CERPEN GRIVEN H PUTRA

Cemburu pada Nyonya yang Datang ke Makam Saban Jumat

27 Agustus 2016 - 21.13 WIB > Dibaca 1503 kali | Komentar
 
Cemburu pada Nyonya yang Datang ke Makam Saban Jumat
SIAPA yang tak terhempas jika kasih yang tulus, kepercayaan penuh seluruh dinodai penghianatan? Dan sang penghianat itu adalah lelaki yang telah hidup bersama lebih dari setengah abad, lelaki yang telah menggantikan ayahnya, yang menjadi penanggungjawab lahir dan batin baginya, dunia dan akhirat. Lelaki yang semasa hidup tak tampak cacat-celanya walau secubit kuku. Lelaki yang semuanya telah ia hibahkan, mulai ujung kaki hingga puncak rambut. Lelaki yang telah menjadi pohon rindang di tengah padang hatinya, yang menjadi payung kala panas kehidupan memanggang, yang dahannya menjadi gayutan kala ia terasa rapuh melintasi badai demi badai dalam dirinya.

“Kenapa Ibu galau betul?” tanya Lina, anak bungsunya yang cerewet tak mengerti perasaan Lela. “Bukankah ayah meninggal dengan tenang?” sambung Lina lagi. “Apa ada orang yang meninggal seperti ayah? Meninggalkan dunia dalam pelukan seorang istri? Kita mestinya bersyukur, Bu. Bersyukur,” fatwa Lina menjengkelkan Lela.

Perempuan yang telah ditumbuhi sepuluh atau mungkin sebelas helai uban di atas keningnya itu tak menjawab. Kata-kata Lina makin membuat perasaannya semakin marah pada mendiang suaminya. Lela berpaling. Matanya terkatup rapat. Bibir bawahnya digigit kuat.

Lina dan semua keluarga tak pernah tahu kenapa Lela begini. Kenapa ia separuh gila seperti ini. Mereka tak tahu. Dan memang tak akan diberitahu. Kalaupun mereka tahu, biarlah kenyataan yang akan bicara. Biarkan waktu yang akan menjadi tinta yang menulis kisah ini pada mereka. Sedangkan dari mulut Lela tak akan pernah. Sungguh tak akan.

***

Selama dua hari ini, airmata Lela tak berhenti mengalir karena pilu yang dalam akibat ditinggal kapal satu-satunya yang akan membawanya selamat dari badai kehidupan. Tapi tadi, tadi siang sehabis salat Jumat, ketika ia menjenguk pusara suami yang baru tiga hari tertanam di sini, ia melihat ada puluhan kuntum bunga segar yang masih menyisakan bau wangi berserak di pusara suaminya itu. Dan menurut penjelasan si tukang makam, ternyata orang yang menabur bunga duka itu adalah seorang perempuan muda cantik yang matanya merah dan sembab. Ia ditemani seorang anak perempuan kecil lima tahunan. Perempuan muda itu mengaku istri dari lelaki yang baru ditanam di tanah merah itu.

“Apa iya, Pak? Dari mana Bapak tahu?” tanyanya pada penjaga makam dengan nada kasar.

“Benar, Bu. Nyonya muda itu sendiri yang bilang pada saya.”

“Kok sempat-sempatnya Bapak menginterogasi dia?” kata Lela semakin ketus pada tukang makam.

“Bukan, bukan saya yang bertanya, Bu. Tapi dia yang memberitahu. Ia bahkan berpesan agar setiap Jumat, kalau ia tak datang ke sini, mohon kuburan suaminya ini disiangi dan dibacakan surat yasin,” kata penjaga makam membela diri yang membuat panas hati lela kian mendidih.

“Dan ia berjanji akan memberi uang tips buat saya setiap bulan jika kuburan suaminya bersih selalu, Bu,” kata penjaga makam tenang dan semakin membuat Lela menggigil marah.

Lela merasa bumi berputar. Cepat-cepat ia panggil sopir, ia segera meninggalkan tempat itu, dan dalam hati bertekad tak akan pernah kembali lagi ke tempat itu.

***

“Ibu. Hari ini hari Jumat. Kata ustadz, orang yang setia mengunjungi kuburan seseorang pada hari ini, maka orang itu akan bersamanya di surga kelak. Apa kita tidak ke tempat ayah pagi ini?” tanya Lina satu pekan kemudian.

“Lin, kalau Kamu mau ke tempat ayahmu, pergilah. Usah ajak ibu.” Lela mulai memperlihatkan ketidaksukaannya pada cara anaknya itu.

“Ibu ini kenapa sih?”

Lela masuk kamar. Membanting pintu. Membiarkan Lina dalam keadaan semakin tak mengerti.

Lela duduk di tepi ranjang. Entah berapa detik saja duduk, ia berdiri lagi. Ranjang itu kini seolah dipasang paku-paku yang tegak mencancang sehingga membuat ia tidak betah berlama-lama di situ. Padahal dulu di ranjang inilah segala kenikmatan ia teguk bersama Parman. Di sini, bau bunga apa yang tak pernah ia hidu sambil mereguk madu bulan tanpa mengenal musim, tanpa tahu pagi, siang, malam atau mungkin dinihari yang sedang berhujan, berpetir dan kilat yang bagai kiamat. Ia amat nyaman dan bahagia di sini. Tapi kini. Kini ia merasa amat muak dengan kamar ini karena semua yang pernah ia lalui bersama Parman tertayang ulang. Dan semua itu membuat hatinya diliputi berbagai rasa yang tak mengenakkan. Sejumlah pertanyaan mulai menggerogotinya, dan semuanya memojokkan. Kenapa aku bodoh amat? Kenapa mau saja ditipu lelaki hidung ular itu sekian tahun?

