SAJAK

Sajak-sajak Boy Riza Utama

10 September 2016 - 23.45 WIB > Dibaca 1801 kali | Komentar
 
Demeter

Siapa yang pernah ke dunia bawah
akan hidup dan abadi di dalamnya.

Kubaca pesan itu
ketika senja hilang tensi
dan matahari pucat-pasi.

Hingga datang Athena
dan Artemis mengabarkan:
“Persefone telah diculik, Ibunda...”

Tapi kubaca pesan selanjutnya
yang kautinggalkan di beranda,

Yang pergi bisa saja kembali
tapi pikirannya tak sama lagi.

Lantas Helios, yang berjaga
senja itu, bercerita untukku:
“Hades telah menculiknya...”

Untuk apa kita menangis, Zeus,
aku ingin bertanya pada suamiku,
tapi suaraku berat. Angin padat
dan udara penuh serpih wajahmu.

Sejak itu aku tahu ada yang hilang
dalam diriku. Sejak itu pula aku tahu
jika kepalaku mesti runduk karenamu.

2016



Zeus

Lelaki tua dalam balutan kain tipis
menjenguk rembulan tua. Ada tangis
di pelipis; malam yang koyak, sunyi
yang plastis, lalu istri yang meringis.

“Ke mana akan kuarahkan marah ini?”
ia bertanya lirih. “Maafkan aku, tuan,”
kata si pelayan, “aku tak menjaganya.”

Empat lelaki muda dalam kain sewarna
menjenguknya sebelum senja ambruk
dan malam naik mengasingkan dunia.

“Apollo, pergilah. Kau tak kuterima.”
“Hermes, aku butuh lelaki pesimistis!”
“Ares, tak ada lagi yang ingin diperistri.”
“Tapi Hefaistos, kita tak butuh upeti.”

Lelaki tua di dalam balutan kain tipis
menjenguk pagi di beranda. “Beri aku
menantu yang tak memilih hitam-putih,
bajik-malang, sunyi-riuh, gelap-terang.”

Lelaki muda dalam kain yang sama
bangkit dari rekahan bumi. Ada sunyi
sebentar sebelum suara itu ia dengar:

“Ayah, aku mulai mencintai kegelapan...”

2016



Helios

“Aku telanjur melihat semuanya,” kata Helios,
dan hadirin bergeming. “Cinta yang khusus,
tak dibuat di mana pun; rindu yang bersih,
seindah terusi; dan hati selapang bumi.”

Tapi Zeus interupsi: “Tapi itu penculikan!”
Tapi Demeter berkata: “Aku tak akan rela!”
Tapi empat pemuda menyela: “Itu dusta!”

Athena dan Artemis
tak ingin bicara.

Helios berjalan dan meneruskan:
“Masa depannya sehijau gandaria.”

Zeus ingin interupsi tapi ia tak bisa.
Dermeter ingin bicara tapi ia tak lagi
punya kata-kata. Empat pemuda itu
ingin menyela tapi lidah mereka tebal
dan seluruh ingatan manis jadi janggal.

Hingga Athena dan Artemis berkata:
“Kami melihat tubuhnya yang kedam,
mendengar suaranya yang dalam, tapi
tak merasa bahwa apa yang ia perbuat
sebagai sesuatu yang kejam.”

Dari jauh, dari balik dinding kuil
yang riuh, dua napas bertemu:
“Aku menginginkanmu.”
“Aku mengangankanmu.”

Lalu Zeus, yang melihat itu semua,
berkata: “Dua musim itu akan tercipta
karena kita membiarkan seekor kumbang
mengitari bunga dengan sayap kelamnya.”

Meski Hades pernah membawanya,
kata Helios kepada mereka, tapi cinta
telah menampakkan wujudnya kepada
kita yang melulu tak yakin jika kegelapan
adalah terang yang merahasiakan cahaya.

2016



Hermes, Apollo, Ares, dan Hefaistos

Hermes:

Dengarlah ketika ia pun berkata:
“Kuserahkan tangisku pada tungku api
jika akhirnya Persefone tak kembali.”

Tiga pedang ingin meliuk
untuk menebas kepalanya
saat itu. Tapi tak jadi.

Apollo:

Tak ada yang tak mendengar ucapannya:
“Aku akan mati muda untuk Persefone
yang telah mengajariku untuk menunggu.”

Tiga tombak lekas terhunus
ke lambung kirinya. Tapi ia
tak mati. Dewa mengampuninya.

Ares:

Lalu Ares bersimpuh di altar itu:
“Demi calon mertuaku yang tak jadi ini
kemas abuku dalam guci jika aku tak kembali.”

