OLEH YENI MAULINA

Snobisme dalam Berbahasa

3 September 2016 - 23.25 WIB > Dibaca 1968 kali | Komentar
 
Snobisme dalam Berbahasa

“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri”

(Pramoedya Ananta Toer).

 Selama ini, barangkali, sebagian kita mengenal istilah snob sebagai sebutan bagi orang yang suka “pamer” harta kekayaan (walau ada juga yang tidak kaya) hanya untuk membesar-besarkan egonya supaya dianggap sebagai orang kaya, orang berkelas, orang yang lebih tinggi kedudukannya daripada orang lain. Ternyata, istilah snob juga menjalar ke bahasa yang lebih dikenal dengan sebutan snobisme dalam berbahasa. Apa itu snobisme dalam berbahasa dan seperti apa pula perilaku tersebut dalam masyarakat kita?

 Snobisme mengacu pada “sikap atau cara hidup orang snob.” Kata snob berarti: “1 orang yg senang meniru gaya hidup atau selera orang lain yg dianggap lebih daripadanya tanpa perasaan malu; 2 orang yg suka menghina dan meremehkan orang lain yg dianggap lebih rendah daripadanya; orang yg merasa dirinya lebih pintar dp orang lain” (KBBI, 2008). Seorang snobisme dalam berbahasa dapat diartikan sebagai ‘orang yang senang meniru cara atau gaya berbahasa orang lain yang dianggap lebih daripadanya tanpa perasaan malu.’

Orang serupa itu sepertinya sudah sangat banyak ditemukan dalam masyarakat Indonesia. Cermati saja cara dan gaya berbahasa para pesohor, pejabat, politikus, bahkan mungkin juga kita sendiri. Kata/istilah bahasa Inggris (benar atau tidak dari segi lafal, makna, dan/atau gramatikanya) sering menggantikan kata/istilah bahasa Indonesia saat berkomunikasi. Pemakaian kata/istilah bahasa Inggris itu bukan karena tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, melainkan karena keinginan untuk mengunjukkan cara berkomunikasi orang hebat, modern, terdidik—yang diasumsikan itu adalah kemampuan untuk berkomunikasi menggunakan kata/istilah bahasa Inggris. Itulah salah satu contoh perilaku snobisme dalam berbahasa.

Gejala snobisme berbahasa semacam itu disebut dengan istilah campur kode (code mixing) oleh ahli sosioliguistik. Persoalan ini cukup ramai dibicarakan tentu dengan berbagai variabelnya. Walaupun dalam pandangan ahli itu gejala campur kode dapat dipandang juga sebagai keterbatasan kompetensi dalam suatu bahasa, tetapi aroma maksud untuk mengunjukkan status sosial juga tidak kalah kuatnya.

Campur kode antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, apabila dicermati,  sudah  sangat merasuk di tengah masyarakat kita. Ranah pemakaiannya pun meluas, mulai dari   dunia  pariwisata,  perhotelan, perbankan, hingga periklanan. Kantor-kantor pemerintah/swasta, perguruan tinggi, radio, televisi, serta surat kabar pun tak luput “memeriahkannya.”

Sepertinya masyarakat kita dilanda demam “indoglish:” deman mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris (istilah yang diciptakan Benedict Anderson pada 1996 dalam buku mengenai bahasa dan kekuasaan). Bahasa Inggris mengalahkan bahasa bahasa daerah sebagai unsur bahasa dalam campur kode, seperti bahasa Melayu Betawi, bahasa Melayu Manado, atau  Minangkabau yang dianggap lebih dekat kekerabatannya dengan bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa Inggris (yang disebut oleh Weinreich sebagai campur kode dengan bahasa-bahasa yang sekerabat).

Berikut ini contoh indoglish itu.

(1) “Sampai saat ini Indonesia belum memiliki coast guard seperti yang diamanatkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.”  (Siswato Rusdi, Direktur Eksekutif Namarin, Kompas,  30 Maret 2016, hal. 2).

(2)  “Sebelum mengajukan red notice, Kejaksaan akan memonitor dulu pergerakan La Nyalla. Harus dipastikan terlebih dahulu....” (H.M. Prasetyo, Jaksa Agung, Kompas,  31 Maret 2016,  hal.1).

(3) “Dari pengalaman sebelumnya, drilling justru melelahkan dan membuat siswa stres. Jadi, sekarang kami beralih ke pemantapan materi.” (Sugiatno, Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMAN 29 Jakarta, Kompas,  29 Maret 2016, hal 11).

Kata-kata  asing  seperti coast guard, red notice, dan drilling sering  dipakai  dalam gaya bahasa lisan dan tulisan oleh para profesional, pejabat, bahkan elit pendidik.  Tujuan campur kode ini mungkin saja agar  mereka  kelihatan  lebih  trendi  dan  bergengsi. Meski  belum  mencerminkan  gejala snobisme berbahasa secara utuh, tetapi apabila ditinjau  dari  aspek  kesopanan berbahasa,  percampuran bahasa Indonesia  dan bahasa asing (Inggris)  itu terkesan  “menciderai”  bahasa-bahasa  yang  dicampuradukkan.

