CERPEN NURDIANSYAH OEMAR

Nek Ijas

20 Agustus 2016 - 23.51 WIB > Dibaca 2667 kali | Komentar
 
Nek Ijas

Dan sesungguhnya, membawa sepasukan petugas lengkap dengan senjata adalah suatu hal yang berlebihan rasanya. Hanya sekadar menangkap seorang perempuan renta seperti Nek Ijas, yang napasnya bahkan tinggal satu-dua. Perempuan yang hidup sebatang kara, jauh dari keriuhan kota. Hidup di tengah-tengah kebun singkong, pisang, sayur-mayur, dan pepohonan yang hasilnya; meskipun tak berlebih, namun, cukup untuk dimakannya sendiri. Kebun yang ditanam di sepetak tanah satu-satunya sisa-sisa kejayaan mendiang suaminya. Kebun yang konon katanya, susah-payah ditanam oleh mendiang suaminya jelang kematiannya. Dalam keadaan sakit parahnya dulu, mendiang suaminya dan dibantu olehnya juga, memaksakan diri untuk berkebun, seolah-olah mendiang suaminya —yang mengalami kebangkrutan ekonomi sebab sakitnya— itu ingin menjamin agar istrinya tak kelaparan sepeninggalannya.

Maka seperti yang diharapkan oleh mendiang suaminya itu, sepeninggalannya Nek Ijas tak kelaparan. Semua yang dibutuhkan oleh Nek Ijas untuk makan selalu tersedia di kebunnya itu. Dan yang perlu dilakukan oleh Nek Ijas agar ia bisa tetap makan, adalah merawat kebunnya itu. Menjaga pepohonannya agar tetap bisa menghasilkan. Berbekal ilmu yang pernah diberikan secara langsung oleh mendiang suaminya, sedikitnya banyaknya Nek Ijas tahu bagaimana caranya untuk bertahan hidup dengan itu semua.

Tetapi agaknya, mereka —petugas itu— semua, termakan oleh cerita belaka. Desas-desus yang sering diembuskan bahwa hutan yang terletak tak jauh dari sepetak tanah yang ditinggali oleh Nek Ijas itu adalah tempat pelarian bagi garong-garong atau penjahat-penjahat yang sengaja ingin menghilangkan diri mereka sementara. Sebuah cerita yang memang tak pernah bisa dibuktikan kebenarannya itu, namun cukup membuat orang-orang enggan untuk masuk terlalu jauh ke dalam hutan itu. Sekalipun, bahkan, konon ada yang mengatakan bahwa, cerita itu sengaja dikarang oleh orang-orang dahulu untuk menakuti anak-anak mereka agar tak terlalu jauh masuk ke dalam hutan. Cerita belaka tentang hutan yang saat ini, katanya, dikelola oleh negara, guna menjaga kelestariannya. Namun bukankan menjaga keselamatan jauh lebih penting dari segalanya? Ya, pikir mereka. Mengantisipasi hal-hal yang buruk yang mungkin saja bisa terjadi dalam pekerjaan mereka adalah suatu keharusan. Semisal, tiba-tiba saja ketika mereka sedang melakukan pekerjaannya itu, mereka disergap oleh sekelompok penjahat bersenjata yang bisa melakukan apa saja bila merasa terancam oleh kehadiran mereka. Maka itu tak salah bila mereka mempersenjatai diri mereka sepenuhnya, pikir mereka. Dan bila itu benar-benar terjadi, mereka pastinya siap untuk itu. Dan dua penangkapan dalam satu kali operasi, bakal menjadi sebuah prestasi bagi mereka, tentunya.

Namun kali ini, mereka bahkan tidak memerlukan banyak tenaga untuk menemukan Nek Ijas di tempatnya berada itu. Tak ada pertumpahan darah hari ini. Tak ada adegan kejar-mengejar atau adegan tembak-menembak seperti yang mereka takutkan. Mereka bahkan tidak perlu mendobrak pintu di tempat Nek Ijas berada. Sebab, memang, Nek Ijas tak pernah bisa mengganti pintu  biliknya —di tengah kebunnya— yang telah rapuh dimakan usia. Nek Ijas hanya bisa menggantinya dengan sebuah kain yang juga telah usang itu sebagai pengganti pintu biliknya yang seadanya itu.

