PESTA SUNGAI BOKOR 2016

Duniakan Kampung Lewat Helat Budaya

27 Agustus 2016 - 19.59 WIB > Dibaca 545 kali | Komentar
 
Duniakan Kampung Lewat Helat Budaya
 Kemeriahan Pesta Sungai Bokor 2016 menujukkan adanya semangat yang tak dapat dipatahkan oleh berbagai kendala terutama menyangkut masalah dana. Helat tahunan yang ditaja Sanggar Bathin Galang itu, tahun ini juga tidak mendapat bantuan dari pihak pemerintah atau tidak masuk dalam anggaran daerah tetapi acara berlangsung meriah dan mendapat sambutan yang tak kalah meriah pula dari masyarakat sekitarnya.

Semangat yang ada tentu saja berangkat dari kehendak untuk mengangkat kekayaan seni budaya Melayu setempat untuk dapat dilirik dunia. Hal itu disampaikan oleh Pimpinan Sanggar Bathin Galang, Soepandi. Disebutkan adanya mimpi untuk tetap menjaga seni budaya yang ada di kampungnya. Dalam isitilah pemuda Bokor itu, duniakan kampung lewat event budaya.
Semangat yang mulia dan kuat itu tentu saja tidak bisa ditopang dengan sendiri tetapi diharapkan pula bantuan dan partisipasi dari pemerintah.

Tetapi Soepandi dan rekan-rekan generasi muda, tidak pula kehilangan akal dan kehabisan ide untuk tetap menggelar acara yang telah dimulai sejak 2011 lalu itu. Tahun ini, mereka tetap bertekad menyelenggarakan acara serupa meski dengan keterbatasan daya. Acara yang ditaja seharian, Sabtu  (20/8) itu didukung oleh Pemerintah Desa Bokor Kecamatan Rangsang Barat.

Kemeriahan helat yang ditaja tahun ini terbukti dengan kehadiran berbondong-bondong masyarakat meramaikan acara sejak pagi hingga ke malam hari. Masyarakat yang datang tidak hanya dari desa Bokor tetapi juga dari pulau-pulau yang berdekatan, dan para apresiator dari luar daerah seperti dari Pekanbaru dan lain-lain.

Salah seorang pengunjung yang tampak adalah mantan Rektor UNRI, Prof.Ashaluddin Jalil. Disebutkannya, potensi Desa Bokor layak diangkat ke permukaan. Tetapi hal ini harus  didukung oleh Pemerintah Daerah. Terutama  dalam hal membangun infrastrukur yang diajukan pemerintah desa. “Saya tengok visi desa wisata yang terpampang di pelabuhan yaitu sebagai pintu gerbang wisata Kepulauan Meranti. Apa yang saya perthatikan sepanjang acara, semuanya layak kita “jual” terutama parawisatanya seperti permainan rakyat, keindahan mangrovenya, kebersihan kampungnya dan sosial budayanya, “ katanya.

Helat Pesta Sungai Bokor tahun ini dimulai sejak pagi. Tepatnya, di tepian Sungai Bokor,beramai-ramai  masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang tua menyaksikan Lomba Lari di atas Tual Sagu, sebuah even yang telah mendapat pengakuan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Gelak tawa, cemas, tepuk tangan  dan sorak -sorai tampak mewarnai perlombaan yang digelar di atas tual sagu itu.

Lalu bersamaan dengan itu, digelar juga lomba memancing dari pagi sampai pukul 16.00 WIB. Sebagaimana biasanya, lomba yang satu ini juga tidak sepi dari peserta.  Sekitar ratusan peserta laut di dalam lomba memancing ini.

Untuk ibu-ibu, sebuah lomba yang tak kalah menariknya adalah  lomba nyocuk (cucuk) atap. Puluhan peserta dengan mengenakan kostum perempuan Melayu, kemudian berlomba-lomba menyocuk (menyucuk) atap. Duduk berselimput di halaman yang disediakan panita, ibu-ibu yang sememang mahir melakukan lomba yang sebenarnya merupakan pekerjaan atau aktivitas sehari-hari masyarakat desa Bokor itu.

Yang tak kalah menariknya, digelar juga lomba permainan tradisional di antaranya  main senangkup yang diperuntukkan bagi ibu-ibu. Kegiatan ini diselenggarakan di dalam gedung sekretariat Sanggar Bathin Galang. Sementara itu, bagi anak-anak seumuran Sekolah Dasar digelar pula lomba main seningkik.

