SAJAK

Sajak-sajak Joan Undu

21 Agustus 2016 - 00.02 WIB > Dibaca 936 kali | Komentar
 
Narasi Silih

malam yang jengah
menombakkan belati
ke jantung anak domba
yang bertahun-tahundipasung
di sebatang tarbantin

tetes darahnya adalah
materai perjanjian antaraleluhur,
kita dan anak cucu
yang digenapi pada sebuah pesta:
perjamuan terakhir

ia menjadi sebatang hati tak bersalah
dipaksa mengecap
empedu dan asam cuka
sebagai silih
atas dosa-dosa

Jakarta, Maret 2016


Kaul Seorang Renta

aku harus belajar memindahkan lembing
yang telah mencucukkan pucuknya
pada lambung suci anak domba

tapi segala bisa
tak setega itu, jika saja buih
ular di jantung Eden
tidak kau setuju
dengan tujuan yang purba

Cijantung, 22/6/2016



Kepada Nietzsche


/1/
“ke manakah tu(h)an?
kemanakah tu(h)an?
akh, dia telah mati.

kita telah membunuhnya:
 kalian dan aku.”

/2/
akh, tuan, tuan,
dan tuan, Tuhan
tak pernah musnah

juga ketika engkau membunuhnya
dalam mimpi.

Kampus STF Driyarkara, Oktober 2015



Khotbah


lelaki paruh baya yang pernah memberimu
lima buah roti dan sepuluh potong ikan
pernah tersengal mengucapkan
kredo sebelum meregangkan nyawa
di tengah guyuran gerimis:
    
terkadang cinta
tak selalu tepat waktu
    tapi biarlah segalanya terjadi
    sebab sekalipun petang datang
    dan bintang-bintang bermunculan
    tak ‘kan ada yang mampu
mengeringkan sisa-sisa
air mataku yang terpaing

    tapi, tenanglah, akan kutinggalkan
jejak dan kenangan
    sama seperti doa, kenangan
    akan selalu menjaga
    apa yang kita kenangkan.

Jakarta, April 2016



Mewacanakan Fana

hidup manusia adalah pembakaran
nafas dalam hidungnya adalah asap
pikiran di dalam kepala
hanyalah bunga api
yang meletup
berkatdenyut
sebatang jantung

setelah padam
sisa pembakaran
menjadi abu, dan asap
membumbung tinggi
menuju tempat pembaringan
yang esa.

Yogyakarta, Januari 2013

Joan Udu, lahir di Flores, 22 Desember 1992. Aktif menulis puisi di sejumlah media, seperti Flores Pos, Pos Kupang, dan Media Indonesia. Buku kumpulan puisinya adalah Rindu di Ujung Senja (2012). Pada tahun 2011-2012 menjadi ketua komunitas sastra  “Ampas”, Labuan Bajo, NTT. Saat ini menjadi pemimpin umum jurnal filsafat Driyarkara, dan berkesenian di Bengkel Sastra F-Minor, Jakarta.

KOMENTAR
Terbaru
Senin, 24 September 2018 - 21:31 wib

Ini Alasan Sebagian Caleg Golkar Dukung Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 21:04 wib

Buni Yani Bergabung di BPN Prabowo-Sandiaga

Senin, 24 September 2018 - 20:26 wib

PDIP Apresiasi Tranparansi Laporan Awal Dana Kampanye

Senin, 24 September 2018 - 18:52 wib

Belum Mau Nikah

Senin, 24 September 2018 - 18:40 wib

Telur Jadi Tidak Sehat Bila Dikonsumsi Bersamaan dengan Lemak Jenuh

Senin, 24 September 2018 - 17:48 wib

Ika Surtika Senam Bugar di UIR

Senin, 24 September 2018 - 17:43 wib

Calon Anggota DPRD Inhu Bertambah Jadi 531 orang

Senin, 24 September 2018 - 17:41 wib

Komunitas BIJAK Dilatih Tim Desa Binaan LPPM Unri

Follow Us