ESAI SASTRA

Berdah: Sebuah Instrumen Musik Melayu yang Terlupakan

27 Agustus 2016 - 20.10 WIB > Dibaca 1267 kali | Komentar
 
Oleh Nafiah al Marhab

RIAU sebagai negeri yang dijangkakan menjadi pusat peradaban Melayu se-Asia Tenggara memiliki cukup banyak karya seni musik dengan berbagai alat musik khas Riau. Modernitas musik yang terus berkembang mau tak mau menuntut semua pihak bekerja lebih keras untuk mengenalkan kembali seni musik tradisional yang nyaris terlupakan.

Kekayaan khazanah Melayu di Propinsi Riau hampir merata keseluruh pelosok kabupaten di Riau. Sebut saja seni musik tradisional kompang asal Kabupaten Bengkalis, Talempong khas Kampar, Gong Tanah Sibunguik khas Kampar Kiri serta seni musik tradisional Berdah asal Indragiri Hulu. Sayangnya, aneka alat dan seni musik tersebut hanya dinikmati oleh kalangan terbatas seperti para tokoh adat, para guru muatan lokal di sekolah serta mereka yang terlibat di sanggar-sanggar musik tradisional.

Adapun masyarakat secara luas masih memandang nilai-nilai budaya melayu yang satu sebagai suatu simbol kehidupan tradisional dan kuno. Sedikit sekali genarasi muda yang tertarik dan menjadikan seni musik tradisional sebagai salah satu budaya yang dipelajari dan dikenali. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor. Salah satunya adalah langkah pelestarian budaya yang monoton sehingga generasi muda tidak tertarik dan lebih memilih budaya-budaya terkini yang notabane nya bertentangan dengan nilai budaya Melayu yang luhur.

Berdah Sebagai Seni Musik Tradisional Melayu

Bila kita menapakkan kaki ke tanah Indragiri Hulu, sebuah daerah yang menyisakan catatan sejarah kejayaan Kerajaan Indragiri pada zamannya, maka kita akan disuguhi salah satu seni musik tradisional khas Indragiri Hulu yang sangat kental nuansa islaminya. Seni musik tersebut bernama Berdah, salah satu jenis alat musik yang sudah mengantarkan Indragiri Hulu berkeliling ke negeri-negeri Melayu di Asia Tenggara. Dalam sejarahnya, seni musik Berdah berasal dari Arab. Pada masa Kerajaan Indragiri yang saat itu berpusat di daerah Pekan Tua (tidak jauh dari Kota Rengat sekarang),Raja mendatangkan seorang bernama Said Ali Al Idrus dari Arab yang diminta untuk mengajarkan ajaran Islam kepada masyarakat Indragiri.
Disamping mengajarkan agama Islam, Said Ali juga ternyata mengajarkan Berdah kepada masyarakat sebagai media seni untuk menyampaikan pesan dakwahnya. Akhirnya seni ini berkembang menjadi satu tradisi musik khas masyarakat Indragiri Hulu.

Saat ini seni musik Berdah di Indragiri Hulu dikembangkan secara khusus di Desa Rantau Mapesai, dekat Kota Rengat. Berdah merupakan seni musik yang bisa dimainkan oleh 7 hingga 15 orang. Alat musiknya berupa rebana, yang terbuat dari bahan kulit kambing jantan dengan ukuran diameter 50 cm. Kulit kambing jantan tersebut dilekatkan pada kayu yang bernama kayu marabungkal.

Upaya pelestarian terhadap seni musik asal Arab ini terus dilakukan oleh pihak masyarakat maupun pemerintah. Beberapa upaya Pemerintah Indragiri Hulu dalam mengembangkan dan menjaga seni musik tradisional tersebut diantaranya dengan memberikan bantuan-bantuan secara langsung, seperti bantuan peralatan alat musik, bantuan kostum bagi para pemain berdah serta upaya-upaya pelatihan terhadap para seniman berdah yang difasilitasi langsung oleh pemerintah. Kalangan tokoh berdah juga melakukan upaya penjagaan generasi seni musik berdah. Hal yang dilakukan biasanya adalah dengan menyisipkan generasi muda ke dalam grup-grup pemain Berdah yang sudah profesional. Dengan cara ini maka akan terjadi pergantian generasi secara lebih berkualitas.

Peran Karya Sastra dalam Penjagaan Seni Musik Berdah


Karya sastra sejatinya adalah bentuk tekstual dari nilai-nilai budaya yang lahir di tengah masyarakat. Sastra tak ubahnya media aktualisasi yang lebih mendekatkan antara mereka yang masih memandang sebelah mata suatu budaya tertentu dengan budaya yang menuntut upaya pelestarian itu sendiri. Di sinilah peran para praktisi sastra itu seharusnya bermain. Sastra sebagai rangkaian kata-kata halus dan lebih bisa menjinakkan hati para peminatnya memberikan ruang yang cukup besar untuk memuat pesan-pesan budaya.

Bagaimana cara agar masyarakat lebih mengenal seni musik Berdah sebagai salah satu khazanah budaya Melayu yang luhur? Karya sastra menjadi media yang cukup aman untuk memperkenalkannya kepada masyarakat luas. Berdah bukan hanya setakat seni musik yang memiliki nilai budaya Melayu yang tinggi, namun seni musik ini juga menjadi simbol yang kuat terhadap kedekatan nilai-nilai Islam yang kerap menjadi orientasi utama budaya Melayu.

Bukan hanya seni Berdah yang bisa menjadi perhatian para kreator karya sastra, namun juga seluruh seni musik di Riau seperti kompang, talempong, gong tanah dan sebagainya. Dengan demikian, akan sinergi lah antara satu perangkat budaya dengan perangkat budaya yang lainnya. Bila pemerintah punya peran teknis untuk memajukan kualitas seni budaya Melayu Riau saat ini, maka para sastrawan juga bisa ambil bagian pada peran strategis memajukan suatu budaya tertentu melalui karya-karya tekstual yang lebih dekat dengan budaya masyarakat sekitar. ***


KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Rabu, 19 September 2018 - 15:30 wib

Ginting Permalukan Lin Dan

Rabu, 19 September 2018 - 15:19 wib

Caleg Eks Napi Korupsi Tak Otomatis Lolos

Rabu, 19 September 2018 - 15:00 wib

SMA Cendana Pekanbaru Ingin Kembalikan Kejayaan

Rabu, 19 September 2018 - 14:45 wib

Baznas Sosialisasi Zakat Petani Padi di Sungai Mandau

Rabu, 19 September 2018 - 14:30 wib

Beruang Madu Terkena Jeratan Babi

Rabu, 19 September 2018 - 14:00 wib

Habisi Guru karena Enggan Bayar Utang Minuman

Rabu, 19 September 2018 - 13:30 wib

Kadis Diingatkan Harga Ikan

Rabu, 19 September 2018 - 13:00 wib

Dominasi Kandang

Follow Us