SAJAK

Sajak-sajak Joan Undu

21 Agustus 2016 - 00.02 WIB > Dibaca 978 kali | Komentar
 
Narasi Silih

malam yang jengah
menombakkan belati
ke jantung anak domba
yang bertahun-tahundipasung
di sebatang tarbantin

tetes darahnya adalah
materai perjanjian antaraleluhur,
kita dan anak cucu
yang digenapi pada sebuah pesta:
perjamuan terakhir

ia menjadi sebatang hati tak bersalah
dipaksa mengecap
empedu dan asam cuka
sebagai silih
atas dosa-dosa

Jakarta, Maret 2016


Kaul Seorang Renta

aku harus belajar memindahkan lembing
yang telah mencucukkan pucuknya
pada lambung suci anak domba

tapi segala bisa
tak setega itu, jika saja buih
ular di jantung Eden
tidak kau setuju
dengan tujuan yang purba

Cijantung, 22/6/2016



Kepada Nietzsche


/1/
“ke manakah tu(h)an?
kemanakah tu(h)an?
akh, dia telah mati.

kita telah membunuhnya:
 kalian dan aku.”

/2/
akh, tuan, tuan,
dan tuan, Tuhan
tak pernah musnah

juga ketika engkau membunuhnya
dalam mimpi.

Kampus STF Driyarkara, Oktober 2015



Khotbah


lelaki paruh baya yang pernah memberimu
lima buah roti dan sepuluh potong ikan
pernah tersengal mengucapkan
kredo sebelum meregangkan nyawa
di tengah guyuran gerimis:
    
terkadang cinta
tak selalu tepat waktu
    tapi biarlah segalanya terjadi
    sebab sekalipun petang datang
    dan bintang-bintang bermunculan
    tak ‘kan ada yang mampu
mengeringkan sisa-sisa
air mataku yang terpaing

    tapi, tenanglah, akan kutinggalkan
jejak dan kenangan
    sama seperti doa, kenangan
    akan selalu menjaga
    apa yang kita kenangkan.

Jakarta, April 2016



Mewacanakan Fana

hidup manusia adalah pembakaran
nafas dalam hidungnya adalah asap
pikiran di dalam kepala
hanyalah bunga api
yang meletup
berkatdenyut
sebatang jantung

setelah padam
sisa pembakaran
menjadi abu, dan asap
membumbung tinggi
menuju tempat pembaringan
yang esa.

Yogyakarta, Januari 2013

Joan Udu, lahir di Flores, 22 Desember 1992. Aktif menulis puisi di sejumlah media, seperti Flores Pos, Pos Kupang, dan Media Indonesia. Buku kumpulan puisinya adalah Rindu di Ujung Senja (2012). Pada tahun 2011-2012 menjadi ketua komunitas sastra  “Ampas”, Labuan Bajo, NTT. Saat ini menjadi pemimpin umum jurnal filsafat Driyarkara, dan berkesenian di Bengkel Sastra F-Minor, Jakarta.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 22 November 2018 - 10:45 wib

Pesta Narkoba, Oknum Personel Polres Dumai Terancam Dipecat

Kamis, 22 November 2018 - 10:30 wib

Camat Harus Cepat Kuasai Wilayah

Kamis, 22 November 2018 - 10:15 wib

Kapolsek Bakar PETI di Kebun Pemda

Kamis, 22 November 2018 - 10:00 wib

Seleksi CPNS, Pemko Tunggu Arahan Pusat

Kamis, 22 November 2018 - 09:45 wib

MoU KUA- PPAS Diteken Rp9,135 T

Kamis, 22 November 2018 - 09:33 wib

Total Rp3.170.000 Setiap Siswa. Berikut Rincian Pungutan Di SMAN 12 Pekanbaru

Kamis, 22 November 2018 - 09:30 wib

PODSI Riau Tak Berikan Bantuan Hukum

Kamis, 22 November 2018 - 09:21 wib

Pelaku Pembunuhan di Desa Tapung Jaya Ditangkap

Follow Us