SAJAK

Sajak-sajak Raedu Basa

3 September 2016 - 23.51 WIB > Dibaca 1595 kali | Komentar
 
Tarthus

apa yang lebih berharga dari penyepian
ketika gaduh sekitar melempar takdir
 
: walau kerah seluruh kekuatan
musnahkan digdaya serta kemaslahatan yang remuk
sisa kekuatan hanya ditemukan di tubuh hening
 
di Tarthus, goa persemayaman Maximalianus
kujulurkan seluruh indera merasuki sejarah resah

: pelarian sembilan lelaki baja yang galau  
sehabis menikam arca-arca  
(berbilah pedang dan anak panah  
bagai siap memancung di depan mata)
kemudian uzlah ke sini
mengistirahatkan getir diri
 
desah-desah gelisah kutangkap dari semilir udara yang gerah
rintihan kecil yang tak usai membisikkan kekalutan
saat di luar, Deuxliatianus dan tentaranya mengepung desa
 
oh, Tarthus!
di tubuhmu sepotong sabda pernah tersyiar sewujud sinar
hentikan segala yang bergetar

: ini batu-batu saksi
kalau Maha Cahaya dahulu menyemesta
terpancar dari aura Maximalianus
menyilaukan bala Deuxliatianus
hingga terlempar ke kaki bukit Banjalus
 
kuraba jejak samadi di lungkai mimpi-mimpimu, Ashabul Kahfi!
mungkin kutemukan bias mega menyelundup ke tubuhku
lalu gegas kuberbaring, berlindung padaNya  
dalam lototan mata anjing
: sampai bisa kusaksikan
malaikat-malaikat menjaga abad
mengembara dalam tidurku
 
inikah peristirahatan keabadian usia?
sampai aku terjaga pada sebuah zaman
yang jauh berbeda
bernama alam kehancuran...



Kasidah Negeri Sarung Kopyah

: may moon nasution

kami dihantarkan takdir pada sebuah zaman yang dibawa
mengeja huruf-huruf yang jatuh dari masa silam
seumpama musafir memutar arah jalannya
mencari jejak tinta emas di jari-jari sejarah
kami menyebut: atsar, suatu peninggalan yang dimuliakan
berbaris-baris rangkaian hijaiyah tertulis
kertas-kertas kuning tersepuh kalam jawi

waktu berdetak di ruang kami bergerak
merapalkan lafal murkab mufid wadak
nahwu sharaf, kami i’rab kami i’lal setiap lafal
guna mengetahui perubahan bentuk suatu kosa kata
dalam dimensi-dimensi lain dalam hidup nyata
menyerupai garis nasib yang kadang tergubah bentuk lain
kami nyanyikan ubahan kosa kata
seumpama meniti dari satu takdir ke takdir
fa’ala fa’ala fa’alu fa’alat fa’alata fa’alna…

Ganding Pustaka, 2015


Langgar Peteng dan Manzumat

pada balai kayu langgar peteng bercat karat biru beludru
kuseruduk hantaran waktu, ada sekian lama tersimpan dalam beku debu
isak letih anak santri yang terkapar menghafalkan manzumat
lalu tidur mendengkur sesaat sahur dengan hidangan lembar-lembar surat

di samping langgar, waduk air tempat lumut diri dibilas wuduk
air asin dan keruh, jejak-jejak silam mewasilah getar moksa demi moksa
sehingga sampai juga lukaku mendarah seluka rindu tak terbalas
kepadamu, ini luka air merah gelisah bersimbah
sebagai sesembah bagi setakik gelora pemuda Hisbulah dalam sarung sejarah
kutemukan seratus huruf hijaiyah menari-nari khusyuk menyemat basmalah
dalam kantuk yang merekam bait manzumat Alfiyah dalam sorogan taqrib yang resah
sedia pagi nanti kusetorkan di hadapan kiai

di Langgar Peteng, santri masa lalu yang tidur mendengkur itu
kini terjaga berupa wujudku, kemaruk kuresapi gegetir waktu
yang tak lagi dibasahkan zezaman pertempuran yang gebu
pada sepi rumahmu saat ini, kuajak hehuruf hidup menggairah
dalam rapalan manzumat Alfiyah dalam taqrir sorogan matan dan syarah

Langgar Peteng yang tak petang bagi nurani kesantrian
nur menyembur dari lubang bilik kayu, itukah lahir berkah yang tahir?
menyemaikan cercahan mekar tatapan lembut Kiai Zubair
dan Kiai Abdurrohim menyesap zikir

hilir angin tanpa bising kota pertempuran dingin
di mana aku dalam jejak terakhirmu seumpama Sahal Kajen
di mana warnaku dalam pelangi para ulama titisanmu
yang semuanya sempat bersembunyi di langgar ini? ataukah aku
telah berada dalam pelukanmu yang erat tapi ragu-ragu


Catatan:
Manzumat: Kitab kumpulan sajak (nazam) yang berisi teori dan keilmuan Islam.
Turots: nama lain dari kitab klasik/kitab kuning
Matan dan syarah: ikhtisar dan uraian dalam kitab kuning


Raedu Basha, kelahiran Sumenep, 1988. Pemred Ganding Pustaka dan menempuh Pascasarjana Ilmu Antropologi UGM. Buku puisinya Matapangara (2014). Diundang Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) 2015 dan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) 2014. Menerima Anugerah Seni & Sastra UGM 2014, hadiah puisi Jurnal Sajak 2014, dan juara cipta puisi Piala Walikota Surabaya 2007. Karyanya ditayangkan Horison, Jawa Pos, Media Indonesia, Indopos, Republika, Basis, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, dll.

KOMENTAR
Terbaru
Selasa, 20 November 2018 - 21:38 wib

PT Amanah Travel Berangkatkan 23 Jamaah Umrah

Selasa, 20 November 2018 - 19:30 wib

Orba Jadi Alat untuk Takut-Takuti Rakyat

Selasa, 20 November 2018 - 18:51 wib

Kemenpan RB Tak Akan Turunkan Passing Grade CPNS 2018

Selasa, 20 November 2018 - 18:25 wib

Transaksi Mencurigakan Tokoh Agama

Selasa, 20 November 2018 - 17:54 wib

Surat Suara Lebih Besar dari Koran

Selasa, 20 November 2018 - 17:38 wib

2 Hafiz Rohul Raih Juara di MHQ ASEAN

Selasa, 20 November 2018 - 17:36 wib

Najib Razak Kembali Diperiksa KPK Malaysia

Selasa, 20 November 2018 - 17:32 wib

Granadi Disita, DPP Partai Berkarya Pindah Kantor

Follow Us