ESAI SASTRA

Perkembangan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

10 September 2016 - 23.32 WIB > Dibaca 2675 kali | Komentar
 


Oleh Maman S Mahayana

encermati situasi pendidikan dan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di negeri ini, segalanya tampak seperti berlangsung baik-baik saja. Kurikulum yang gonta-ganti diterima dengan baik-baik saja, meskipun para guru dibuatnya kelimpungan. Adagium: ganti menteri, ganti kurikulum, dengan berat hati, disikapi, juga dengan baik-baik saja. Ujian Nasional (UN) yang dalam banyak kasus yang terjadi di beberapa daerah ‘melahirkan tim sukses’ juga saban tahun masih terus berlangsung. Begitulah, pendidikan dan pengajaran bahasa dan sastra Indonesia di semua peringkat sekolah—bahkan juga di perguruan tinggi—, dari tahun ke tahun, menggelinding seperti sebuah rutinitas dengan segala kehebohan dan keluh-kesahnya.

Sejalan dengan situasi itu, tidak sedikit orang merasa prihatin dengan kemampuan keterampilan berbahasa para pelajar—dan mahasiswa—kita. Taufiq Ismail menyebutnya: “Rabun membaca, lumpuh menulis!” Kondisi dan situasi tersebut juga menimpa kesusastraan Indonesia. Masyarakat –dan pemerintah—tidak menganggap penting perkembangan kesusastraan kita. Mungkin lantaran sastra tidak secara langsung menghasilkan materi dan kekuasaan, maka biarlah sastra diurus oleh para sastrawan sendiri, heboh sendiri, sementara masyarakat tetap memasabodohkannya. Survei yang dilakukan Litbang Kompas, 3-5 Juni 2015, memperkuat sinyalemen itu. Disimpulkan, bahwa sebanyak 512 responden yang berdomisili di 12 kota besar di Indonesia dan dipilih secara acak, 67,6 % menyatakan tidak suka puisi.

Mengapa bisa terjadi begitu? Apa akar masalahnya sehingga bahasa Indonesia—sebagai bahasa negara, bahasa resmi, dan bahasa persatuan—dan kesusastraan Indonesia sebagai ekspresi kebudayaan bangsa, tetap terpinggirkan dalam beberapa dekade perjalanan bangsa Indonesia?  Mari kita coba menengok ke belakang. Saya mulai dari pernyataan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berikut ini yang dilontarkan lebih dari sepuluh windu yang lalu: “Pada sekolah menengah Goebernemen sekarangpoen masih haroes kita berkata, bahwa pengadjaran bahasa Indonesia itoe tidak berarti sedikit djoeapoen.”  Di bagian lain, Alisjahbana mengatakan:

Pengadjarannja jang menghamba kepada gramatika bahasa jang dipakai, ketika nenek mojang kita masih berdjalan kaki dan naik bidoek jang rapoeh itoe, mematikan segala minat kepada bahasa. Tjara mengadjarkan jang tiada bersemangat, jang semata-mata mengisi kepala dengan tiada memperdoelikan semangat kanak-kanak, dalam segala hal mematikan kegembiraan kepada bahasa.

Boekoe batjaan, boekoe ilmoe bahasa! .…Bahasa jang sepatoetnja diadjarkan disekolah oentoek dipakai dalam penghidoepan mendjadi sesoeatoe jang sengadja diadjarkan semata-mata untuk sekolah itoelah.  Nah, sudah sekian puluh tahun yang lalu STA mengingatkan, bahwa “Pengadjarannja jang menghamba kepada gramatika bahasa jang dipakai, ketika nenek mojang kita masih berdjalan kaki dan naik bidoek jang rapoeh itoe, mematikan segala minat kepada bahasa.” Itulah salah satu sumber masalah, mengapa pelajaran bahasa Indonesia yang mestinya menekankan aspek keterampilan, bergeser menjadi pelajaran pengetahuan tentang bahasa.

