OLEH FATMAWATI ADNAN

Kritik dan Humor

21 Agustus 2016 - 00.13 WIB > Dibaca 1404 kali | Komentar
 
Kritik dan Humor

Seorang pemuda nekat menggedor kaca jendela sebuah mobil mewah. Wajah seorang pria separuh baya muncul dari balik kaca dengan pandangan mata terbelalak marah. “Serahkan uang Bapak!” seru si pemuda dengan suara gemetar. Si Bapak memandang pemuda itu dengan sikap meremehkan, lalu berkata: “Kamu jangan lancang ya! Kamu itu rakyat, saya ini pejabat negara!” Dengan lantang si pemuda menjawab: “Kalau begitu, kembalikan uang saya!”

Wacana tersebut mampu membuat pembacanya, yang memahami konteks dan maknanya, tersenyum (merasa terhibur) atau mungkin marah/tersinggung. Bagi masyarakat, cerita tersebut menjadi sebuah hiburan yang menimbulkan rasa senang dan si pemuda dianggap telah menyuarakan aspirasi mereka. Bagi pejabat negara (yang mengambil uang rakyat), cerita tersebut merupakan sebuah “sengatan” yang menyakitkan dan memalukan jika mereka masih memiliki kepedulian dan kehormatan yang tinggi.

Artinya, di balik kelucuan cerita humor tersebut tersimpan sebuah “kemarahan” yang ingin disampaikan kepada orang-orang yang dimaksud. Tujuan humor (yang bernuansa politik) adalah untuk memberikan kritik atau masukan kepada pihak-pihak tertentu yang secara politis memiliki peran, fungsi, dan pengaruh politik dalam masyarakat. Humor seperti ini merupakan sebuah humor yang mengandung kritik sosial.

Cerita ringkas tersebut merupakan sebuah cara untuk mengungkapkan gagasan tertentu yang tersirat dalam konstruksi sintaksis bahasa yang digunakan. Bahasa memang mampu berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Dahana (1996) mengemukakan bahwa “bahasa ternyata telah diposisikan sebagai sebuah siasat, taktik, atau strategi…. Bahasa kini adalah teknologi yang dengan kreativitas mampu dimodifikasi untuk melayani sebuah tujuan (dari golongan) tertentu”.

Wacana yang memuat kritik dan humor memiliki maksud yang “tajam dan keras”  dengan cara yang lebih menghibur. Secara harfiah sebenarnya kedua kata ini memiliki makna yang “bertentangan”.

Kritik (KBBI, 2008) didefinisikan sebagai kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Dalam Cambridge Dictionary (2013), kritik didefinisikan sebagai a report of something such as a political situation or system, or a person’s work or ideas, which examines it and provides an often negative judgment.

Dahlan (1977) menganggap bahwa kritik sangat erat kaitannya dengan sistem komunikasi yang berlaku di suatu negara. Negara-negara maju (di Amerika dan Eropa) cenderung menganggap kritik sebagai hal biasa. Bahkan, mereka memegang sebuah ungkapan yang berbunyi critics is the gift.  Kritik dianggap sebagai sebuah “hadiah” berharga yang berguna untuk memperbaiki segala sesuatu yang dinilai buruk oleh orang lain.

Namun, sebagian masyarakat di negara kita memandang kritik sebagai masalah negatif yang dinilai mampu mempermalukan seseorang. Kritik dianggap sebagai ancaman yang dapat mempengaruhi citra diri. Masyarakat yang seperti ini cenderung masih menempatkan “pencitraan” dalam struktur sosial sebagai sesuatu yang harus dijaga sedemikian rupa.

Menurut Susanto (1977), kritik adalah penilaian ilmiah ataupun pengujian terhadap situasi masyarakat pada masa tertentu. Pada hakikatnya kritik menggunakan metode berpikir ilmiah, yakni menemukan masalah, mencari data, membuat hipotesis, mengolah data untuk pembuktian masalah, menganalisis, dan menyimpulkan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh. Pendapat ini dilengkapi dengan definisi kritik yang dikemukakan Naomi (1996), yaitu sebagai sebuah pengujian terhadap situasi masyarakat dengan tolok ukur suatu situasi dan perilaku ideal.

