ESAI SASTRA

Dorothea dan Pembebasan Estetika Puisi Perempuan

20 Agustus 2016 - 23.33 WIB > Dibaca 1129 kali | Komentar
 
Dorothea dan Pembebasan Estetika Puisi Perempuan
Oleh Sartika Sari

KEMUNCULAN Dorothea Rosa Herliany dalam peta kepenyairan Indonesia diperbincangkan oleh banyak kritikus sastra. Puisi-puisinya mengusung tema perlawanan. Dorothea menembus stereotipe masyarakat atas estetika puisi perempuan. Terutama dari asumsi publik yang seringkali menjustifikasi bahwa penyair perempuan memiliki kecenderungan bersembunyi di balik metafora.

Dorothea menjadi figur perempuan penulis yang melejit pada tahun 1980-an. Ia menulis puisi sejak duduk di kelas 1 SMA Stellah Duce Yogyakarta.  Perjalanan menulisnya dimulai secara teratur dengan menulis laporan-laporan budaya dan kritik pementasan untuk harian Suara Pembaruan, Jakarta. Lalu hampir tiga tahun bekerja sebagai wartawan di MBE Prospek, dan menjadi koresponden majalah Sarinah, hingga menjadi penulis lepas. Dorothea adalah alumnus dari Fakultas Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Selain puisi, Dorothea juga menulis esai, kritik, liputan kegiatan, cerpen dan novel. Tulisan-tulisannya menghiasi berbagai surat kabar lokal, nasional dan internasional. Buku yang ditulisnya berjumlah 24 judul terdiri dari buku puisi, cerpen, cerita rakyat. Penghargaan yang pernah ia terima, di antaranya; Buku Puisi Terbaik (1997), Pengarang terbaik (2003), Khatulistiwa Literary Award (2006), Grant dari Asialink dan La Trobe University (2000), Heinrich Boll Stiftung (2009), Deutscher Akademicher Austausch Dienst (2013), Poets of All Nations (2014), dan Kusala Sastra Khatulistiwa 2015.

 Dorothea dalam Peta Kepenyairan Indonesia


Membaca puisi-puisi Dorothea, pada beberapa sisi publik akan terasa menemukan Chairil. Gaya tutur penyair yang digadang-gadang sebagai pembawa modernisme dalam perpuisian Indonesia itu, mengalir pada puisi-puisi Dorothea. Keberanian mengungkapkan perlawanan, penggunaan diksi yang eksplisit untuk menyebutkan keberpihakan, penolakan dan pemikiran-pemikiran yang menantang serta pilihan bentuk tubuh puisi kedua penyair ini memiliki kesamaan.             

Sebagaian besar penyair perempuan diidentikkan dengan gaya mendayu-dayu, menyembunyikan diri di balik metafora dan cenderung melankolis dalam mengutarakan sesuatu. Namun Dorothea muncul dengan identitas dan keberaniannya sendiri. Ia termasuk penulis Indonesia generasi kedua pada masa orde baru yang mundul pada pertengahan 1980-an —masa ketika Presiden Suharto berkuasa dengan pemerintahannya. Maka, karya sastra yang muncul sudah menggunakan bahasa Indonesia, dan sebagian besar penulisnya telah mengecap pendidikan hingga bangku kuliah.

Pada masa itulah puisi-puisi Dorothea muncul. Media publikasi untuk karya-karyanya pun adalah ruang sastra dalam surat kabar dan majalah. Dengan mengungkap berbagai persoalan yang menjadi bagian dari permasalahan sosial, Dorothea—dalam puisi-puisinya menjelma aku lirik yang berhadapan langsung dengan peristiwa. Tema-tema yang diusung didominasi oleh problematika perempuan dalam pernikahan, percintaan, budaya dan persoalan politik.

tapi aku menikahimu tidak untuk setia
kubiarkan diriku bertarung di setiap medan peperangan
aku panglima untuk sepasukan hewanhewan liarku
-yang selalu bergairah memandangmu di atas meja makan

sekarang biarlah kudekap engkau
sebelum kulunaskan puncak laparku!

       
Salah satu lokus terbesar yang menjadi kumparan persoalan dalam kehidupan seorang perempuan adalah pernikahan. Namun tidak banyak yang berani bersuara dengan lantang perihal kemelut ini. Tidak semua pernikahan didasari dan dijalani dengan kebahagiaan.