Nek Ijas sedang menghitung napasnya ketika petugas-petugas itu datang padanya. Bahkan sekadar menyusun kayu-kayu yang kemarin lusa ditemukannya di hutan, sungguh banyak memakan tenaganya. Ah, seandainya saja anak Nek Ijas mau sedikit peduli kepadanya, mungkin tak perlulah ia sampai susah-payah seperti ini. Tetapi apa mau dikatakan lagi, anaknya mungkin sudah melupakannya. Mungkin juga menganggapnya sudah mati seperti mendiang suaminya. Ah sudahlah, Nek Ijas tak ingin lagi mengungkit-ungkit lagi perihal perselisihannya dengan anaknya; tuduhan-tuduhan anaknya yang mengatakan bahwa ialah penyebab kejatuhan bapaknya, mendiang suaminya. Ah sudah, sudah. Nek Ijas tak ingin kenangan itu datang dan membikin perih hatinya lagi. Nek Ijas sempat menyeka air matanya sebelum salah satu petugas menghardiknya dengan keras,

“Anda ditahan!” seorang petugas yang paling muda membuka suara pertama kalinya, dengan nada yang terdengar begitu lantang dan tegas. Seolah-olah tidak peduli lawan bicaranya, petugas itu dengan sigap menyambar tangan Nek Ijas yang ringkih. Ah, benar-benar tipikal petugas yang baru saja lulus pendidikan, di depan para pendahulunya, selalu saja ingin tampil dan bertindak duluan.

Nek Ijas yang masih kaget dengan apa yang terjadi itu, merintih kesakitan ketika petugas muda itu memelintir tangannya ke belakang tubuhnya. Nek Ijas hanya bisa pasrah, sebab seandainya saja ada keberaniannya untuk melawan saat itu pun, tenaganya sungguh kalah jauh dengan petugas muda itu. Petugas itu pun meraih borgol yang diselipkannya di ikat pinggangnya, bermaksud mengunci tangan Nek Ijas dengannya. Namun jelang itu terjadi, seorang petugas yang terlihat sudah matang dan nampak sangat berwibawa menghentikannya,

“Biarlah! Tak perlulah Nenek ini diborgol. Memangnya mau lari ke mana dia?”

Nek Ijas melenguh sesaat setelah tangannya dilepaskan. Merasakan kesakitan pada tangannya yang ringkih.

“Mari Nek, ikut kami ke kantor!” ajak petugas itu sopan.

“Tetapi kenapa, Nak? Apa salah saya?”

“Sebaiknya ikut saja, Nek! Nanti di kantor, akan kami jelaskan semuanya,” sambung petugas itu, lalu menuntun Nek Ijas yang hanya bisa pasrah mengikuti kehendaknya menuju ke mobil yang mereka parkir agak jauh dari tempat itu.

“Hati-hati, Nek! Nenek masih sanggup berjalan, kan? Mobil kami tak jauh dari tempat ini.”

Selain berjalan mengikuti kehendak petugas tadi, Nek Ijas tidak berbicara apa-apa. Kini, pikirannya sedang mengembara ke mana-mana. Berusaha mengingat apa yang telah terjadi sebelum ini. Berusaha menduga-duga kesalahan yang tanpa disadari telah dilakukannya. Sementara di belakang mereka, petugas yang masih muda tadi sedang kebingungan. Dia bingung bagaimana cara membawa kayu-kayu yang menjadi pokok permasalahan ini.

“Potret saja kayu-kayu itu di TKP, Bro. Bawa saja beberapa darinya untuk contoh. Gitu saja kok repot,” sergah seorang petugas yang lainnya.

“Oh iya, ya. Sial,” gumam petugas muda itu, lalu berusaha melakukan apa yang disarankan oleh petugas pendahulunya itu.

