ESAI SASTRA

Menggesa Sekolah Cinta Literasi Sastra

3 September 2016 - 23.00 WIB > Dibaca 1602 kali | Komentar
 
Oleh Bambang Kariyawan Ys

Dunia pendidikan saat ini dipenuhi target dan capaian yang penuh dengan angka-angka. Ukuran keberhasilan cenderung pada hitungan matematis. Beragam kompetisi ilmiah dan sains sepertinya telah menjadi keberhasilan suatu pembinaan sekolah. Gilar gemilar ketika seorang siswa berhasil memperoleh medali dalam olimpiade sains. Lain halnya bila siswa memperoleh keberhasilan sebagai juara menulis cerpen atau puisi. Dianggap biasa tanpa seremoni sambutan dan pengalungan bunga yang biasa dilakukan di bandara saat penjemputan.Telah banyak label sekolah dengan julukan hebat olimpiade, kuat olahraga, mantap berseni dan julukan lainnya.

Saat ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mencanangkan program Gerakan Literasi di lingkungan pendidikan. Gerakan ini dianggap salah satu solusi dengan minimnya budaya baca dan tulis di kalangan siswa dan termasuk pendidik. Walaupun dalam pelaksanaannya di lapangan masih terkesan seremonial, namun perlu disikapi secara positif bahwa gerakan ini setidaknya mampu memberikan jejak-jejak pengalaman berliterasi bagi warga sekolah.

Tidak bermaksud latah penulis mencoba menambah label lain sebagai pendetilan gerakan literasi yang dilakukan. Penulis mencoba menggagas sebuah istilah dengan label Sekolah Cinta Literasi Sastra. Istilah tersebut sebagai bentuk kecil solusi bangsa atas perilaku masyarakat yang semakin “garang” dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam sebuah kajian melalui sastra dapat menjadi obat bagi luka-luka bangsa yang disebabkan kasarnya perilaku masyarakat kini dalam menyikapi suatu perbedaan.

Tujuan mulia itu perlu diawali dengan memahami esensi dari sekolah cinta literasi sastra itu. Kern (2000) mendefinisikan istilah literasi secara komprehensif sebagai berikut: Literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukansetidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan-hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaanya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secarakritis tentang hubungan-hubungan itu. Karena peka dengan maksud/tujuan, literasi itu bersifat dinamis dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultur diskursus/wacana. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan kultural.

Secara sederhana literasi diartikan kemampuan membaca dan menulis serta melek huruf. Bagaimana dengan literasi sastra? Secara sederhana pula literasi sastra diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis sebuah karya sastra dengan beragam genre di dalamnya (puisi, cerpen, novel, esai, drama dan lain-lain).

Minat Baca

Mengapa perlu digesa sekolah cinta literasi sastra? Mengingat ada korelasi besar kalau literasi sastra akan segera terwujud bila minat baca suatu masyarakat juga tinggi. Sayangnya menurut data statistik UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia terendah di ASEAN. Di tingkat dunia, dari 39 negara, Indonesia menempati posisi ke-38. Tidak kalah memprihatinkan, data UNDP menunjukkan posisi minat baca Indonesia berada di peringkat 96, sejajar dengan Bahrain, Malta, dan Suriname. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, hanya ada dua negara dengan peringkat di bawah Indonesia, yakni Kamboja dan Laos yang masing-masing berada di urutan angka seratus.

Tidak bisa dipungkiri bila minat dan pengetahuan literasi kesastraan bagi negara yang maju menjadi standar penilaian kecerdasan seorang pemimpin. Untuk itu kewajiban membaca sastra bagi negara-negara maju seperti Jepang, Cina, Amerika, Rusia sangat ditekankan.Bagaimana dengan negeri ini? Kondisi menjadikan peran sastra itu masih jauh dari panggang, mengingat minat baca sastra Indonesia jika dihitung paling tidak cuma tujuh persen.Data tersebut memberikan gambaran tentang lemahnya kemampuan literasi bangsa Indonesia. Data tersebut merupakan tantangan bagi sekelompok kecil yang sangat mencintai buku dan literasi untuk mengubahnya dengan melakukan tindakan-tindakan nyata di lapangan.
Mengingat peran sentral sastra tersebut maka program yang dapat dilakukan di sekolah yang ingin melabelkan dirinya sebagai sekolah cinta literasi sastra perlu dilakukan melalui pendekatan proses belajar di dalam kelas dan di luar kelas.