Kritik STA jelas ditujukan pada sistem pengajaran dan pada guru-guru Belanda yang mengajar bahasa Melayu. Pertama, pada zamannya belum banyak sekolah yang didirikan pemerintah kolonial Belanda yang dapat dimasuki penduduk pribumi, kecuali anak-anak keluarga bangsawan. Jadi, bagaimana mungkin para murid terampil berbahasa Indonesia jika sistem pengajarannya lebih menekankan pada tata bahasa dan pengetahuan bahasa. Kedua, belum banyak guru-guru pribumi yang bisa mengajar di sekolah-sekolah pemerintah. Dengan begitu, sasaran kritik STA tentu dialamatkan pada guru-guru Belanda yang kerangka berpikirnya juga Belanda. Ketiga, sudah sistem pengajarannya dengan semangat kolonial Belanda, guru-gurunya Belanda, buku-buku pelajaran bahasa Melayu yang digunakan di sekolah ketika itu, juga buku-buku tata bahasa Melayu karya para pengarang Belanda yang konsepsinya juga bersumber pada buku-buku tatabahasa Belanda.   Jadi, segalanya serba-Belanda. Maka, sangat wajar jika pelajaran bahasa Indonesia  di sekolah diajarkan berdasarkan cara pandang tata bahasa Belanda. Itulah awal mula pelajaran bahasa (Indonesia) di sekolah cenderung lebih menekankan pada pengetahuan linguistik dibandingkan pada keterampilan berbahasa.

Ketika di Padang tahun 1937 terbit sebuah buku berjudul Kitab Ilmoe Sjaraf Melajoe Oemoem karya B.R. Motik, muncul resensi buku yang ditulis Darmawidjaja dalam rubrik Timbangan Buku Majalah Pujangga Baru.  Darmawidjaja menyebutkan hal yang senada sebagaimana yang disampaikan STA. Dikatakannya: “Penulisnya belum lagi dapat melepaskan dirinya dari pada tradisi, yakni tradisi terlalu menyandarkan uraian-uraiannya kepada cara yang selama ini ditempuh: kepada kitab-kitab ‘ilmu bahasa yang telah ada, padahal kitab-kitab itu bersandarkan belaka pada gramatika penjelasan bahasa-bahasa Indo-Jerman. Di mana categorientafel Aristoteles, yang dibuat sendi untuk menerangkan hal-hal yang terdapat dalam bahasa-bahasa Indo-Jerman masih jauh dari sempurna, apakah yang akan kita harapkan jika categorientafel itu juga yang kita pakai sebagai dasar untuk menerangkan seluk-beluk bahasa Melayu Umum, salah satu dari ranting-ranting bahasa pokok Austronesia yang sangat berbeda dengan bahasa-bahasa Indo-Jerman.” Cara mereka bekerja masih terlalu terikat pada gramatika Latin.

Bagaimana pula tanggapan STA atas buku itu? Saya kutip beberapa bagian pernyataannya berikut ini: Kurang kecakapan dan keahlian itu terbayang pada tiap halaman Ilmu Syaraf ini: constructienya goyah, tidak kokoh padu: definitie banyak tidak tepat, pembahagian kurang kena, kata yang dipilih untuk nama sesuatu verschijnsel (kenyataan, msm) bahasa tidak memuaskan. Tidak ada analyse bahasa yang jelas, sebab itu di atasnya tidak pula mungkin synthese yang memadai.

Begitulah, sebelum Indonesia merdeka, buku-buku yang digunakan sebagai bahan pelajaran bahasa Indonesia di sekolah tidak lain adalah buku-buku tata bahasa yang konsep dan cara berpikirnya Belanda. Dapat dipahami jika kemudian, pelajaran bahasa Indonesia cenderung lebih berat pada tata bahasa daripada keterampilan berbahasa. Penekanan pada tata bahasa itulah yang terjadi sampai sekarang. Lebih parah lagi, pelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar mulai terjerumus ke dunia linguistik.