Penggalan puisi "Buku Harian Pernikahan" menangkap hal tersebut. Kepalsuan, kepura-puraan dan ketidakberdayaan yang tentu dirasakan oleh perempuan ketika berada pada situasi pernikahan yang tidak ia inginkan, ditentang oleh Dorothea. Melalui kata-kata lugas yang berani, ia menunjukkan bahwa dalam posisi seperti itu, perempuan bisa berperan aktif memimpin dirinya sendiri dan pernikahan yang ia jalani dengan membebaskan diri untuk mengekspresikan dan menyampaikan isi hatinya. Tidak perlu ada ketakutan dan kepura-puraan. Secara tidak langsung, sajak ini menempatkan perempuan sebagai subjek dan laki-laki sebagai objek. Keberanian Dorothea ini menjadi tawaran baru bagi para perempuan.

Dorothea dalam beberapa puisi lain, dengan lugas juga mengungkapkan hal-hal yang sebelumnya dianggap tabuh untuk diucapkan oleh seorang perempuan. Ia menerobos batasan-batasan yang dibentuk oleh sistem budaya—yang mempersempit ruang "ungkap" perempuan. Misalnya yang direkam dalam puisi "Telegram Gelap Persetubuhan".

dan setelah itu kutulis cerita cabul yang memualkan,
tentang seekor kelinci lemah berbaju gumpalan
daging dan sederet langkah “the man with
the golden gun”
kukirim ke alamat persetubuhan paling dungu

diamlah dalam kelangkanganku, lelaki.


Harry Aveling mengulas karakteristik Dorothea pada ciri ini sebagai sebuah aspek ketertarikan pada badaniah, yaitu kehidupan erotis. Sebagaimana yang dikutip oleh Kleden dalam Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaaan. Pernyataan Harry Aveling menempatkan Dorothea pada posisi yang paling puncak sebagai seorang penyair. Menurutnya, di dalam kesusastraan Indonesia modern, kita kehilangan tema-tema tersebut (seks) yang sudah menjadi sesuatu hal yang biasa di dalam kesusastraaan klasik dan kesusastraan modern lainnya: yakni tema percumbuan, pemikatan, persetubuhan, perkosaan dan persatuan penuh dari badan, jiwa dan perasaan antara dua kekasih (sudah atau belum menikah) sebagai dua manusia yang setaraf. Sebaliknya, ada perasaan malu terhadap tubuh dan fungsi-fungsinya dan suatu sikap berpura-pura yang menyolok seakan-akan perkawinan—bahkan menjadi ayah-ibu—dapat dicapai tanpa persetubuhan.

Mengacu pada pernyataan tersebut, kemunculan Dorothea dengan keberaniannya mengungkapkan berbagai hal yang berkaitan dengan seksualitas secara utuh dalam sebagian besar puisi-puisinya menjadi sebuah pencapaian baru dalam kepenyairan perempuan Indonesia. Pembebasan seksualitas dimaknai sebagai pembebasan pribadi yang kemudian menjadi dasar untuk menentukan hak berucap dan bertindak.

Selain Harry Aveling, cara menulis dan cara pandang Dorothea yang tertuang dalam puisi-puisinya, dipandang Afrizal Malna—dalam pengantar kumpulan puisi Nikah Ilalang, sebagai sebuah dunia gender dari penyair perempuan dan diksi laki-laki. Kelugasan, penempatan subjek aku lirik dan objek yang membangun perasaannya, serta pilihan kata yang berani dalam puisi-puisi Dorothea dimaknai oleh Afrizal sebagai teks laki-laki atau diksi laki-laki. Hal tersebut didasari oleh sebuah prasangka gender yang telah menurun pada kesan bahwa diksi laki-laki adalah pemilihan kata yang lebih gagah, sedangkan diksi perempuan cenderung lebih halus. Meski prasangka itu tidak bisa diberlakukan secara umum, karena masih didapati dalam puisi-puisi Amir Hamzah, Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Damono, Abdul Hadi WM atau Eka Budiantar yang sebagian puisinya seperti ditulis oleh perempuan.

