TEATER

Menggali Potensi Aktor Muda

3 September 2016 - 22.13 WIB > Dibaca 611 kali | Komentar
 
Menggali Potensi Aktor Muda
Sebagaimana seni lainnya, teater juga tidak kehilangan peminat. Hal itu terbukti dari keikutsertaan remaja dari kabupaten/kota di Riau dalam acara Festival Teater Remaja se-Riau tajaan UPT Museum dan Taman Budaya Provini Riau.


BERBAGAI  latar belakang cerita dikuasai. Bermacam-macam konsep dipersembahkan dan  Beragam karakter yang mereka perankan. Mereka adalah para remaja yang berasal dari berbagai daerah yang ada di Provinsi Riau. Keikutsertaan mereka dalam helat Festival Teater Remaja yang digelar di Gedung Olah Seni Taman Budaya, membuktikan bahwa seni teater sesungguhnya masih diminati.

Tidak hanya itu, hal yang menggembirakan lainnya adalah potensi yang dimiliki oleh generasi muda di bidang seni teater. Setidaknya, dari yang telah dipentaskan masing-masing daerah menunjukkan potensi aktor muda Riau sangatlah dapat diharapkan untuk pengembangan seni teater ke depannya.

Hal itu diakui oleh para dewan juri ketika memberikan evaluasi sebelum pengumuman pemenang dilangsungkan. Disebutkan salah seorang juri, Catur Wibono banyak potensi keaktoran di Riau terutama generasi muda atau remaja yang bisa dan layak dikembangkan. Namun  tentu dengan memiliki kemampuan dalam mengolah tiga alat ekspresi seorang aktor. Diantaranya bahasa verbal, bahasa tubuh dan juga bahasa jiwa atau inner action.

Aktor itu nyawa dalam sebuah pertunjukan. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan sangat ditentukan oleh seorang aktor. Untuk itu, lanjut Catur, diperlukan proses latihan yang intens dengan disiplin yang tinggi bagi seorang aktor. Untuk aktor muda di Riau yang sepertinya belum tersentuh itu adalah masalah rasa atau bahasa rasa. “Maka jadilah seorang aktor yang observator, jangan jadi orang yang cuek. Aktor adalah pengamat kehidupan, tanggap dan peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya,”  ujar akademisi teater dari ISI Jogjakarta itu.

Apresiasi yang tinggi patut pula diberian kepada mereka para aktor muda yang antusias dalam mengikuti Festival Teater Remaja se-Riau tersebut. Karena menurut Catur, mereka semua sudah meleweati proses meskipun tampak tidak terlalu lama prosesnya. Tetapi mereka sudah berunjuk karya dengan semangat dan kegairahan kreatif, terlepas dari kekurangan dan kelebihan. Kekalahan dan kemenangan hal yang diperhitungkan nomor sekian tetapi hakekatnya proses lebih penting daripada hasil.

 “Proses dan unjuk karya inilah yang akan menjadi pengalaman dan guru yang paling baik, takkan pernah terlupakan sepanjang hayat bagi para teaterawan remaja peserta Festifal Teater Remaja,” ucapnya.

Sedangkan pada kerja penyutradaraan, disebutkannya ada satu kekuatan yang perlu digali dan dikembangkan di Riau terutama dalam persoalan konsep garapan. Idiom -idiom tradisi Melayu perlu diperhitugkan seperti kekuatan syair, pantun, tembang, pepatah-petitih. Kesemuanya masih bisa dieksplorasi sebagai kekayaan tradisi dan jati diri, sehingga kesemua unsur itu dapat pula memberikan warna dan kekayaan bentuk tersendiri.

Demikian juga dengan penataan artistik yang juga dapat dibuat praktis, ekonomis, mobile, meruang dengan sentuhan warna lokal yang eksotis. Inilah semuanya akan menjadi daya tarik visual tersendiri. “Dipundak kalianlah, kearifan lokal akan sentiasa terjaga, tumbuh dan berkembang,” tutupnya.

Begitu juga yang disampaikan dewan juri lainnya, Marhalim Zaini. Potensi aktor muda Riau terutama yang dapat diukur dari pentas yang dilakukan selama dua hari itu, tentu saja banyak sekali. Hanya saja pembinaan yang intensif terhadap para calon aktor yang potensial itu yang belum serius.

Untuk itulah, kata Marhalim, perlu dan penting sekali dilakukan adanya pengamatan yang terukur atau katakanlah semacam penelitian. Tujuannya untuk melihat sejauh mana perkembangan teater remaja Riau dari tahun ke tahun.

 “Evaluasi semacam ini baiknya diiringi dengan pembinaan berkelanjutan. Susah memang, tapi bukan tidak mungkin jika mau bersinergi,” jelas Marhalim yang juga merupakan penyair asal Riau itu.