***

 Kondisi pelajaran sastra (Indonesia) di sekolah-sekolah, juga menjadi pelajaran pengetahuan sastra mengikuti model pelajaran bahasa (Indonesia). Bahkan, pelajaran sastra sekadar salah satu bagian dari pelajaran bahasa. Situasi pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah itu, tidak berbanding lurus dengan kehidupan kesusastraan. Persoalannya menjadi lebih jelas jika kita coba mencermati perkembangan penerbitan buku-buku sastra.

Dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, dasawarsa 1950-an sebenarnya merupakan masa yang paling semarak dibandingkan masa sebelumnya. Berbagai pandangan dan keberagaman sikap dalam mengusahakan kehidupan kesusastraan di masa mendatang, justru lebih ramai pada dasawarsa ini dibandingkan masa Pujangga Baru. Situasi itu dimungkinkan dengan munculnya berbagai majalah dan surat kabar yang menyediakan rubrik-rubrik sastra. Maka, betapapun dalam sepuluh tahun itu, novel yang terbit hanya 49 buku, antologi cerpen 48 buku, puisi 32 buku, drama 90 naskah, dan antologi esai  43 buku, jumlah itu sebenarnya sama sekali tidak mewakili situa¬si kehidupan kesusastraan Indonesia masa itu. 

Menurut Sapardi Djoko Damono  yang meneliti  pemuatan cerpen, drama, puisi dan esai dalam 24 majalah yang terbit pada dasawarsa 1950-an, jumlah cerpen tercatat 1823, drama 30, puisi 2930, dan esai 770. Sedangkan cerpen, drama, puisi dan esai terjemahan masing-masing tercatat 331 cerpen, 39 drama, 102 puisi, dan 94 esai. Adapun yang dicatat Kratz,  dalam 55 majalah yang terbit tahun 1950-an adalah 6291 puisi, 5043 prosa (cerpen + cerbung), dan 75 naskah drama. Dari jumlah yang dicatat Damono dan Kratz itu, ada di antaranya yang lalu diterbitkan sebagai buku, tetapi sebagian besar, masih tersimpan dalam lembaran majalah itu.

Data kuantitatif itu, belum termasuk karya sastra yang dimuat majalah yang belum diteliti Damono dan Kratz. Koleksi Perpustakaan Nasional, misalnya, masih menyimpan sekitar 140-an majalah terbitan tahun 1950-an di luar sampel kedua peneliti tadi. Jumlah itu, niscaya akan membengkak jika kita juga meneliti karya sastra yang terbit dalam lembaran-lembaran suratkabar. Dengan begitu, jelas bahwa peta kesusastraan Indonesia waktu itu musta¬hil tergambarkan jika hanya mengandalkan karya-karya sastra yang diterbitkan sebagai buku, sebagaimana dilakukan Teeuw.  Bagaimana hubungannya dengan pengajaran sastra di sekolah?

Kesemarakan kesusastraan Indonesia dalam majalah dan surat kabar itu, ternyata sama sekali tidak didukung oleh penerbitan buku-buku pelajaran sastra yang mengarah pada apresiasi, melainkan sebagai buku pengetahuan sastra dan model-model hapalan. Di samping itu, buku-buku pelajaran sastra, seperti juga buku pelajaran bahasa Indonesia, masih mengandalkan buku-buku karya penulis Belanda.  Ketika pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dijadikan sebagai mata ujian negara waktu itu, penerbit-penerbit swasta memanfaatkannya semata-mata untuk kepentingan mencari untung. Maka terbitlah buku-buku soal-jawab ujian negara yang cuma berisi soal-soal berikut kunci jawabannya.  Pelajaran bahasa dan sastra Indonesia makin menjadi pelajaran hapalan karena adanya tuntutan ujian negara itu.