Salah satu  penghambat  pembakuan  bahasa  Indonesia  adalah  apabila  semboyan berbahasa  Indonesia  secara  baik  dan  benar   tidak  diiringi oleh  perilaku kebahasaan para pemakainya.  Peran elit sangat diperlukan sebagai  pola anutan untuk meningkatkan kecintaan terhadap  bahasa Indonesia.  Mereka  seharusnya  mampu  menempatkan  status  sosial dan otoritas mereka sebagai teladan dan pelindung bagi masyarakat bahasa.

Fenomena menarik perihal snobisme dalam berbahasa yang muncul belakangan ini adalah penamaan judul program pada televisi swasta. Tidak sedikit yang terjebak dalam penamaan judul dengan menggunakan bahasa Inggris. Misalnya program “8 Eleven Show,” “8—10 on the Weekend,” “Breaking News,” “Indonesia Now,” “Channel Japan,” Headlines News,” “Newsmaker,” “Expedition,” “News Story Insight (NSI).” Padahal, tayangan ini berada di Indonesia, disiarkan oleh stasiun televisi Indonesia, dan diyakini akan lebih banyak ditonton oleh pemirsa Indonesia (yang ratusan juta itu) daripada pemirsa bangsa lain.

“News Story Insight (NSI)” misalnya, tayangan ini terkesan elegan, tetapi sedikit menyulitkan pemirsa yang mungkin saja tidak terlalu paham dengan bahasa Inggris. Mereka tentu  enggan memilih menonton program tersebut. Padahal, suguhan itu memuat berita-berita terkini yang terjadi di tengah masyarakat tentu saja yang seru dan dikemas dengan judul yang unik serta mampu mengundang perhatian pemirsa. Sebut saja: “Kalijodo Riwayatmu Kini,” “Penyesalan Para Korban Penjualan Ginjal,” “Membaca Ekspresi Jessica Wongso,” “Empat Kejanggalan Eksodus Gafatar.” 

Fakta semacam itu sesuai dengan pendapat Akhmad Kusaeni, Direktur Pemberitaan Perum LKBN Antara dalam Seminar bertajuk “Kode Etik Jurnalistik dan Penggunaan Bahasa dalam Pemberitaan Media,” di Jakarta pada 14 Maret 2013. Beliau melihat adanya  kecenderungan pers akhir-akhir ini banyak memakai singkatan, akronim, dan/atau istilah asing.  Hal tersebut dapat menimbulkan snobisme berbahasa, yakni penggunaan istilah teknis dan rumit untuk menimbulkan kesan pintar. “Tugas wartawan itu mempermudah yang sulit, bukan sebaliknya mempersulit yang mudah,” katanya.

Bahasa asing (termasuk bahasa Inggris) bukanlah musuh bahasa Indonesia. Dalam pengembangan bahasa Indonesia, bahasa itu dapat digunakan sebagai sumber istilah yang tidak ada dalam bahasa Indonesia atau bahasa serumpun. Undang-undang sudah memberi rambu-rambu tentang pemakaiannya. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem  Pendidikan  Nasional pasal  42  ayat (2),   “Bahasa asing  dapat  digunakan  sebagai  bahasa  pengantar  sejauh  diperlukan  dalam penyampaian  pengetahuan/dan  keterampilan tertentu.” Jelas sudah bahwa  bahasa  asing (termasuk  bahasa  Inggris) hanya  dapat  dipakai  kalau  memang  “betul-betul diperlukan,”  dan  selagi  padanannya  tidak  atau  belum  ada  dalam  bahasa Indonesia. ***

 

 

KOMENTAR
Terbaru
Jumat, 21 September 2018 - 13:30 wib

Harimau Mangsa Ternak Warga

Jumat, 21 September 2018 - 12:53 wib

Kantor UPTD Dukcapil Mandau Penuh Sesak

Jumat, 21 September 2018 - 12:30 wib

Kesbangpol Gelar Penyuluhan Narkoba di Rupat

Jumat, 21 September 2018 - 12:00 wib

ASN Tersangkut Narkoba Terancam Dipecat

Jumat, 21 September 2018 - 11:40 wib

Bupati Hadiri Rakornas APKP

Jumat, 21 September 2018 - 11:32 wib

Aplikasi BPJSTKU Raih Penghargaan ASSA Recognition Award di Vietnam

Jumat, 21 September 2018 - 11:24 wib

Komitmen Tolak Politik Transaksional

Jumat, 21 September 2018 - 11:20 wib

Terima 278 Formasi CPNS

Follow Us