Cinta Literasi Sastra dari Dalam Kelas

Di dalam kelas melalui pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, seorang guru harus mengubah paradigma pembelajaran untuk tidak terlalu kaku pada target kurikulum. Belenggu target harus difelksibelkan dengan memberi porsi yang tepat untuk kegiatan bersastra pada peserta didik. Membaca karya sastra standar terus sedikit “dipaksakan” agar membekas dan membenam dalam pikiran siswa. Mengingat pemikiran dari Taufik Ismail tentang rendahnya minat baca sastra di negeri ini, melalui kelas bahasa Indonesia lah pembiasaan membaca sastra perlu digesa untuk dijadikan kewajiban dalam proses berbahasa.

Pembelajaran sastra yang dilaksanakan di sekolah secara tidak langsung bisa menumbuhkan budaya literasi pada peserta didik. Kebiasaan membaca dan menulis bisa tanamkan sejak dini. Pengajar bisa memotivasi peserta didik untuk terus membaca melalui pemilihan bacaan sastra yang tentunya menarik dan mengandung nilai-nilai kehidupan. Selain pemilihan bacaan sastra yang menarik, seorang pengajar juga dituntut untuk kreatif dalam setiap pelaksanaan pembelajaran sastra di sekolah. Karena salah satu penyebab kurangnya minat membaca bacaan sastra di sekolahan disinyalir disebabkan karena monotonnya pengajar dalam menyampaikan materi pembelajaran. Siswa pun merasa jenuh dan tidak termotivasi untuk mengapresiasi karya sastra seperti membaca bacaan sastra.

Pengemasan pembelajaran sastra dalam rangka menumbuhkan budaya literasi pada peserta didik bisa dilakukan dengan melaksanakan diskusi sastra, pembacaan karya sastra dalam rangka apresiasi, serta dengan mengadakan pameran sastra karya peserta didik. Hal tersebut diharapkan bisa memotivasi untuk membaca dan berkreasi dengan sastra sehingga kegiatan literasi bisa menjadi suatu budaya.Menurut Taufik Ismail, pengajaran sastra tidak memakai pendekatan keilmuan seperti memahami fisika dan pendekatan hafalan. Seorang guru bahasa  dan sastra hendaklah mendukung cara pandang paru dalam pengajaran sastra terkait dengan dua hal pokok, yaitu kecintaan membaca buku dan kemampuan menulis atau mengarang.

Taufiq Ismail merumuskan enam cara pandang baru dalam pengajaran sastra. Diharapkan hal ini dapat mengubah pengajaran sastra menjadi menyenangkan.Keenam cara pengajaran sastra tersebut adalah: (1). Siswa dibimbing untuk mengenal sastra secara asyik dan gembira. Misalnya dengan membaca buku-buku karya penulis baru, yang memiliki gaya bahasa yang lebih sesuai dengan anak-anak jaman sekarang, ketimbang langsung menyuruh mereka mambaca karya-karya penulis lama. (2). Siswa membaca langsung karya-karya sastra puisi, cerita pendek, novel, drama dan esai, bukan melalui ringkasan berupa resensi yang kini dapat dengan mudah diunduh dari internet. (3). Kelas mengarang harus diselenggarakan secara menyenangkan, sehingga tidak menjadi beban bagi siswa maupun guru. (4). Ketika membicarakan atau mendiskusikan suatu karya sastra, aneka ragam tafsir harus dihargai. (5). Pengetahuan tentang sastra (teori, definisi, sejarah) tidak diutamakan dalam pengajaran sastra di sekolah-sekolah menengah. Cukup ditampilkan sebagai informasi sekunder ketika membicarakan karya sastra. (6). Pengajaran sastra harus menumbuhkan nilai-nilai yang positif pada batin siswa, sebagai bekal dalam menghadapi kenyataan hidup yang makin keras di masyarakat.

