusai, atau Benteng Tujuh Lapis ini merupakan sebuah peninggalan sejarah kemerdekaan Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Benteng yang dibangun  pada  tahun  1832  oleh Tuanku  Tambusai ini, dahulunya dijadikan  sebagai  basis  pertahanan dalam melawan  penjajah  Belanda. Luasnya menyamai sebuah kampung. Benteng Tujuh Lapis ini sudah  sejak lama diusulkan  sebagai situs cagar budaya nasional, namun sayang, statusnya sampai hari ini masih dalam status terdaftar, belum juga meningkat ditetapkan sebagai Warisan Benda Cagar Budaya Indonesia.

Benteng ini dahulunya, dibangun menggunakan material tanah liat di tepi Sungai Batang Sosa Tambusai.  Benteng yang juga dikenal sebagai Benteng Aur Berduri ini akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada 1838, setelah di gempur selama satu tahun lamanya. Konon, bekas benteng tersebut tinggalkan oleh Tuanku Tambusai pada Desember 1839. Di sekitar daerah Dalu-Dalu ini juga terdapat beberapa benteng-benteng yang oleh masyarakat setempat di sebut Kubu.

Benteng itu kini berada di tengah-tengah kota kecil, kota Dalu-dalu. Berada di tepi jalan besar, tidaklah terpencil dan medannya tidak sulit. Disanalah kisah sejarah telah tertoreh, kegigihan perjuangan Tuanku Tambusai dalam melawan Belanda sehingga dia diberi gelar oleh Belanda “De Padriche Tijger Van Rokan” berarti Harimau Padri dari Rokan.

Dalam upaya menjaga dan melestarikan salah satu warisan budaya Riau ini, sebuah program telah dirancang yang disebut dengan Revitalisasi Kawasan Tradisional Bersejarah Benteng Tujuh Lapis. Beberapa kali pertemuan telah pula dilakukan, baik pihak pemerintah, swasta, lembaga dan pakar budaya bahkan pakar sejarah. Semuanya telah sepakat bulat untuk menyegerakan pelaksanaan revitalisasi ini.

Untuk menjaga nilai-nilai cabar budaya, revitalisasi dilakukan dengan pendekatan kawasan sehingga kemudian, dibagilah menjadi empat zona. Di antaranya, zona inti, penyangga, pengembangan dan penunjuang. Pada zona inti yaitu situs dan perkitaran Benteng Tuanku Tambusai itu sendiri tidak boleh diapa-apakan sebelum dilakukan kajian pelestarian oleh pakar-pakar sejarah, arkeolog dan lain-lain. Oleh karena itu, tahun 2016 ini, revitalisasi akan berfokus pada zona pengembangan dan zona penyangga saja.

Sebuah Ironi

Ketua Harian Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Al azhar menilai upaya revitalisasi terhadap warisan-warisan budaya di Riau ini memang terkesan sebuah ironi bila dihadapkan dengan semobyan-semboyan yang telah didengungkan. Bahwa Riau ini  sebagai tanah tumpah darah Melayu, pariwisata Riau berbasiskan budaya.

Persoalannya jejak-jejak informasi warisan itu benar yang terabaikan. Padahal, apabila dihadapkan dengan semboyan tersebut, maka Riau hedakanya meniscayakan adanya ‘sambungan’ kita dengan masa lampau. Hal itu tentulah ada pada warisan-warisan seperti ini,
Baik benda yang tak bergerak maupun benda yang bergerak. “Kalau itu tidak dipelihara, maka bual-bual kosong saja semboyan itu,” kata budayawan Riau itu.

Benteng Tuanku Tambusai, adalah salah satu contoh. Sudah sejak berpuluh tahun terbiarkan begitu saja. Sudah terdaftar sebagai cagar budaya namun sampai hari ini, statusnya tidak naik menjadi Benda Cagar Budaya, masih setakat terdaftar.

Pertanyaannya, sambung Al azhar, kenapa begitu lama?

Disinilah, sebetulnya terlihat belum ada upaya keras untuk sama-sama menjaga warisan budaya. Terlihat juga bahwa lembaga-lembaga yang diharapkan untuk mengawal warisan budaya Riau, baik yang benda maupun yang tak benda, itu macam tak bekerja. “Benteng Tuanku Tambusai hanya salah satu benda cagar budaya. Banyak  lagi warisan budaya yang lain di Riau ini. Ke mana saja kita pergi di Riau ini banyak kita jumpai baik warisan benda budaya yang bergerak dan tak berrgerak. Tapi semua itu tak pernah ditetapkan. Padahal kita tahu urgensinya, ketika warisan itu ditetapkan, maka bisa mendapatkan perlindungan undang-undang cagar budaya, ini penting apalagi kita hidup dinegeri yang sesuka-suka hati saja,” ujar Al azhar.