Andaikata masih hidup, tentulah akan ia cakar muka lelaki itu seperti kucing mengoyak ikan asin. Paling kurang, sapu lidi akan ia hembatkan ke badan lelaki itu sehingga ia akan lari terbirit-birit bagai gasing mengelilingi rumahnya.

***

Sudah dua tahun Lela tak menjenguk kuburan suaminya. Selama dua tahun itu ia habiskan waktu bolak balik ke luar negeri, Terutama Malaysia dan Singapura. Ia belanjakan uang tabungan yang ditinggalkan Parman sepuas-puasnya. Itu ia lakukan sekaligus coba mengusir bayangan Parman dalam hidupnya. Tapi anehnya, baru beberapa hari saja ia di Singapura atau di Kuala Lumpur, pikirannya kembali teringat pada Parman. Ia rindu menziarahi kuburan lelaki itu. Tapi anehnya lagi, ketika sampai ke rumahnya, ke kamarnya, rasa bencinya timbul lagi. Sehingga maksud ziarah hanya antak ke antak, hanya rencana ke rencana saja.

Telpon genggam Lela berdering.

“Dengan Bu Lela?”

“Ya. Siapa ini?”

“Saya Tarpin, Bu.”

“Tarpin. Tarpin yang mana ya?”

“Petugas pemakaman.”

Lela terdiam sejenak. Ia teringat kalau yang sedang menelponnya adalah penjaga makam.
“Oh ya. Ada apa, Pak Tarpin?”

“Masa kontrak kuburan Almarhum Pak Parman sudah habis, Bu. Apakah pihak keluarga mau memperpanjang?”

Lela tak menjawab. Rasa muak kepada suaminya tiba-tiba menyeruak hebat di dadanya. Untuk apa memperpanjang kontrak kuburan? Kalau pun Parman dibuang ke laut, biar saja. Kalaupun ditindih dengan orang lain, lantaklah. Kalau pun disedekahkan pada burung pemakan bangkai, itu lebih baik. Buat apa memelihara tulang belulang lelaki yang telah menghancurkan hati itu?

“Putuskan saja, Pak.”

“Tak dimusyawarahkan dulu dengan keluarga, Bu?”

“Tak.”

“Kalau begitu boleh ditindih dengan pengontrak yang baru?”

“Bolehlah. Mau ditindih, mau dibuang ke laut. Mau diapakan saja terserah. Terserah!” Lela melempar telpon genggamnya ke atas kursi tamu di sampingnya.

Walaupun keputusan telah dibuat tapi hati Lela masih terasa-rasa usai menerima telpon penjaga makam tadi. Kata-kata penjaga makam terasa duri dalam daging di hatinya. Sampai malam masih saja mengganggu pikiran Lela. Ia amat gelisah. Resahnya hampir sama ketika dahulu ia tahu kalau Parman punya istri kedua.

Beberapa hari berikutnya.

Lela kembali membuka handphone, mencari nomor petugas pemakaman yang menelponnya.

“Ya, Bu?” terdengar suara dari seberang.

“Saya mau tanya Pak Tarpin, siapa yang akan mengontrak kuburan itu?”

Hening.

“Siapa yang akan mengontrak kuburan Bapak tersebut?” desak Lela tak sabar.

“Nyonya yang sering datang hari Jumat kemarin, Bu.”

“Apa?”

Lela tak sadar kapan ia berhenti menelpon petugas pemakaman tersebut. Ia kemudian melihat handponenya sudah berkecai di lantai. Berserak seperti hatinya yang dibakar api cemburu karena Parman tidur abadi bersama perempuan cantik yang datang ke makamnya setiap Jumat.***

 
Griven H Putera meraih Anugerah Raja Ali Haji Award dari GMDI (Gerakan Masa Depan Indonesia) Provinsi Riau dan UIN Suska Mengajar tahun 2016 atas kiprah dan dedikasinya di bidang sastra. Sejumlah tulisan pernah dimuat di Riau Pos, Republika dan lain-lain. Sebelumnya pernah meraih Anugerah Sastra dari Pemerintah Provinsi Riau tahun 2009, dan Anugerah Sagang atas karya bersamanya dengan Taufik Ikram Jamil, Hasan Junus dan Syaukani Al Karim pada buku Dari Percikan Kisah Membentuk Provinsi Riau pada tahun 2001.
KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 01:22 wib

Prabowo Tunjuk Neno Warisman Jadi Wakil Ketua TKN

Rabu, 19 September 2018 - 20:21 wib

Kata Nadia Mulya Untuk KPK Terkait Kasus Century

Rabu, 19 September 2018 - 20:00 wib

Siak Undang Sineas dan Produser Film

Rabu, 19 September 2018 - 19:30 wib

Luis Milla Kembali Latih Timnas Indonesia

Rabu, 19 September 2018 - 19:00 wib

13 Oknum ASN Terjerat Kasus Tipikor

Rabu, 19 September 2018 - 18:45 wib

Sembunyi di Lumpur, Perampok Berhasil Ditangkap

Rabu, 19 September 2018 - 18:30 wib

Pelabuhan Tikus Jalur Masuk Empuk Narkoba

Rabu, 19 September 2018 - 18:00 wib

TP PKK Ikut LMSI Tingkat Riau

Follow Us