Boleh jadi ada pertimbangan praktis bagi guru-guru SD, SMP, dan SMA waktu itu. Dalam ujian negara pelajaran bahasa dan sastra Indonesia di semua tingkatan sekolah, tidak ada persyaratan bagi siswa agar memahami karya sastra. Jadi, tuntutannya adalah dapat menjawab soal dengan benar. Dengan begitu, menghapal nama-nama pengarang, judul buku, pembabakan angkatan, tahun penerbitannya, dan berbagai contoh baku gaya bahasa, menjadi lebih penting daripada membaca karya sastranya. Akibatnya, yang dipentingkan adalah: benar menjawab soal dan lulus ujian dan bukan memahami karyanya. Itulah yang juga terjadi dalam pelajaran bahasa Indonesia belakangan ini lantaran adanya Ujian Nasional. Siswa tidak dituntut memahami karya sastra, terampil menulis dan mengapresiasi karya sastra, tetapi cukuplah dapat menjawab soal ujian dengan benar. Boleh jadi, problem itu pula yang terjadi di banyak perguruan tinggi kita yang menyelenggarakan program studi bahasa dan sastra Indonesia.

Bagaimana dampaknya dengan sistem pengajaran sastra yang seperti itu? Secara cerdik penerbit-penerbit swasta yang bermunculan waktu itu memanfaatkan kebutuhan mendesak bahan pelajaran sastra, termasuk di dalamnya soal-soal pelajaran tersebut. Maka, buku-buku model soal-jawab, sari kesusastraan, persiapan ujian, latihan ujian dan buku sejenisnya menjadi produk unggulan para penerbit.

Pada dasawarsa tahun 1950-an itu, dari sekitar 157 penerbit swasta yang tersebar di kota besar di Indonesia, kurang dari 10 penerbit yang menerbitkan buku sastra. Selebihnya sekitar 147 penerbit, menerbitkan buku pelajaran sekolah, termasuk pelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Sebagai bahan perbandingan, buku sastra (puisi, novel, antologi cerpen, dan drama—termasuk yang dimuat dalam majalah) yang diterbitkan waktu itu berjumlah 237 buah, sedangkan buku pelajaran sastra –tak termasuk buku pelajaran bahasa Indonesia yang di dalamnya juga memuat soal-soal kesusastraan—  tercatat 126 buku. Buku-buku seperti itulah yang kemudian digunakan para guru dalam pengajaran sastra di sekolah-sekolah.          

***

 Sementara itu, buku-buku kritik H.B. Jassin, seperti Kesusastraan Indonesia Di Masa Jepang (1948), Gema Tanah Air (1948), Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45 (1956), pada tahun 1950-an itu sebenarnya dapat digunakan untuk bahan pengajaran sastra di sekolah mengingat di sana disertakan sejumlah karya pengarang kita. Buku H.B. Jassin yang lain, seperti Tifa Penyair dan Daerahnja  (1952) dan Kesusasteraan Indonesia dalam Kritik dan Essay (1953), meskipun bersifat pengetahuan, kedua buku itu juga dapat dimanfaatkan untuk bahan apresiasi sastra.  Hal yang sama berlaku bagi buku Amal Hamzah, Buku dan Penulis (1950), A. Teeuw, Pokok dan Tokoh (1952), Zuber Usman, Kesusastraan Lama Indonesia (1954) dan Kesusastraan Baru Indonesia (1957). Buku-buku itu yang lebih bersifat pengetahuan dan kesejarahan itu sayangnya tidak dimanfaatkan untuk mendekatkan siswa dengan karya sastranya, tetapi cukup sebatas sebagai pengetahuan belaka. Akibatnya, pelajaran sastra di sekolah tergelincir sebagai pelajaran pengetahuan tentang sastra.

