TARI

Penari Riau Ikuti Sasikirana Dance Camp

20 Agustus 2016 - 23.21 WIB > Dibaca 529 kali | Komentar
 
Penari Riau Ikuti Sasikirana Dance Camp
Sasikirana Dance Plus adalah sebuah helat bermula dari inisiatif yang lahir dari Bengkel Tari Ayu Bulan (BTAB). Kegiatan yang berlangsung di Nuart Sculpture Park, Bandung 2016 ini mendapat bantuan dari dana Hibah Bakti Budaya Djarum Foundation.

Salah seorang penari asal Riau yang lulus seleksi di ajang bergengsi ini adalah Dewi Safrila  Darmyanti. Mahasiswi yang sedang menyelesaikan studi Pascasarjana di ISI Padang Panjang ini mengatakan, helat yang digagas oleh Keni Soeriaatmadja adalah sebuah program yang menghimpun seniman tari bukan hanya di nasional tetapi juga penari dari luar negeri.

Katanya, Sasikirana Dance Camp 2016 “Dance City, Density” yang diselenggarakan dari 1 – 9 Agustus 2016, diawali proses pendaftaran terbuka sejak April 2016 lalu. Kemudian diseleksi oleh tim juri untuk kemudian dapat menjaring 25 seniman tari yang aktif baik nasional atau internasional.

Di antara seniman tari yang terpilih selain dirinya mewakili Riau adalah  Ferry Cahyo Nugroho (Magetan), Andhika Annisa (Bali), Heidy Dwiyanti (Bekasi), Herdi Muhammad (Bandung), Sherli Novalinda (Padangpanjang), Syifa Nur Muslim (Bandung), Eka Wahyuni (Berau), Tutu Wisti Sabila (Klaten), Razan Mohammad (Jakarta), M. Dinu (Malang), Junaida (Medan), Satriya (Bekasi), Laila Putri (Serang), Fernandito (Maluku Utara), Greatsia Yunga (Maluku Utara), Veyndi Dangsa (Maluku Utara), Patricia (Malang), Josh (Jakarta), R. Angga (Bandung),  dan Rosalia (Yogyakarta).

Sedangkan peserta Internasional, Lim Pei Ern (Malaysia), Dinie Dasuki (Singapura), Sompong Leartvimolkasame (Thailand), dan Ari Rudenko (Amerika Serikat). Kemudian 6 Peserta Koreo Lab yaitu Muhammad Asri Bin Razali (Singapura), Yudi Tangker (Tanjung Pinang), Dekgeh (Bali), Tyoba Armey (Bandung), Siska Aprisia (Padangpanjang), dan Ridwan Aco (Makasar).

Kegiatan ini, lanjut Dewi, didukung oleh beberapa mentor baik dalam negeri dan luar negeri seperti Hartati(Indonesia), Faturrahman Bin Said (Singapura), dan Arco Renz(Belgia) serta kurator atau observer Eko Supriyanto (Indonesia).

Dalam rangkaian program yang diikuti, kata Dewi, bertujuan untuk memberikan kontribusi dan menyatukan pola pikir antar seniman yang berbeda agar menjawab kegelisahan yang sedang terjadi di dunia seni Indonesia pada saat ini, khususnya seni tari kontemporer Indonesia.

Karena kesulitan utama saat ini, adalah sangat sulit menyatukan pembedahan pola pikir hingga antara satu dengan yang lainnya sama. Membongkar pola pikir yang sudah ada bahkan tertanam di dalam setiap tubuh penari bahkan koreografer bukan perkara yang mudah, tetapi para peserta belajar bagaimana melakukan pencaharian di titik kosong untuk mengekpresikan diri,  menerjemahkan gagasan yang disampaikan oleh tubuh.

Menurut Dewi, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk seni pertunjukan khususnya seni tari kontemporer. Diantara manfaat yang dirasakan selama mengikuti program ini, dapat menjawab kegelisahan yang sedang melanda seni tari kontemporer bahkan perkembangan seni pertunjukan

“Seharusnya seniman tari di Riau baik pemula ataupun yang sudah lama berkecimpung di dunia kesenian hendaknya juga berkesempatan bergabung dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, karena penyatuan ide dan gagasan serta mengasah kemampuan kita dibantu oleh para mentor dan kurator,” ujarnya kepada Riau Pos.

Bahkan di ajang itu juga, kesempatan untuk memiliki tempat bertukar pikiran dengan para peserta dance camp yang lainnya. “Saya yakin, teman-teman di  Riau mempunyai potensi atau bakat khususnya di bidang seni tari baik tradisi atau kontemporer.  Mengikuti kegiatan ini supaya kita mempunyai sudut pandang yang baru dan belajar hal yang baru. Saya berharap semoga tahun depan peserta koreolab dan dance camp ada yang berasal dari Riau kembali karena di tahun sebelumnya sudah ada peserta dance camp dari Riau Dyan Indah Purnama Sari,” jelasnya.

Gadis Riau yang dalam kesempatan itu terlibat dalam sebuah karya tari berjudul Pensucian karya Ridwan Aco (Makasar), juga menyebutkan sebagai pelaku tari, dirinya tak pernah berhenti belajar dan mencari hingga akhir hayat, karena kesenian yang tentu hasil dari sebuah proses, masih banyak harus dilakukan pembedahan atas diri, belajar dan terus belajar khususnya dibidang seni tari. “Semoga seni tari di Riau tetap dan semakin berkembang,” tutupnya. (Jefrizal)






KOMENTAR
Terbaru
Minggu, 18 November 2018 - 06:45 wib

Bela SBY, Ruhut Sebut Prabowo Seperti Beruang Madu

Minggu, 18 November 2018 - 06:03 wib

PBNU Tak Sependapat dengan PSI Soal Perda Syariah dan Injil

Minggu, 18 November 2018 - 05:34 wib

Ketua PGI Tanggapi Positif Kritik Grace

Minggu, 18 November 2018 - 05:11 wib

Grace Harus Uraikan Maksud Perda Syariah

Minggu, 18 November 2018 - 04:36 wib

Kata Jokowi Monumen Kapsul Menyimpan Idealisme Seperti Avengers

Minggu, 18 November 2018 - 03:59 wib

Alasan Jerinx SID Tak Mau Temui Via Vallen

Minggu, 18 November 2018 - 02:50 wib

Wow, A Man Called Ahok Tembus 1 Juta Penonton

Minggu, 18 November 2018 - 02:15 wib

Pembagian Sertifikat Tanah Harus Ada Tindak Lanjut Pemerintah

Follow Us