Namun demikian, apa yang sedang dihajatkan hendaknya didukung bersama. Dengan pengawalan-pengawalan. Dimaksudkan agar kekhawatiran hilangnya nilai-nilai budaya terhadap objek dari revitalisasi tersebut. Menurut Al azhar, zona inti yang menjadi kawasan penting, tidak boleh diapa-apakan terlebih dahulu sebelum diadakan kajian pelestarian. Kondisi Benteng Tuangku Tambusai tentu tidak lagi seperti sedia kala.

Oleh karenanya, perlu pengawalan dan pengarahan dari berbagai pihak. Untuk tahap awal, reitalisasi dilakukan di luar zoan inti yaitu zona pengembangan dan zona penunjang. Jaraknya sekitar 2 km dari zona inti. Akan dibangun gerbang releif yang menggambarkan riwayat hidup Tuanku Tambusai dan perjuangannya menentang penjajah. “Kita tetap menggesa dan mengusulkan segera dilakukan kajian pelestairan itu bersamaan kajian untuk penetapan sebagai benda cagar budaya,” jelasnya lagi. 

Nilai Juang perlu Dikedepankan

Salah seorang pakar sejarah asal Pasir Pangaraian, Ridwan Melay, mengatakan, persetujuannya untuk dilakukan revitalisasi terhadap Benteng Tuangku Tambusai. Menurutnya, meskipun sudha terlabat tetapi upaya pemugaran dan revitalisasi itu menjadi penting hari ini sebagai warisan kepada generasi sekarang dan masa depan bangsa untuk membentuk jiwa nasionalisme Indonesia. “Sementara benteng-benteng perjuangan di tempat lain, sudah sejak lama dilakukan pemugaran sebagaimana layaknya,” jelas wakil ketua Masyarakat Sejarahwan Indonesia (MSI) itu.

Selain itu, menurut dosen Prodi Pendidikan Sejarah Unri itu, Benteng Tuanku Tambusai adalah bukti karya nyata anak bangsa Indonesia, bukti kepahlawanan Tuanku Tambusai sebagai seorang yang ahli dalam strategi perang melawan pemerintah Belanda. Bentuk Benteng Tuanku Tambusai, unik dan tidak ada yang menyerupainya. Tetapi yang terpenting adalah pemugaran itu nantinya tidak melanggar UU.

 “Kita jangan melanggar hukum. Ikuti aturan sesuai dengan UU No. 11/2010 tentang Cagar Budaya. Selain itu, menghargai dan membangun kesadaran sejarah itu, jangan setengah-setengah,” kata Ridwan Melay.

Hal serupa juga disampaikan salah seorang akademisi bidang kebudayaan , Dr Junaidi. Katanya untuk memastikan mana zona inti dan apa-apa yang terapat di dalam zona inti itu memang diperlukan sebuah kajian pelestarian. Sehingga dalam pemugaran itu nantinya, benteng yang seharusnya menjadi lambang semangat perjuangan bagi anak negeri ini tetap seperti semula keasliannya.

Disadarinya, orisinalitas itu sendiri perlu pula dipahami juga. Dalam artian, yang hendak dikembalikan itu berdasarkan periode yang mana. Benteng itu sebagai kawasan tempat bertahannya melawan Belanda, keadaannya pastilah berbeda dengan sesudah Tuanku Tambusai keluar dari benteng itu. Dan tentu jauh berbeda pula dari keadaan sekarang, apalagi dipengaruhi faktor alam dengan kurun waktu yang tidak sebentar itu. Disanalah diperlukan kajian-kajian yang mendalam sehingga apa yang diharapkan bersama dapat terwujud.

“Menurut saya, yang tak kalah penting itu, adalah mengharapkan dari upaya revitalisasi ini, agar figur Tuanku Tambusai lebih ditonjolkan dalam simbol-simbol budaya yang mudah dikenali, diingat, dan mengedepankan nilai dan semangat serta citra keperkasaan beliau dalam berjuang,” ujar Wakil Rektor Unilak tersebut. (Jefrizal)







KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Selasa, 25 September 2018 - 16:30 wib

Tak Ganggu Target Pembangunan

Selasa, 25 September 2018 - 16:00 wib

Ratusan Honorer Gelar Aksi Demo

Selasa, 25 September 2018 - 15:54 wib

SMAN 7 Pekanbaru Dukung Gerakan Literasi

Follow Us