Cinta Literasi Sastra dari Luar Kelas

Di luar kelas kegiatan aura dan nuansa sastra perlu dicirikan sebagai perwujudan niat menyimbolkan diri sebagai sekolah cinta literasi sastra. Kegiatan yang dapat dilakukan melalui kegiatan tersendiri dan terpusat di perpustakaan sebagai sentral kegiatan yang dapat mewadahi beragam literasi sastra.

Keberadaan perpustakaan sekolah memiliki peran strategis untuk memoles dan menggairahkan sekolah cinta literasi sastra. Tidak bisa dipungkuri keberadaan perpustakaan sekolah untuk era serba digital saat ini serta minat baca siswa yang rendah menyebabkan keberadaannya seperti hanya pelengkap yang dipaksakan. Sepi pengunjung, buku tak terawat, kalaupun berada di perpustakaan bukan untuk membaca, namun hanya sekedar berbincang menghabiskan waktu istirahat.

Sudah saatnya peran perpustakaan dihidupkan kembali dengan memberi sentuhan-sentuhan aktivitas sastra. Kegiatan berupa pameran karya sastra terbaru, bedah karya sastra, lomba penulisan sastra, mengundang sastrawan tempatan untuk diskusi sastra, serta kegiatan-kegiatan kreatif lain yang tumbuh idenya dari warga sekolah.

Agenda menerbitkan buku sastra berupa kumpulan karya warga sekolah perlu menjadi agenda tahunan untuk menguatkan identitas sekolah cinta literasi sastra. Proses ini dapat dilakukan dengan menyeleksi tugas-tugas sastra dari dalam kelas bahasa Indonesia untuk diterbitkan. Melalui penerbitan buku sastra ini banyak energi dan semangat yang dapat mencitrakan geliat kesastraan di sekolah tersebut.

Peran Sekolah dan Keluarga

Pihak sekolah secara khusus harus menganggarkan dana untuk pembelian buku karya sastra per semester. Buku yang dibeli agar tidak menumpuk di perpustakaan dan harapannya dibaca siswa sebaiknya siswa diberi angket tentang pembelian buku sastra apa saja yang terbaru harus disediakan. Perlu mengkondisikan terwujudnya “role model” bagi guru-guru untuk mau dan kreatif mencintai sastra untuk memunculkan aura kesastraan di sekolah. Mengingat perilaku imitasi terhadap orang-orang sekitar sangat berpengaruh dalam pembentukan suatu karakter dan pembiasaan positif sehari-hari.

Tidak kalah pentingnya adalah peran keluarga sangat mempengaruhi terbentuknya insan cinta literasi sastra. Orang tua setidaknya meluangkan waktu dan ruang untuk munculnya sudut sastra di rumah untuk mewujudkan pembiasaan kesastraan. Rak pustaka mini berisi karya-karya sastra menjadi pengisi waktu senggang untuk dibaca bersama. Setidaknya ketika guru dan orang tua mencintai sastra maka generasi pencinta sastra pun akan hadir dimana dan kapan saja yang akan mengantar bangsa ini mengobati luka-luka bangsanya melalui sastra.***


Bambang Kariyawan Ys, guru sosiologi SMA Cendana Pekanbaru. Peserta Undangan MMAS 2010, Penerima Anugerah Sagang 2011 dan UWRF 2014
KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Senin, 19 November 2018 - 16:00 wib

Pemkab Ingatkan Perusahaan

Senin, 19 November 2018 - 15:30 wib

Bupati Buka Kejuaraan Panahan

Senin, 19 November 2018 - 15:28 wib

Imaculata Autism Boarding School Beri Award pada Kompol Netty

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Dua Jembatan Timbang Dikelola Pihak Swasta

Senin, 19 November 2018 - 15:15 wib

Industri Kosmetik Bakal Tumbuh Positif

Senin, 19 November 2018 - 14:30 wib

Diferensiasi dan Inovasi Jadi Kunci

Senin, 19 November 2018 - 14:22 wib

Pemkab Siak Terima CSR dari BRK

Senin, 19 November 2018 - 14:00 wib

Kampanye Kurangi Penggunaan Plastik

Follow Us