Pertandingan lainnya adalah permianan tradisional yang juga sangat populer di masyarakat Melayu, yaitu pertandingan gasing. Pertandingan ini dilakukan antara komunitas gasing se- Rangsang Barat dan Rangsang Pesisir.  Kemeriahan berbagai agenda yang digelar dirasakan oleh salah seorang pengujung dari Kecamatan Tebing Tinggi, Rudy Kodon.  Katanya, disamping adanya upaya untuk mempertahankan nilai nilai tradisi. Helat yang ditaja menujukkan banyaknya potensi yang sangat layak dikembang untuk menjadi agenda dan program tidak hanya tingkat daerah tetapi juga Provinsi Riau.

Tujuannya tak  lain, agar event ini lebih besar lagi gaungnya.  Tentu saja, peran pemerintah dan swasta sangat diharapkan agar kegiatan ini tidak jalan di tempat saja.  Selain itu, peran Badan Promosi Daerah sangat penting agar kearifan lokal khas Meranti tetap terjaga. “Memang bagi kita, penduduk setempat menganggap khasanah yan gkit apunya hanya biasa saja tapi bagi wisatawan, ini adalah luar biasa, karena di tempat mereka tidak ada permainan masyarakat seperti ini,” ujar Rudi Kodon.

Kemeriahan Pesta sungai Bokor tahun 2016, tidak hanya tampak di siang hari saja tetapi acara dilanjutkan pula pada malam hari. Masyarakat disuguhkan pula dengan berbagai kreatifitas kesenian.  Pada mala harinya, helat dikemas dengan tajuk Melayu Tempoe Doeloe.

Semua pengunjung dan pengisi acara malam itu, diwajibkan mengenakan baju Melayu tempo dulu. Sehingga tak heran, banyak diantara pengunjung yang datang berkemban kain dan mengneakan baju teluk belanga bagi lelaki dan perempuan mengenakan baju kebaya labuh.
Adapun pertunjukan malam itu dimulai dari penampilan Sanggar Bathin Galang yang menggelar alunan lagu kampung halaman, group Band Second Seven,Kemas Rangsang Barat, Arable band, hingga Sanggar Komunitas Kemas meranti Featuring Kumunitas Laser yang membawa Lagu lagu era 60-an. Hiburan yang memang disuguhkan untuk menghibur masyarakat itu, mendapat sambutan yang hangat pula yang dapat disaksikan dari tepukan gemuruh dari para penonton yang menyesaki tempat acara di tepian sungai bokor tersebut. Apalagi di penghujung acara, digelar tarian joged lambak. Tak ayal lagi, masyarakat pun lena berjoget dengan iringan lagu-lagu joged Melayu.

Ditempat terpisah, sekretaris Pariwisata Pemuda dan Olah raga Kab.Kepulauan Meranti, Drs.H.Ismail Arsyad, Msi, menyebutkan helat yang ditaja dengan semangat oleh pemuda-pemuda di Desa Bokor perlu dikemas lagi terutama pemainan rakyat sebagai muatan lokal yang sangat perlu dikembangkan sebagai potensi wisata Kabupaten Kepulauan Meranti. Bila perlu, katanya, tidak hanya satu hari tetapi bisa dilaksanakan sampai tiga  hari. Masih banyak permainan tradisonal lainnya. Kalau semua itu bisa digelar, tentulah diperlukan waktu yang lama sehingga wisatawan yang berkunjung bisa menikmati lebih lama, dan bisa mengikuti lomba yang dilkasanakan. Di sisi lainnya, aktivitas ekonomi bisa pula berkembang selama tiga hari di Desa wisata Budaya Bokor.

“Kita merasa bangga kepada masyarakat desa Bokor terutama pemudanya yang telah melakasanakan event tahunan ini, walaupun Kabupaten Kepulauan Meranti mengalami krisis keuangan tetapi mereka tetap berbuat. Himbauan kepada desa-desa yang lain, yang pada tahun tahun sebelumnya pernah membuat event perlu dijuga dicontoh seperti yang dilaksanakan oleh pemuda Bokor. Dan juga saya apresaisi kepada seniman-seniman muda Meranti yang turut memeriahkan dan menyuseskan pesta sungai bokor 2016,”  ujarnya. (Jefrizal)
KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 11:27 wib

Haul Marhum Pekan Ingatkan Sejarah Pekanbaru

Selasa, 20 November 2018 - 11:26 wib

AirAsia Pindahkan Penerbangan ke Terminal 2

Senin, 19 November 2018 - 19:09 wib

Duit Korupsi Amankan Kasus Istri

Senin, 19 November 2018 - 18:47 wib

Teken Petisi, Selamatkan Nuril

Senin, 19 November 2018 - 17:00 wib

Kejari Kuansing Terima Penghargaan Terbaik Se-Riau

Senin, 19 November 2018 - 16:30 wib

Laga Kambing, Satu Tewas Satu Kritis

Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Follow Us