Marhalim menyarankan ke depannya, di sela-sela lomba, ada baiknya digelar diskusi, terutama untuk membaca berbagai problem teater di Riau, terutama remaja. Karena berbagai persoalan yang ada seperti naskah rata-rata masih lemah. Tema utama yang disuguhkan penyelenggara, dengan mengeksplorasi spirit teater tradisi Melayu Riau, masih belum dapat digali dengan sungguh-sungguh. Sehingga sebagian peserta masih membawakan teater tradisi, tanpa memberi sentuhan kekinian. Lalu yang menjadi sebuah penyakit, lanjut Marhalim adalah gejala peserta yang hanya mau ditonton tapi tidak mau menonton, masih tampak dari ivent tersebut. Sehingga tujuan utama pementasan seolah hanya tersaji untuk juri, tidak untuk bentang karya dalam rangka meningkatkan apresiasi.

Teater dan Remaja

Berteater bisa pula menjadi kesenangan tersendiri bagi remaja. Hal itu apabila dilakukan dengan kesadaran akan pentingnya dari proses berteater itu sendiri. Sebagai seni yang kolektif, teater bukan saja menyangkut segala bidang seni (Rrpa, tari, musik dan sastra) tetapi juga di dalamnya terdapat ilmu manajemen, psikologi, sejarah, filsafat, sosial, politik dan sebagainya.

Pembelajaran teater menjadi proses kerja yang sering yang serius karena ternyata teater bukan hanya pertunjukan, bukan semata-mata hiburan tetapi juga perjalanan pemikiran serta pembentukan karakter. Bahkan teater merupakan satu media langsung atau media komunikasi langsung yang dijadikanwahana penting dalam menyebarkan kebudayaan dan pemikiran lainnya.

Seperti halnya yang telah dipentaskan oleh dua belas grup yang mewakili kabupaten/ kota masing-masing, terkadang di pementasa, mengisahkan tragedi yang begitu menyedihkan, terkadang memaksa penonton untuk terhanyut turut menangis. Ada pula yang menyodorkan pertanyaan kepada publik sbagai bahan renungan dan ada juga pertunjukan yang bisa membuat penontonnya tertawa lebar.

Hang Kafrawi selaku salah seorang dewan juri lainnya mengatakan teater sesunguhnya dapat dijadikan sebagai media pengembangan kreatifitas. Caranya ialah dengan memanfaatkan peluang yang disediakan oleh teater itu sendiri. Dan bagi remaja hari ini, proses teater dipandang sangat tepat dalam hal pembentukan karakter.

Bagaimana tidak? Karena semua kegiatan dalam proses penciptaan sebuah produksi teater itu dimulai dari sesuatu yang sifatnya megnamati. Disebutkan dalam hal menulis naskah.  Ide dalam sebuah naskah teater bersumber dari pengamatan pengarang terhadap kehidupan manusia. Banyak masalah muncul dalam kehidupan manusia, seperti kelahiran, kematian, kegelisahan, harapan dan sebagainya.

Sehingga dengan demikian, remaja yang berminat menulis naskah akan mendapat wadah dalam penyaluran daya cipta. Karya yang dihasilkan merupakan perwujudan dan penyimpulan dari pengetahuan dan pengamatan terhadap lingkungannya sendiri.

Manfaat teater lainnya bagi pembentukan karakter remaja adalah ketika menjalankan masa latihan. Di mana, dalam proses latihan ini secara tidak sadar akan membina kekompakan kelompok, sebagai arena diskusi bahkan juga sebagai tempat rekreasi. Kekompakan itu akan terwujud apabila setiap individu menyadari tugas dan bertanggungjawab terhadap tugas yang telah dibagi.

Di samping itu nilai kedisiplinan pun muncul dalam proses latihan. Dijelaskan Hang Kafrawi, dengan adanya ketaatan menepati jadwal, memikirkan kepentingan kelompok ketimbang pribadi. Apabila nilai ini telah mengakar pada setiap anggota grup, maka hilanglah segala persaingan, kecengengan yang tidak perlu selain dari rasa percara diri, kekompakan, kedispilinan, bertanggunjawab dan lainnya.

Dalam proses latihan juga, kata Kafrawi, diskusipun dapat dilakukan.  Dengan demikian proses dalam latihan ini dapat pula menjadi ajang pembentukan kepibadian, tempat untuk belajar mendengarkan pendapat orang lain, tempat belajar berargumentasi sekaligus menguji dan menilai seberapa jauh pengetahuan seseorang terhadap dunia yang sedang digelutinya.

“Saya kira bagi Remaja, sebagai apapun posisi yang diambil dalam rentetan kegiatan proses berteater, tetap dapat diambil manfaat dari kegiatan itu. Yang jelas dapat merangsang minat para pemuda. Sangat berguna pula untuk membentuk kepribadian khususnya pengembangan mental remaja. Dan mereka memiliki apresiasi seni, terutama dalam seni teater,” jelas Ketua Prodi Sastra Indonesia FIB Unilak itu.