Ujung trisula seketika menancap dahinya
yang pirau. Udara serak. Dewa-dewa
mulai risau. Tapi ucapannya dimaklumi.

Hefaistos:

Hefaistos yang galau menarik busur:
“Beri aku anak panah yang melesat cepat,
bagai cinta yang diucapkan dari dekat.”

Tiga pedang mengurangi bebannya
dengan kematian. Tapi dewa-dewa
telanjur memberinya napas kesekian.

2016



Kerberos

Kerberos, anjing berkepala tiga itu,
tak pernah mengerti: kenapa ia di situ,
padahal dunia bawah yang kian gelap
tak mau lagi menunggu. Tapi Persefone,

gadis Demeter yang manja, mungkin
telah membuatnya betah berlama-lama
menjaga gerbang neraka itu.

“Silakan masuk,” kata Kerberos,
“tapi tak ada jalan untuk ke sebemula.”

“Karena iman kalian gampang remuk.”
Tapi cinta mulai menampakkan wujudnya
dari penculikan Persefone. Hanya saja,
meski punya alasan untuk membunuh,

dewa-dewa benci perang. Tapi khianat,
agaknya, juga tak dibenarkan, meski
kekerasan kadang juga punya makna.

Maka musim pun dibagi demi cinta
yang tak seberapa, sedang Kerberos
masih berdiri di pojok itu: ia mungkin

menunggu pagi tiba, meski tak pernah
ia lihat cahaya. Atau menunggu tuannya
yang terlalu banyak membuatnya terluka.

2016



Persefone


“Jangan culik aku,” pintamu,
dan dewa-dewa mulai rusuh.

Tapi itu tak terjadi, agaknya,
sebab Persefone, anak manis itu,
hanya menyingkir dari riuh.

“Sebab mitologi tak memberi
jawaban yang pasti?” tanyamu.

Lalu jam kian usang,
senja ditinggalkan,
ketika aku tak jua bisa
menjawab pertanyaanmu.

Namun, di sudut gelap itu,
berahi tak lagi punya arti
hingga kau berkata: “Culik aku!”

Tiba-tiba ketika sekerat ciuman
kautanam di dahiku, tahulah aku:
telah kupetik bunga, tapi lupa
berjanji kepada tangkai
untuk mengembalikannya.

2016



Hades

Tapi kau memintaku jadi Hades,
bukan Kerberos yang menunggu,
sekalipun ia setia.

“Tapi mitologi,” ucapmu,
“tak menawarkan akhir yang bahagia.”

Barangkali sebab itu
kau takut diculik,
seperti Persefone,
meski ingin takluk.

”Karena aku benci kisah yang monoton,” katamu.

Padahal kau tahu, dalam cinta,
dua-duanya bermain dan kau
tak cuma jadi penonton.

Tapi kau telah memintaku jadi Hades
yang terkutuk, di dunia bawah itu.

Aku ingin jadi Kerberos,
kataku, yang setia. Meski
kepalanya bercabang tiga,
lidahnya tak bertunas dua.

2016



Athena dan Artemis

Athena:

Di ladang  itu ada yang hilang:
rambut yang miang, tawa riang;
senja pun pudur, tangis menghablur.

Di ladang itu ada yang datang:
lelaki terkutuk dari dunia lain
melarikan lambang keterasingan.

Artemis:

Di ladang itu ada yang pergi:
bibir yang kirmizi, mata lazuardi;
bintang tak mampir ke Timur lagi.

Di ladang itu ada yang kembali:
hujan yang nilakandi, tangis pagi;
itulah masa silam yang sedelinggam.

2016

Boy Riza Utama lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 4 Mei 1993. Mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Riau Pekanbaru. Bergiat di Komunitas Paragraf.

KOMENTAR
Terbaru
Kamis, 20 September 2018 - 10:51 wib

Rehab Command Centre Diselidiki

Kamis, 20 September 2018 - 10:50 wib

Targetkan Seluruh IKM Jalin Kerja Sama

Kamis, 20 September 2018 - 10:38 wib

PDAM Harus Ditata Ulang

Kamis, 20 September 2018 - 10:25 wib

Sambangi Panti Asuhan di Hari Lalu Lintas

Kamis, 20 September 2018 - 10:24 wib

Sepakat Memperbaiki Jalan

Kamis, 20 September 2018 - 10:20 wib

Dihampiri Polisi, Pengedar Buang Narkoba

Kamis, 20 September 2018 - 10:19 wib

Berharap Tahanan Dapat Berubah

Kamis, 20 September 2018 - 10:07 wib

Kepergok Mencuri, Sembunyi di Gudang

Follow Us