***

Bolehlah dikatakan, bahwa pemancangan pelajaran bahasa dan kesusastraan (Indonesia) dalam dunia pendidikan kita, terjadi pada tahun 1950-an dengan sistem yang seperti itu. Argumennya berikut ini: Pertama, sistem pendidikan kita di awal kemerdekaan lebih menyerupai sistem coba-coba. Dari 17 Agustus  1945 sampai 2 Oktober 1946, jabatan Menteri  PPK telah empat kali gonta-ganti. Sistem pendidikan pun, masih bongkar-pasang. Kedua, pembukaan sekolah lebih mengutamakan sekolah kejuruan teknik mengingat kebutuhan tenaga kerja praktis sangat mendesak. Ketiga, pembagian ilmu untuk perguruan tinggi, yaitu ilmu alam, ilmu kebudian dan ilmu sosial, telah menempatkan pendidikan kesusastraan makin terpojok; terkesan sebagai pelengkap.  Sistem pendidikan itulah yang terus bergulir hingga kini yang ekornya menempatkan pengajaran sastra cuma sebagai pelengkap; sebagai pelajaran sampingan.

***

 Demikianlah, harapan agar pengajaran bahasa dan kesusastraan Indonesia di sekolah tak menekankan segi linguistik melainkan keterampilan, menghindar bentuk hapalan, dan lebih bersifat apresiatif, tetap akan terbentur pada sistem pendidikan kita yang selalu memicingkan mata terhadap keterampilan menulis dan pendidikan moral lewat pengajaran kesusastraan ini. Benturan lainnya datang pula dari guru-guru yang lebih suka cari praktisnya; membuat soal yang jawabannya sudah baku. Atau, guru-gurunya sendiri yang terlalu malas menulis dan membaca khazanah kesusastraan kita, apalagi mengikuti perkembangannya.

Lalu, langkah apa yang mesti diambil untuk memecahkan masalahnya? Inilah (mungkin) solusinya: Pertama, peninjauan  kembali (atau perombakan) sistem pengajaran bahasa dan sastra di semua tingkat pendidikan, teristimewa pendidikan untuk mencetak guru sastra. Kedua, pelibatan sastrawan secara aktif dalam pengajaran sastra di semua sekolah, termasuk di sekolah kejuruan. Ketiga, pemisahan pelajaran bahasa Indonesia dan sastra Indonesia. Jika mungkin, pelajaran bahasa Indonesia di tingkat Sekolah Dasar dihapuskan dan diganti dengan pelajaran Mengarang dalam bahasa Indonesia dan Apresiasi Sastra Indonesia.

Meski begitu, semuanya cuma mungkin terlaksana dengan baik, jika pihak pemerintah sendiri menanggapi secara positif masalah itu. Selama pemerintah menyepelekan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan memicingkan mata terhadap kesusastraan bangsanya, selama itu pula keprihatinan berkepanjangan akan terus muncul sebagai asap; hilang dalam sekejap. Itulah kondisi pelajaran bahasa dan sastra Indonesia dalam dunia pendidikan kita.***

Maman S Mahayana adalah pengajar di FIB Universitas Indonesia.

KOMENTAR
Esai Lainnya
Terbaru
Selasa, 25 September 2018 - 17:00 wib

BPN Diminta Tingkatkan Pelayanan

Selasa, 25 September 2018 - 16:56 wib

Beli BBM Pakai Uang Elektronik

Selasa, 25 September 2018 - 16:45 wib

Kapal Terbalik, 224 Jiwa Tewas

Selasa, 25 September 2018 - 16:36 wib

Jalan Rusak, Siswa Terpaksa Memperbaiki

Selasa, 25 September 2018 - 16:32 wib

Rangkai Bunga Artificial Jadi Bouquet Cantik

Selasa, 25 September 2018 - 16:30 wib

Tak Ganggu Target Pembangunan

Selasa, 25 September 2018 - 16:00 wib

Ratusan Honorer Gelar Aksi Demo

Selasa, 25 September 2018 - 15:54 wib

SMAN 7 Pekanbaru Dukung Gerakan Literasi

Follow Us