Sementara itu, humor (KBBI, 2008) didefinisikan sebagai sesuatu yang lucu: keadaan (dalam cerita dan sebagainya) yang menggelikan hati; kejenakaan; kelucuan. Dalam Cambridge Dictionary (2013), humor didefinisikan sebagai the ability to find things funny, the way in which people see that some things are funny or the quality of being funny. Humor dalam pengertian Barat tidak sekadar adanya kelucuan, tetapi juga kemampuan untuk menemukan sebuah kelucuan. Beberapa orang filsuf mengatakan bahwa keinginan untuk menemukan kelucuan yang dapat menyenangkan hati merupakan naluri manusia sejak dirinya masih bayi.

Hasan dalam tulisan Humor dan Kepribadian (1981) membagi humor dalam dua kelompok besar, yaitu: (1) humor pada dasarnya berupa tindakan agresif yang dimaksudkan untuk melakukan degradasi terhadap seseorang; (2) humor adalah tindakan untuk melampiaskan perasaan tertekan melalui cara yang ringan dan dapat dimengerti, dengan akibat kendornya ketegangan jiwa.

Meskipun makna kedua kata tersebut memiliki sifat dan tujuan yang berbeda, perpaduan kritik dan humor melahirkan produk bahasa yang cerdas dan kreatif. Kritik yang disampaikan melalui cerita humor merupakan karya bahasa  yang membutuhkan pengetahuan, kreativitas berbahasa, imajinasi yang cerdas, dan pemikiran yang tajam. Pemahaman terhadap sebuah kritik humor pun membutuhkan pengetahuan tentang konteks (latar belakang) cerita dan pemikiran yang kritis.

Sebenarnya, pengungkapan gagasan berupa kritik yang dikemas dalam sebuah cerita humor bukanlah barang baru dalam sejarah kebudayaan manusia. Bahkan, kritik yang dibungkus dengan cerita humor dikategorikan sebagai salah satu jenis folklor yang tumbuh dan berkembang dalam suatu komunitas di berbagai penjuru dunia sejak ribuan tahun yang lalu.

Kritik humor dimaksudkan sebagai media untuk menyampaikan gagasan yang bertolak dari situasi sosial yang terjadi secara tersirat. Dengan demikian, dibutuhkan kecerdasan dan kemampuan untuk memahaminya dengan baik.

Pandangan negatif terhadap kritik disebabkan sikap apriori terhadap pikiran orang lain dan narsisme yang tinggi pada diri sendiri. Selain itu, kritik dianggap berpotensi untuk menurunkan citra dan gengsi seseorang di mata publik. Hal ini disebabkan karena di negara kita kritik belum dianggap sebagai “hadiah” yang menyenangkan. Padahal, dibandingkan dengan hujatan atau kecaman dengan kata-kata sarkastik, setidak-tidaknya kritik humor jauh lebih santun.

Mengingat cara pandang yang masih negatif terhadap kritik di negara kita, sebaiknya dipertimbangkan cara yang paling tepat untuk menyampaikan kritik sesuai dengan etika sosial yang berlaku. Barangkali, situasi dan kondisi harus dianalisis terlebih dahulu untuk mengungkapkan kritik humor yang baik dan bernas.

Terlepas dari adanya penilaian negatif terhadap kritik yang dikemas dalam cerita humor atau humor yang memuat kritik, yang pasti sebagian orang merasa terhibur (minimal tersenyum kecil) ketika membaca atau mendengarnya. Bagaimana dengan Anda?***

Penulis adalah peneliti di Balai Bahasa Riau.

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Rabu, 19 September 2018 - 17:45 wib

Sekda Lantik Pengurus HNSI Tembilahan Hulu

Follow Us