***

Di sinilah kini Nek Ijas berada. Di sebuah ruangan bersama seorang petugas yang wajahnya tak memiliki keramahan sama sekali di hadapannya. Petugas yang tampangnya jauh lebih menyeramkan ketimbang Bang Jaka, preman kampung yang paling ditakuti oleh semua orang di kampungnya atau mungkin juga petugas muda yang tadi sempat memelintir tangannya. Mendadak hilang semua rasa letih yang ada di dirinya setelah perjalanan jauh ke tempat ini. Yang tersisa hanya tanya yang sedari tadi belum menemui jawabnya. Tentang apa yang sedang terjadi dan penyebab semua ini. Aduh Gusti, sebenarnya apa yang sedang terjadi? batinnya. Sementara petugas yang ada di hadapannya itu masih belum berkata apa-apa, hanya saja tatapan matanya yang tajam ke arahnya, yang sedari tadi, seolah-olah berkata banyak kepadanya. Dan sekalipun Nek Ijas berusaha untuk menenangkan dirinya dengan merapalkan doa-doa keselamatan yang dihapalnya, namun tak bisa dipungkirinya, tatapan mata itu perlahan membuatnya serba salah. Tetapi pikiran-pikiran tak bersalahnya itu, yang memaksa Nek Ijas untuk tetap bertahan dengan keadaan itu. 

“Ayolah, Nek. Kita bisa melakukan ini sepanjang hari,” akhirnya, petugas itu membuka suaranya.

“Melakukan apa, Nak?” Tanya Nek Ijas, polos.

“Ya, ini. Kita akan duduk sepanjang hari. Tak ada percakapan. Hanya diam dan saling menikam dengan tatapan. Sepanjang hari, Nek. Kecuali…”

“Kecuali?”

“Ah, sudahlah. Mengaku saja, Nek. Mari kita lewati bagian-bagian yang pastinya akan panjang dan melelahkan, Nek.”

“Iya. Tapi mengaku untuk apa, Nak? La wong saya tak merasa berbuat salah,” tanya Nek Jas semakin bertambah penasaran.

“Haha…  Saya suka orang-orang yang seperti Anda, Nek. Orang yang berusaha mencari kesulitan bahkan ketika sudah ditawarkan kemudahan,” timpal petugas itu, sesaat setelah menghempaskan telapak tangannya ke meja yang ada di hadapannya. Gerakan tiba-tiba yang cukup membuat kegaduhan di tempat itu, sekaligus juga membuat kegaduhan di dalam dada Nek Ijas. “Tetapi saya suka itu. Mungkin sebab itulah, orang-orang yang mencintai pekerjaan ini, seperti saya misalnya, bisa terus melakukan kesenangan ini,” sambungnya.

“Tetapi, sumpah. Demi Tuhan, saya tak tahu salah saya apa? Tolong jelaskan kepada orang tua ini, Nak!”

“Cukup! Tak perlu Anda bersumpah dan membawa-bawa Tuhan segala!” Respon petugas itu, seperti tersengat oleh kata-kata Nek Ijas barusan. “Percayalah, Tuhan tak akan ada untuk seorang pencuri seperti Anda, Nek. Tak akan ada yang akan menyelamatkan Anda, Nek. Semua buktinya sudah jelas mengarah kepada Anda. Dan saya pastikan Anda tak akan bisa mengelaknya.”

Mendengar itu, pertahanan —yang sesungguhnya tak pernah ada— Nek Ijas mendadak runtuh. Hancur berkeping-keping. Tak terasa, air mata mulai membasahi pipinya. Namun lekas disekanya sebelum menetes ke mana-mana. Sempat terlintas di dalam pikirannya; jika saja dia tahu apa yang telah dicurinya, maka lebih baik ia mengakuinya sekalipun sesungguhnya ia tak pernah benar-benar mencurinya, demi untuk mengakhiri semua kegilaan ini.

“Sebentar,” ucap petugas itu, lalu beranjak meninggalkan Nek Ijas sendiri.

Ditinggal sendirian di tempat itu, tak ada yang bisa dilakukan oleh Nek Ijas selain berdoa dan mencoba mengumpulkan ingatan.Meskipun sangat sulit mengumpulkan ingatannya di usianya yang setua itu, namun, Nek Ijas tetap berusaha agar bisa mendapat sedikit petunjuk perihal tuduhan pencurian yang telah dilakukannya.

“Aduh, Gusti. Apa yang telah saya lakukan sehingga mereka bisa menuduh saya seorang pencuri? Apa yang telah saya curi, Gusti?”

Namun Tuhan belum juga memberikan Nek Ijas petunjuk, ketika petugas yang menyeramkan tadi kembali kepadanya. Di tangan kanannya ada sebilah kapak dan sepotong kayu yang terlihat telah terbelah. Di tangan satunya lagi, petugas itu membawa sebuah kayu dengan diameter yang lumayan besar, yang dikepitkannya ke dada. Sebuah kayu yang bila dibelah dengan kapak akan menghasil beberapa potong kayu.