Persoalan gender yang mendominasi puisi-puisi Dorothea juga bergerak pada lingkup kebudayaan yang diwariskan dari kisah-kisah perempuan di masa lalu—yang kemudian diyakini sebagai sebuah standarisasi kodrat seorang perempuan.

aku sinta yang urung membakar diri
demi darah suci
bagi laki-laki paling pengecut bernama rama
            -
kuburu rahwana,
dan kuminta ia menyetubuhi nafasku


Kisah cinta Sinta dan Rama yang telah dikenal luas, dikritisi dan diputarbalikkan oleh Dorothea. Rama bukanlah laki-laki idaman yang membuat Sinta harus bertekuk lutut memperdaya dirinya demi mendapatkan tempat untuk bersanding dengannya. Kisah cinta Rama dan Sinta yang telah mengakar pada pemahaman publik atas kedudukan perempuan, ditentang oleh Dorothea. Maka, lahirlah puisi Elegi Sinta yang membangun tokoh Sinta sebagai aku lirik yang memilih memburu Rahwana daripada menunggu Rama yang dianggap pengecut dan pecundang. Sinta pun mengurungkan diri untuk melakukan bakar diri hanya demi darah suci—keperawanan yang justru dituntut orang-orang sebagai syarat mendampingi Rama. Perjuangan reinterpretasi pada kisah-kisah masa lalu yang dilakukan Dorothea melalui puisi-puisinya semakin menguatkan pemikiran yang mengusungnya, bahwa perempuan memiliki ruang dan kekuatan untuk bertindak sebagai subjek.

Selain pada tema tersebut, puisi-puisi Dorothea turut andil dalam memberikan suara dan respon terhadap kehidupan politik. Misalnya yang terkandung dalam puisi "Sebuah Sajak Air Mata", "Suatu Hari Bulan Juli", "Ziarah Baru", dan "Indonesia, Suatu Hari" yang termaktub dalam kumpulan puisi Kill The Radio. Meski tidak terlibat secara langsung, Dorothea yang menjadi saksi huru hara sengketa, perebutan dan penyerangan oleh rezim Orde Baru ini menghayati kejadian yang ada di hadapannya sebagai sebuah dasar bertindak dan bicara. Maka, puisi-puisinya pun menyuguhkan sindiran dan kritik tajam untuk beberapa tokoh besar dan rezim yang dibangunnya.

Karya-karya Dorothea telah membuktikan bagaimana pemikiran-pemikiran perempuan kelahiran Magelang, Jawa Tengah itu demikian penting dan memberikan sumbangsih besar dalam kesusastraan Indonesia, khususnya peta kepenyairan perempuan. Di samping itu, kesetiaannya pada sastra Indonesia turut dibuktikan dengan konsistensinya menulis. Dorothea termasuk penyair yang banyak menyiarkan puisi-puisinya sepanjang dekade 80-90-an, di antara penyair perempuan lainnya seperti Tien Marni, Upita Agustine, Nyoman Netiningsih, Muliarti, Aryani, Siti Zarah, Dhenok Kristanti, Nana Ernawati, Tuti Gintini, Ida Ayu Galuhpethak, Omi Intan Naomi, Ulfatin Ch, atau Abidah El Khalieqy, yang sebagian besar lahir tahun 60-an, dan sebagian aktivitas kepenyairannya tidak kedengaran lagi.  Selain itu, Dorothea juga pernah melakukan aktivitas yang mendukung kehidupan literasi sastra Indonesia melalui IndonesiaTera.***

Sartika Sari  adalah mahasiswa pascasarjana Universitas Padjadjaran Bandung, kelahiran Sumatera Utara, 1 Juni 1992.

 

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 23:41 wib

Event Tour de Siak Tahun 2018 Resmi Ditutup Bupati Siak

Jumat, 21 September 2018 - 19:00 wib

Dua Kali Runner up, SMA Darma Yudha Targetkan Champion

Jumat, 21 September 2018 - 18:30 wib

Tak Mudah Raih Maturitas SPIP

Jumat, 21 September 2018 - 18:00 wib

Pengelola Diminta Optimalkan Aset untuk Kesejahteraan Desa

Jumat, 21 September 2018 - 17:30 wib

Apresiasi Komitmen Partai

Jumat, 21 September 2018 - 17:00 wib

Warga Dambakan Aliran Listrik

Jumat, 21 September 2018 - 16:30 wib

Real Wahid dan UIR Juara Kejurda Futsal 2018

Jumat, 21 September 2018 - 16:14 wib

Etape Terakhir Diraih Tim Sapura Cycling Malaysia

Follow Us