Siak Penyaji Terbaik

Disebutkan oleh Kepala UPT Museum dan Taman Budaya, Sri Mekka bahwa perhelatan yang ditaja merupakan ajang kreativitas generasi muda Riau di bidang seni teater. Diharapkan generasi muda dapat terus berkarya dan Pemerintah Riau selalu berupaya menyediakan wadah untuk itu.  Bahkan disebutkannya, Kabupaten yang terpilih menjadi penyaji terbaik I akan mewakili Riau dalam Festival Teater Remaja se-Indonesia tahun 2017.

“Pemenang Festival Teater Remaja Riau ini akan kita kirimkan mewakili Riau pada ajang Festival Teater se-Indonesia yang setiap tahun diadakan di Jakarta,” jelasnya.

Perheltan Festival Teater Remaja digelar selama dua hari (26-27 Agustus). Di hari pertama tampil enam kabupaten/kota yaitu Kabupaten Rokan Hulu, Bengkalis, Rohil, Siak, Pelalawan, dan Kuansing.

Sedangkan di hari ke dua, tampil pula kelompok teater dari Kabupaten Kepulauan Meranti, Kota Dumai, Inhu, Kampar, Kota Pekanbaru, dan Kabupaten Indragiri Hilir. Sedangkan yang tampil sebagai pemenang penyaji terbaik I adalah kelompok teater dari Siak Sri Indrapura yang membawakan naskah berjudul Alang Daud.

Sebuah lakon yang mengangkat kisah tentang bagaimana cara manusia untuk dapat membebaskan diri dari belenggu kemiskinan. Salah satunya adalah dengan cara pergi merantau, meninggalkan kampung halaman seperti halnya yang dilakukan oleh Alang Daud di dalam lakon. Tetapi setelah Alang Daud berubah menjadi saudagar kaya, apa yang menjadi janjinya untuk membahagiakan ibu, kekasih dan juga teman-teman dengan kekayaan diperolehnya, tidak ditunaikan. Alang Daud sukses menjadi sudagar kaya, namun tidak sukses menepati janjinya. Demikianlah sepintas kisah yang dikemas rapi oleh kabupaten Siak Sri Indrapura sehingga mampu menyaingi kelompok teater dari kabupaten/kota lainnya.

Sedangkan penyaji terbaik II diraih oleh Kabupaten Bengkalis, dengan membawa naskah berjudul “Keris Bernyawa Buat Sendayu”. Penyaji Terbaik III dari Kabupaten Kampar berjudul Umak Anak Hilang. Untuk sutradara terbaik I dari Kabupaten Kampar, sutradara terbaik II diraih Kabupaten Siak dan sutradara terbaik III dari Kabupaten Bengkalis.

Sedangkan kategori pemeran Pria terbaik I dari Kabupaten Siak, terbaik II dari Kota Pekanbaru, dan terbaik III dari Kabupaten Kuansing. Pameran Wanita terbaik I dari Kabupaten Siak, terbaik II dari Kabupaten Kepulauan Meranti dan terbaik III dari Kabupaten Indragiri Hulu.Untuk penataan artistik terbaik I diraih Kabupaten Bengkalis, terbaik II Kabupaten Siak, dan terbaik III dari Kabupaten Indragiri Hulu.

Adapun tim penilai atau dewan juri dari keputusan ini adalah Catur Wibono (Ketua Jurusan Teater ISI Yogyakarta), Hermansyah (Dekan FIB Unilak), Marhalim Zaini (dosen AKMR/UIR), Bero S Seokarno (seniman teater) dan M. Kafrawi (Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Unilak). (Jefrizal)



KOMENTAR
Terbaru
Sabtu, 17 November 2018 - 19:06 wib

Pekan Depan, Nasib OSO Diputuskan

Sabtu, 17 November 2018 - 14:10 wib

Tempuh 1.574 Kilometer, Terios Akhiri Ekspedisi di Wonders ke Tujuh

Sabtu, 17 November 2018 - 13:28 wib

BKD Prov Riau Road To Siak 24 November Mendatang

Sabtu, 17 November 2018 - 11:01 wib

Telkomsel Raih Dua Penghargaan Tingkat Asia Pasifik

Sabtu, 17 November 2018 - 10:46 wib

E-Samsat Tahap II Dibuka, BNI Perluas Layanan ke 16 Provinsi

Sabtu, 17 November 2018 - 09:50 wib

Harimau Terjebak di Kolong Ruko, Berhasil Diselamatkan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:48 wib

Toyota Posisi Teratas untuk Fitur Keselamatan

Sabtu, 17 November 2018 - 09:41 wib

BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Kajati Riau Eksekusi Penunggak Iuran

Follow Us