“Mari, Nek! Tolong tunjukan kepada saya bagaimana kapak ini bekerja! Tolong belahlah kayu yang besar itu hingga menjadi potongan-potongan kecil seperti ini!” pinta petugas itu, menunjukkan potongan kaya di tangan kanannya.

Beberapa saat, Nek Ijas belum juga bergerak dari tempat duduknya. Hingga petugas itu setengah memaksa Nek Ijas untuk menurutinya.

“Ayolah, Nek. Mari kita selesaikan ini dengan cepat,” pinta petugas itu.

Gemetar. Nek Ijas mencoba meraih kapak yang disodorkan kepadanya. Berat. Bahkan sekadar untuk mengangkat kapak itu, tenaga Nek Ijas banyak terkuras, apalagi mengayunkan kapak itu guna membelah kayu itu.

“Silahkan, Nek!”

Dengan susah-payah Nek Ijas mengangkat kapak itu setinggi kepalanya. Namun belum lagi mata kapak itu menemukan permukaan kayu, genggaman tangan Nek Ijas melemas hingga membuat kapak itu terlempar darinya. Beruntung lemparan itu tidak mengenai dirinya atau pun petugas yang berdiri tak jauh di depannya.

“Nah. Seperti yang saya duga. Bahkan memegang kapak saja Anda sudah tidak kuat, lalu bagaimana Anda bisa membelah kayu itu menjadi seperti ini,” ucap petugas itu, puas. “Kayu ini, kami temukan di tempat Anda. Sekarang akuilah, kalau Anda memang mencurinya! Susah-payah orang membelah kayu-kayu itu, lalu seenaknya saja Anda membawanya.”

“Tidak. Tolong. Saya tidak mencurinya. Saya menemukannya. Kayu-kayu itu saya temukan di hutan tak jauh dari tempat saya,” dalih Nek Ijas, gemetar.

“Apa di Hutan? Wah, parah. Anda tahu bahwa hutan itu dilindungi negara, bukan? Dilarang menebang kayu di hutan, apalagi memanfaatkannya. Wah pelanggaran berat ini, Nek.”

Benar. Nek Ijas tahu memang hutan itu terlarang untuk diambil kayunya. Nek Ijas mengangguk, lalu berkata, “Tapi, Nak. Saya…”

“Cukup, Nek! Sekarang Anda kami tahan atas tuduhan pencurian kayu di hutan yang dilindungi kelestariannya. Bila ada keluhan atau apapun itu, sebaiknya Anda gunakan untuk melawan di persidangan kelak.”

“Tapi, Nak…”

Tumpah-ruah air mata Nek Ijas.

 

***

“Lapor, Tuan. Umpan sudah dimakan. Kini, nenek itu resmi ditahan. Namun, kelanjutannya masih tetap menunggu hasil dari persidangan,” seseorang lelaki muda yang baru saja menyelinap keluar dari kantor itu, berbicara melalui telepon genggamnya. “Bagus. Bagus. Tetap siaga dan terus pantau itu persidangan,” jawab seorang lelaki di ujung telepon sana. Seorang lelaki berperawakan gempal dan berpenampilan parlente. Raut wajahnya menunjukkan kepuasan yang luar biasa.

“Baik, Tuan.”

“Bagus. Kerja bagus!” pungkas lelaki parlente itu, lalu meraih kotak rokoknya. Membakarnya sebatang. Fiiuuhhh. Tergambar jelas di kepalanya, bagaimana hutan yang terletak di dekat tempat Nek Ijas bakal bisa menambahkan pundi-pundi kekayaannya. Dengan catatan, akses yang paling strategis, yaitu sepetak tanah yang di tempati Nek Ijah bisa dikuasai.

“Sebentar lagi. Sebentar lagi urusannya beres,” gumam lelaki gempal itu, puas.***

 Pekanbaru, Juni 2016

 

 

Nurdiansyah Oemar, bergiat di Komunitas Paragraf dan Malam Puisi Pekanbaru. Tinggal di Pekanbaru.

 

           

 

 

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Selasa, 20 November 2018 - 17:22 wib

Sabu Rp4 M Disimpan dalam Tas Ransel

Follow Us